Opini bulan ini

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Apakah Anda termasuk salah 1 orang yang merasa bosan dan capek bila setiap hari harus mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun melalui media elektronik (WA, FB, Twitter, SMS, Telp, dll) kepada seorang teman di kantor? termasuk ucapan turut berdukacita, selamat atas kelahiran anak, selamat atas kelulusan, selamat mendapat kenaikan jabatan, dan ucapan2 selamat yang lainnya? Apabila ya, jangan khawatir, Anda tidak sendirian.

 

Memberi ucapan selamat kepada seseorang (siapapun dia) selamanya akan selalu berdampak baik. Tapi tentu tidak berlaku bagi semua orang, akan selalu ada orang-orang yang sebenarnya tidak suka memberi ucapan selamat karena alasan kesibukan, sebenarnya yang diberi ucapan selamat tidak 'dekat-dekat' amat dengannya, orang yang diketahui sebagai "hater" atau sebaliknya dia meng-hate orang tsb, bahkan kepada orang-orang yang terhitung dekat dengannya. Dan satu lagi alasan yang justru menjadi prinsip hidupnya yaitu menghindari berbuat munafik. Apakah aku mau terus menjadi orang yang munafik dengan cara mengatakan hal yang bertentangan dengan hati nuraniku? turut berduka cita padahal di dalam hati berkata "Rasain, tahu rasa luh." Apakah aku mau terus menjadi orang yang munafik dengan cara mendoakan namun tidak dari hati yang terdalam dan tulus? Mendoakan seseorang semoga panjang umur dan sehat selalu padahal di dalam hati sering nyumpahin agar dia cepat-cepat mati.

 

Bila ada seorang "teman jauh" di kantor yang berulang tahun, hampir semua orang akan berpikir seperti ini, “Oo ... dia sedang berulang tahun. Ah ... apa sulitnya memberi ucapan selamat kepadanya, sederhana saja koq. Lagi pula mudah dilakukan, tidak perlu keluar banyak tenaga, tinggal ketik satu dua kalimat atau copy-paste lebih praktis, lalu kirim ... selesai! Bagaimana kalau orang tsb ngapsen dan mengetahui dari seluruh anggota grup dan teman yang memberi ucapan selamat ternyata tidak ada namaku disana?? ah ...jangan cari masalah dengan orang tsb, daripada-daripada .... lebih baik cari aman, toh tidak akan merugikanku, malah menguntungkan dan baik bagiku karena aku telah menjalin silaturahmi (tali persahabatan). Itu akan mempermudah semua urusanku pada orang tersebut.”

 

Tapi apa betul begitu sederhana? Memberi ucapan selamat ulang tahun atau ucapan turut berdukacita dengan embel-embel doa-doa di grup atau medsos memang nampaknya sederhana, tapi ... apakah kita tidak sedang membangun trend kemunafikan bagi diri sendiri dan lingkungan?

 

Kalau memang kita ada ikatan persahabatan dengan orang yang sedang berulang tahun dan dengan tulus hati mendoakan, tentu ini hal yang baik dan patut dilakukan. Kalau memang benar kita merasa turut berdukacita (bersedih) atas kematian orang tua, saudara, kakek, atau nenek orang tsb, silahkan diungkapkan perasaan tsb dan dengan tulus hati mendoakan, tentu ini hal yang baik dan patut dilakukan.

 

Tapi masalahnya, bagaimana kalau kita hanya ikut-ikutan karena banyak orang memberi ucapan selamat dan mendoakan. Mendoakan padahal membenci telah membuat aku berlaku munafik dan melanggar prinsip hidup. Memberi ucapan selamat telah menjadi beban bagiku karena bukan dari hati yang tulus. Apalagi di kantorku yang besar ini hampir setiap hari ada saja orang yang berulang tahun, dan setiap minggu ada saja orang yang mengalami musibah, entah orang tuanya, tante, om, adik, ipar, nenek, atau kakeknya meninggal dunia. Kalau aku tidak memberikan ucapan selamat, nanti apa kata dunia?" Bahkan para “haters” turut memberikan ucapan selamat dan mendoakan walau dari hati yang tidak tulus dan terpaksa melakukan karena ikut-ikutan dan tidak tahu bahwa mereka sedang melakukan kemunafikan.

 

Apakah bersikap munafik itu suatu kesalahan? mungkin masih bisa diperdebatkan. Coba kita lihat arti kata “munafik” di bawah ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

munafik/mu·na·fik/ a berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya; bermuka dua: ia tidak pernah berpura-pura, selalu jujur dan tidak --;

 

Patut direnungkan, apakah Anda mau terus menjadi orang yang munafik? Kalau tidak menjadi masalah bagi Anda, ya silahkan. Tapi bila Anda punya prinsip “tidak bagiku, aku tidak mau jadi orang munafik dan terus membohongi diri sendiri dan orang lain” ya ... silahkan juga. Ini bukan mengajari dan bukan pula mengajak berdebat, ini khan cuma ajakan untuk merenungkan fenomena ini. Semuanya terserah kita, berpulang kepada keyakinan dan prinsip hidup masing-masing.

 

Serius amat ... udah sono ... kerja lagi  

 

Referensi

http://kbbi.web.id/munafik