Pentingnya Stimulasi Pada Anak Usia Dini (AUD)

Bagi anda yang memiliki anak usia dini terutama batita (bawah tiga tahun), jangan sampai terlambat untuk melakukan stimulasi dini pada anak anda, karena kesempatan ini hanya datang satu kali saja di dalam kehidupannya yaitu pada masa yang disebut golden period. Golden period adalah masa keemasan atau sering disebut jendela kesempatan (window of opportunity) yaitu masa pembelajaran dan pengkayaan, masa yang sangat peka bagi otak anak untuk menerima berbagai rangsangan pertumbuhan dan perkembangan. Golden period terhitung 3 tahun pertama masa kehidupan seorang manusia.

 

Apa yang disebut Stimulasi Anak Usia Dini?

Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang secara memadai kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Yang disebut perangsangan yang memadai adalah perangsangan yang dilakukan dengan benar, adekwat dan teratur, sesuai kelompok umur anak.

 

Batasan Anak Usia Dini

Anak Usia Dini adalah anak berusia 0-6 tahun. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa batasan usia dini seorang anak adalah sejak di dalam kandungan sampai anak berusia 7 atau 8 tahun.

 

Kemampuan dasar apa saja yang perlu dirangsang?

Para ahli tumbuh kembang menekankan pada 4 aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapatkan rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) dan kemandirian.

 

- Kemampuan gerak kasar atau kemampuan motorik kasar adalah kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh dengan melibatkan otot-otot besar, misal: kemampuan berguling, tengkurap, berdiri dan berjalan.

 

- Kemampuan gerak halus atau kemampuan motorik halus adalah kemampuan anak melakukan pergerakan bagian-bagian tubuh tertentu dengan melibatkan otot-otot kecil tetapi memerlukan koordinasi yang cermat, misal: menjepit dengan jari-jari, menulis, mengamati sesuatu.

 

- Kemampuan bicara dan bahasa adalah kemampuan anak mengungkapkan sesuatu melalui berbicara dan berbahasa, memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah, dst. 

 

- Kemampuan bersosialisasi (berinteraksi) adalah kemampuan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya, dan kemandirian adalah kemampuan melakukan sesuatu tanpa bantuan pihak lain atau mandiri (makan dan minum sendiri, memakai pakaian sendiri, dst). 

 

- Kemampuan dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif, kreatifitas dan moral-spiritual.

 

Siapa saja yang boleh menyetimulasi anak?

Stimulasi AUD sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti ayah, ibu, pengganti ibu, pengasuh, pendidik serta anggota keluarga lain. Mengapa harus orang-orang terdekat? karena orang terdekat biasanya akan menunjukkan perilaku baik yang dilandasi kasih sayang, dan anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa.

 

Bagaimana cara terbaik menyetimulasi anak usia dini?
Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan stimulasi pada anak usia dini yang perlu diterapkan yaitu:

  • Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
  • Selalu tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
  • Dunia anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa  paksaan dan hukuman.
  • Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
  • Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anak.
  • Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
  • Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.

 

Berapa usia terbaik anak untuk dilakukan stimulasi?

Usia terbaik untuk melakukan stimulasi adalah hingga anak berusia 6 tahun. Hasil yang lebih optimal akan didapat bila anak diberikan rangsangan tumbuh kembang ketika ia berusia 0-3 tahun bahkan sejak masih di dalam kandungan usia 4 bulan. Namun bukan berarti pemberian stimulasi dihentikan setelah anak berusia 3 tahun, justru stimulasi harus dilanjutkan bahkan diperbanyak variasinya pada anak usia 3-6 tahun. Beberapa ahli mengatakan, sampai anak berusia 8 tahun masih baik untuk untuk dilakukan stimulasi.

 

Stimulasi merupakan hak anak

Hak-hak anak sudah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, Konvensi Hak Anak, dan undang-undang lain tentang kesejahteraan dan perlindungan anak yang berlaku. Orang tua, wali, pendidik, dan pengasuh perlu menyadari hak-hak yang melekat pada anak, yaitu:

  1. Tidak dibeda-bedakan (non-diskriminasi)
  2. Hak untuk memperoleh yang terbaik
  3. Hak untuk bertahan hidup, bertumbuh dan berkembang
  4. Hak untuk dihargai pendapatnya

Oleh karena itu merupakan kewajiban orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anak dan anak berhak mendapatkan yang terbaik termasuk urusan tumbuh-kembangnya. Memberikan yang terbaik berarti orang tua harus memenuhi kebutuhan dasar anak  yaitu kebutuhan fisik-biologis (Asuh), kasih sayang (Asih) dan stimulasi (Asah) melalui kegiatan SDIDTK. 

 

Mengapa stimulasi perlu dilakukan sejak usia anak sangat dini?

Stimulasi pada usia 0-3 tahun

Sel otak (neuron) anak terbentuk ketika anak (janin) masih di dalam kandungan usia 4 sampai 7 bulan. Pada usia janin empat setengah bulan, sel-sel otak yang terbentuk akan menempati tempat yang tepat di otak. Ketika bayi lahir, dia sudah membawa bermilyar-milyar neuron, tetapi neuron-neuron ini belum saling berhubungan satu sama lain kecuali beberapa neuron yang mengatur denyut jantung, pernafasan, kedipan mata dan gerakan kasar tertentu.

                 

                   Gambar Sel otak (neuron).                                           Gambar Hubungan 2 neuron melalui sinaps.

  

Sel neuron berbeda dengan sel-sel lain dalam tubuh manusia karena sel neuron memiliki cabang-cabang khusus yang disebut axon dan dendrit. Fungsi axon adalah menyalurkan sinyal-sinyal elektrokimia yang berasal dari neuron lain melalui hubungan yang disebut sinaps. Sinaps menghubungkan neuron dengan neuron lain melalui kaki yang disebut dendrit. Komunikasi antar neuron terjadi dalam bentuk neurotransmitter yaitu molekul kimia yang dikeluarkan sinaps. Neurotransmitter membawa sinyal-sinyal elektrokimia melalui sinaps, sinaps menyalurkan dan menggetarkan neuron penerima dengan stimulus listrik.

 

Rangsangan (stimulasi) pada AUD melalui pancaindera akan merangsang pembentukan sinaps-sinaps sehingga dua atau lebih neuron akan saling berhubungan. Bila dua atau lebih neuron berhubungan melalui sinaps maka neuron-neuron tersebut aktif menghantarkan sinyal-sinyal elektrik pada saat yang bersamaan bila mendapat rangsangan sensorik. Neuron-neuron yang sering menghantarkan sinyal elektrik akan semakin kuat hubungannya satu dengan lainnya karena sering digunakan, disamping itu neuron-neuron akan saling berkoordinasi satu dengan lainnya sesuai dengan fungsinya. Sebaliknya, bila tidak ada atau kurang mendapat rangsangan maka sinaps-sinaps tidak terbentuk atau sinaps sudah terbentuk tetapi jarang dialiri aliran listrik karena neuron jarang mendapat rangsangan maka sinaps-sinaps akan mati atau terpangkas. Oleh karena itu neuron-neuron perlu dikejutkan dengan aliran listrik yang sama dan teratur dengan cara memberikan rangsangan yang sama secara teratur dan berkelanjutan agar sambungan antar neuron semakin kuat, kompleks dan menetap hingga anak menjadi dewasa.

 

Merangsang AUD melalui perangsangan neuron-neuron dapat diibaratkan seperti kegiatan pemahat yang memahat ukiran kayu. Melalui kegiatan memahat akan terbentuk suatu pola tertentu sehingga kayu yang tadinya polos akan berbentuk ukiran/pahatan yang dapat dimengerti. Dilain sisi, melalui kegiatan memahat akan disingkirkan sebagian kayu yang tidak diperlukan. Ilustrasi ini diterjemahkan, neuron-neuron dan sinaps-sinaps yang digunakan akan membentuk hubungan antar neuron melalui sinaps-sinaps menjadi suatu pola/patron, sebaliknya neuron-neuron yang tidak digunakan akan dipangkas, dan neuron-neuron dengan sinaps-sinapsnya yang jarang digunakan juga akan dipangkas. Setelah hubungan antar neuron dan sinaps-sinaps terbentuk maka harus sering dirangsang dengan cara tertentu dan teratur sehingga akan menghasilkan hubungan antar neuron dan sinaps-sinaps yang kompleks, saling berkoordinasi, semakin kuat dan akhirnya menjadi hubungan yang permanen. Para ahli mengatakan bahwa fase perontokan sinaps-sinaps yang tidak terpakai akan terjadi secara besar-besaran pada usia anak 3 tahun, oleh karena itu perangsangan terbaik dilakukan sebelum anak berusia 3 tahun.

 

 

Gambar Perbandingan kepadatan sel-sel otak pada saat anak lahir, usia 6 tahun dan usia 15 tahun.

 

Jumlah neuron yang ada (100-200 milyar neuron) tidak mengalami perubahan setelah anak lahir. Pertumbuhan hanya terjadi pada dendrit-dendrit dan sinaps-sinaps yang mengalami interaksi sehingga menjadi lebih rimbun menyerupai cabang-cabang pohon yang rindang (lihat gambar kepadatan sel otak). Pada anak usia 3 tahun yang telah mendapatkan stimulasi yang wajar, pada setiap 1 neuron sudah memiliki 15.000 sinaps, dengan terjadinya perontokan sebagian sinaps maka total seluruh neuron telah membentuk sekitar 1.000 triliun sinaps. Jumlah sinaps ini dua kali lebih banyak daripada jumlah sinaps yang dimiliki orang dewasa. Dapat dimengerti hal ini karena masih memungkinkan adanya sinaps-sinaps yang akan rontok kemudian karena tidak terpakai dalam proses anak menuju kedewasaan.

 

Stimulasi pada usia 3-6 tahun

Para peneliti telah menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan untuk mengetahui, mengukur dan membandingkan bagaimana perubahan dan pertumbuhan otak anak usia 6 tahun yang diberikan stimulasi yang memadai dengan otak anak yang kurang diberikan stimulasi yang memadai. Hasil MRI tersebut menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan yang pesat pada area otak yang mengatur dalam mempelajari perilaku baru dan kemampuan ketrampilan baru pada usia anak 3-6 tahun. Ini menunjukkan betapa pentingnya melakukan stimulasi untuk mendorong pemikiran yang kompleks dengan cara memperkenalkan permainan dan ketrampilan baru pada anak usia 3-6 tahun.

 

Gambar 
Perbandingan hasil pemeriksaan MRI pada otak anak usia 6 tahun yang sering mendapat stimulasi memadai (kiri)
dan otak anak usia 6 tahun yang kurang mendapat stimulasi yang memadai (kanan).

 

Kesimpulan

Usia terbaik untuk melakukan stimulasi pada anak adalah sedini mungkin. Hasil yang optimal akan didapat bila anak sudah diberikan rangsangan tumbuh kembang saat ia masih di dalam kandungan usia 4 bulan dan setelah lahir hingga ia berusia 6 tahun. Namun pemberian rangsangan tumbuh kembang pelu dilanjutkan setelah anak berusia 6 tahun hingga usia 8 tahun.

 

Referensi

  1. Staf Ahli Meneg PPN Bidang SDM dan Kemiskinan, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional-BAPPENAS, 2006, Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini Yang Holistik dan Terintegrasi.
  2. Departemen Kesehatan RI, 2009, Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de