User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 


Sejak awal diciptakan, manusia dirancang untuk hidup bersosialisasi, entah itu hidup bersama suami/istri, anak-anak, saudara dan masyarakat. Menurut kodratnya, manusia seharusnya hidup saling tolong-menolong. Ada 3 jenis respon manusia terhadap situasi yang memerlukan pertolongan, entah itu di dalam satu keluarga (yang merupakan contoh unit organisasi terkecil), gereja, organisasi swasta atau negeri hingga tingkat negara. Ketiga jenis respon yang dimaksud yaitu: casual companion (tidak peduli), commitment (bersimpati dan berkomitmen) dan compassion (berbelas kasihan sehingga mau terlibat / involve). Mari kita ulas ketiga jenis respon tersebut (disingkat 3C) melalui contoh.


Beda komitmen (committed) dan terlibat (involved atau involve)
Pengertian "komitmen" (berkomitmen atau committed) beda dengan "terlibat" (involve). Walaupun 'komitmen' dan 'terlibat' merupakan 2 kata yang saling berkaitan dan seolah-olah hampir sama tujuannya akan tetapi ternyata berbeda dalam penerapan (action)-nya. Orang bisa saja berkomitmen akan tetapi belum tentu dia mau terlibat atau melakukan tindakan nyata. Mari kita ambil contoh yang kiranya mudah dimengerti, pada pagi hari di meja makan kita telah tersaji sarapan yang terdiri dari telur goreng (telur ayam yang digoreng) dan sosis goreng (sosis daging sapi yang digoreng). Sebelum menikmati makanan tersebut, kita coba menganalisis binatang-binatang yang berkontribusi sehingga makanan tersebut tersaji di meja makan. Pada telur ayam, ayam memang 'berkomitmen' untuk bertelur tetapi dia tidak terlibat (setelah bertelur, dia terpisah dan tidak menjadi bagian dari telur-nya yang digoreng tersebut). Lain halnya dengan sosis, sapi benar-benar terlibat karena tubuhnya menjadi bagian dari sosis yang digoreng tersebut.

Contoh 3 jenis respon manusia
Ketika manusia diperhadapkan pada suatu situasi tertentu yang memerlukan pertolongan darinya, ada 3 macam respon yang mungkin akan muncul (yang disebut 3C) yaitu: 

  • Step I: Casual companion (tidak peduli)
  • Step II: Commitment (bersimpati, tergerak dan berkomitmen)
  • Step III: Compassion (berbelas kasihan, bergerak (melakukan tindakan nyata), terlibat atau involve)


Contoh ketiga jenis respon manusia tersebut secara sangat jelas digambarkan oleh Yesus Kristus di dalam Injil Lukas 10: 25-37 tentang 'Orang Samaria Yang Murah Hati' sebagai berikut:

(25) Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(26) Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

(27) Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

(28) Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."

(29) Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

(30) Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

(31) Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

(32) Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

(33) Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

(34) Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

(35) Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

(36) Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

(37) Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Dari ayat-ayat di atas, kita melihat Yesus membeberkan dengan amat jelas situasi seseorang yang terkena musibah besar beserta respon dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Bila dilihat dari asal dan tujuan perjalanan orang tersebut (ayat 30), kemungkinan besar dia adalah orang Yahudi. Juga dikatakan pada ayat 30 bahwa dia dirampok habis-habisan dan dipukuli sengah mati, berarti bahwa dia sangat menderita dan memerlukan pertolongan pihak lain. Selanjutnya mulai ayat 31 dan seterusnya dikatakan ada 3 orang yang melihatnya menderita akan tetapi ternyata respon setiap orang berbeda. Mari kita coba menganalisis respon ketiga orang tersebut.

Orang pertama adalah seorang imam. Imam menggambarkan pemimpin agama (pemimpin rohani) bagi sekelompok orang, dengan demikian seorang imam seharusnya melakukan hal-hal baik dan terpuji seperti yang sering dia ajarkan. Akan tetapi apa responnya setelah dia melihat orang yang tertimpa musibah tersebut? Imam itu hanya melihat lalu berjalan lagi (ayat 31). Walaupun tidak tertulis, kita boleh mengartikan bahwasanya bila kita bertindak seperti imam itu, maka kita telah mengambil sikap/respon tahap (step) I yang disebut casual companion (tidak peduli) pada penderitaan orang lain.

Orang kedua adalah seorang Lewi. Orang-orang Lewi merupakan satu suku pada mayarakat Yahudi yang memiliki peran sangat penting karena mendapat tugas mulia dari Tuhan yaitu melayani Tuhan di Kemah Suci sehingga sudah selayaknya orang-orang Lewi bersikap dan bertindak benar menurut ajaran agama. Namun apa respon orang Lewi itu ketika ia melihat orang yang tertimpa musibah terbaring di tepi jalan? Orang Lewi itupun melewatinya (ayat 32). Walaupun tidak tertulis, kita dapat saja menafsirkan bahwasanya setelah ia melihat orang yang terkena musibah, lalu mendekati, mengamati dan di dalam hati ia menimbang-nimbang demikian: "orang seperti apa yang akan saya tolong? Apakah untung yang akan saya peroleh bila menolong dia?" Jadi bila kita seperti orang Lewi ini, sebelum menolong kita akan menilai terlebih dahulu siapa adanya orang yang akan kita tolong? timbang dulu untung dan rugi yang akan kita dapat bila menolong orang. Akhirnya kita akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada untung yang akan didapat bila kita menolong dia (walaupun sesungguhnya kita memiliki kemampuan untuk menolongnya). Mungkin di dalam hati kecil orang Lewi itu sebenarnya punya keinginan untuk menolong tetapi akhirnya tidak jadi melakukan karena banyak pertimbangan. Dapat kita katakan bahwa bila kita bersikap seperti orang Lewi ini, kita hanya sampai pada tahap (step) 'bersimpati' pada penderitaan orang atau commited akan tetapi tidak mau menolong (no action) atau tidak terlibat.

Orang ketiga adalah seorang Samaria, orang Samaria dapat dikatakan merupakan suku bangsa yang 'tidak disukai' orang Yahudi dan mereka mengetahui serta menyadari hal itu. Sebagai catatan, orang Samaria merupakan suku bangsa yang dibenci oleh orang Yahudi pada saat itu. Tetapi apa respon orang Samaria melihat orang yang tertimpa musibah tersebut? tergeraklah hatinya oleh belas kasihan (ayat 33). Tidak sampai disitu, kemudian ia menolong orang itu sampai tuntas. KIta dapat mengatakan bahwasanya ketika orang Samaria itu melihat orang Yahudi yang malang maka timbullah rasa iba (belas kasihan) yang mendalam sehingga ia melakukan aksi nyata pertolongan. Bukan sekedar bersimpati dan berkomitmen akan tetapi tergerak, menolong (action) dan terlibat. Dengan perkataan lain, bila kita seperti orang Samaria ini, kita telah sampai pada tahap III yaitu compassion (berbelas kasihan, tergerak dan terlibat atau involve). Ini yang disukai Tuhan.


Hubungan perumpamaan ini dengan kehidupan orang Kristen
Kehidupan saat ini serba sangat cepat yang menyebabkan orang-orang hanya melihat 'kedepan.' Masing-masing orang punya agenda sendiri yang tidak bisa dikorbankan untuk orang lain. Padahal Yesus selalu bicara bagaimana memenuhi kebutuhan orang lain. Bagaikan mobil yang berlari sangat kencang, penumpangnya hanya melihat kedepan karena pemandangan di kiri dan kanan (sekeliling) tidak jelas. Orang Kristen yang hanya melihat kedepan saja melupakan prinsip-prinsip kekristenan yaitu untuk memperhatikan (care) orang-orang sekelilingnya.

Kita seringkali berfokus pada hal-hal yang kelihatannya penting dan mengabaikan hal-hal yang seolah-olah tidak penting tetapi ternyata sangat penting. Pada suatu saat kita baru menyadari bahwa hal-hal yang kita anggap tidak penting tersebut ternyata sangat penting. Ilustrasi yang diambil dari kehidupan nyata: calon pengantin di USA menghabiskan hingga 70 US dollar untuk menyelenggarakan pesta pernikahan padahal gajinya setahun hanya 40.000-50.000 US dollar sehingga harus berhutang dan akan lunas setelah 2-3 tahun. Seolah-olah hal perayaan pernikahan adalah hal terpenting padahal ada hal yang lebih penting yang dilupakan calon pengantin yaitu konseling pernikahan. Tidak mengherankan apabila terjadi perceraian setelah pernikahan baru berjalan 1,5 tahun padahal hutang untuk biaya pernikahan belum lunas dibayar.

Banyak orang sibuk dengan kegiatan-kegiatan sekuler (duniawi) sehingga melupakan hal-hal (kebutuhan) rohani dan baru teringat ketika sudah terlambat. Yang disebut kebutuhan rohani bukan hanya kebutuhan ibadah tetapi lebih dari itu yaitu melayani Tuhan melalui pelayanan pekerjaan Tuhan dan peduli kepada sesama dengan tindakan nyata. Apabila kita hanya melihat dan berkomitmen tetapi menunda untuk melakukan, saya khawatir kita akan kehilangan kesempatan dan nanti menyesal.

Kesimpulan

  • Tuhan tidak menginginkan kita terlibat nyata melakukan (action) seperti yang diperintahkanNya, tidak hanya berkomitmen, memberikan janji-janji dan niat. Contoh: Jangan sampai di gereja ada banyak orang terlalu sering berkomentar atau berkomitmen tetapi tidak pernah melakukan apa-apa (terlibat) alias no action talk only.
  • Lakukanlah hal-hal sekecil apapun. Jangan pernah meremehkan 'hal-hal kecil.' Setiap orang diberikan talenta dan kemampuan masing-masing. Bila kita terlibat pada hal-hal kecil maka kita akan mampu terlibat pada hal-hal besar.
  • Biasakan memberi. Orang kristen jangan hanya menerima berkat tetapi harus menjalankan berkat (memberikan kepada orang lain) bagaikan sungai yang mengalir.
  • Tuhan tidak pernah berhutang kepada kita, apa yang kita tabur pasti akan kita tuai.
  • Milikilah belas kasihan (compassion) seperti Tuhan Yesus. Bila kita memelajari Injil, akan nyata bahwasanya setelah hati Yesus tergerak oleh belas kasihan maka akan diikuti perbuatan nyata ('bergerak' atau action) dan selanjutnya mujizat selalu terjadi, seperti dikutip dari ayat-ayat Alkitab di bawah ini:

Matius 14:14

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Matius 20:34

Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Markus 6:34

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.


Renungan
Apakah hal-hal yang kita lakukan adalah karena berbelas kasihan kepada Tuhan?

Pokok Doa
- Pokok doa: Tuhan, berilah aku belas kasihan sehingga hidupku tidak selalu berlari kencang, sekali-kali bergerak perlahan (slow down) untuk melihat sekeliling dan berilah aku kemampuan melakukan (action, terlibat) pada hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.


Sumber
1. Artikel ini merupakan ringkasan (disertai penyesuaian seperlunya) dari materi khotbah yang dibawakan oleh Pdt. Charles Nehemia, dengan tema "Peranan Dewasa Muda Dalam Gereja," dalam kebaktian Young Adult Fellowship di GBI Bukit Zaitun Jakarta pada tanggal 26 Maret 2011.
2. Gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d8/Schnorr_von_Carolsfeld_Bibel_in_Bildern_1860_197.png, diakses 28 Maret 2011.
3. http://alkitab.otak.info/index.php?hal=lihatPasal&injil=42&pasal=10&ayat=29#29, diakses 28 Maret 2011.
4. http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Samaria, diakses 28 Maret 2011.