Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Di awal September 2019 ini sekali lagi TV Indosiar lagi menyelenggarakan ajang lomba (live) Golden Memories (Gomes). Bagi saya, selalu menarik untuk menyaksikan siaran langsung ajang lomba di televisi Indosiar. Yang membuat menarik  selain penampilan para peserta lomba juga penampilan para pembawa acara dan komentar dari para komentator. Tapi khusus untuk Program acara Golden Memories Asia 2019, izinkan saya memberikan beberapa catatan penting yang mungkin berguna bagi penyelenggara (Indosiar).

 

Saya biasanya suka menonton ajang-ajang yang mirip seperti ini (yang terkait dengan musik jadul, musik tahun 80-an, dll seperti Golden Memorie) bahkan program ajang sebelumnya seperti lomba nyanyi dangdut di Indosiar sering saya lahap juga dari awal sampai selesai kalau ada waktu luang. Nah, di awal2 (hari ke-1 sampai ke-3) acara Golden Memories Asia terasa enak ditonton, tapi memasuki hari-hari selanjutnya, saya sebagai penonton TV di rumah sering merasa pusing sendiri ketika menyaksikan dan mendengar terutama suara-suara dari para MC (presenter, pembawa acara) dan komentator.

 

Saat saya mulai merasa pusing (bahkan mulai muak) maka segera saya pindah channel TV, selang setengah jam sampai satu jam kemudian, saya coba kembali lagi ke channel Indosiar, namun lagi-lagi saya mendapatkan hal-hal yang membuat saya semakin muak. Maaf ya Indosiar, bukan maksud saya ingin menjelekkan atau membully, tapi inilah yang saya alami. Mudah-mudahan penonton lain tidak mengalami nasib buruk seperti saya, syukurlah kalau banyak yang bisa menikmati tontonan ini.

 

Inilah kritik dan masukan saya untuk Golden Memories Asia 2019.

Pertama, terutama berasal dari suara satu orang komentator pada tanggal 6 September 2019 yang bagi saya "sangat bising." Bersamaan dengan suara-suara lain bagi saya terasa sangat krowdit, saling silang, banyak komentar yang asal bunyi, asal ngejeplak, terasa tidak penting, konyol dan bodoh untuk level program sehebat ini (internasional)

Kedua, menurut saya sebagai sumber kebisingan yang membuat saya pusing sampai muak adalah komentator berinisial "S" yang membuat tambah semrawut dan bisingnya acara ini. Setiap kali MC atau peserta berkata-kata atau berkomentar,komentator ini selalu tertawa ngakak bahkan sering ngakak menanggapi kalimat dan komentar yang menurut saya tidak lucu. Menurut saya komentator yang satu ini modalnya yah cuma itu, "ngakak" doank. Padahal di negeri kita banyak komentator/juri yang lebih handal, yang menguasai materi, tidak hanya pintar ngakak. Komentator ini mungkin lebih cocok untuk ajang sejenis lomba lagu dangdut (yang memang sebelumnya komentator ini sudah dipasang oleh Indosiar disana) karena memang masih terkait dengan bidang dan kemampuannya, tapi tidak pas untuk dipasang di ajang lomba selevel ini.

 

Masih pembahasan seputar komentator ini. Saya perhatikan komentator ini semakin hari semakin overacting dan jumawa, selalu ingin menjadi yang paling menonjol dan mendominasi seolah ia ingin dinobatkan sebagai Kepala Para Komentator. Kadang sepertinya ia "menyerang" satu dua juri lain yang mungkin ia tidak sukai atau ia anggap sebagai makanan empuk baginya. Indosiar nampaknya harus melakukan evaluasi kembali  dengan kebijakannya yang selalu memasang komentator ini di banyak program ajang lomba di Indosiar, yang saya ingat seperti lomba lagu dangdut, Stand Up Comedy Academy (SUCA), dan sekarang Golden Memories Asia.  Yang kurang mengenakkan, juri ini berkali-kali mengajak para penonton di studio menyanyikan lagu "Mari Berjoget" (KoesPlus) yang notabene adalah lagu jenis dangdut. Mungkin satu  dua kali tidak apa, tapi ini berulang-ulang? bukankah ajang ini sebenarnya dikhususkan sebagai kontes lagu Pop jaman dulu, lagu tahun 80-an, dan lagu-lagu memori lainnya? pasti penyelenggara mengecualikan bagi lagu-lagu dangdut karena lagu dangdut sudah ada ajangnya tersendiri.

 

Ketiga, mengingat acara ini ditonton paling sedikit di 6 negara peserta, maka para MC hendaknya lebih menjaga bobot program ini dan hendaknya mereka diarahkan agar berkomentar yang lebih berbobot, tidak asal ngejeplak. Memang banyak komentar yang bagus dan lucu, tapi banyak juga yang terasa konyol, tidak pada tempatnya.

 

Keempat, Golden Memories Asia hanya diikuti oleh 6 negara Asia yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, dan Timor Leste yang kesemuanya adalah negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Maka menurut saya penamaannya kurang pas, yang lebih pas adalah "Golden Memories Southeast Asia."

 

Mungkin itu saja dulu opini, kritik dan masukan saya terhadap acara Golden Memories Asia di Indosiar. Bukan maksud saya ingin menjatuhkan institusi Indosiar atau orang-orang tertentu tapi saya hanya bermaksud memberi masukan berharga agar kedepannya Indosiar lebih maju lagi. Mudah-mudahan ini menjadi masukan yang positif bagi Indosiar dan dapat memperbaiki kualitas program ini, mengingat acara ini sudah mulai "mendunia." Mumpung acara ini baru saja dimulai, belum terlalu jauh sehingga masih banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitasnya. Terima kasih.