Transportasi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Pemda DKI Jakarta salah perhitungan apabila mengira bahwa bila nanti pembangunan transportasi massal (MRT dan LRT) selesai maka otomatis akan mampu mengurangi kemacetan lalulintas di DKI Jakarta. Salah besar kalau mereka berpikir bahwa siapnya sistem transportasi massal akan menyebabkan para pemilik mobil dengan serta merta meninggalkan mobilnya di rumah kemudian berjalan kaki menuju halte-halte perhentian MRT dan LRT.

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
Populasi Sepeda Motor di Jakarta cukup mencegangkan. Data tahun 2013 menunjukkan populasi motor di Jakarta ada sekitar 10 juta unit (tidak termasuk yang berada di showroom-showroom sepeda motor). Belum lagi ditambah masuknya sejumlah motor dari kota-kota satelit. Dengan jumlah sebesar itu tentu motor punya kontribusi tidak kecil terhadap terjadinya kemacetan lalu lintas di Jakarta dan Jabodetabek. Meningkatnya tren jumlah pengguna motor disebabkan banyaknya keuntungan menggunakan motor, antara lain: motor merupakan jenis kendaraan yang operasionalnya relatif murah, gesit, praktis, efektif, efisien, mudah parkir, karena hobby, dan tidak ada pilihan angkutan umum yang memadai. Kejelekannya mungkin rawan kecelakaan, tapi bisa diminimalisir dengan selalu berdoa, meningkatkan keterampilan berkendara, dan keterampilan menghindar dari tabrakan. Salah satu solusi jitu mengurangi kemacetan lalin di Jakarta adalah merealisasikan Jalur Khusus Sepeda Motor. Mengapa Jalur Khusus Sepeda Motor sedemikian penting untuk mengatasi kemacetan Lalulintas di Jakarta?
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive


Gambar KRL. Sumber: http://www.krl.co.id/

Jalur Kereta Rel Listrik (KRL) yang sekarang bernama "Commuter Line" Jakarta - Bogor PP merupakan 'Jalur Klasik' sekaligus juga 'Jalur Emas." Walaupun jalur kereta lain di Jabodetabek sudah lama ada serta memiliki jumlah penumpang banyak, misalnya jalur Jakarta - Tangerang, Jakarta - Serpong, dan Jakarta - Bekasi, tetapi satu-satunya Jalur Klasik dan Jalur Emas adalah jalur Jakarta-Depok-Bogor. Mengapa penulis menyebut jalur ini sebagai "Jalur Klasik" dan "Jalur Emas?" Inilah alasannya

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive

     
Gambar 1: Kondisi parkir sepeda motor di salah satu area perparkiran terminal di Bandara Soekarno Hatta.
Gambar 2: Petunjuk arah ketempat parkir motor di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.

Struktur geografi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau serta tingginya proses bisnis menyebabkan kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap transportasi udara tidak ada matinya, bahkan trend-nya akan selalu meningkat. Hal ini menyebabkan banyak orang sering berhubungan dengan bandara. Untuk wilayah Jabodetabek, Bandara Soekarno Hatta (sering disingkat dengan "Soetta") merupakan bandara terbesar setelah Bandara Halim Perdana Kusuma. Di sisi lain, kemacetan lalulintas di Jabodetabek yang seperti penyakit kronis menyebabkan banyak orang mulai beralih modus transportasi menggunakan sepeda motor. Pertanyaannya, mungkinkah pergi ke Bandara Soekarno Hatta berkendara sepeda motor? Bila mungkin, lewat jalan mana? apakah ada tempat parkirnya dan apakah di setiap terminal di bandara ini tersedia lahan parkir motor? Bisakah sepeda motor menginap di Bandara? Bila motor bisa menginap, bagaimana penghitungan tarif parkirnya, mahal atau murah? dan bagaimana kondisi perparkiran sepeda motor di Bandara? amankah? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan seseorang yang ingin berkendara sepeda motor ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, di provinsi Banten. Temukan jawabannya disini.