Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 


Gambar KRL. Sumber: http://www.krl.co.id/

Jalur Kereta Rel Listrik (KRL) yang sekarang bernama "Commuter Line" Jakarta - Bogor PP merupakan 'Jalur Klasik' sekaligus juga 'Jalur Emas." Walaupun jalur kereta lain di Jabodetabek sudah lama ada serta memiliki jumlah penumpang banyak, misalnya jalur Jakarta - Tangerang, Jakarta - Serpong, dan Jakarta - Bekasi, tetapi satu-satunya Jalur Klasik dan Jalur Emas adalah jalur Jakarta-Depok-Bogor. Mengapa penulis menyebut jalur ini sebagai "Jalur Klasik" dan "Jalur Emas?" Inilah alasannya


Jalur Kereta Jakarta-Depok-Bogor PP adalah Jalur Klasik
Bagi kebanyakan pemakai jasa KRL/commuter line, jalur Jakarta-Depok-Bogor merupakan jalur yang sudah lama terbentang dan merupakan 'jalur harus.' Bagi masyarakat pengguna (pelanggan), tidak ada modus angkutan lain yang dapat menggantikan peran jalur ini. Konsumen seolah sudah sedemikian fanatiknya sehingga tanpa adanya Kereta Jakarta-Bogor, maka mereka merasa tidak memiliki aternatif lain. Hal ini dapat dimengerti karena beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada angkutan jenis lain yang dapat berperilaku seperti KRL/commuter line yang memiliki fleksibilitas tinggi dalam hal: murah, aman, aksesibilitas tinggi dan menyinggahi semua stasiun strategis antara Jakarta - Bogor. Jelas bahwa KRL jalur ini mampu memenuhi demand masyarakat yang tidak dimiliki angkutan umum jenis lain yang tersedia/melayani jalur Jakarta-Depok-Bogor dengan segala keterbatasan masing-masing
  2. Jalur ini memiliki karakteristik sangat spesifik yaitu relatif 'lurus' dari Utara ke Selatan atau boleh juga dikatakan dari Selatan ke Utara. Jalur KRL Jakarta-Depok-Bogor seolah membelah kota Jakarta dan Depok menjadi 2 bagian sama besar, kemudian menusuk ke jantung kota Bogor atau jantung kota Jakarta untuk kereta dari arah selatan. Si KRL meluncur lurus sambil sesekali berhenti untuk melayani penumpang, kemudian berlari lagi di 'jalur lurus' bagaikan anak panah, sesampai di ujung, kembali lagi, lari lagi lurus-lurus, sesampai di ujung kembali lagi, begitu seterusnya tiada jemu melayani penumpang. Maka layaklah dia disebut "jalur klasik." 
  3. Namun dia juga memberi kesan merakyat dan melayani tanpa pamrih. Ada nuansa kerakyatan disana. Mengapa? karena disanalah (di stasiun dan di dalam kereta) rakyat bertemu setiap hari dan membisu, hanya hati yang berbicara. Koq rakyat? yah ... karena penggunanya kebanyakan 'rakyat' yang berasal dari segmen ekonomi menengah kebawah.


Jalur Kereta Jakarta-Depok-Bogor adalah Jalur Emas
Jalur Kereta Jakarta-Depok-Bogor dapat disebut sebagai Jalur Emas,' alasannya karena:

  1. Merupakan jalur terpadat dengan kapasitas penumpang terbanyak dibandingkan jalur-jalur kereta yang lain di wilayah Jabodetabek.
  2. Stasiun-stasiun yang disinggahi merupakan stasiun di wilayah strategis dengan aksesibilitas tinggi.
  3. Stasiun-stasiun yang disinggahi sangat berpotensi untuk berkembang pesat dimasa depan.
  4. Jalur ini tidak akan pernah 'mati,' kesinambungannya sangat terjamin, demand masyarakat juga tidak pernah merosot, bahkan diprediksi akan semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring perkembangan kuantitas dan kualitas pelayanan commuter line Jakarta-Depok-Bogor.
  5. Wilayah yang dilalui commuter line Jakarta-Depok-Bogor akan diuntungkan secara ekonomi.


Dampak positif beroperasinya Kereta Jakarta - Depok -Bogor
Secara umum, bila terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan commuter line Jakarta - Depok -Bogor, Jakarta Bekasi, Jakarta - Serang, maka dapat membantu (berkorelasi) dalam hal:
1. mengurangi beban kemacetan lalu lintas.
2. mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas.
3. membuka lapangan pekerjaan sehingga mengurangi tingkat pengangguran.
4. memperbaiki status ekonomi wilayah yang dilewati KRL.
5. visualisasi/indikator nyata pelayanan pemerintah dalam sektor perhubungan.
6. mendukung program-program lintas sektor. 

Nama-nama Stasiun yang disinggahi Kereta karta - Bogor
Naik Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line jurusan Jakarta-Depok-Bogor memang mengasyikkan karena relatif cepat, bas kemacetan lalu lintas sehingga waktu tempuh dapat diperkirakan, dan cukup aman dari kecelakaan dibandingkan naik kendaraan darat jenis lainnya. Akan tetapi bila tidak terbiasa, kita bisa salah turun di stasiun yang bukan tujuan kita karena terlewat atau turun terlalu dini sebelum stasiun yang kita inginkan. Permasalahan ini disebabkan karena pada umumnya kereta tidak memiliki sistem/petugas pengingat yang mengingatkan nama-nama stasiun kereta yang disinggahi kereta seperti layaknya kalau kita naik bis kota.

Sebagai pengguna, kita mesti hafal atau memiliki catatan urutan nama-nama stasiun yang disinggahi commuter line agar tidak salah turun. Berikut adalah nama-nama stasiun yang disinggahi KRL Jakarta - Depok - Bogor secara berurutan, dimulai dari Stasiun Jakarta Kota, sebagai berikut:

 

JAKARTA KOTA --> Jayakarta --> Mangga Besar --> Sawah Besar --> Juanda --> GAMBIR --> Gondangdia --> Cikini --> MANGGARAI --> Tebet --> Cawang --> Duren Kalibata --> Pasar Minggu Baru --> PASAR MINGGU --> Tanjung Barat --> Lentang Agung --> Universitas Pancasila --> Universitas Indonesia --> Pondok Cina --> Depok Baru --> DEPOK --> Citayam --> Bojonggede --> Cilebut --> BOGOR.

Nama-nama Stasiun KRL di Jabodetabek
Bagan dan Nama-nama Stasiun KRL Jabodetabek selengkapnya sebagai berikut:


Rute KRL di Jabodetabek. Sumber:


Gambar kenangan suasana di dalam KRL Ekonomi jalur Bogor-Jakarta di malam hari. Sumber: www.youtube.com

Permasalahan
Beberapa permasalahan KRL Jakarta - Depok - Bogor antara lain:

  • Telah lama terjadi ketimpangan antara demand (permintaan) dan supply (pemenuhan) dalam pelayanan angkutan commuter line khususnya jalur Jakarta-Depok-Bogor. Hal ini sangat jelas terlihat pada jam-jam padat penumpang, yaitu pagi dan sore hari pada hari-hari kerja kantor, dimana penumpang sangat berjejalan hingga sulit bergerak di dalam kereta, sedangkan secara kuantitas armada kereta belum dapat memenuhi permintaan tersebut, oleh karena itu upaya peningkatan kualitas melalui penyediaan fasilitas AC menjadi sia-sia, sebab yang terjadi malah penurunan kualitas.
  • Di dalam kereta, tidak ada petunjuk atau petugas yang memberitahu nama stasiun yang disinggahi sehingga banyak penumpang harus teliti kalau tidak ingin kesalahan turun.

Kesimpulan dan Saran 
Demand yang tinggi terhadap Kereta jurusan Jakarta-Depok-Bogor tidak pernah merosot, bahkan diprediksi akan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah dan PT Kereta Api (Persero) Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek sangat perlu menyikapi melalui supply improvement (meningkatkan ketersediaan) dengan cara:

  1. Meningkatkan kuantitas pelayanan Kereta Komuter.
  2. Membuat jembatan layang (flyover) atau terowongan (subway) di tempat-tempat perlintasan kereta yang belum memiliki sistem flyover atau  terowongan.
  3. Meningkatkan kemampuan pengaturan jadwal commuter line yang sistematis dan terprogram baik.
  4. Meningkatkan kapasitas (daya tampung) stasiun-stasiun yang disinggahi Kereta Jakarta-Depok-Bogor untuk mengantisipasi kecenderungan meningkatnya jumlah penumpang.
  5. Meningkatkan kualitas pelayanan baik di dalam stasiun maupun di dalam kereta, misalnya memperhatikan faktor keamanan penumpang, menyediakan petugas atau petunjuk di setiap gerbong yang akan memberitahu (mengingatkan) penumpang tentang nama-nama stasiun berikut yang akan disinggahi oleh KRL.

Referensi
1. http://www.krl.co.id/index.php/c-news-c-menu-114/337-rute-krl-diefektifkan.html, diakses 3 November 2011.
2. http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Rute.jpg&filetimestamp=20080413123115, diakses 3 November 2011.

Add comment


Security code
Refresh