User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Latar Belakang 
Setiap tahunnya terjadi 11 juta kematian balita di negara-negara wilayah Sub-sahara Afrika dan Asia Selatan (termasuk Indonesia) akibat penyakit diare, pneumonia, campak, kurang gizi dan masalah bayi baru lahir. Kematian ini terjadi secara rutin selama beberapa dekade terakhir, dan kasus-kasus kematian ini ada hubungannya (diperparah) dengan masih tingginya prevalensi penyakit malaria dan semakin meningkatnya penularan HIV/AIDS. Untuk mengatasi masalah ini maka sejak tahun 1990-an WHO telah merancang suatu strategi yang dinamakan Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau  Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). MTBS telah diadaptasi dan diterapkan di banyak negara, di Indonesia sendiri MTBS mulai diadaptasi pada tahun 1996. Namun setelah diterapkan selama hampir dua dekade, didapati dampak yang ditimbulkan di banyak negara (terutama Indonesia) tidak seperti yang diharapkan semula. Ternyata angka kematian bayi dan balita tidak banyak menurun secara signifikan bahkan cenderung stagnan. WHO nampaknya telah mengendus adanya ketimpangan dalam penerapan ketiga komponen MTBS selama lebih dari satu dekade terakhir. Rupanya ada satu komponen yang terlupakan selama ini yaitu komponen ketiga. Apa itu?


Dasar-dasar MTBS
MTBS merupakan suatu bentuk intervensi yang dirancang untuk menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan pada balita yang banyak terjadi di negara-negara berkembang, yang disebabkan antara lain oleh penyakit diare, pneumonia, malaria, masalah gizi, penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, HIV/AIDS dan malaria.

Ketika suatu negara menerapkan MTBS, maka ada 3 komponen khas yang menguntungkan yang akan diperoleh, yaitu:

1. Komponen I: meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit menggunakan pedoman MTBS yang telah  diadaptasi di negara tersebut.

2. Komponen II: memperbaiki sistem kesehatan melalui penguatan perencanaan dan manajemen kesehatan di tingkat kabupaten/kota, melalui penyediaan sarana/prasarana kesehatan dan obat-obatan esensial, pemberian dukungan dan supervisi, peningkatan sistem rujukan kasus dan sistem informasi kesehatan, serta mengatur tata kerja yang efisien di fasilitas kesehatan.

3. Komponen III: meningkatkan praktek/peran keluarga dan masyarakat (terutama kader) dalam perawatan balita sehat dan sakit di rumah serta upaya pencarian pertolongan pada kasus balita sakit.

Dari ketiga komponen diatas, komponen III sebenarnya memiliki potensi terbesar dalam berkontribusi meningkatkan kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak. Komponen tersebut dikenal sebagai 'MTBS Berbasis Masyarakat' atau "Community-Integrated Management of Childhood Illness" atau C-IMCI.

Pentingnya praktek keluarga dan masyarakat dalam penerapan MTBS
Untuk memperoleh dampak maksimal dari strategi penerapan MTBS, diperlukan persyaratan yaitu ketiga komponen di atas berjalan seimbang dengan semestinya. Ketika salah satu komponen tidak berjalan dengan semestinya, maka hasil yang mengecewakan akan didapat oleh negara yang menerapkan MTBS. Selama ini banyak negara penerap MTBS lambat atau melupakan penerapan praktek keluarga dan masyarakat dalam pendekatan MTBS yang berdampak pada tetap tingginya tingkat kematian balita. Dapat dikatakan bahwa segala daya upaya dan dana yang telah dikeluarkan selama ini hampir sia-sia. Selain itu perlu dievaluasi kembali apakah komponen ke 1 dan 2 telah diterapkan secara maksimal menurut beban yang ada di negara tersebut?

Menurut WHO dan UNICEF, 80% kematian balita terjadi di rumah (dengan sedikit atau tanpa adanya kontak dengan petugas kesehatan). Kegiatan MTBS berbasis masyarakat mengupayakan adanya hubungan (link) antara petugas kesehatan dan masyarakat. Tujuannya adalah mendukung & meningkatkan praktek-praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan balita di rumah untuk menjamin kelangsungan hidup anak, menurunkan tingkat kesakitan dan mempromosikan praktek-praktek dalam rangka meningkatkan tumbuh-kembang anak.

Ada 16 praktek keluarga yang dapat diterapkan melalui kegiatan MTBS berbasis masyarakat, yaitu:
1. Promosi tumbuh-kembang anak.
    - Air Susu Ibu Eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi.
    - Pemberian makanan pengganti ASI (MP-ASI) setelah anak berumur 6 bulan yang dilanjutkan pemberian ASI hingga anak berumur dua tahun.
    - Memastikan anak menerima tambahan mikronutrien seperti Vitamin A, zat besi dan Zinc (melalui makanan sehari-hari atau tambahan).
    - Menerapkan SDIDTK di rumah.

2. Pencegahan penyakit.
    - Menerapkan jamban keluarga, mencuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah buang  air besar.
    - Mencegah anak-anak terkena malaria melalui pemakaian kelambu (kelambu berinsektisida).
    - Pemberian perawatan yang sesuai untuk penderita HIV/AIDS terutama anak yatim/yatim piatu serta pencegahan penularan HIV/AIDS, bersikap yang benar tehadap penderita HIV/AIDS.
   
3. Perawatan balita sehat dan sakit di rumah.
    - Melanjutkan pemberian makan dan minum termasuk ASI ketika anak sakit.
    - Memberi anak-anak pengobatan yang sesuai bila terinfeksi.
    - Mencegah anak-anak terhadap luka dan kecelakaan serta memberikan pertolongan ketika terjadi luka dan kecelakaan.
    - Mencegah anak-anak terhadap tindakan kekerasan, pelecehan, menyalahgunakan/mengeksploitasi dan melalaikan anak.

4. Pencarian pertolongan pada kasus balita sakit di luar rumah.
    - Mengetahui ketika anak sakit (sakit berat) memerlukan pertolongan keluar rumah/fasilitas kesehatan/petugas kesehatan.
    - Membawa anak ke petugas kesehatan/fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap sebelum anak berusia 1 tahun.
    - Menurut apa yang dikatakan petugas kesehatan ketika membawa anak berobat, kapan harus kontrol dan bilamana perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.
   - Memastikan setiap Ibu Hamil memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, melahirkan ditolong tenaga kesehatan dan perawatan setelah melahirkan (nifas) dilakukan oleh tenaga kesehatan. 

Kesimpulan
Agar diperoleh hasil/dampak maksimal dari penerapan MTBS, dalam upaya menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan anak balita, maka penerapan MTBS-M harus diprioritaskan. MTBS-M sangat cocok diterapkan di Indonesia bila mengingat kenyataan mayoritas kondisi geografis yang sulit, kondisi sosial-ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat yang masih memprihatinkan.

Untuk meningkatkan intervensi melalui komponen ketiga, tentu bukan hal yang mustahil walaupun tidak semudah membalik telapak tangan, diperlukan kerja keras dan waktu yang tidak pendek karena sedikit banyak terkait dengan intervensi kearah perubahan tingkah laku (behavior) masyarakat. Bila itu masyarakat Indonesia, tentu behavior-nya sangat beragam.

Referensi
1. WHO, CORE, UNICEF, 2004, Child Health in Community, Community IMCI, Briefing Package for Facilitators.