Pentingnya Pemberian Vitamin K1 Profilaksis pada Bayi Baru Lahir

1 bayi dari setiap 1.200 sampai 1.400 kelahiran hidup di beberapa negara Asia mengalami perdarahan akibat kekurangan vitamin K.  Bayi baru lahir cenderung mengalami kekurangan vitamin K karena cadangan vitamin K dalam hati relatif masih rendah, sedikitnya transfer vitamin K malalui tali pusat, rendahnya kadar vitamin K pada Air Susu Ibu (ASI) dan sterilitas saluran pencernaan bayi baru lahir, sedangkan asupan vitamin K dari Air Susu Ibu belum mencukupi ketika bayi baru dilahirkan. Kekurangan vitamin K berisiko tinggi bagi bayi untuk mengalami perdarahan yang disebut juga 'Perdarahan Akibat Defisiensi Vitamin K' (PDVK).

 

Departemen Kesehatan RI bersama Tim Teknis Health Technology Assesment (HTA) dan organisasi profesi telah melakukan kajian pentingnya pemberian vitamin K1 pada bayi baru lahir sehingga sejak tahun 2002 telah membuat rekomendasi bahwa semua bayi baru lahir harus mendapat profilaksis vitamin K1, regimen vitamin K yang digunakan adalah vitamin K1, dan diberikan secara intramuskular (Rekomendasi A).

 

Manfaat vitamin K

Vitamin K termasuk golongan vitamin yang larut dalam lemak, merupakan salah satu unsur yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam proses pembekuan darah seperti faktor-faktor pembekuan II, VII, IX, X, antikoagulan protein C dan S, dan beberapa protein lain. Bila faktor pembekuan darah yang tergantung pada vitamin K ini berkurang maka bayi mudah mengalami perdarahan.

 

Bentuk-bentuk Vitamin K

  • Vitamin K1 (phylloquinone atau phytomenadione atau disebut juga phytonadione). Banyak terdapat pada sayuran hijau.
  • Vitamin K2 (menaquinone). Secara normal dibentuk oleh bakteri dalam saluran pencernaan seperti Bacteroides fragilis dan beberapa strain Escherichia.
  • Vitamin K3 (menadione). Vitamin K buatan yang sekarang sudah jarang diberikan pada bayi baru lahir.

 

Tanda dan akibat PDVK

Perdarahan akibat kekurangan vitamin K pada bayi baru lahir dapat terjadi spontan atau akibat trauma/benturan/ gesekan, terutama trauma ketika anak lahir. Perdarahan dapat terjadi pada beberapa bagian tubuh bayi seperti pada: otak, kulit, mata, tali pusat, hidung, telinga, dan saluran pencernaan.

 

Perdarahan masif pada saluran pencernaan bermanifestasi sebagai muntah darah atau berak darah. Perdarahan di bawah kulit bermanifestasi sebagai bercak berwarna keunguan atau merah kecoklatan yang disebut purpura, dan bercak perdarahan dengan ukuran yang lebih kecil yang disebut ekimosis dan petekia. Perdarahan yang sulit berhenti juga dapat timbul akibat tusukan jarum suntik.

 

Perdarahan dalam otak dengan manifestasi sakit kepala (bayi menangis terus-menerus), muntah, ubun-ubun membonjol, pucat hingga kejang. Perdarahan otak sering bermasalah serius karena dapat menyebabkan kematian atau kecacatan pada bayi usia 2 minggu sampai 6 bulan. Tingkat kematian akibat perdarahan otak pada bayi sebesar 10-50% dari seluruh kasus, sedangkan tingkat kecacatannya sebesar 30-50% dari seluruh kasus.

 

Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis (pencegahan) Pada Bayi Baru Lahir

Tujuan: menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi yang disebabkan Perdarahan Akibat Defisiensi Vitamin K (PDVK).

 

Pelaksana: tenaga kesehatan yang melakukan pertolongan persalinan atau petugas kesehatan pelayanan KIA di semua unit/fasilitas kesehatan (pemerintah dan swasta).

 

Sasaran: semua bayi baru lahir.

 

Waktu pemberian:

  • Setelah 1 jam pertama saat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) selesai dilakukan.
  • Pada bayi yang mengalami kesulitan bernafas (asfiksia), pemberian dilakukan setelah resusitasi berhasil dilaksanakan.
  • Pada bayi yang lahirnya tidak ditolong bidan, maka pemberian vitamin K1 dilakukan pada kunjungan neonatal yang pertama (KN1).
  • Diberikan sebelum pemberian imunisasi Hepatitis B yang pertama (B0) dengan selang waktu 1-2 jam.

 

Jenis vitamin K yang digunakan: vitamin K1 (phytomenadione) injeksi dalam sediaan ampul yang berisi 10 mg vitamin K1 per 1 ml, atau sediaan ampul yang berisi 2 mg vitamin K1 per 1 ml.

 

Dosis pemberian: 1 mg dosis tunggal (untuk sekali suntik saja).

 

Cara pemberian:

  • Sediakan semprit injeksi 1 ml yang masih baru (belum pernah dipakai dan belum terlewati masa kedaluarsanya).
  • Masukkan 1 mg vitamin K1 kedalam semprit 1 ml. Bila yang dipakai sediaan ampul yang berisi 10 mg vitamin K1 per 1 ml maka masukkan sebanyak hanya 1 strip kedalam semprit, sedangkan bila yang dipakai adalah sediaan ampul yang berisi 2 mg vitamin K1 per 1 ml maka masukkan sebanyak 0,5 ml saja.
  • Lakukan desinfeksi dengan alkohol 75% seperlunya.
  • Suntikkan pada paha kiri bayi secara intra muskular.
  • Lakukan pengawasan tanda-tanda vital (kesadaran, sirkulasi, pernafasan, temperatur tubuh, dll) pada bayi selama minimal 1 jam setelah pemberian suntikan.

 

 Referensi

  1. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, Departemen Kesehatan RI, 2007, Pedoman Teknis Pemberian Injeksi Vitamin K1 Profilaksis Pada Bayi Baru Lahir.
  2. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/Bayi/pemberian.vitamin.k.pada.bayi.baru/001/001/181/5/3, diakses 22 Maret 2010.
  3. http://asidharta.blogspot.com/2009/04/vitamin-k.html, diakses 22 Maret 2010.
  4. This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it./msg11091.html">http://www.mail-archive.com/This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it./msg11091.html, diakses 22 Maret 2010.
Share

Comments   

 
+1 #2 widi 2013-11-20 02:48
:-) :sigh:
Quote
 
 
0 #1 Musyarofah 2013-07-17 03:27
:D :-?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com