Transportasi

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Apabila kita menumpang pesawat terbang tertentu yang dilengkapi monitor yang terletak di depan seat kita, misal pesawat Garuda Indonesia, kita akan disuguhkan informasi penerbangan dari pesawat yang sedang kita tumpangi. Salah satu informasi yang disuguhkan adalah Kecepatan Pesawat di Landasan dan Kecepatan Udara Sesungguhnya. Uniknya, kalau kita perhatikan, Kecepatan Pesawat di Landasan selalu lebih rendah dari pada Kecepatan Udara Sesungguhnya. Saya sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa ada perbedaan antara "Kecepatan Pesawat di Landasan" dengan "Kecepatan Udara Sesungguhnya?" Adanya perbedaan kecepatan tersebut dapat membuat orang menjadi bingung dan bertanya-tanya. serta membayangkan seolah-olah ada dua kendaraan yang sedang berlari, yaitu satu berada di darat dan satu di udara. Lalu, bila memang ada 2 kendaraaan yang sedang berlari, mengapa kedua kendaraan tersebut tiba pada waktu yang bersamaan di bandara tujuan? Pertanyaannya, mengapa ada perbedaan antara "Kecepatan Pesawat di Landasan dan Kecepatan Udara Sesungguhnya?"  Mari kita kupas satu persatu kedua jenis kecepatan tersebut.

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive

Menurut pribahasa orang zaman dulu, "banyak jalan menuju Roma." Demikian pula banyak jalan (akses) dari Jakarta menuju Sirkuit Sentul. Penulis akan membeberkan salah satu cara/jalan dari Jakarta menuju Sirkuit Sentul (PP) menggunakan angkutan umum. Berawal ketika penulis ingin memenuhi undangan (tugas kantor) untuk menghadiri pertemuan di Hotel Lor In (Lorin) di Sentul. Karena Hotel Lor In terletak di kompleks Sirkuit Sentul, Kecamatan Madang, Kabupaten Bogor, maka Penulis memutuskan untuk datang ke Sirkuit Sentul menggunakan angkutan umum. Bagaimana jalurnya?

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

Menurut infodokterku.com, ada empat faktor penyebab kemacetan lalulintas yaitu: faktor jalan raya, faktor kendaraan, faktor manusia dan faktor lain. Khusus untuk faktor kendaraan, ada satu jenis kendaraan yang sudah diakui oleh banyak kalangan sebagai kontributor terbesar kemacetan lalulintas di ibu kota Indonesia yaitu mobil (khususnya mobil pribadi), penulis menyebutnya sebagai “Si Kotak Besar Berjalan.” Karena menjadi kontributor terbesar maka intervensi terhadap si Kotak Besar Berjalan akan punya daya ungkit tertinggi untuk mengurangi tingkat kemacetan di DKI Jakarta. Artinya, Jakarta memerlukan adanya aturan main khusus bagi si Kotak Besar Berjalan yang bertujuan untuk membatasi pergerakannya agar kemacetan lalulintas dapat terkurangi. Aturan main yang sedang menunggu implementasi adalah pembatasan populasi mobil yang boleh berkeliaran di jalanan ibu kota melalui penerapan 'nomor polisi (nopol) ganjil-genap' yang diyakini dapat mengurangi beban jalan raya. Untuk siapa? 39,1% (yang terbanyak) mengatakan kebijakan ini harus diterapkan pada mobil (lihat hasil jajak pendapat di bawah ini). Seberapa besar pengaruhnya dan bagaimana cara efektif untuk membatasi populasi si Kotak Besar Berjalan?