Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tanggal 8 April telah dicanangkan sebagai Hari Anak-anak Balita. Saya hanya bisa menduga apa latar belakang dicanangkannya Hari Anak Balita tersebut.

Bahwasanya Balita itu merupakan asset masa depan bangsa………. Iyaalah!!
Bahwasanya Balita itu merupakan masa yang penting bagi pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak…….. tentu sajalah!!
Bahwasanya Balita itu perlu mendapat perhatian yang ekstra pada kesehatan fisik dan psikis …….. semestinyalah!!
Bahwasanya Balita itu bakal menjadi pengganti generasi kita ………. Seyogyanyalah!!

 

Namun apa iya kita sudah memahami semua itu..??
Benarkah upaya maksimal sudah kita lakukan untuk mereka?
Seberapa Pedulikah kita pada kondisi balita kita??
Kalau inget Visi Kemenkes, seberapa ‘berkeadilan’ kah perhatian kita pada mereka??

 

MARIIII KITA LIHAT GAMBARANNYA…!!!

 

Gambaran yang akan saya sampaikan ini berasal dari potret Riskesdas th 2010 dan th 2013. Ada beberapa keadaan yang bisa dibandingkan namun ada pula yang belum bisa dibandingkan. Saat ini jumlah balita yang ada di Indonesia sebanyak 21.295.388 balita (Riskesdas, 2013).

 

Dari gambaran di atas menunjukkan bahwa Balita banyak terserang Anemia (hasil periksa Lab. Pada Hb) dan penyakit ISPA, dibandingkan lainnya. Jika dalam angka absolutnya maka sejumlah 5.984.004 balita mengalami Anemia dan sejumlah 5.494.210 balita yang menderita ISPA. Namun yang cukup menarik adalah adanya 8.2 % balita yang pernah mengalami cedera atau sejumlah 0,082 x 21.295.388 = 1.746.221 balita yang mengalami cedera. Dari sejumlah itu 33,0 % nya mengalami cedera di bagian kepala. Kondisi yang demikian ini bisa jadi situasinya menjadi verlaping atau terdapat balita yang menderita anemia juga ISPA dan Diare misalnya.

 

Gambaran beberapa provinsi pada penyakit-2 yang terkait dengan balita dalam Riskesdas adalah sebagai berikut (Populasi bukan hanya Balita, namun keseluruhan Usia):

 

Dari gambaran di atas ternyata ISPA cukup tinggi prosentase kejadiannya. Provinsi Aceh dan Jawa Timur bahkan melebihi angka Nasional. Hal yang menarik dan mungkin terlepas dari pemikiran sejawat Nakes di daerah adalah fenomena kasus Cedera yang prosentasenya meningkat drastic melewati kasus Diare. Provinsi Gorontalo dan Jawa Timur bahkan prosentase kejadiannya melibihin angka Nasional.

 

Selanjutnya pada kegiatan upaya menjaga pertumbuhan Balita dilakukan Penimbangan Berat Badan secara rutin tiap bulan di posyandu atau faskes lainnya. Gambaran Penimbangan Balita hasil Riskesdas 2013 secara Nasional dan menurut 5 Provinsi di atas sbb: (Diambil yang TIDAK PERNAH TIMBANG dalam 6 bulan terakhir)

 

Gambaran diatas menunjukkan bahwa secara Nasional terjadi peningkatan proporsi TIDAK TIMBANG Balita dari tahun 2010 ke tahun 2013. Provinsi Sulawesi Barat, Jawa Timur dan Aceh terjadi peningkatan. Peningkatan proporsi tertinggi adalah di provinsi Aceh (12.4 %). Secara absolut Nasional saat ini terdapat Balita yang tak tertimbang sejumlah 34.3 % x 21.295.388 = 7.304.318 balita.


Wow…. Suatu jumlah yang cukup bisa dipakai SEMBUNYI balita Gizi Buruk dan Kurang. Bagaimana dengan 5 Provinsi di atas??

No.

            Provinsi

Jumlah Balita

% Tak Timbang

Absolut Balita Tak Timbang

1.

Nasional

21.295.388

34.3

7.304.318

2.

Aceh

426.946

40.2

171.632

3.

Jawa Timur

2.614.315

22.2

580.377

4.

Nusa Tenggara Barat

501.896

16.3

81.809

5.

Gorontalo

76.893

27.5

21.145

6.

Sulawesi Barat

98.225

46.8

45.969

 

APA ALASAN TIDAK TIMBANG TERSEBUT ???

 

Hasil analisis deskriptif Riskesdas 2013 menunjukkan alasan Anak sudah besar, anak selesai immunisasi, anak tidak mau ditimbang, bosan kalau hanya timbang, sibuk ortunya dan malas.

 

Gambaran alasan di atas menunjukkan bahwa 4 alasan terbanyak yang dipakai ketika ditanyakan mengapa balitanya tidak ditimbang, yaitu: Anak sudah besar (> 1th), Anak selesai Immunisasi , Orang Tua Sibuk dan Malas.

 

Dari alasan-2 tsb jelas terlihat bahwa sebagian besar ibu balita masih belum memahami betul MAKNA PENIMBANGAN BALITA nya secara rutin. Disinilah salah satu tantangan besar bagi Program PROMKES ke depan. Bagaimana menggeser pola pikir ibu balita sehingga memahami betul makna menjaga pertumbuhan balitanya. Disamping itu kreativitas-2 lokal dalam melaksanakan program timbang balita iniagar tidak membosankan (seperti alasan di atas).

 

Pernah di suatu daerah harus melakukan penimbangan balita di MALL……..!
Pernah pula suatu daerah melakukan penimbangan balita di GEREJA……!
Ada di suatu daerah melakukan penimbangan dg hiburan ODONG-ODONG…!!
Banyaklah kreasi local ……. Asal kita mau dan peduli.

 

Lantas apa yang kemungkinan terjadi akibat dari berbagai alasan tidak menimbang balitanya tersebut ?? hasil Riskesdas 2010 dan Riskesdas 2013 menunjukkan kondisi Gizi Buruk dan Gizi Kurang seperti di bawah ini:

 

Gambaran di atas menunjukkan bahwa terjadi peningkatan proporsi balita Giburkur (Gizi Buruk Kurang) kecuali pada provinsi Nusa Tenggara Barat yang mengalami penurunan dari 30.5 % menjadi 25,7 %. Peningkatan cukup besar terjadi pada provinsi Sulawesi Barat hingga 8,6 %.


Jika dihitung berdasarkan angka absolutnya, maka saat ini di Indonesia terdapat 4.173.896 balita gizi buruk-kurang. Tentu saja angka 4 jutaan balita itu SANGAT MUNGKIN keberadaannya pada 7 jutaan balita yang TAK TERTIMBANG di atas. Bagaimana dengan 5 provinsi diatas?? Marii kita lihat pada table di bawah: (Riskesdas th 2013 dan Laporan Rutin’ Komunikasi Data Gizi-KIA 2013):

No.

            Provinsi

Jumlah Balita

Absolut Balita Tak Timbang

% Balita Giburkur

Jml Absolut Balita Giburkur (RKD’13)

Jml absolut DILAPORKAN secara Rutin (Gizi_KIA

th’2013)

%  giburkur

yang sembunyi (belum Ketemu)

1.

Nasional

22.125.031

7.304.318

19.6

4.173896

96.113

97.7 %

2.

Aceh

462.762

171.632

26.3

112.286

1.696

98.5 %

3.

Jawa Timur

2.614.315

580.377

19.1

499.334

40.658

91.8 %

4.

NT B

501.896

81.809

25.7

128.987

655

99.5 %

5.

Gorontalo

76.893

21.145

26.1

20.069

217

98.9 %

6.

Sulawesi Barat

98.225

45.969

29.1

28.583

89

99.6 %

 

Dari table diatas , terutama pada kolom yang berwarna memberikan gambaran masalah Balita gizi buruk dan kurang “Yang semestinya ada” (RKD’13) dan “yng telah dilaporkan dalam Komdat Gizi-KIA” (Gizi-KIA’2013). Setelah diperbandingkan, maka hasilnya sungguh mencengangkan yaitu: 90 % LEBIH GIZI BURUK KURANG BELUM DITEMUKAN dalam tahun 2013. Pertanyaan yang muncul disini adalah:

1. Benarkah hanya 10 % an saja upaya yang kita lakukan dalam menangani Balita Gizi kurang dan buruk??
2. Sebegitunyakah Kepedulian kita pada Balita yg katanya pengganti generasi kita nantinya ??


Gambaran lain dari kondisi status gizi balita yaitu PENDEK. Hasil analisis deskriptif riskesdas 2010 – 2013 menunjukkan sbb:

 

Gambaran di atas menunjukkan bahwa baik secara Nasional ataupun 5 Provinsi di atas terjadi stagnansi balita dengan kondisi Pendek / sangat pendek Hanya Provinsi NTB saja yang menurun dari 48,3 % menjadi 45,1%. Kondisi yang demikian ini sungguh sangat memprihatinkan. Akankah di masa mendatang Indonesia menjadi bangsa yang PENDEK atau dalam bangsa berpenduduk KUNTET ??

 

Oleh karenanya pemantauan setiap saat sejak bayi dalam kandungan menjadi sangat penting. Salah satu alat pantau yang sudah dibuat cukup apik adalah BUKU KIA. Sebuah alat pantau sejak ibu hamil hingga anak mereka lepas dari balita. Namun apa yang terjadi dengan kondisi Buku KIA kita saat ini ? hasil pantauan Riskesdas 2010 dan 2013 memberikan gambaran sebagai berikut: (saya ambil untuk yg TIDAK MEMILIKI dan HILANG)

 

Dilihat dari gambaran di atas bahwa telah terjadi penurunan prosentase ibu balita yang tidak memiliki buku KIA atau Hilang. Hanya Provinsi Aceh dan Jatim yang terjadi peningkatan prosentase ibu balita yg tidak memiliki Buku KIA atau hilang. Namun jika dicermati lebih dalam prosentase di atas masih cukup tinggi dan masih lebih besar dari 30 % semua. Tentu saja hal ini menjadi tantangan dari Pemerintah Daerah untuk bisa menyediakan Buku KIA yang sebenarnya sangat bermanfaat baik bagi keluarga ibu balita ataupun pemantauan oleh tenaga kesehatan (bidan).

 

Melihat kondisi-kondisi di atas tersebut kembali lagi pada pertanyaan di awal yaitu:

# Benarkah kita sudah PEDULI dengan kondisi Balita kita ??
# Sudahkah kita menggapai Visi Kesehatan kita yang “BERKEADILAN” ??

 

OHHH….. BALITAKU, SANG PENGGANTI GENERASIKU!!!

 

Semoga Bermanfaat sebagai renungan memperingati Hari Anak-Balita 8 April 2014.
Mohon maaf jika kurang berkenan….


Salam Hormat,

DeBe – Pusdatin
“Belajar Tanpa Batas”

 

Referensi:

1. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Badan Litbangkes, 2013