User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) sudah dikomputerkan (komputerisasi) yang dikenal sebagai IMCI Computerized Adaptation and Training Tool (ICATT). WHO telah memperkenalkan ICATT di Indonesia sejak 1 tahun yang lalu. ICATT merupakan suatu instrumen pembelajaran elektronik (E-learning) yang berfungsi ganda yaitu disamping sebagai alat adaptasi dan pengembangan MTBS juga berfungsi sebagai alat pembelajaran MTBS. Apa saja kelebihan ICATT dibandingkan MTBS konvensional?

 

Latar Belakang Penggunaan ICATT

Pada awalnya, pelatihan standarisasi MTBS yang konvensional memerlukan waktu 11 hari (tepatnya 86 jam). Karena dianggap kurang efisien, maka beberapa negara pengadopsi MTBS memperpendek waktu pelatihan menjadi berkisar 3-10 hari. Untuk Indonesia, pelatihan standarisasi MTBS memerlukan waktu 7 hari kerja termasuk pemakaian sesi malam. Menurut hasil evaluasi yang telah dilakukan di beberapa daerah, pelatihan 7 hari ini dianggap sudah cukup memadai (optimal) walaupun ada beberapa kalangan lain yang menganggap hasil pelatihan 7 hari tidak sebaik pelatihan standar 11 hari. Lamanya waktu pelatihan merupakan salah satu kendala, bila waktu pelatihan diperpendek menjadi kurang dari 7 hari maka tidak semua modul tersampaikan dengan baik, dan ini tidak diperbolehkan. Sebaliknya bila waktu pelatihan diperpanjang maka menjadi tidak efisien ditinjau dari beberapa aspek.

 

Bagaimanapun metode pelatihan konvensional masih dianggap kurang efektif dan efisien, karenanya WHO terus berupaya melakukan inovasi perbaikan hingga me-release metode pelatihan MTBS dengan E-learning. Ada beberapa hasil penelitian mengenai efektivitas E-learning yang dijadikan rujukan bagi WHO sebagai dasar agar ICATT lebih cepat diadopsi di suatu negara.

 
Berdasarkan data hasil riset yang dikumpulkan dari 70.932 peserta, dari 667 mata kuliah yang berbeda yang melibatkan 3.750 kegiatan belajar (2009), menunjukkan bahwa:

  • Metode E-learning 6% lebih efektif daripada metode pelatihan di kelas (masing-masing 36,2% dibanding 29,8%).
  • Data menunjukkan bahwa E-learning menghasilkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang lebih tinggi secara signifikan segera setelah pelatihan (masing-masing hasil post-test untuk E-learning 80,1% dibanding 71% untuk pelatihan di kelas).
  • Efisiensi E-learning sebesar 68,8% dibanding 58,8% untuk pelatihan di kelas.
  • Keduanya menghasilkan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang hampir sama 3 bulan pasca pelatihan (masing-masing 68% untuk E-learning dan 67% untuk pelatihan di kelas).

Penelitian lain menunjukkan bahwa E-learning secara signifikan mengurangi jam pelatihan dan biaya pelatihan dan berbagai kelebihan lain dibandingkan dengan metode konvensional.

  • Hall dan Le Cavalier (2000) membuktikan bahwa IBM berhasil menghemat 200 juta US$ pada tahun 1999 dengan mengkonversi pelatihan tradisional menjadi E-learning.
  • Fletcher (1990) menemukan bahwa pelatihan berbasis komputer menghasilkan penghematan waktu 35-45 persen.
  • Hall (1997) menunjukkan adanya penghematan waktu 20-80% pada E-learning daripada metode konvensional.
  • Peningkatan aplikasi untuk pekerjaan rata-rata meningkat 25% daripada metode konvensional
  • Adanya konsistensi dalam pengiriman konten teknis.
  • Mengurangi stres dan meningkatkan kepuasan siswa.
  • Pengetahuan khusus yang dikomunikasikan dapat ditangkap lebih baik pada E-learning.
  • Unsur-unsur penting pelatihan, bukti kelulusan dan sertifikasi lebih mudah terakomodir.

Disadari bahwa tantangan terbesar bagi suatu E-learning adalah adanya "dinding" antara pengembang dan pengguna. Oleh karenanya ICATT dikembangkan untuk menghapus dinding ini.

 
 
Manfaat ICATT dalam mendukung Strategi Program Nasional
ICATT mendukung strategi penerapan MTBS nasional karena:
  • Proses adaptasi pedoman generik (modul) MTBS hingga menjadi pedoman yang siap digunakan di suatu negara seringkali merupakan suatu proses yang panjang dan rumit. Dengan memakai ICATT, maka proses adaptasi akan lebih mudah dan cepat.
  • Proses revisi berkala (pemutakhiran) modul MTBS menjadi lebih mudah dan cepat dibandingkan metode konvensional.
  • Pengelola Program mempunyai beberapa pilihan alternatif metode pelatihan MTBS seperti: belajar mandiri, pelatihan secara kelompok, pembelajaran jarak jauh, dll sehingga meningkatkan cakupan pelatihan.

Keuntungan menggunakan ICATT bagi sistem/program kesehatan
Beberapa keuntungan yang dapat diukur melalui penggunaan ICATT antara lain:
  • Meningkatkan cakupan
    • Lebih banyak Petugas kesehatan yang dapat dilatih.
    • Lebih banyak pilihan alternatif metode pelatihan sehingga meningkatkan cakupan pelatihan.  
  • Meningkatkan kualitas
    • Pendekatan pelatihan dirancang khusus.
    • Mempercepat pemutakhiran (update) pedoman/modul dan referensi.
  • Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya
    • Petugas kesehatan yang dilatih tidak perlu terlalu lama absen dari tempat tugas/klinik untuk mengikuti pelatihan.
    • Kebutuhan akan pelatih profesional berkurang.
    • Praktek klinis lebih fleksibel (dalam hal waktu dan tempat)
  • Lebih efektif dan efisien
    • Waktu pelatihan lebih singkat karena waktu pembelajaran di kelas 2.5 kali lebih pendek daripada metode pelatihan konvensional.
    • Jumlah bahan cetakan berkurang (lebih ramah lingkungan).
    • Ratio tutor – peserta lebih baik.
    • Jumlah tatap muka Peserta latih (Siswa) dengan Tutor (Fasilitator) lebih sedikit, sebaliknya peserta latih mempunyai kesempatan belajar mandiri lebih lama dan lebih fleksibel.
    • Prosedur lebih mudah. Pelatihan E-learning memungkinkan dapat dilakukan secara berkelompok, jarak jauh, mandiri, dll
    • Unit cost lebih rendah dibandingkan pelatihan konvensional.
  • Kesinambungan lebih terjamin: berbagai manfaat di atas memberikan jaminan akan adanya kesinambungan (sustainability) penerapan ICATT kedepan.
 
Alat bantu utama dalam ICATT
Pelatihan MTBS menggunakan ICATT mutlak memerlukan komputer sebagai media dan alat bantu pembelajaran. Dikatakan sebagai alat bantu karena tidak seluruh sesi pelatihan melulu hanya menggunakan/mengandalkan komputer, ada sesi-sesi pelatihan di lapangan yang tetap harus dilakukan tanpa bantuan komputer. Diperlukan 3-4 kali pertemuan Tutor dengan Peserta latih untuk menjelaskan penggunaan perangkat ICATT, mendemonstrasikan cara penilaian dan klasifikasi MTBS dan MTBM, mendiskusikan masalah yang mungkin timbul, menilai kemajuan dan ketrampilan peserta melalui praktek klinik di lapangan, memberikan post test, dan melakukan pemantauan pasca pelatihan.
 
Sesi-sesi ICATT
Ada 4 sesi pada Unit Pelatihan ICATT, yaitu:
  • BACA: mencakup informasi penting yang dapat dihubungkan dengan bahan-bahan kepustakaan di dalam ICATT.
  • LIHAT: mencakup bahan-bahan ilustrasi berupa gambar-gambar, foto dan video yang disertai penjelasan.
  • PRAKTEK: mencakup berbagai latihan dengan umpan balik langsung kepada peserta pelatihan dan bimbingan praktek klinis.
  • TES: mencakup uji pertanyaan untuk menguji kemampuan Peserta dengan jawaban hanya tersedia pada Fasilitator.

Jenis Software ICATT
Ada 2 jenis software atau paket pelatihan ICATT, yaitu:
  1. Paket antarmuka (interface) terbuka. Memungkinkan penggunanya dapat melakukan perubahan pada hampir semua aplikasi seperti: mengubah/menyesuaikan pedoman/modul, membuat diagram alur manajemen, meng-update kepustakaan, menyeting program pelatihan, dll. Oleh karenanya paket ini hanya diperuntukkan dipakai bagi Pengembang dan Manajer Program.
  2. Paket antarmuka (interface) tertutup. Paket ini diperuntukkan bagi Pengguna 'end user' dan bagi Fasilitator. Pengguna tidak dapat melakukan perubahan pada semua aplikasi. Cocok digunakan untuk pelatihan individu dan belajar mandiri asalkan pembelajaran sesuai urutan yang disarankan. Sedangkan bagi Pengajar, paket ini merupakan alat bantu pengajaran, alat pencatatan kemajuan Siswa, dan dapat memberikan umpan balik langsung pada siswa dalam praktek pengajaran.

Fungsi Software ICATT
Dengan demikian, Software ICATT dapat digunakan sebagai media update/pengembangan, alat bantu belajar, media belajar secara mandiri, media kepustakaan/referensi dan alat uji kemampuan.
 
Dimana ICATT digunakan?
ICATT dirancang untuk mendukung pelatihan MTBS di:
  1. Pre-service: Fakultas Kedokteran, Akademi Perawat dan Akademi Kebidanan, dll
  2. In-service: Fasilitas kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya), Rumah Sakit, Dinas Kesehatan provinsi/kabupaten/ kota maupun pusat.
Ringkasan dan Kesimpulan
    • ICATT berfungsi sebagai alat pengembangan dan pembelajaran MTBS.
    • Pelatihan MTBS menggunakan ICATT tidak sepenuhnya hanya mengandalkan penggunaan komputer, tetap diperlukan praktek klinis dan pengorganisasiannya untuk menjamin ketrampilan klinis para Siswa.
    • Pelatihan MTBS menggunakan ICATT di Indonesia masih dalam tahap ujicoba dan bersifat suplemen.
    • Pelatihan MTBS konvensional masih tetap diperlukan.
    • Pengawasan mutu pelatihan ICATT merupakan tanggung jawab Pemerintah (pusat dan daerah)
  • Sangat dianjurkan melibatkan fasilitator yang berpengalaman.
  • Pada umumnya ICATT mudah dipelajari bahkan oleh seseorang yang baru mengenal komputer, oleh karenanya Peserta pelatihan ICATT tidak memerlukan pengetahuan komputer yang khusus.
  • Pemakaian komputer dalam pelatihan MTBS tidak akan pernah benar-benar menghilangkan pemakaian instruktur manusia.
  • Pengelolaan ICATT menjadi baik di tangan orang yang tepat.
 
Referensi
  • Martin Weber, WHO, 2010, bahan presentasi "ICATT – innovative software, To support WHO/UNICEF strategy for Integrated Management of Childhood Illness (IMCI)".
  • Hanny Roespandi dan Tim, WHO, 2010, bahan presentasi "ICATT, IMCI Computerized Adaptation and Training Tool (suatu software inovatif) untuk mendukung strategi Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) atau Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)", pada Pelatihan Fasilitator ICATT (IMCI Computerize Adaptation Training Tools), Surabaya, 11-13 Januari 2010.