Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Salut! kepada Indosiar yang telah berhasil menyelenggarakan ajang lomba Golden Memories 2019. Mengapa salut? karena tidak semua stasiun televisi sanggup menyelenggarakan acara seperti ini yang memakan biaya tidak sedikit. Bayangkan, acara yang dimulai awal September sampai pertengahan Oktober 2019 atau selama lebih dari 1 bulan ini setiap session-nya telah menghadirkan sekitar 1500 penonton, menghadirkan 6 orang komentator yang terdiri dari 4 orang komentator dalam negeri dan 2 orang dari mancanegara, 1 grup band pendukung, 3 orang presenter dalam negeri dan 2 orang presenter luar negeri, 6 orang juri dari 6 negara termasuk Indonesia walaupun Juri-juri ini tidak perlu hadir di studio, cukup melalui video call tapi tentu bukan hal mudah dalam mengkoordinirnya. Selain itu perlu mengundang lebih dari 20 orang peserta lomba dari 6 negara termasuk Indonesia mulai babak audisi sampai pelaksanaan. Sayangnya, program yang dapat menaikkan pamor bangsa ini kurang dikelola secara profesional, terkesan dikelola seperti setengah hati, main-main, dan masih banyak hal yang perlu dibenahi (diperbaiki). Saya sebagai pecinta musik jadul merasa berkewajiban memberikan masukan yang berharga untuk Program Golden Memories Asia 2019. Oleh karena itu, izinkan saya memberikan beberapa catatan penting yang mungkin berguna bagi penyelenggara (Indosiar). Anggap saja ini sebagai evaluasi oleh saya selaku Admin dari Musik Tahun 80-an.

 

Saya biasanya suka menonton ajang-ajang yang mirip seperti ini (yang terkait dengan musik jadul, musik tahun 80-an, dll seperti Golden Memorie) bahkan program ajang sebelumnya seperti lomba nyanyi dangdut di Indosiar sering saya lahap juga dari awal sampai selesai kalau ada waktu luang. Nah, di awal2 (hari ke-1 sampai ke-3) acara Golden Memories Asia terasa enak ditonton, tapi memasuki hari-hari selanjutnya, saya sebagai penonton TV di rumah sering merasa pusing sendiri ketika menyaksikan dan mendengar terutama suara-suara bising dari para MC (presenter/pembawa acara) dan komentator. Saat saya mulai merasa pusing (bahkan mulai muak) maka segera saya pindah channel TV, selang setengah jam sampai satu jam kemudian, saya coba kembali lagi ke channel Indosiar, namun lagi-lagi saya mendapatkan hal-hal yang membuat saya semakin muak. Maaf kepada Indosiar, bukan maksud saya ingin menjelekkan atau membully, tapi seperti itulah yang saya alami. Mudah-mudahan penonton lain tidak mengalami nasib buruk seperti saya, syukurlah kalau banyak yang bisa menikmati tontonan ini.

 

Inilah kritik dan masukan saya untuk Golden Memories Asia 2019.

Pertama, terutama berasal dari suara presenter (MC) yang bagi saya sangat bising dan sering memaksa membuat kelucuan tapi sayang "konyol" dan malah mengganggu komentator. Banyak komentar yang asal bunyi, asal ngejeplak, terasa tidak penting, konyol dan bodoh untuk level program ini (internasional). Mengingat acara ini ditonton paling sedikit di 6 negara peserta, maka para MC hendaknya lebih menjaga bobot program ini dan hendaknya mereka diarahkan agar berkomentar yang lebih berbobot, tidak asal ngejeplak. Melucu memang perlu karena akan menambah meriahnya acara ini asalkan tidak dipaksakan dan terasa konyol serta tidak pada tempatnya.

 

Kedua, menurut saya, sumber kebisingan yang membuat saya pusing sampai muak adalah seorang komentator berinisial "S" yang membuat tambah semrawut dan bisingnya acara ini. Komentator ini sangat sering tertawa ngakak bahkan untuk hal-hal yang tidak lucu sehingga terkesan bising. Menurut saya komentator yang satu ini modalnya yah cuma itu, "ngakak" doank. Padahal di negeri kita banyak komentator yang lebih kompeten dan menguasai materi, tidak hanya pintar ngakak. Komentator ini tidak pas untuk dipasang di ajang lomba selevel ini, mungkin lebih cocok untuk ajang lomba tingkat lokal saja, misal lomba lagu dangdut (yang memang sebelumnya komentator ini sudah dipasang oleh Indosiar disana),

 

Masih pembahasan seputar komentator ini. Saya perhatikan komentator ini semakin hari semakin overacting dan jumawa, selalu ingin menjadi yang paling menonjol dan mendominasi seolah ia ingin dinobatkan sebagai Kepala Para Komentator. Kadang jelas-jelas ia "menyerang" komentator lain yang mungkin ia tidak sukai atau ia anggap sebagai makanan empuk baginya. Indosiar nampaknya harus melakukan evaluasi kembali dengan kebijakannya yang selalu memasang komentator ini di banyak program ajang lomba di Indosiar, yang saya ingat seperti lomba lagu dangdut, Stand Up Comedy Academy (SUCA), dan sekarang Golden Memories Asia.

 

Ketiga, Golden Memories Asia hanya diikuti oleh 6 negara Asia yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, dan Timor Leste yang kesemuanya adalah negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Maka menurut saya penamaannya kurang pas, yang lebih pas adalah "Golden Memories Southeast Asia."

 

Keempat, dalam penentuan pemenang "Paling Golden" (misal penonton paling golden, komentator paling golden, dst) terasa tidak transparan karena tidak dideskripsikan kriterianya. Sayang sekali acara yang sangat bagus ini harus tercoreng diiakhir episodenya gara-gara kurang seriusnya sesi ini padahal banyak penonton dan komentator yang menunggu dengan serius dan antusias, serta terkesan asal tunjuk karena tidak transparannya kriteria penilaian pemenang. Mungkin bagi panitia di Indosiar, penentuan pemenang paling golden merupakan hal yang sepele atau tidak penting, tapi tidak bagi sebagian penonton dan komentator. Bagi saya, pemanggilan pemenang ke atas panggung yang ternyata bukan dia pemenangnya merupakan penghinaan bagi orang yang dipanggil tersebut walaupun presenter bermaksud membuat lelucon tapi sayangnya bukan pada tempat dan saat yang tepat untuk melucu. 

 

Mungkin itu saja dulu evaluasi (kritik dan masukan) saya terhadap acara Golden Memories Asia 2019. Bukan maksud saya ingin menjatuhkan institusi Indosiar atau orang-orang tertentu tapi saya hanya bermaksud memberi masukan berharga agar tahun-tahun selanjutnya acara ini dikelola secara lebih profesional lagi (harus ada peningkatan donk). Mudah-mudahan dapat menjadi masukan yang positif bagi Indosiar dan dapat memperbaiki kualitas program ini, mengingat acara ini sudah mulai "mendunia." Mumpung acara ini "baru" saja dimulai, belum terlalu jauh sehingga masih banyak kesempatan untuk meningkatkan kualitasnya. Terima kasih.