Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Para Ahli telah mengungkapkan bahwa ada berbagai bentuk (jenis) kecerdasan pada manusia, akan tetapi parameter untuk menilai dan menentukan tingkat kecerdasan seseorang telah mengalami distorsi bahkan salah kaprah. Di dunia pada umumnya hanya ada 1 faktor penentu untuk menentukan pintar tidaknya seorang anak tetapi sayangnya cara ini merupakan cara yang salah. Di negara-negara Asia, pada umumnya seseorang dikatakan cerdas berdasarkan lulus tidaknya dia dalam ujian. Acapkali kita menuding anak kita tidak cerdas manakala dia tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah atau sering mendapat nilai jelek. Psikologi pendidikan menyatakan bahwa ada banyak faktor penentu dalam diri seorang anak. Anak-anak yang sering gagal dalam ujian atau bahkan tidak naik kelas sebenarnya merupakan anak-anak yang cerdas, hanya mungkin kita belum mengetahui potensi kecerdasan mereka. Orang tua dan guru harus mengenal kelebihan masing-masing anak, membantu menggali jenis kecerdasan anak-anak, kemudian memperkuat potensi yang mereka miliki.

 

Definisi Kecerdasan

Ada banyak definisi dan parameter tentang kecerdasan yang berkembang dari waktu kewaktu. Bila dirangkum meliputi: kekuatan, keadaan, kesiapan pemahaman, tindakan, kemampuan, keterampilan dan kapasitas untuk belajar, mengetahui, memahami, berpikir nalar, beriman, menafsir, berpikir abstrak, merencanakan, mengoperasikan, menghadapi situasi, mempertahankan, dan memecahkan masalah. Definisi lain dari kecerdasan adalah: 1) manifestasi dari kapasitas mental yang tinggi; dan 2) keterampilan/keahlian menggunakan akal budi.

 

Kesalahan dalam Menilai Kecerdasan Anak

Dalam berbagai definisi kecerdasan, jelas disana tidak menyebutkan kekuatan menghafal. Belajar yang sebenarnya bukan menghafal, banyak orang menganggap bahwa belajar adalah memory (ingatan). Jadi penilaian ujian (baca: kecerdasan) berdasarkan apa yang kita ingat atau hafal. Banyak anak menghafal tetapi tidak mengerti. Setelah lulus, mereka tahu tetapi tanpa konsep. Di banyak negara Asia, guru akan mengulangi pelajaran dari buku dan murid diminta menghafal bukan mengerti konsepnya dan menuangkan keatas kertas.

 

Pada awalnya dahulu, ujian di sekolah bertujuan bukan untuk memberi nilai 0 sampai dengan 100 melainkan bertujuan agar guru dapat mengetahui apa masalah murid dalam pembelajaran, serta untuk mengetahui hal-hal yang diketahui dan tidak diketahui oleh murid-murid. Sudah merupakan tanggung jawab guru untuk mengetahui apa yang diketahui dan tidak diketahui murid-muridnya. Tanggung jawab guru dan sekolah untuk mengetahui apa yang menyebabkan anak-anak tidak mengerti suatu pelajaran. Tetapi sayangnya sistem pendidikan telah berubah, dimasa kini tujuan ujian sudah diselewengkan yaitu untuk menentukan cerdas tidaknya seorang anak.

 

Memberi nilai menimbulkan masalah karena anak yang gagal (nilainya rendah) akan menjadi malu, harga dirinya terluka. Ketika anak yang nilainya jelek dalam ujian dimarahi di rumah dan dijuluki 'bodoh,' anak akan merasa ditolak dua kali (dobel). Pertama, ia sudah merasa ditolak di sekolah, kedua, bila di rumah dimarahi gara-gara mendapat nilai rendah, maka anak akan merasa ditolak juga di rumah. Hal ini dapat membuat anak memberontak terhadap orang tua sehingga ia akan mencari lingkungan (tempat dan orang-orang) lain yang mau menerima dirinya apa adanya.

 

Penyebab dasar dalam kesalahan penilaian kecerdasan anak adalah sistem pendidikan yang salah. Ironisnya, orang tua seolah 'meneguhkan' sistem pendidikan yang salah ini. Mengapa demikian? dengan cara memarahi anak yang mendapat nilai jelek maka berarti orang tua setuju dengan sistem dan konsep pendidikan pendidikan yang berlaku. Masalahnya, kita menilai anak-anak dari 1 faktor penentu saja. Psikologi pendidikan mengatakan bahwa sebenarnya ada banyak faktor penentu dalam diri seorang anak. Bila dia tidak cerdas dalam matematika, mungkin dia cerdas dalam bidang lain, misalnya olahraga, seni, budaya dan sosial.

 

Sumber Kecerdasan pada Manusia

Kecerdasan seseorang dibangun berdasarkan 3 hal, yaitu:
1. Nature (alam)

2. Nurture (pengasuhan atau pendidikan)

3. Culture (budaya)

 

Pengetahuan, kemampuan dan keterampilan seseorang diperoleh dari bakat, kebiasaan, budaya, pemberian, informasi umum, belajar, berlatih, penelitian dan pengalaman diri sendri atau orang lain.

 

Jenis Kecerdasan pada Manusia

Dr. Howard Gardner mencetuskan adanya kecerdasan ganda (multiple intelligences),  Ada 7 bahkan 8 jenis kecerdasan pada manusia yang sudah teridentifikasi, yaitu:

 

1. Kecerdasan Bahasa (linguistic Intelligence, words smart) disebut juga linguistik verbal.

Seseorang dikatakan memiliki kecerdasan bahasa bila ia memiliki kemampuan yang menonjol dalam menulis dan berkomunikasi secara efektif, termasuk mengeja, kemampuan menggunakan kosakata dan keahlian tata bahasa. Contoh: penyair, orator, pembawa acara/MC dan penyiar televisi/radio.

 

2. Kecerdasan gambar (picture smart).

Seseorang dengan kemampuan berpikir (bernalar) menggunakan, memvisualisasikan dan menafsirkan gambar di dalam otak. Contoh: pelukis, pemahat, perancang busana, arsitek dan ahli-ahli lain yang dapat memvisualisasikan ilmu pengetahuan melalui gambar-gambar di atas kertas atau komputer.

 

3. Kecerdasan musik (musical intelligence).

Kemampuan seseorang untuk menyanyikan, mengingat melodi musik, memiliki kepekaan irama, mudah menikmati musik. Contoh: ahli musik, pengarang lagu, pemain musik, kritikus musik, teknisis suara hingga penikmat musik.

 

4. Kinestetic body smart.

Kecerdasan menggunakan tubuh. Misal: penari, seniman pantomim, aktor/aktris, atlet dan pelawak.

 

5. Logis-Mathematic (counting).

Seseorang dengan kemampuan/keterampilan daya nalar dalam menghitung, mengolah angka, berpikir secara logis dan sistematis. Misal: ahli matematika, ahli fisika,  ilmuwan, programmer komputer, akuntan hingga pedagang.

 

6. Interpersonal self smart.

Seseorang dengan kemampuan yang menonjol untuk memahami, berkomunikasi, berteman, berempati, membina hubungan baik, hingga memanipulasi orang/kelompok orang  untuk mencapai tujuan tertentu. Misal: fasilitator, konselor, CEO perusahaan besar, pengajar/guru, dokter, politisi serta pemuka agama.

 

7. Intrapersonal self smart.

Kemampuan seseorang dalam memahami diri sendiri, mengerti siapa sebenarnya dirinya, kemampuan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan kemampuan merenungkan tujuan hidup sendiri. Contoh: pemuka agama, wirausahawan, dan setiap individu dengan kepribadian menarik.

 

8. Kecerdasan Naturalis.

Kemampuan seseorang mengenali dan memahami serta memiliki kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam di sekitar: mulai lingkungan kecil di sekitar tempat tinggal sampai permukaan bumi yang lebih luas, flora dan fauna serta alam semesta. Contoh: pecinta dan pemerhati lingkungan hidup, ahli geologi, astronom, termasuk ahli biologi, penjaga hutan, dokter hewan, dan hortikulturalis.

Saran Kepada Orang Tua dan Pendidik

Masing-masing anak dapat memiliki satu hingga delapan jenis kecerdasan yang disebut multiple intelligences, dengan porsi yang berbeda-beda. Ada anak yang unggul (menonjol) dalam satu, dua atau tiga dari jenis kecerdasan tertentu dan memiliki porsi yang sedikit pada kecerdasan jenis lainnya, tetapi ada pula anak yang memiliki semua jenis kecerdasan tersebut. Tugas orang tua adalah menemukan potensi (jenis kecerdasan yang menonjol) pada anak kemudian mendukung pembentukan (pematangannya).

 

Beberapa tips bagi orang tua dan pendidik:

  • Kecerdasan harus dilihat sebagai kecerdasan pribadi yang unik pada masing-masing anak.
  • Orang tua dan pendidik harus menemukan kekuatan/potensi seorang anak.
  • Bila kita sudah menemukan potensinya maka tugas kita adalah membantu memperkuatnya, dengan demikian maka kita telah membangun harga dirinya, ini menjadi lebih baik bagi dirinya karena dari sini berawal tumbuhnya kecerdasan dalam bidang lain bahkan akan menguatkan faktor-faktor kelemahan lain pada dirinya.
  • Ketika anak pulang dari sekolah dan kita mendapati nilai anak yang buruk, jangan dimarahi, tetapi katakan padanya bahwa sebenarnya dia pintar, hanya sekolah saja yang salah menilai.
  • Ketika kita sulit mengajari anak sewaktu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) atau persiapan ujian, jangan sekali-kali memarahi, mengeluarkan kata makian dan menyebut anak "Bodoh." Lebih baik mengatakan bahwa anak kita pintar, nilai jelek bisa diperbaiki.
  • Bila cara belajar kelompok tidak efektif, maka cara belajar harus dirubah dengan cara mengembangkan cara belajar individual, sebab ada sesuatu yang ada dalam diri anak kita yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang berlaku.
  • Didiklah anak kita sejak dini sebaik mungkin dan penuhi kebutuhan dasar anak agar dapat bertumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.

 

Referensi

  1. Fred Toke, Seminar 'Bagaimana Anak-anak Bisa Belajar," di GBI Bukit Zaitun, Jakarta, Desember 2011.
  2. http://www.websters-online-dictionary.org/definitions/Intelligence, diakses 14 Januari 2012.
  3. http://www.merriam-webster.com/dictionary/intelligence, diakses 14 Januari 2012.
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Intelligence, diakses 15 Januari 2012.
  5. http://id.shvoong.com/how-to/family/2239099-jenis-jenis-kecerdasan-manusia/, diakses 16 Januari 2012.