User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 


Gambar praktik upaya sterilisasi kembali alat suntik.
Sumber: http://hcvets.com/data/transmission_methods/syringes.htm

Praktik pemberian suntikan merupakan prosedur umum dalam pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk memasukkan obat atau vaksin kedalam tubuh manusia. Namun banyak terjadi pemberian suntikan yang sebenarnya kurang/tidak perlu ditinjau dari indikasi pemberian suntikan. Menurut World Bank, berdasarkan hasil studi, di Indonesia ada lebih dari 70% pemberian suntikan yang dianggap tidak perlu. Praktik-praktik pemberian suntikan yang sebelumnya dianggap aman sesungguhnya sangat berisiko (menimbulkan ketidakamanan) bagi penerima (pasien), petugas pemberi suntikan maupun masyarakat.  Apa saja yang termasuk praktik pemberian suntikan yang tidak aman (unsafe injection)? simak di bawah ini.


Sebagian besar (90-95%) pemberian suntikan diperuntukkan untuk tujuan terapi, dan 5-10% diberikan untuk tujuan imunisasi. Praktik penyuntikan yang tidak aman banyak terjadi di masyarakat, sayangnya masyarakat termasuk petugas kesehatan kurang menyadari hal ini. Menurut WHO, diperkirakan ada sekitar 15-50%  kasus pemberian suntikan (injeksi) yang tidak aman (unsafe injection) dari sekitar 15  milyar suntikan yang diberikan di seluruh dunia terutama terjadi di negara-negara berkembang. Unsafe injection merupakan salah satu penyumbang terbesar bagi penularan (transmisi) penyakit-penyakit menular berbahaya seperti HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, kecacatan dan kematian. Unsafe injection menyebabkan ketidakamanan bagi pasien, tenaga kesehatan dan masyarakat.

 

Praktik unsafe injection

Unsafe injection dalam praktiknya disebabkan oleh kesalahan prosedur atau wrong administration. Wrong administration meliputi prosedur penyiapan peralatan suntikan seperti sterilisasi, obat-obatan dan vaksin, dan manajemen pembuangan limbah suntikan. Wrong adminsitration akan meningkatkan risiko ketidakamanan (membahayakan) pasien, petugas dan masyarakat.

Yang termasuk wrong administration meliputi:

1. Praktik-praktik pemberian suntikan yang berisiko merugikan penerima suntikan (pasien) antara lain:

  • Menggunakan kembali disposable syringe (termasuk jarum) bekas pakai. Spuit atau jarum injeksi yang sama digunakan untuk menyuntik 2 orang yang berbeda tanpa dilakukan sterilisasi.
  • Spuit atau jarum injeksi dicuci dengan air dan alkohol setelah penyuntikan.
  • Membersihkan spuit bekas pakai memakai desinfektan untuk digunakan kembali.
  • Syringe (spuit) dimasak atau disterilkan kembali setelah penyuntikan untuk digunakan kembali.
  • Membersihkan tutup vial (yang sebenarnya sudah steril) dengan kapas sebelum memberi suntikan.
  • Jarum injeksi tersentuh sesuatu sebelum penyuntikan.
  • Jarum dibersihkan dengan kapas alkohol sebelum penyuntikan.
  • Memasukkan 2-3 jenis (multipel dosis) obat kedalam 1 spuit (syringe).
  • Menyuntikkan obat atau vaksin dari 1 syringe untuk beberapa orang.

  • Pada pemakaian obat single dose pada kemasan ampul, ampul telah terbuka (sejak lama) sebelumnya.
  • Bagian tubuh yang akan disuntik tidak diusap dengan kapas alkohol.
  • Spuit ditaruh di meja atau baki (tray) setelah penyuntikan.
  • Mengganti jarum tetapi menggunakan kembali bagian body (tabung dan piston) syringe.
  • Memberikan injeksi walau sebenarnya obat dapat diberikan dengan cara lain yang lebih aman.
  • Mensterilkan peralatan suntikan tanpa membersihkan sebelumnya.
  • Merebus peralatan suntik dalam panci terbuka.
  • Menekan bagian yang berdarah (bekas suntikan) dengan jari.
  • Memberikan imunisasi pada bayi di daerah bokong (pantat).
  • Meninggalkan jarum menancap pada tutup vial untuk mengisap tambahan dosis.
  • Mencampur vaksin dari 2 atau lebih botol yang dibuka.
  • Memanaskan atau membakar jarum suntik.
  • Mencampurkan sepuluh dosis vial vaksin dengan dosis-tunggal pengencer.
  • Menggunakan alat injeksi jet (jet injector) dengan nozzle yang dapat digunakan kembali (reusable nozzle).
  • Menyimpan obat-obatan dan vaksin dalam lemari es yang sama.
  • Melakukan sterilisasi peralatan tanpa pengontrolan waktu dan temperatur.

2. Praktik-praktik yang berisiko membahayakan petugas kesehatan selaku pemberi suntikan maupun petugas lain yang terlibat di suatu fasilitas kesehatan terkait upaya penanganan syringe (termasuk jarum bekas) terutama pasca penyuntikan, antara lain ketika:

  • Menutup jarum dengan tutupnya (recapping).
  • Menaruh atau membawa jarum ketempat pembuangan.
  • Menajamkan jarum tumpul.
  • Melakukan upaya-upaya untuk membersihkan, menyingkirkan, membuang atau menyortir jarum bekas pakai.

3. Praktik-praktik yang berisiko merugikan masyarakat. Praktik yang merugikan masyarakat akibat kesalahan dalam manajemen pembuangan limbah suntikan (limbah medis), antara lain:

  • Membiarkan jarum suntik bekas pakai berada di daerah dimana anak-anak bisa bermain.
  • Memberikan atau menjual alat suntik bekas pakai atau telah kadaluarsa (expired) kepada pihak lain (vendor) yang akan menjual atau menggunakan kembali untuk masyarakat.
  • Membiarkan alat suntik bekas pakai berada di tempat-tempat yang dapat diakses orang luar (masyarakat).

Bagaimana kondisi unsafe injection di Indonesia?
Badan Litbangkes sedang melaksanakan studi penilaian cepat masalah unsafe injection di Indonesia yaitu Rapid Assessment of Injection Safety in Curative and Preventive Services in Java and Bali Islands, pada Oktober-Desember 2010. Tentu kita dapat mengetahui (data) praktik-praktik unsafe injection apabila hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan.

Referensi
1. Soewarta Kosen, diseminasi hasil Rapid Assessment of Injection Safety in Curative and Preventive Services in Java and Bali Islands, Jakarta, 13 April 2011.
2. http://www.who.int, diakses 13 April 2011.
3. http://web.worldbank.org, diakses 13 April 2011.
4. Pandit N B, Choudhary S K, Unsafe injection practices in Gujarat, India, dalam http://smj.sma.org.sg/4911/4911a14.pdf, diakses 14 April 2011.
6. http://www.inclentrust.org, diakses 14 April 2011.