User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Rumah atau properti di negara kita telah menjadi barang langka bagi banyak orang terutama golongan menengah ke bawah karena harga rumah cenderung meningkat dengan cepat. Situasi ini nampaknya sangat dimanfaatkan oleh para pengembang (developer). Berbagai cara dilakukan oleh developer untuk menangguk keuntungan sebesar-besarnya dari bisnis properti, baik melalui cara-cara yang wajar (halal) atau dengan cara-cara tidak halal alias penipuan. Ada penipuan yang terselubung dan ada pula penipuan secara terang-terangan atau melakukan kebohongan publik. Namun sayangnya walaupun sudah terjadi kebohongan publik, kepentingan konsumen nampaknya kurang terlindungi terhadap ulah para developer nakal. Melalui media ini penulis ingin berbagi pengalaman temannya yang tertipu oleh salah satu Developer nakal. Tujuan tulisan ini untuk meminimalkan jumlah masyarakat (terutama masyarakat golongan ekonomi lemah) yang tertipu oleh developer nakal. 

 

Pengalaman singkat teman saya sebagai berikut:
Peristiwa ini bermula pada tahun 2008, teman saya membeli rumah di Bumi Sawangan Indah 1 (BSI 1) yang berlokasi di Sawangan, Depok, secara kredit (KPR) via Bank Yudha Bhakti. Pada waktu pertama kali bertransaksi, pihak developer yaitu PT Vitarama Jaya yang saat itu diwakili oleh Ibu E meminta uang DP dilunasi secara penuh sekitar 10 juta rupiah dengan alasan agar rumahnya cepat dibangun. Sebulan kemudian developer mengontak teman saya agar melakukan akad kredit. Hampir setiap hari developer menelepon agar segera melaksanakan akad kredit. Akhirnya akad kredit dilaksanakan bertempat di Bank Yudha Bhakti cabang Pasar Baru, Jakarta Pusat. Pada saat akad kredit, teman saya harus membayar sejumlah uang secara cash untuk biaya notaris, biaya bank dan segala macam tetek-bengeknya. Selanjutnya pembayaran cicilan KPR dilakukan dengan lancar, tidak pernah terlambat.
 
Tiga bulan pertama rumahnya belum dibangun, developer beralasan akan membangun jembatan terlebih dahulu untuk jalan mobil yang akan mengangkut material/logistik. Teman saya percaya dan selanjutnya ia jarang memantau pembangunan rumahnya karena ketiadaan waktu luang, juga terkendala jarak yang cukup jauh untuk bisa sering-sering memantau ke Sawangan Depok. Setelah lewat 7 bulan, teman saya datang ke lokasi, ternyata ... rumahnya belum juga dibangun. Padahal dalam kesepakatan tertulis klausul bahwa pihak developer akan menyelesaikan pembangunan dalam tempo 6 bulan setelah akad kredit. Kantor developer didatangi, yang ada di kantor developer hanya 1-2 orang penunggu, seperti tidak nampak tanda-tanda kehidupan. Mereka mengatakan akan membangun terlebih dahulu rumah-rumah di sebelah depan. Karena rumah teman saya agak dipojok, teman saya percaya saja. 
 
Sekitar 3 bulan kemudian, teman saya datang lagi ke lokasi dengan harapan rumahnya sudah mulai dibangun. Ternyata keadaan tanahnya masih seperti dulu, di atas tanah tsb masih berupa rerumputan dan belum ada sepotong batupun atau tumpukan pasir yang menandakan akan dimulainya pembangunan rumah. Memang ada beberapa rumah di sebelah depan seperti sudah dibangun tapi terkesan asal-asalan dan ada pula yang baru dibangun pondasi saja. Pada saat itu sedang tidak ada tukang yang bekerja. Setelah ditanyakan, pihak developer mengatakan bahwa sekarang sedang musim hujan, menunggu musim panas baru akan dibangun. 
 
Sementara itu cicilan KPR terus dibayar dengan lancar setiap bulannya tanpa terlambat. Kira-kira lebih dari 6 bulan kemudian, teman saya mengecek kembali ke lokasi, kembali dia kecewa karena belum ada pembangunan apapun juga. Bahkan terlihat pembanguinan rumah-rumah yang di sebelah depan tidak dilanjutkan, belum ada rumah yang terbangun, sedangkan di lokasi rumahnya terlihat tanahnya ditanami tumbuh-tumbuhan, dijadikan kebun oleh penduduk setempat. Dan saat datang ke kantor developer, tidak ditemukan seorangpun juga. Teman saya mulai merasa curiga, tapi pikiran positif masih mendominasi, mungkin nanti akan dibangun juga, pikirnya. Oleh karena itu cicilan KPR terus dibayarnya dengan patuh.
 
Selanjutnya setiap beberapa bulan sekali dia datang mengecek apakah rumahnya sudah dibangun, ternyata .... rumahnya belum juga dibangun, padahal sudah 3 tahun sejak dilakukan akad kredit dan sudah 3 tahun pula dia membayar cicilan KPR. Karena khawatir developer ingkar janji dan untuk mencegah semakin merugi, akhirnya dia memeutuskan menghentikan pembayaran cicilan KPR yang sudah dibayarnya sekitar 3 tahun. Penghentian pembayaran KPR diinfokan kepada pihak Bank Yudha Bhakti dengan alasan untuk menghindarkan kerugian lebih jauh. Teman saya coba googling, ternyata kecurigaannya semakin terbukti bahwa developer sudah melakukan penipuan, terlihat dari banyaknya pengaduan konsumen perihal tidak dibangunnya rumah yang sudah dibeli/dibayar, dan ada juga yang tidak menerima sertifikat.
 
Karena masih berpikiran positif dan mengharapkan uangnya bisa kembali, selanjutnya setiap tahun teman saya mendatangi lokasi perumahan. Seperti biasa rumah belum juga dibangun. Orang-orang developer yang dulu menerima memasarkan rumah di sana sudah tidak ada batang hidungnya, yang ada hanya beberapa orang yang kalau ditanya mengaku tidak tahu-menahu dan memberikan nomor-nomor telepon yang kalau dihubungi tidak diangkat. Teman saya coba bertanya kepada pihak Bank Yudha Bhakti, dan orang Bank Yudha Bhakti yang ditunjuk sebagai penanggungjawab selalu mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa bank "sedang mengejar" pihak developer.
 
Karena merasa agak aman sebab developer "sedang dikejar" maka teman saya melupakan sejenak, beberapa bulan sekali cukup mengecek melalui Bank Yudha Bhakti. Pihak Bank kembali memberi alasan dengan selalu mengatakan bahwa developer sedang dikejar dan anehnya pihak bank menyarankan kapada teman saya agar ikut mencari dan mengejar developer nakal tersebut (weleh weleeeh ...). Selain itu pihak bank menambahi bumbu bahwa developer sulit ditangkap karena merupakan "orang kuat" yang dibekingi dukun-dukun sakti. Teman saya coba melupakan kerugian yang dialaminya 
 
Tanpa terasa sudah hampir 8 tahun berlalu, sekali waktu teman saya mengunjungi lokasi, nampak tanah di tempat yang seharusnya berdiri rumahnya sudah dikurung dengan tembok. Tapi di lain pihak, developer terlihat mulai bangkit kembali, ditandai denga terlihat adanya kegiatan. Maka teman saya coba menanyakan perihal rumahnya, tapi pihak developer sengaja mengarahkan teman saya untuk memasuki ruangan yang lain, tidak boleh memasuki ruang pemasaran, mungkin dimaksudkan agar para konsumen yang menggugat tidak "meracuni" calon konsumen baru  yang akan bertransaksi. Sekarang staf yang menerima berbeda orangnya, juga nama  Developer sudah berganti. Nama bank penjamin juga sudah berganti menjadi BTN. Tapi setiap kali ditagih pembangunan rumah beberapa staf mengaku tidak tahu-menahu dan memberikan nomor2 telepon/HP yang bisa dihubungi, namun setiap kali dihubungi tidak pernah diangkat. kalaupun sesekali diangkat, dilain waktu nomor tersebut sudah tidak aktif.
 
Menurut pihak Bank Yudha Bakti,  developer yang sekarang adalah developer lama yang dikelola orang-orang yang sama tetapi menggunakan nama (PT) baru. Mereka memberitahu bahwa ada 3 nama developer dengan pengelola/pemilik orang-orang yang sama yaitu PT Vitarama Jaya, PT  Bimar Hekalindo, atau PT Wanisarana Rizky. Teman saya mencoba menagih rumahnya, developer menjanjikan akan mengembalikan uang yang telah dikeluarkan dan akan dibayarkan 5 juta rupiah dulu melalui transfer. Namun janji tinggal janji. 6 bulan kemudian, teman saya menagih kembali, dan dijanjikan akan ditransfer sebesar 5 juta rupiah pada bulan depan. Saat janji ditagih, jawabannya "tarsok - tarsok."  Pernah ditransfer sebesar 1 juta rupiah dan sisanya hanya jadi permainan janji tarsok-tarsok.
 
Rujukan:
http://www.suratpembaca.web.id/detail/12824/PT.+Vitarama+Jaya+dan+Bank+Yudha+Bakti+Menjalin+Kerjasama+Yang+Aneh
 

Add comment


Security code
Refresh