User Rating: 2 / 5

Star ActiveStar ActiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Cerita ini fiktif dan dimaksudkan hanya sekedar guyon2an bagi para Fans Penyanyi Franky, Jane, dan Johnny Sahilatua.

 

Perkenalkan, namaku Wagiman, orang-orang memanggilku WAGIMAN TUA, mungkin karena aku sudah nampak mulai menua. Saat ini AKU INGIN BICARA tentang KISAH HIDUP dari KENANG-KENANGAN bersama keluargaku. Aku adalah ORANG PINGGIRAN yang tinggal di suatu RUMAH KECIL DI PINGGIR SUNGAI, tidak jauh dari KANTOR POS. Aku tinggal bersama istri dan kedua anakku. Istriku bernama I GEDE ULAM SARI, orang-orang sering menyebutnya sebagai GADIS KEBAYA karena dulu ia suka sekali mengenakan kebaya. Ketika baru menikah, istriku berprofesi sebagai PEMETIK DAUN JATI, setelah itu ia banting setir menjadi buruh pabrik gula, namun tidak lama kemudian ia dipecat sebab pabrik gula kurangi tenaga kerja, mesin-mesin telah tiba. Perkenalkan pula kedua anakku, yang sulung bernama MARINA, sehari-hari ia lebih suka memakai BLUEJEANS dan bernyanyi lagu-lagu dengan NADA GEMBIRA, sedangkan adiknya atau si bungsu bernama SITI JULAIKA, hobbynya nonton TV dan makan nasi pakai TELUR DADAR. Siti Julaika sangat disayang oleh ibunya sehingga sering dijuluki ANAK EMAS.

 

Pada bulan NOVEMBER yang lalu, keluarga kami menerima SURAT DARI DESA yaitu dari bapak mertuaku yang tinggal di PEDALAMAN di Pulau Bali. Iyalah, bapak mertuaku pastinya orang Bali, khan tadi sudah kukatakan, istriku I GEDE ULAM SARI adalah orang Bali. Dalam surat itu, bapak mertuaku mengundang kami sekeluarga agar datang mengunjungi mereka, sekalian untuk melihat ladang yang tak terurus sehingga POHON TAK LAGI BERDAUN, tulisnya. Kami menyanggupi, maka pada MUSIM KEDUA liburan (maksudnya: musim liburan kedua di tahun tsb) tepatnya di akhir DESEMBER, kami sekeluarga berangkat menuju Bali. Kami sengaja memilih lewat jalur darat agar dapat melewati ke kota-kota lain di pulau Jawa sambil menikmati LANSKAP selama di PERJALANAN. Dari JAKARTA kami langsung menuju Bandung dan menikmati pemandangan DI ATAS VIADUK CIKAPUNDUNG. (Ah .. aku jadi teringat PERTEMUAN KITA). Kami bermalam DI KAMAR PENGINAPAN di Bandung. Keesokan harinya, kami melanjutkan PERJALANAN menuju SURABAYA. Kami mendapat seat DI GERBONG 4 KERETA RAKYAT. Jam dua tepat kereta berangkat, penumpang penuh bayi2 menangis, penjual makanan selalu berteriak. Aku duduk tepat di sebelah jendela, memandang anak desa dengan kerbaunya, yang sedang bermain di sungai tepi desa (waah ...koq jadi nyanyi neeh ...) Kereta kami melewati DUSUN yang terletak DI KAKI GUNUNG. Di sepanjang jalan kulihat beberapa GEMBALA meniup SERULING GEMBALA dan ANAK PETANI sedang merenung DUDUK DI PINGGIR SAWAH, yang lainnya berteriak seolah berbicara KEPADA ANGIN DAN BURUNG-BURUNG. Sesampainya di SURABAYA, kami berkeliling kota dengan BIS KOTA, kemudian mengunjungi SAUDARA TUA yang berprofesi sebagai PENGEMIS untuk memberi santunan dan mengingatkan agar tidak terulang PARODI SARIDIN. Selanjutnya kami menyeberang ke Pulau Madura untuk menonton pertunjukan KARAPAN SAPI. Melalui Surabaya kami melanjutkan PERJALANAN menuju PELABUHAN Ketapang di Banyuwangi untuk menumpang kapal ferry. Angin bertiup melemparkan gelombang, buih di buritan melepaskan kapal. Aku menghela nafas panjaang sementara ferry terus BERJALAN MEMBELAH GELOMBANG. Aku tertegun, tiba-tiba sudah melihat gapura PELABUHAN GILIMANUK dan ferry merapat mengikatkan tambang, para penumpang turun menjinjing bawaan. Aku teringat SURABAYA ketika kakiku turun dari kapal....

 

Hari sudah petang ketika kami menginjakkan kaki di PELABUHAN GILIMANUK, beberapa jam lagi malam akan tiba, maka kami sekeluarga memutuskan untuk bermalam dulu DI KAMAR PENGINAPAN. Sambil menunggu malam tiba, kami menikmati SENJA INDAH DI PANTAI yang lokasinya tidak jauh dari PELABUHAN. Pagi harinya kami disuguhi sarapan dengan lauk TELUR DADAR. Dari ruang dapur, sayup-sayup terdengar musik dengan NADA GEMBIRA dari musisi yang kukenal, siapa lagi kalau bukan penyanyi favorit kami, FRANKY & JANE yang menyanyikan lagu berjudul KEOHA KEOHEY, salah satu lagu dari album KEMBALILAH. Karena lagunya asyik, kamipun ikut bernyanyi. Ketika lagu berakhir, rasanya PLONG … Selanjutnya, untuk mengejar waktu, kami segera meneruskan PERJALANAN ke daerah PEDALAMAN Pulau Bali, tempat tinggal bapak mertuaku, tepatnya di suatu DUSUN yang terletak DI KAKI GUNUNG Agung. Sayangnya di Pulau Bali tidak ada gunung yang tingginya DI ATAS 7000 KAKI sehingga aku tidak punya alasan untuk menyanyikan lagu EDELWEIS KUPETIK SATU dan kubawa untukmu ... Perjalanan yang panjang, berliku dan melelahkan membuat kedua anakku nampak GELISAH.

 

Menjelang senja tibalah kami di rumah mertuaku yang sederhana, yaitu sebuah GUBUK BAMBU yang berlokasi tidak jauh dari AIR TERJUN dan hanya beberapa puluh meter DARI SEBUAH LAHAN. Di depan rumah nampak berdiri sebuah patung yang diberi pakaian bermotif kotak-kotak HITAM PUTIH. Bapak dan ibu mertua menyambut kedatangan kami dengan senang hati. Mereka berkata, “HIDUP INI BAGAI MIMPI, rasanya baru KEMARIN kami melihat kedua anakmu masih kecil2, sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang cantik jelita. Coba lihat di dinding, kami masih memajang POTRET anak-anakmu” Dan KERESAHAN TAK PERNAH DIAM DI LEMBAH, istriku, I GEDE ULAM SARI nampak bahagia bisa bertemu kedua orang tuanya sehingga malam itu seolah menjadi MALAM RINDU bagi PERTEMUAN KITA.

Malam itu kulihat BULAN MEMANCAR di atas awan, cengkerik berbunyi menangisi malam yang enggan … bernyanyi bagi jiwa yang satu ini, KENANG-KENANGAN masa remaja terlintas dalam ingatanku ... saat aku berjalan menembus malam, mencari bayang-bayangmu, aku melangkah di tiap jalan ... yang menyimpan kenangan, seperti lihat kau tersenyum, seperti lihat kau berdiri di sisiku …oooh … aku tak percaya, aku tak percaya. Masih kudengar bisik janjimu yang tertinggal di dedaunan. Aku bertanya pada rembulan, tak ada kata terucap, kemana cinta ini pergi, kemana hangat kerinduan yang kau berikan …ooh … aku tak percaya, aku tak percaya … Menjelang pagi kulihat BULAN TINGGALKAN MALAM, dan akhirnya BULAN TENGGELAM di balik bukit.

Kami sekeluarga sangat menyukai suasana DI DESA ini yang masih asri dan original. DI SINI, masih banyak terlihat GADIS KEBAYA keluyuran keluar masuk kampung, ada juga terlihat beberapa PEMETIK DAUN JATI keluar masuk hutan. Kami berkenalan dengan orang-orang di dusun dan sekitarnya. Orang-orang dusun memuji kecantikan kedua anakku, MARINA dan SITI JULAIKA. Mereka katakan MARINA perempuan tercantik di DUSUN sana. 

 

Setelah menempuh PERJALANAN yang panjang dan melelahkan sampailah mereka di rumah Ibu mertua Pak WAGIMAN yang terletak di suatu DUSUN di daerah PEDALAMAN Pulau Bali. Dusun yang berada DI KAKI GUNUNG ini hawanya cukup sejuk, mata pencaharian penduduk DISINI bercocoktanam dan bertani. Sawah dan ladang luas membentang berdasar pada sistem irigasi subak sehingga membentuk LANSKAP yang indah. WAGIMAN beserta istrinya I GEDE ULAM SARI, dan kedua anaknya, MARINA dan SITI JULAIKA sangat menyukai suasana desa yang asri dan tenang, apalagi mereka punya para tetangga yang baik-baik dan ramah-ramah. Banyak dari antara para tetangga itu ternyata merupakan para pendatang dari luar pulau. Sebut saja, tetangga yang tinggal di sebelah kiri, seorang ibu yang sangat ramah bernama Ibu NANI NH. Ibu NANI sangat menyukai lagu-lagu FRANKY & JANE dan sering mengumandangkan di rumahnya terutama ketika sedang di kamar mandi. Di sebelah kanan, tinggal pula seorang ibu yang bernama RATNA A. Ibu RATNA juga menyukai musik karya FRANKY, JANE & JOHNNY. Sedangkan di seberang rumah tinggal seorang bapak yang bernama ANGKRUNGAN. Mereka semua sangat menyukai lagu-lagu FRANKY, JANE & JOHNNY, setiap hari mereka menyanyikan lagu-lagu FRANKY, JANE & JOHNNY dengan suara cukup keras sambil membuka aplikasi sosmed FB di androidnya masing-masing. Karena suasana di desa selalu tenang, maka keluarga WAGIMAN bisa mendengar dengan jelas lagu-lagu yang mereka nyanyikan dan ikut-ikutan pula bernyanyi. Kalau lagunya sudah selesai, maka Ibu NANI NH akan berkata “JREENG” diikuti Ibu RATNA yang mengatakan, “JREENG PLOONG ...” Pak ANGKRUNGAN dan Pak WAGIMAN tidak mau kalah, ikut berteriak “MAREEEMM TENAANNN ... !

Air menyusuri hutan sawah, tampak gadis MARINA, anak perawan Pak WAGIMAN, tersenyum memandang alam. Mereka katakan MARINA perempuan ... tercantik di DUSUN sana. Angin selalu membisik namanya, burung pipit bernyanyi. Memang cinta tidak mengenal tempat, orang, dan waktu, dapat terjadi dimana saja, menimpa siapa saja, serta kapan saja. Pertemuan antara JAKA TAKJUB dan MARINA terjadi secara tidak disengaja. Suatu pagi saat MARINA sedang DUDUK DI PINGGIR SAWAH, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang sedang berlari-lari di persawahan. Kaki sang pemuda tersandung kaki MARINA sehingga jatuh tertelungkup. Si pemuda tidak lantas bangun tapi melirik, ternyata sang NONA cantik sekali. Sang pemuda berpura-pura kesakitan, maka sang NONA menghampiri. Di dalam hati sang pemuda berkata, PEGANGLAH AKU, KUTANGKAP HATIMU. Benar saja, MARINA membantu menarik tangan si pemuda untuk bangun berdiri. Selanjutnya mereka saling berpandangan, meminta maaf dan berkenalan. Asmara begitu cepat menangkap mangsanya akan mudah terperangkap. Sejak itu sang pemuda yang belakangan dikenal sebagai JAKA TAKJUB itu mulai kepincut dan jatuh cinta pada MARINA. Ia mencari kesempatan untuk kembali bertemu MARINA dan merencanakan sesuatu untuk memikat hatinya.

Sebenarnya JAKA TAKJUB sudah bukan pemuda lagi tapi seorang duda yang baru saja ditinggal istrinya, Nawangbulan yang kembali ke bumi Parahyangan. Sebelum dinikahi oleh JAKA TAKJUB, Nawangbulan yang pada waktu itu merasa terpojok karena sebetulnya dia belum siap kawin, membuat semacam perjanjian dengan JAKA TAKJUB. Adapun perjanjiannya adalah JAKA TAKJUB dilarang men-share KISAH HIDUP dan POTRET Nawangbulan kepada orang luar. PERJALANAN kisah kasih mereka tidak begitu mulus. Setelah menikah, mereka hidup di dalam cinta yang rawan, meskipun rembulan dan burung-burung bernyanyi .... Lama setelah itu, JAKA TAKJUB sudah mulai lupa TENTANG JANJI ITU dan melanggarnya. Ketika larangan dilanggar dan semua rahasia terbuka ... JAKA TAKJUB yang malang harus patah cinta ditinggal Nawangbulan. Setelah ditinggal Nawangbulan, JAKA TAKJUB sempat frustrasi SEPERTI MATA AIR KEHILANGAN SUNGAI. Belum terlalu lama putus cinta, JAKA TAKJUB secara tak disengaja bertemu dan berkenalan dengan MARINA. Sejak itu hatinya mulai mencair dan ia bertekad mendapatkan cinta MARINA, maka ia menyusun strategi untuk menundukkan hati MARINA secara instan.

Pada suatu sore di akhir pekan orang-orang desa seperti biasanya melakukan refreshing. MARINA bersama adiknya SITI JULAIKA, dan beberapa teman wanitanya yaitu EMILY, LENA, SUMIRAH, NANI, dan TUJINEM, semua ada 7 orang NONA, sedang berjalan menuju AIR TERJUN yang terletak di luar DUSUN. Sementara itu dari tempat yang tersembunyi, JAKA TAKJUB mengawasi gerak-gerik MARINA dan kawan-kawannya yang sedang menuju AIR TERJUN untuk mandi. JAKA TAKJUB punya rencana yang ia anggap jitu untuk meminang MARINA, ia berencana untuk mengulang aksinya mencuri pakaian seperti yang pernah dilakukannya dahulu terhadap Nawangbulan di kolam dewa-dewi. Ketika tujuh orang NONA nampak sudah mulai mandi di bawah AIR TERJUN, segera JAKA TAKJUB muncul dan tolak pinggang. Ia mencuri baju MARINA yang ditaruh di balik bebatuan. Setelah itu ia menunggu dari tempat tersembunyi sambil senyum-senyum sendiri dan berharap bahwa sebentar lagi ia dapat memperdaya MARINA dan memilikinya seperti dulu ia pernah melakukan pada Nawangbulan.

Setelah puas mandi-mandi dan langit nampak sudah diambang senja, ketujuh DARA segera bersiap-siap pulang dan menuju bebatuan tempat menyimpan pakaian mereka. MARINA mencari-cari pakaiannya yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya. MARINA dan teman-temannya sempat bingung, namun adiknya, SITI JULAIKA tidak kehilangan akal, dia melilitkan handuknya ke tubuh MARINA dan kebetulan pula ada seorang temannya yang bernama EMILY membawa sweater, maka MARINA dipinjamkan sweater untuk menutupi tubuhnya agar dapat pulang ke rumah dengan terhormat. Terasa lama oleh JAKA TAKJUB yang menunggu dari tempat persembunyiannya bagai MENUNGGU BUMI SENJA. Ia mengawasi dari tempat persembunyiannya semua kejadian itu, ternyata MARINA dan kawan-kawannya tidak dapat disamakan dengan 7 dewi dari kahyangan, mereka punya solusi terhadap persoalan yang dialami. JAKA TAKJUB merasa kecelik, ia kecewa rencananya gagal total (gatot) ...

MARINA dan adiknya sampai di depan rumah ketika LANGIT mulai HITAM dan BULAN MEMANCAR. Mereka disambut ibunya I GEDE ULAM SARI. Kebetulan beberapa tetangganya melihat yaitu Ibu NANI NH dan Ibu RATNA A. juga sedang di halaman rumah melakukan PERCAKAPAN AKHIR PEKAN. Mereka heran, “LHO KOQ, ada apa ini?” tanya mereka.

 

(Mohon maaf bila kebetulan ada nama2 yang mirip)

(Bersambung/selanjutnya kisah percintaan MARINA dan JAKA TARUB)

Add comment


Security code
Refresh