User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, diperkirakan 2,7% laki-laki dan 2,2% perempuan di Indonesia diperkirakan menderita Hipotiroid, dan diperkirakan ada 12,8% laki-laki serta 14,7% perempuan di Indonesia menderita Hipertiroid.  Sedangkan menurut hasil Riset Kesehatan Dasar, pada tahun 2013, dari seluruh penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia, sebanyak 700.000 orang terdiagnosis hipertiroid. Hipotiroid dan Hipertiroid merupakan jenis-jenis dari gangguan/penyakit Tiroid.

 

Pengertian Penyakit / Gangguan Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar endokrin murni terbesar di dalam tubuh manusia yang terletak di leher bagian depan. Kelenjar Tiroid terdiri dari dua bagian yaitu lobus kanan dan lobus kiri. Panjang kedua lobus masing-masing 5 cm dan menyatu di  garis tengah, berbentuk seperti kupu-kupu. Penyakit atau gangguan tiroid adalah suatu kondisi kelainan pada seseorang akibat adanya gangguan kelenjar tiroid, baik berupa perubahan bentuk kelenjar maupun perubahan fungsi (berlebihan, berkurang atau normal).

 

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Pembentukan hormon tiroid dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik yang melibatkan hormon Thyroid Stimulating Hormon (TSH). Bila produksi hormon tiroid meningkat maka produksi TSH menurun dan sebaliknya jika produksi hormon tiroid tidak mencukupi kebutuhan maka produksi TSH meningkat.

 

Hormon tiroid mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai proses metabolisme (metabolisme protein, karbohidrat, lemak) dan aktivitas fisiologik pada hampir semua sistem organ tubuh manusia, kekurangan maupun kelebihan hormon tiroid akan mengganggu berbagai proses metabolisme dan aktfivitas fisiologi serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berbagai jaringan termasuk sistem saraf dan otak. 

 

Jenis Penyakit/ Gangguan Tiroid

Menurut kelainan bentuknya, gangguan tiroid dapat dibedakan dalam 2 bentuk:

  1. Difus

Pembesaran kelenjar yang merata,  bagian kanan dan kiri kelenjar sama-sama membesar dan disebut struma difusa (tiroid difus).

  1. Nodul

Terdapat benjolan seperti bola, bisa tunggal (mononodosa) atau banyak (multinodosa), bisa padat atau berisi cairan (kista) dan bisa berupa  tumor jinak/ganas.

 

Menurut kelainan fungsinya, gangguan tiroid dibedakan dalam 3 jenis :

  1. Hipotiroid

Kumpulan manifestasi klinis akibat berkurang atau berhentinya produksi hormon tiroid.

  1. Hipertiroid

Disebut juga tirotoksikosis, merupakan kumpulan manifestasi klinis akibat kelebihan hormon tiroid

  1. Eutiroid

Keadaan tiroid yang berbentuk tidak normal tapi fungsinya normal.

 

Faktor Risiko Gangguan Tiroid

Faktor-faktor yang dapat mencetuskan  penyakit/gangguan tiroid adalah:

  1. Umur

Usia diatas 60 tahun maka semakin berisiko terjadinya hipotiroid atau hipertiroid.

  1. Jenis Kelamin

Perempuan lebih berisiko terjadi gangguan tiroid

  1. Genetik

Di antara banyak faktor penyebab autoimunitas terhadap kelenjar tiroid, genetik dianggap merupakan faktor pencetus utama.

  1. Merokok

Merokok dapat menyebabkan kekurangan oksigen di otak dan nikotin dalam rokok dapat memacu peningkatan reaksi inflamasi.

  1. Stres

Stres juga berkolerasi dengan antibodi terhadap antibodi TSH-reseptor.

  1. Riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan autoimun

Riwayat penyakit keluarga yang ada hubungan dengan kelainan autoimun merupakan faktor risiko hipotiroidisme tiroiditis autoimun.

  1. Zat kontras yang mengandung iodium

Hipertiroidisme terjadi setelah mengalami pencitraan menggunakan zat kontras yang mengandung lodium.

  1. Obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit tiroid

Amiodaron, lithium karbonat, aminoglutethimide, interferon alfa, thalidomide, betaroxine, stavudine.

  1. Lingkungan

Kadar iodium dalam air kurang.

 

Tanda dan Gejala Gangguan Tiroid

1. Tanda dan Gejala Hipotiroid

Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan perlambatan proses metabolik di dalam tubuh manusia. Gejala dan tanda hipotiroid sebagai berikut:

 

Tabel 1. Gejala dan Tanda Hipotiroid, Semiardji 2008

No

Organ

Gejala dan Tanda

1

Otak

Lemah, lelah, mengantuk, depresi, kemampuan berbicara menurun, intelektual menurun, gangguan ingatan, proses psikis pelan

2

Mata

Sakit kepala, gangguan penglihatan, edema periorbital

3

Telinga, hidung dan tenggorokan

Suara serak

4

Kelenjar tiroid

Pembesaran tiroid/goiter noduler atau difusa

5

Jantung dan pembuluh darah

Tekanan nadi berkurang (bradikardi), hipertensi diastolik, kardiak output berkurang

6

Saluran cerna

Sulit buang air besar (konstipasi), berat badan naik/gemuk

7

Ginjal

Fungsi ginjal menurun, retensi cairan

8

Sistem reproduksi

Infertilitas, gangguan menstruasi

9

Otot dan saraf

Kaku sendi, kesemutan, nyeri sendi, gerakan otot lemah (hipofleksia), edema non pitting (miksedema), ataxia, kramp otot

10

Kulit

Tidak tahan dingin, produksi keringat berkurang

Sumber: Pedoman Pengendalian Penyakit Tiroid, Ditjen PP dan PL, 2010

 

Beberapa kelainan yang terjadi akibat kekurangan hormon tiroid adalah:

  • Dewasa: gondok atau goiter, infertilitas
  • Janin atau bayi: cacat fisik, cacat mental, kelainan saraf, munculnya kretin 
  • Remaja: gondok, pubertas prekoks, gangguan tumbuh kembang
  • Ibu hamil: abortus, lahir mati 

 

Kretin adalah kondisi retardasi mental disertai dengan bisu, tuli, cara berdiri dan berjalan yang khas, hipotiroid, dan pertumbuhan yang terhambat (short statue).

 

Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI)

Iodium merupakan mikronutrien yang sangat dibutuhkan tubuh dalam sintesis hormon tiroid yang mempunyai peran sangat vital dalam pertumbuhan otak, sistem syaraf, dan fungsi fisiologis organ-organ tubuh.  Defisiensi (kekurangan)  iodium menyebabkan produksi hormon tiroid berkurang sehingga mengakibatkan kelainan yang disebut Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI). Kelompok yang paling rentan terkena GAKI adalah Wanita Usia Subur (WUS) yang jika hamil maka akan berdampak pada janinnya, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.

 

Periode kritis kebutuhan iodium ialah pada kehamilan sebelum trimester kedua berakhir. Pada periode ini, janin sangat membutuhkan hormon tiroid untuk pertumbuhan otak. Kekurangan iodium pada periode ini menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak janin dengan manifestasi klinik berupa gangguan saraf, kecerdasan tidak optimal, keguguran, kelahiran prematur, hipotiroidisme kongenital, retardasi mental sampai yang terberat kretin endemik. Untuk mengatasi GAKI, dilakukan program universal salt iodization (USI) yang direkomendasikan oleh WHO dan UNICEF sejak tahun 1993 dan telah diimplementasikan di Indonesia.

 

Dampak Hipotiroid pada Wanita Usia Subur, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Wanita usia subur perlu waspada terhadap hipotiroid karena saat dia hamil dengan kondisi hipotiroid, tidak hanya mempengaruhi dirinya sendiri, namun juga berpengaruh pada janin yang dikandungnya sebab pemenuhan kebutuhan hormon tiroid janin bergantung kepada produksi hormon tiroid ibunya. Kelenjar tiroid janin mulai berfungsi pada umur kehamilan sekitar 18-22 minggu, dan memerlukan waktu beberapa minggu sampai bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Selama itu kebutuhan hormon tiroid janin diperoleh dari ibu yang ditransfer melalui plasenta. Kekurangan hormon tiroid pada masa pembentukan jaringan otak dan periode pertumbuhan pesat susunan saraf pusat yaitu pada masa kehamilan dan tiga tahun pertama kehidupan anak, akan menimbulkan kelainan yang tidak dapat disembuhkan (irreversible) meskipun kemudian diberi terapi secara optimal.

 

Hipotiroid Kongenital

Hipotiroid kongenital adalah kelainan pada anak akibat kekurangan hormon tiroid yang terjadi sejak di dalam kandungan. Masa pembentukan jaringan otak dan periode pertumbuhan pesat susunan saraf pusat terjadi pada masa kehamilan dan tiga tahun pertama kehidupan anak. Bila seorang bayi dengan hipotiroid kongenital tidak diketahui dan tidak diobati sejak dini, pertumbuhannya akan terhambat dan mengalami retardasi mental. Hipotiroid kongenital dapat terjadi permanen seumur hidup atau hanya sementara (transien). Jika hanya sementara pun, karena terjadi pada masa perkembangan pesat otak dapat berdampak besar pada perkembangan anak.

 

Bayi baru lahir yang menderita hipotiroid kongenital seringkali tidak memperlihatkan gejala, kalau pun ada gejalanya tidak spesifik seperti ikterus berkepanjangan, hipotermi, ubun-ubun belakang melebar (>1 cm), minum sering tersedak dan kesulitan bernapas, napas berbunyi serta hidung tersumbat. Tanpa pengobatan gejala akan semakin tampak, yaitu lidah menjadi tebal (makroglosi), suara serak, hipotoni, hernia umbilikalis, konstipasi, perut buncit, tangan dan kaki teraba dingin, disertai miksedema. Makin lama gejala semakin berat, hambatan pertumbuhan dan perkembangan lebih nyata dan pada umur 3-6 bulan, gejala khas hipotiroid menjadi lebih jelas  yaitu hidung lebar dan pesek, kelopak mata bengkak, mulut terbuka dengan lidah tebal, pertumbuhan gigi terlambat, leher pendek dan gemuk, miksedema terutama di kelopak mata, kulit, punggung tangan dan alat kelamin. Perkembangan mental terbelakang, terlambat duduk dan berdiri serta tidak mampu belajar bicara. Terjadi gangguan pertumbuhan berupa perawakan pendek, gangguan penulangan dan gangguan pertumbuhan kelamin sekunder dan reproduksi. Sedangkan gangguan perkembangan ditandai dengan keterlambatan perkembangan psikomotor, gangguan pendengaran dan bicara, kehilangan daya ingat dan inisiatif, serta retardasi dalam semua aspek intelektual.

 

2. Tanda dan Gejala Hipertiroid

Kelebihan hormon tiroid menyebabkan proses metabolik dalam tubuh berlangsung lebih cepat. Gejala dan tanda hipertiroid adalah sebagai berikut:

 

Tabel 2. Gejala dan Tanda Hipertiroid (Semiardji, 2008)

No

Organ

Gejala dan Tanda

1

Susunan saraf

Labil/emosional, menangis tanpa alasan yang jelas (iritabel), psikosis, tremor, nervositas, sulit tidur, sulit konsentrasi

2

Mata

Pandangan ganda, melotot

3

Kelenjar tiroid

Pembesaran tiroid

4

Jantung dan paru

Sesak nafas (dispnoe), hipertensi, aritmia, berdebar-debar, gagal jantung, tekanan nadi meningkat (takikardi)

5

Saluran cerna

Sering buang air besar, lapar, banyak makan, haus, muntah, berat badan turun cepat, toleransi obat

6

Sistem reproduksi

Tingkat kesuburan menurun, menstruasi berkurang, tidak haid, libido menurun

7

Darah - limfatik

Limfositosis, anemi, pembesaran limpa, pembesaran kelenjar limfe leher

8

Tulang

Osteoporosis, epifisis cepat menutup, nyeri tulang

9

Otot

Lemah badan (thyrotoxic periodic paralysis), refleks meningkat, hiperkenesis, capai, tangan gemetar

10

Kulit

Berkeringat tidak wajar (berlebihan) di beberapa tempat

Sumber: Pedoman Pengendalian Penyakit Tiroid, Ditjen PP dan PL, 2010

 

Diagnosis Gangguan Tiroid

Penegakan diagnosis gangguan tiroid selain berdasarkan tanda dan gejala, juga memerlukan pemeriksaan laboratorium yaitu minimal diketahui kadar TSH, hormon Triiodotironin (T3), dan Tiroksin (T4). Perbedaan hasil laboratorium antara Hipertiroid dengan Hipotiroid dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini.

 

Tabel 3. Penegakan Diagnosis Gangguan Tiroid.

Diagnosis

Total T3 dan T4

TSH Plasma

Manifestasi klinik

Hipertiroidisme

Tinggi

Rendah

Hipertiroid

Hipotoroidisme

Rendah

Tinggi

Hipotoroid

Sumber: Balai Litbang GAKI Magelang Kementerian Kesehatan

 

Tatalaksana dan Pengendalian Gangguan Tiroid dan Hipotiroid Kongenital

Tatalaksana kasus gangguan tiroid dilakukan melalui pengaturan makanan (diet), pengobatan, serta  Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)  yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Sedangkan pengendalian penyakit tiroid di masyarakat dilaksanakan melalui pencegahan dan penanggulangan penyakit tiroid, penemuan dan tatalaksana kasus secara tepat, surveilans epidemiologi, dan KIE  faktor risiko penyakit tiroid.

 

Untuk hipotiroid kongenintal, diagnosis dan pengobatan dini pada sejak masa neonatal merupakan kunci keberhasilan penanganannya. Telah dibuktikan bahwa deteksi dini melalui skrining (uji saring) sangat efektif dalam mencegah gangguan tumbuh kembang yang disebabkan hipotiroid kongenital.

 

ANALISIS SITUASI GANGGUAN TIROID

Penyakit gangguan tiroid menempati urutan kedua terbanyak dalam daftar penyakit metabolik setelah diabetes mellitus (DM). Perempuan lebih banyak menderita penyakit tiroid dibandingkan laki-laki.

 

Situasi Penyakit Hipotiroid

Prevalensi hipotiroid di Indonesia belum diketahui secara pasti. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 melakukan pemeriksaan kadar TSH sebagai salah satu penunjang diagnostik gangguan tiroid. Dari pemeriksaan TSH tersebut didapatkan 2,7% laki-laki dan 2,2% perempuan memiliki kadar TSH tinggi yang menunjukkan kecurigaan adanya hipotiroid.

 

Situasi Gangguan Tiroid Melalui Pemantauan Kecukupan Asupan Iodium

Kecukupan konsumsi/asupan iodium di masyarakat dapat dinilai melalui pengukuran Urinary Iodine Excretion (UIE) atau Ekskresi Iodium dalam Urin (EIU) setelah urin dikumpulkan selama 24 jam. Kadar UIE ini merupakan indikator biokimia non invasive yang menggambarkan konsumsi iodium harian karena 90% asupan iodium akan dikeluarkan kembali melalui urin. Distribusi kadar EIU dapat digunakan untuk menilai asupan iodium dan status iodium populasi. Nilai normal median EIU menurut kriteria WHO adalah 100 -199 μg/L, sehingga daerah dengan nilai median kurang dari 100 μg/l menunjukkan bahwa daerah tersebut kekurangan iodium (WHO, 2007).

 

Tabel 4. Kondisi Asupan Iodium dan Status (gizi) Iodium Pada Populasi Berdasarkan Nilai Median EIU (µg/L)

Median EIU (µg/L) pada populasi

Asupan Iodium

Status (gizi) Iodium

< 20

Kurang

Kurang Iodium berat

20 – 49

Kurang

Kurang Iodium sedang

50 – 99

Kurang

Kurang Iodium ringan

100 – 199

Cukup

Optimum

200 – 299

Lebih

Risiko IIH dalam 5 – 10 tahun program pada kelompok umur tertentu

≥ 300

Sangat kelebihan

Berisiko terhadap kesehatan, lebih luas IIH, autoimun, penyakit tiroid, dll

Catatan: iodine induced hyperthyroidism (IIH) adalah kelainan yang disebabkan kelebihan asupan Iodium.

Sumber: Balai Litbang GAKI Magelang Kementerian Kesehatan

 

Tabel 5. Kondisi Asupan Iodium Pada Ibu Hamil Berdasarkan Nilai Median EIU (µg/L)

Median EIU (µg/L) pada Ibu Hamil

Asupan Iodium

<150

Kurang

150-249

Cukup

250-499

Lebih

≥ 500

Sangat kelebihan

Sumber: Balai Litbang GAKI Magelang Kementerian Kesehatan

 

Grafik 1. Nilai Median Ekskresi Iodium Urin pada Kelompok Populasi Rentan (Anak, WUS, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui) Menurut Tempat Tinggal, 2013

Sumber: Riskesdas 2013

 

Grafik 1 menunjukkan kecenderungan nilai median EIU (μg/L) dari sampel urin sesaat pada kelompok populasi rentan menurut tempat tinggal. Nilai median EIU pada anak umur 6-12 tahun sebesar 215 μg/L, pada WUS 187 μg/L, ibu hamil 163 μg/L dan ibu menyusui 164 μg/L, masing-masing lebih tinggi di perkotaan daripada di perdesaan. Nilai ini menunjukkan bahwa asupan iodium di Indonesia sudah cukup untuk kelompok populasi rentan. Nilai Median EIU terendah (151 μg/L) ditemukan pada ibu hamil di perdesaan, yang menggambarkan asupan Iodium pada ibu hamil di daerah perdesaan tergolong cukup namun harus tetap waspada karena berada pada level terendah dari nilai normal Median EIU pada ibu hamil.

 

Grafik 2. Proporsi Kelompok Populasi Rentan berdasarkan Nilai Ekskresi Iodium Urin, 2013

Sumber: Riskesdas 2013

 

Masalah GAKI di masyarakat dapat dikatakan sudah terkendali jika proporsi penduduk dengan EIU<100 µg/L dibawah 50%, EIU<50 µg/L dibawah 20% dan cakupan garam beriodium 90% diikuti dengan tercapainya indikator manajemen. Kekurangan maupun kelebihan asupan iodium dapat menimbulkan akibat buruk bagi fungsi tiroid. Konsumsi Iodium yang terlalu banyak disebut akan menimbulkan hipertiroid atau disebut  iodine-induced hyperthyroidism (IIH). Grafik 2 menggambarkan risiko kekurangan iodium pada 4 kelompok populasi rentan berada dibawah 50% sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada masalah kekurangan iodium pada populasi rentan (anak, WUS, ibu hamil dan ibu menyusui). Namun hasil Riskesdas 2013 juga menunjukkan terdapat 30,4% anak usia 6-12 tahun, 24,9% wanita usia subur, 21,3% ibu hamil dan 18,1% ibu menyusui  yang berisiko kelebihan iodium.

 

Grafik 3. Kecenderungan Proporsi Rumah Tangga Mengonsumsi Garam Cukup Iodium (>30 ppm), 1995-2013

Sumber: Susenas 1995-2005, Riskesdas 2007 dan 2013

 

Grafik 3 menggambarkan kecenderungan proporsi (%) rumah tangga mengonsumsi garam cukup iodium (>30 ppm) secara nasional. Dapat dikatakan bahwa secara nasional, sejak tahun 1995 sampai 2013 kita belum mencapai target Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua”, yaitu minimal 90 persen rumah tangga mengonsumsi garam dengan kandungan cukup iodium (WHO/UNICEF ICCIDD, 2010).

 

Tabel 6. Perkiraan Jumlah Anak, WUS dan Ibu Hamil yang Berisiko Kekurangan/Kelebihan Iodium

Kelompok Populasi

Estimasi Jumlah Populasi1

<100μg/L         (Risiko Kekurangan)2

Perkiraan Jumlah Penduduk Berisiko Kekurangan

≥300μg/L         (Risiko Kelebihan)2

Perkiraan Jumlah Penduduk Berisiko Kelebihan

Anak 7-12 Tahun

29.063.346

14,9*

4.330.439

30,4*

8.835.257 *

WUS 15-49 Tahun

68.133.634

22,1

15.057.533

24,9

16.965.275

Ibu Hamil

5.212.568

24,3

1.266.654

21,3

1.110.277

Ibu Menyusui

tad

23,9

 

18,1

 

Keterangan: *Proporsi pada populasi anak usia 6-12 tahun

Sumber:

1Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2011-2014, Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan

2Riskesdas 2013

(Diolah oleh Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan)

 

Dari tabel 6 terlihat bahwa meskipun secara persentase terlihat kecil, dapat diperkirakan terdapat sekitar 4 juta anak usia 7-12 tahun, 15 juta WUS dan 1 juta ibu hamil yang berisiko kekurangan iodium serta terdapat 8 juta anak usia 7-12 tahun, 16 juta WUS dan 1 juta ibu hamil yang berisiko kelebihan iodium.

 

Grafik 4. Cakupan Rumah Tangga dengan Konsumsi Garam Beryodium Menurut Provinsi, 2014

Sumber: Ditjen Bina Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan, data per 20 Februari 2015

Catatan: Bangka Belitung, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Papua tidak ada data.

 

Target proporsi rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium pada tahun 2014 adalah sebesar 90%. Secara nasional cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beriodium telah mencapai target yaitu 91%, namun masih terdapat 6 provinsi yang belum mencapai target yaitu Provinsi NTB, Maluku, NTT, Aceh, Bali, dan Banten, dengan cakupan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu hanya sebesar 54,7%.

 

Kadar yodium dalam garam ditentukan sebesar 30-80 ppm dalam bentuk KI03. Dalam Riskesdas 2013, kadar iodium (KIO3) dalam garam rumah tangga diukur dengan metode titrasi dan hasilnya didapatkan nilai rata-rata 34,1 ppm. Namun proporsi garam rumah tangga dengan kadar iodium kurang masih 50,8% ditambah 1% yang tidak beriodium. Sedangkan yang cukup hanya 43,2% dan terdapat 5% yang kelebihan iodium. Jadi meskipun cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beriodium cukup tinggi namun kurang dari setengahnya yang kadar garamnya memenuhi standar.

 

Grafik 5. Proporsi Kecukupan Kadar Iodium dalam Garam Rumah Tangga, 2013

Sumber: Riskesdas 2013

 

Grafik 5 menunjukkan bahwa 50,8% atau separuh dari garam rumah tangga yang beredar di Indonesia mempunyai kadar iodium yang kurang, 43,2% punya kadar iodium yang cukup, 5% berlebih, dan 1% yang tidak beriodium.

 

Hipotiroid Kongenital

Di seluruh dunia prevalensi hipotiroid kongenital diperkirakan mendekati 1 : 3000 kelahiran dengan kejadian sangat tinggi di daerah kekurangan iodium, yaitu 1 : 900 kelahiran, lebih sering terjadi pada anak perempuan dengan perbandingan 2:1.

 

Angka kejadian hipotiroid kongenital bervariasi antar negara, dipengaruhi pula oleh faktor etnis dan ras. Prevalensi cenderung lebih tinggi pada keturunan Asia dan sangat jarang pada populasi kulit hitam. Angka kejadian di beberapa negara adalah sebagai berikut.

 

Tabel 7. Kasus Hipotiroid Kongenital di Beberapa Negara Asia

No

Negara

Angka Kejadian

(per jumlah kelahiran)

1

Jepang

1:7600

2

Singapura

1:3000-3500

3

Malaysia

1:3026

4

Filipina

1:3460

5

Hongkong

1:2404

6

Korea

1:4300

7

Vietnam

1:5502

8

India

1:1700

9

Bangladesh

1:2000

10

Taiwan

1:1027

Sumber: Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital, Direktorat Bina Kesehatan Anak, 2012

 

Dari beberapa negara pada tabel 7, Jepang merupakan negara di Asia dengan kasus hipotiroid kongenital terendah yaitu ada 1 bayi dengan hipotiroid kongenital dari 7600 kelahiran di Jepang.

 

Indonesia belum meliliki data kasus hipotiroid kongenital secara nasional. Data hipotiroid kongenital di Indonesia baru dapat diperoleh dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung sebagai berikut:

  • Kejadian hipotiroid kongenital tahun 2000 sampai dengan September 2014, dari 213.669 bayi baru lahir yang dilakukan skrining hipotiroid kongenital, didapatkan hasil positif sejumlah 85 bayi atau 1 : 2513 kelahiran (lebih tinggi dari rasio global 1:3000 kelahiran)
  • Telaah rekam medis di klinik endokrin RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung menunjukkan ada lebih dari  70% hipotiroid kongenital didiagnosis pada umur lebih dari 1 tahun dengan keterbelakangan mental permanen. Hanya 2,3% yang didiagnosis pada umur kurang dari 3 bulan. Pada bayi yang terdeteksi sebelum usia 3 bulan hanya terjadi keterbelakangan pertumbuhan dan perkembangan yang minimal.
  • Jika angka kelahiran sebanyak 5 juta bayi/ tahun, dengan kejadian 1:3000 kelahiran maka terdapat lebih dari 1600 bayi dengan hipotiroid kongenital per tahun yang akan terakumulasi tiap tahunnya.

(Sumber: Direktorat Bina Kesehatan Anak, Kementerian Kesehatan)

 

Situasi Hipertiroid di Indonesia

Hasil pemeriksaan TSH pada Riskesdas 2007 mendapatkan 12,8% laki-laki dan 14,7% perempuan memiliki kadar TSH rendah yang menunjukkan kecurigaan adanya hipertiroid. Namun menurut hasil Riskesdas 2013, hanya terdapat 0,4% penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun atau lebih yang berdasarkan wawancara mengakui terdiagnosis hipertiroid. Meskipun secara persentase kecil, namun secara kuantitas cukup besar. Jika pada tahun 2013 jumlah penduduk usia ≥15 tahun sebanyak 176.689.336 jiwa, maka terdapat lebih dari 700.000 orang terdiagnosis hipertiroid, dengan rincian masing-masing provinsi dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini.

 

Tabel 8. Prevalensi dan Perkiraan Jumlah Penduduk ≥15 Tahun yang Terdiagnosis Hipertiroid, 2013

No

Provinsi

%1

Jumlah Penduduk ≥15 Tahun2

Perkiraan Jumlah Penduduk ≥15 Tahun Terdiagnosis Hipertiroid

1

Aceh

0,3

3.177.085

9.531

2

Sumatera Utara

0,3

8.939.623

26.819

3

Sumatera Barat

0,3

3.427.772

10.283

4

Riau

0,1

4.107.117

4.107

5

Jambi

0,2

2.312.659

4.625

6

Sumatera Selatan

0,1

5.479.724

5.480

7

Bengkulu

0,2

1.249.238

2.498

8

Lampung

0,2

5.560.440

11.121

9

Bangka Belitung

0,4

944.839

3.779

10

Kepulauan Riau

0,2

1.368.920

2.738

11

DKI Jakarta

0,7

7.609.272

53.265

12

Jawa Barat

0,5

32.162.328

160.812

13

Jawa Tengah

0,5

24.089.433

120.447

14

DI Yogyakarta

0,7

2.777.211

19.440

15

Jawa Timur

0,6

28.855.895

173.135

16

Banten

0,4

8.074.025

32.296

17

Bali

0,4

3.068.044

12.272

18

Nusa Tenggara Barat

0,2

3.202.734

6.405

19

Nusa Tenggara Timur

0,4

3.116.580

12.466

20

Kalimantan Barat

0,1

3.072.565

3.073

21

Kalimantan Tengah

0,2

1.608.217

3.216

22

Kalimantan Selatan

0,2

2.722.366

5.445

23

Kalimantan Timur

0,3

2.753.491

8.260

24

Sulawesi Utara

0,5

1.698.831

8.494

25

Sulawesi Tengah

0,4

1.861.021

7.444

26

Sulawesi Selatan

0,5

5.738.932

28.695

27

Sulawesi Tenggara

0,3

1.539.436

4.618

28

Gorontalo

0,3

754.682

2.264

29

Sulawesi Barat

0,3

800.638

2.402

30

Maluku

0,2

1.061.677

2.123

31

Maluku Utara

0,2

718.103

1.436

32

Papua Barat

0,2

557.486

1.115

33

Papua

0,2

2.148.954

4.298

 

INDONESIA

0,4

176.689.336

706.757

Sumber:

1Riskesdas 2013

2Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan

(Diolah oleh Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan)

 

Grafik 6. Prevalensi Penduduk ≥15 Tahun yang Terdiagnosis Hipertiroid Menurut Karakteristik, 2013

Sumber: Riskesdas 2013

 

Grafik 6 menunjukkan prevalensi penduduk yang terdiagnosis hipertiroid lebih tinggi pada perempuan (0,6%), usia yang lebih tua (≥45 tahun), pendidikan tinggi (D1-D3/PT), tidak bekerja dan bekerja sebagai pegawai, tinggal di perkotaan, indeks kepemilikan menengah atas dan teratas. Faktor sosial ekonomi mungkin mempengaruhi tingginya kesadaran dan akses untuk memeriksakan diri ketika merasakan adanya gejala.

 

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan, Infodatin Tiroid, Pusat Data dan Informasi, 2015.
  2. Kementerian Kesehatan, Riskesdas, 2007, 2013.
  3. Kementerian Kesehatan, Pedoman Skrining Hipotiroid Kongenital, Direktorat Bina Kesehatan Anak, 2012.