User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Menurut  rumor yang banyak beredar di masyarakat, kucing (dan bulunya) merupakan sumber utama penularan penyakit toxoplasmosis (awam sering menyebut dengan “Toksoplasma” saja) yang dapat menyebabkan kemandulan bagi wanita, keguguran pada ibu hamil dan cacat pada bayinya, oleh karena itu keluarga yang memiliki anak perempuan dan perempuan yang ingin hamil sebaiknya menghindari kucing dan tidak memelihara kucing. Rumor tersebut jelas jelas sangat merugikan nama baik kucing di jagad maya dan jagad sungguhan. Kucing telah menjadi momok yang ditakuti sebagian masyarakat sehingga banyak orang menghindari berdekatan dengan kucing. Kalau melihat kucing sengsara, hanya kasihan saja tetapi tidak mau menolong, apalagi memelihara. Informasi tentang toksoplasma dan hubungannya dengan kucing perlu diluruskan agar masyarakat mengetahui cara mencegah penyakit ini, mau memelihara kucing tanpa takut terkena toksoplasmosis, dan sekaligus guna memulihkan nama baik kucing yang mulai tercemar. Untuk itu akan dijelaskan tentang penyakit Toxoplasmosis, cara penularan dan pencegahan. Bila kita suka kucing, pengetahuan ini diperlukan agar kita dapat memelihara kucing namun terhindar dari Toksoplasmosis.

 

Definisi
Toxoplasmosis merupakan penyakit infeksi pada hewan dan manusia yang disebabkan Toxoplasma gondii (T. gondii) yaitu suatu protozoa (hewan bersel satu) intraseluler obligat. Parasit ini dapat menginfeksi manusia dan sebagian besar hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, babi, kambing, domba, ayam, dan burung.

 

Epidemiologi

Prevalensi penyakit ini bervariasi. Angka prevalensi penyakit pada kambing berkisar 24-61%, kucing 10-40%, babi 28%, domba 43%, sapi 36%, kerbau 27%, ayam 20%, itik 6%, anjing 10%, dan manusia 14-82%. Penularan penyakit toksoplasmosis secara singkat sebagai berikut:

 

Hewan yang terinfeksi toxoplasma menyebarkan ookista toksoplasma dalam jangka waktu tertentu, yaitu sekitar 10 hari sejak terinfeksi. Setelah 10 hari jumlah ookista yang disebarkan biasanya sangat sedikit dan mempunyai resiko penularan yang sangat kecil. Manusia atau hewan dapat tertular bila tertelan kista atau ookista toxoplasma. Kista atau ookista ini bersifat seperti telur. Telur yang tertelan tersebut akan menetas dan berkembang di dalam tubuh hewan atau manusia. Kista tersebut dapat hidup dalam otot (daging) manusia dan berbagai hewan lainnya. Penularan dapat terjadi bila hewan atau manusia tersebut memakan daging mentah atau daging setengah matang yang mengandung kista toxoplasma. Kista toxoplasma juga dapat hidup di tanah dalam jangka waktu tertentu (bisa sampai 18 bulan). Dari tanah ini toxoplasma dapat menyebar melalui hewan, tumbuh-tumbuhan atau sayuran yang kontak dengan kista tersebut.

 

Cara Penularan Toxoplasma

Bila kita ingin mengetahui cara penularan Toksoplasmosis, maka kita dapat memulai dengan memahami siklus hidup (life cycle) parasitnya yaitu Toxoplasma gondii sebagai pemegang peran sentral. Siklus hidup T. Gondii dapat dibagi dalam 2 siklus yaitu siklus hidup di dalam tubuh kucing sebagai hospes (pejamu; tuan rumah; host) definitif (utama) dan siklus hidup di dalam tubuh pejamu antara (host intermediate) yaitu manusia dan hewan-hewan menyusui lain (selain kucing).

 

 

Kucing berperan sebagai pejamu utama, oleh karena itu kucing disebut sebagai pejamu (host) sejati, definitif, dan utama. Di dalam tubuh kucing dan familinya (keluarga Felidae), parasit Toxoplasma gondii dapat berkembangbiak secara generatif (seksual) maupun vegetatif (aseksual.) Sedangkan hewan menyusui lain termasuk manusia dan bangsa burung berperan sebagai pejamu antara (host intermediate). Host intermediate terinfeksi Toxoplasma gondii setelah menelan air atau makanan yang terkontaminasi T. gondii (kucing sehat dapat terinfeksi dengan cara seperti ini juga). Di dalam tubuh host definitif (kucing), T. gondii mengalami siklus hidup intestinal (di dalam pencernaan) dan ekstra intestinal (di luar pencernaan), sedangkan di dalam tubuh host intermediate, T. gondii hanya mengalami siklus hidup ekstra intestinal.

 

Pada siklus hidup intestinal akan dihasilkan ookista yang dikeluarkan dari tubuh host definitif (kucing) bersama dengan feses/tinja. Ookista berbentuk oval dengan ukuran 11-14 x 9-11 µm. Anak kucing dan kucing yang terinfeksi atau mengidap Toksoplasma (ingat, tidak semua kucing, hanya yang terinfeksi/mengidap Toksoplasma) dapat mengeluarkan jutaan ookista di dalam tinja mereka selama 3 minggu setelah terinfeksi. Ookista-ookista tersebut setelah terlepas ke dalam tanah (terutama tanah yang lembab) dalam waktu beberapa hari (1 – 10 hari) pada suhu 24ºC akan mengalami pemasakan (sporulasi) menjadi ookista yang infektif. Ookista menjadi sumber infeksi (bibit penyakit toksoplasmosis) bila tertelan oleh hospes perantara maupun hospes definitif (kucing) yang sehat.

 

Lama setelah ookista tertelan oleh hospes perantara (manusia, hewan menyusui, termasuk burung dan hewan pengerat), ookista kemudian bermigrasi melalui aliran darah ke bagian lain dari tubuh hospes perantara dan berubah menjadi takizoit yang memiliki panjang 4-8 µm dan lebar 2-3 µm. Takizoit ini berdiam di jaringan saraf dan otot dan selanjutnya berkembang menjadi kista jaringan yang disebut bradyzoites yang memiliki diameter sekitar 5-50 µm. Kista ini dapat tetap ada di sepanjang kehidupan host intermediate dan dapat ditemukan di otot rangka, otak, otot jantung, dan mata. Jika kucing sehat (atau manusia) makan daging host intermediate (daging mentah atau kurang dimasak) yang mengandung kista jaringan. Kista jaringan yang tertelan tersebut akan aktif di usus halus. Kucing juga dapat terinfeksi langsung oleh karena mengkonsumsi ookista berspora.

 

 

Cara penularan Toksoplasma kepada manusia

Penularan toksoplasma gondii kepada manusia melalui 2 cara:

  1. Secara aktif (didapat), melalui masuknya benih toksoplasma (ookista infektif atau kista) ke dalam tubuh.
  2. Secara pasif (bawaan) yaitu dibawa dari ibu kepada bayi yang dikandungnya melalui aliran darah pada tali pusat (plasenta).

 

Penularan secara aktif melalui dapat terjadi melalui berbagai jalan sbb:

  1. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan yang terinfeksi (mengandung kista) Toxoplasma, misal makan sate setengah matang atau daging yang dimasak kurang matang.
  2. Makan/minum makanan atau minuman yang tercemar ookista dari feses kucing yang menderita toksoplasmosis, misalnya: sayur atau buah-buahan yang kurang bersih pencuciannya, air dan susu segar yang terkontaminasi.
  3. Kontak dengan kucing yang di bulunya menempel ookista toksoplasma, atau kotoran kucing yang terinfeksi toksoplasma.
  4. Melalui transfusi darah (trofozoit), transplantasi organ atau jaringan yang tercemar T. gondii.
  5. Kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan T. gondii nasuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit.

 

Catatan:

  • Ketika manusia berperan sebagai host (tuan rumah), di dalam tubuh manusia, parasit membentuk kista jaringan, paling sering di otot rangka, miokardium, otak, dan mata; kista ini dapat tetap tinggal di sana di sepanjang kehidupan tuan rumah.
  • Kucing yang terinfeksi toksoplasma akan mengeluarkan jutaan benih (ookista) toksoplasma yang ikut bersama feses ketika kucing buang air besar. Benih tersebut bisa bertahan di tanah sampai beberapa bulan dan mencemari tanah (lingkungan) sehingga menjadi sumber penularan bagi manusia, kucing lain dan hewan lainnya.
  • Kucing punya kesukaan berguling-guling sambil menggesek-gesekkan tubuhnya di tanah/pasir. Bila tanah/pasir tsb kebetulan tercemar ookista toksoplasma maka ookista tsb akan menempel di bulu kucing. Ookista dapat memasuki tubuh manusia melalui mulut, hidung dan mata ketika manusia sedang mengelus-elus atau mencium kucing yang habis berguling-guling di tanah tadi.
  • Di sisi lain, kucing punya kebiasaan membersihkan diri dengan cara menjilati bulunya dengan lidahnya. Benih (ookista) toksoplasma yang menempel pada bulunya dapat memasuki dan menulari si kucing (yang sebelumnya tidak punya toksoplasma) pada saat ia menjilati bulunya.
  • Jadi tidak benar bila ada orang yang mengatakan bahwa bulu kucing menularkan toksoplasmosis. Asalkan sering dibersihkan maka bulu kucing akan terbebas dari toksoplasmosis.
  • Benih toksoplasma dapat pula menempel di tangan dan sela-sela kuku jari kita bila kita lupa mencuci tangan atau cuci tangan kurang bersih setelah berkebun dan memegang tanah yang tercemar ookista toksoplasma. Bila kita belum mencuci tangan dan lupa menyeka muka dengan tangan maka ookista tersebut bisa pula tertelan ketika kita makan nasi tanpa sendok atau menghisap jari.

 

 

Faktor-faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya penularan pada manusia, antara lain:

  • Kebiasaan makan sayuran mentah dan buah-buahan segar yang dicuci kurang bersih
  • Kebiasaan makan tanpa cuci tangan pakai sabun terlebih dahulu
  • Kebiasaan makan daging atau sate setengah matang

 

Gejala Penyakit Toksoplasmosis

Penyakit ini seringkali tidak menimbulkan gejala yang berarti (sub klinis). Pada infeksi akut atau kronik eksaserbasi akut dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening, pembesaran limpa dan hati. Pada yang berat, bisa menunjukkan gejala kuning (terutama bayi), penurunan tajam penglihatan atau kebutaan, meningoencephalitis (radang otak dan selaput otak), kejang, radang paru, dan gangguan kejiwaan.

 

Komplikasi

Pada laki-laki, infeksi akut toxoplasma dapat menyebabkan kemandulan karena peradangan dan penutupan saluran sperma. Pada perempuan, infeksi toxoplasma dapat menutup saluran sel telur sehingga menghambat mobilisasi sel telur dari indung telur ke rahim dengan akibat terjadi kemandulan. Pada ibu hamil, dapat menyebabkan keguguran (abortus). Terhadap janin dalam kandungan, infeksi toxoplasma menyebabkan cacat seperti hydrocephalus (kepala membesar karena berisi banyak cairan), kebutaan, dll.

 

Diagnosis

Bila berdasarkan gejala, diagnosis toxoplasmosis agak sulit karena banyak penyakit lain yang memiliki gejala klinis yang mirip. Diagnosis Toksoplasmosis ditegakkan dengan mengidentifikasi organisme Toxoplasma gondii dari dalam darah, cairan tubuh (misal cairan tulang belakang dan ketuban), jaringan (melalui biopsi), dan inokulasi ke dalam kultur sel.

 

Uji imunologi sebagai interpretasi adalnya infeksi toxoplasma

Uji laboratorium berdasarkan pada respon imunitas terhadap parasit, misalnya PCR atau teknik enzim-linked immunosorbent assay (ELISA), untuk mengetahui infeksi akut; Tes Sabin-Feldman untuk mengukur antibodi IgG penderita terhadap parasit Toxoplasma gondii. Tes ini dapat menunjukkan bahwa infeksi toksoplasma telah terjadi di masa lalu tetapi tidak mengatakan apakah infeksi saat ini adalah sebagai akibat Toxoplasma gondii. 

 

Tes lain yang paling sering dilakukan adalah mendeteksi antibodi IgM dapat mendeteksi adanya infeksi toxoplasma pada minggu pertama infeksi. Tes ini dan tes ini dilakukan oleh laboratorium khusus. Sering terjadi false positif atau positif tapi bukan infeksi toxoplasma. Beberapa orang mungkin memiliki hasil positif karena ia sebelumnya telah terinfeksi, tetapi gejala yang ia rasakan sekarang disebabkan penyakit lain bukan karena Toxoplasmosis. Tes pada wanita ditujukan bila wanita berencana untuk hamil, untuk menentukan apakah ada risiko bila ia hamil karena kemungkinan dapat menularkan infeksi toksoplasma kepada janinnya.

 

Pengobatan

Toxoplasmosis dapat diobati. Obat biasanya digunakan dalam kombinasi. Obat-obat yang sering digunakan termasuk kepada orang dengan HIV AIDS (ODHA) adalah pirimetamin, sulfadiazin, dan asam folinic. Namun, pasien hamil diobati dengan spiramisin (Rovamycine) dan leucovorin (Wellcovorin) di samping obat yang tercantum di atas. Pasien dengan HIV biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menjaga pertumbuhan parasit tetap ditekan. Obat lain kadang-kadang digunakan adalah klindamisin (Cleocin), azitromisin (Zithromax), atau atovakuon (Mepron). Obat ini digunakan terutama ketika pasien alergi terhadap pirimetamin atau sulfadiazin. Dosis bervariasi, cara terbaik untuk menentukan perawatan medis individu adalah didasarkan pada situasi kesehatan pasien.

 

Sayangnya, pirimetamin (Daraprim) dan sulfadiazin (Microsulfon) dapat menyebabkan efek samping yang signifikan, terutama pada janin. Dua dari efek samping utama adalah penekanan sumsum tulang (pengobatan leucovorin dapat mengurangi penekanan ini) dan toksisitas hati untuk pirimetamin. Untuk sulfadiazin, efek samping bisa mual, muntah, toksisitas hati, kejang, dan gejala lainnya. Obat ini digunakan pada wanita hamil karena risiko infeksi oleh Toxoplasma biasanya lebih parah daripada efek samping obat. Dokter yang merawat harus diberitahu cepat jika efek samping terjadi. Ibu hamil yang terinfeksi toxoplasma harus diobati untuk mengurangi kemungkinan menginfeksi janin. 

 

Pencegahan

Agar kita terhindar dari infeksi toxoplasma, maka lakukanlah hal-hal ini:

  1. Melakukan pola hidup sehat
  2. Mengusahakan lingkungan yang bersih untuk menghindari masuknya parasit ke dalam tubuh.
  3. Selalu lakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir sebelum menyentuh dan menyiapkan makanan, minuman, serta sebelum menyentuh bayi, anak-anak.
  4. Setelah anak-anak bermain tanah atau pasir, harus segera mandi atau sedikitnya mencuci kaki dan tangan pakai sabun sebersih mungkin.
  5. Cuci tangan pakai sabun dan air yang mengalir setelah melakukan kontak atau menyentuh hewan berdarah panas.
  6. Hindari makan daging setengah matang, misalnya sate setengah matang.
  7. Mencuci sayur mayur yang akan dimakan mentah dengan air mengalir sebersih mungkin, Buah-buahan yang akan dimakan bersama kulitnya harus dicuci dengan air mengalir.
  8. Jangan minum susu yang tidak dipasteurisasi atau tidak dimasak terlebih dahulu.
  9. Pakailah sarung tangan saat berkebun dan kontak dengan tanah.
  10. Apabila kita memelihara kucing, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan Toksoplasma, sbb:
  • Bila kucing habis berguling-guling di luar rumah (tanah) segera dimandikan pakai sabun atau shampoo (lebih baik lagi bila dimandikan dengan shampoo khusus hewan) untuk membasmi apabila ada bibit toksoplasma menempel di tubuhnya.
  • Jangan biarkan kucing keluar rumah bergaul dengan kucing lain (yang liar)
  • Jangan biarkan kucing mencari sisa-sisa makanan dari tempat sampah
  • Cegah kucing memakan tikus, burung, kecoa, dan daging mentah lainnya
  • Kucing harus diberi makanan matang untuk memotong siklus hidup parasit T. gondii
  • Bila kucing buang air besar, segera bersihkan tinjanya agar tidak ada kesempatan parasit T. gondii mengalami pemasakan (sporulasi) menjadi ookista yang infektif
  • Pakailah sarung tangan yang terbuat dari bahan karet atau plastik pada saat membersihkan kotoran (tinja) kucing. Tinja kucing dibersihkan dengan antiseptik, dibakar, atau dibuang ke dalam lubang kloset dan segera disiram, 
  • Kucing diberikan vaksinasi toksoplasma.

 

Kesimpulan

Kucing merupakan hewan penting dalam penularan Toksoplasma. Namun kucing tidak akan membawa penyakit Toksoplasma atau menjadi hewan penular Toksoplasma apabila kita bisa menjaga kebersihannya, dipelihara di dalam rumah, dan melakukan upaya-upaya pencegahan agar kucing tidak tertular Toksoplasma.

 

Referensi

  1. Tolbin Iskandar, “Pencegahan Toksoplasmosis Melalui Pola Makan Dan Cara Hidup Sehat,” Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis, dalam: http://www.academia.edu/2513228/Pencegahan_Toksoplasmosis_Melalui_Pola_Makan_dan_Cara_Hidup_Sehat, diakses 17 April 2015
  2. Chahaya, “Epidemiologi Toxoplasma Gondii,” Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dalam: http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-indra%20c4.pdf
  3. http://www.academia.edu/2513228/Pencegahan_Toksoplasmosis_Melalui_Pola_Makan_dan_Cara_Hidup_Sehat
  4. http://www.info-kes.com/2013/05/penyakit-toxoplasmosis-toxo.html,  diakses 17 April 2015.
  5. https://id-id.facebook.com/agar.hamil/posts/667324579948080
  6. http://www.kerjanya.net/faq/4535-toksoplasmosis.html
  7. http://www.rssemengresik.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=47&Itemid=1
  8. http://www.microbiologybytes.com/introduction/Parasitology.html, diakses 24 Juni 2015.
  9. http://cmr.asm.org/content/26/1/58/F4.expansion.html, diakses 24 Juni 2015.

Comments   

-1 #4 grosir spon mandi mu 2017-03-17 08:00
Terima kasih atas informasinya. Semoga sukses selalu.
http://grosirsponmandi.klikspo.com/

Balasan:
amin
Quote
0 #3 kucing sakit 2016-03-22 22:33
Great info. Lucky me I ran cross your ite by accident (stumbleupon).
I have saved as a favorite for later!
Quote
0 #2 kasur keras 2015-10-31 18:47
Whoa! This blog looks just lkke my old one! It's on a entirely differet subject but it has pretty much the same page layout and design. Outstanding choice
of colors!

Also visit my blog post - kasur keras: https://goo.gl/QoVQmZ
Quote
0 #1 kosmetik indonesia 2015-05-29 00:04
Excellent blog here! Also your site loads up very fast! What host are you using?
Can I get your affiliate link to your host?
I wish my site loaded up as fast as yours lol
Quote

Add comment


Security code
Refresh