Arti Keluarga Menurut Rancangan Illahi

Keluarga merupakan unit (institusi) terkecil di dalam masyarakat, namun demikian keluarga merupakan sumber kekuatan suatu negara. Bangsa dan negara akan sehat dan kuat bila keluarga-keluarga juga sehat dan kuat. Keluarga merupakan hal terpenting bagi setiap manusia, hal ini sudah dirancang Allah sejak awal penciptaan dunia. Suami, istri dan semua anggota keluarga mesti sungguh-sungguh menyadari akan arti penting keluarga serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu kita seharusnya mengetahui bagaimana sebenarnya rancangan Allah bagi setiap keluarga.

 
Ada seorang Hamba Tuhan (Pendeta) yang menyatakan suatu ungkapan yang tidak pantas tentang istrinya sehingga sang istri sampai meminta cerai. Ini satu contoh yang ekstrim, walaupun seorang Hamba Tuhan namun bisa saja memiliki persepsi yang keliru tentang arti strategis keluarga yaitu tidak menempatkan keluarga sebagai hal yang utama dalam hidupnya.

 

Kita sebagai suami atau istri dapat melakukan hal-hal yang ceroboh melalui perkataan, sikap, atau perbuatan yang mencerminkan bahwa kita:

  • tidak menghargai keluarga
  • tidak menilai keluarga sebagai sesuatu yang luar biasa
  • menganggap keluarga sebagai tempat pemuasan nafsu
  • menganggap keluarga sebagai tempat untuk menguasai, memiliki, menjajah, mendikte dan mengatur

Karena semua yang berkisar pada nafsu akan bermanifestasi pada "saya yang harus dimengerti". Bila kita menganggap keluarga sebagai tempat pemuasan hawa nafsu, maka keluarga itu akan segera hancur oleh karena manusia tidak akan pernah dipuaskan oleh yang namanya nafsu.

 

Seperti apakah keluarga yang diinginkan Tuhan?
Ada 3 arti penting keluarga menurut rancangan Illahi (Allah), yaitu:

A. Dalam rancangan Illahi, keluarga merupakan:

  1. Tempat untuk mengabdi/menyalurkan apa yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Tuhan berfirman kepada para suami, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Efesus 5:25). Sedangkan kepada para Istri, Tuhan berfirman, "Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan" (Efesus 5: 22). Kesimpulannya, Tuhan meminta kepada kedua-duanya baik suami maupun istri untuk 'memberikan' sesuatu. Seperti tiang rumah, ada tiang kiri dan ada tiang kanan sehingga rumah menjadi kokoh. Itulah keluarga yang dimaui Tuhan.
  2. Keluarga adalah suatu komunitas besar. Keluarga bukan sesuatu yang tunggal tetapi terdiri dari beberapa orang di dalamnya dan Tuhan merupakan bagian dari keluarga. Oleh karena Tuhan yang memulai, Tuhan yang memberkati, mengijinkan dan menjaga maka Tuhan merupakan bagian dari keluarga, ini yang harus selalu disadari oleh suami-istri. Calon suami atau calon istri juga harus menyadari bahwa keluarga merupakan komunitas besar atau nantinya akan menjadi sangat besar. Contoh: sebelum menikah maka harus ditimbang-timbang dulu berapa besarnya keluarga calon suami atau calon istri, berapa besar/banyak anggota keluarga (sanak famili) yang dimiliki oleh pasangannya karena nantinya dia harus berinteraksi juga dengan keluarga pasangannya karena keluarga bukan tunggal tetapi merupakan bagian dari keluarga lain yang lebih besar.
  3. Keluarga bersifat jangka panjang. Keluarga adalah sesuatu yang besar atau nantinya akan menjadi besar. Keluarga tidak bersifat sementara atau sebatas usia suami-istri tetapi mencakup beberapa generasi mendatang, bahkan mungkin tidak akan punah karena akan lahir anak, cucu, cicit, dst sebagai generasi penerus. Kita harus menghargai bahwa keluarga merupakan suatu komunitas besar dan merupakan aset jangka panjang, oleh karena itu kita perlu mengelolanya dengan tepat. Contoh: bila anak tidak dikelola dengan tepat maka kualitasnya buruk, dengan akibat generasi selanjutnya dapat menjadi generasi yang buruk. Orang tua harus melihat keluarga sebagai sesuatu yang panjang maka anak-anak perlu dipersiapkan untuk dapat berkompetisi dalam kehidupan yang panjang nantinya.

B. Keluarga merepresentasikan Tuhan dan mengemban mandat Illahi (Kejadian 1: 26-29)

Kejadian 1:26, "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."


Kejadian 1:27, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka".


Kejadian 1:28, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."


Kejadian 1:29, "Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu."


Jelas bahwa sejak awal penciptaan, manusia dirancang segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:27). Dengan perkataan lain, wujud manusia dirancang serupa dengan Allah dan Allah menginginkan segala tindak tanduk, sikap, perilaku, pikiran dan perbuatan kita juga serupa denganNya sesuai batas-batas yang dimiliki manusia. Bagaimana caranya kita mengetahui rupa Allah dan perbuatan seperti apakah yang disebut serupa dengan Allah? Allah tidak akan membiarkan manusia berkhayal jauh-jauh dan memeras pikiran dengan segenap akal budi untuk membayangkan/mengira-ngira bagaimana sebenarnya bentuk dan rupa Allah sesungguhnya? juga kita tidak perlu mengira-ngira sikap dan perbuatan seperti apakah yang menyerupai Allah? karena Allah sudah menyediakan contohNya yang sangat jelas dan tidak jauh-jauh yaitu melalui pribadi Yesus Kristus! Yesus Kristus merupakan penyataan Allah yang sangat jelas kepada manusia, oleh karena Dia sudah hidup berdampingan dan berinteraksi dengan manusia dan sudah memberikan contoh bagaimana hidup seperti yang diinginkanNya. Semuanya ada di dalam Alkitab yang telah ditulis kedalam ribuan bahasa di dunia agar manusia dapat mencontoh apa yang telah dilakukan Kristus.

 

Selain merepresentasikan Tuhan, manusia juga mengemban amanat/mandat Allah. Dalam Kejadian 1:26, 28 dan 29, Allah memerintahkan manusia untuk berkembang biak, memenuhi bumi dan berkuasa atas segala hewan dan tumbuh-tumbuhan di bumi. Amanat ini harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Namun tidak dikatakan bahwa manusia berkuasa atas manusia lain. Untuk interaksi antar manusia, Allah sudah menetapkan aturan lain dalam Matius 22:36-40:

(36) Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?
(37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
(38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
(39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
(40) Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

 

C. Keluarga adalah penentu keselamatan kota dan dunia.

Firman Tuhan dalam Maleakhi 4:6, "Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah". Adanya perdamaian dalam keluarga-keluarga merupakan salah satu indikator bagi Allah untuk tidak menghukum suatu daerah (kota dan atau dunia).

 

Kesimpulan

Yang disebut keluarga Illahi adalah:

  • Melahirkan keturunan Illahi. Anak-anak yang lahir adalah keturunan Illahi, bukan anak-anak setan dan bukan anak-anak biasa. Anak-anak yang lahir adalah anak yang diberi label IIllahi oleh karena Allah ingin anak-anak kita merepresentasikan Tuhan dan mengemban mandat Illahi.
  • Allah dikenal dan dimuliakan oleh keluarga tersebut, lewat keluarga itu Tuhan dimuliakan. Jangan sampai terjadi: lewat keluarga itu Tuhan dipermalukan.
  • Keluarga tersebut merupakan model bagi keluarga lain. Keluarga kita hendaknya dapat menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lain. Bisakah keluarga kita menjadi contoh bagi tetangga kita?
  • Ada kesatuan Illahi. Keluarga merupakan kesatuan yang dibentuk oleh Allah. Suami-istri tidak diperkenankan bercerai menurut kehendaknya sendiri karena apa yang sudah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia, seperti tertulis di dalam Matius 19:5-6: (5) Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (6) Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Referensi

  1. Pdt. Paulus Epang, Kehidupan dan Tanggung Jawab Suami-Istri, ringkasan khotbah dalam kebaktian Young Adult Fellowship di GBI Bukit Zaitun Jakarta pada tanggal 27 Februari 2010.
  2. http://alkitab.or.id/alkitab, diakses 5 Maret 2010.
  3. http://alkitab.otak.info/, diakses 5 Maret 2010.

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de