Buku KIA, dapatkah merubah perilaku masyarakat?

Derajat kesehatan seseorang banyak ditentukan oleh pengetahuan, sikap dan perilaku hidupnya. Bangsa yang bersikap dan perilaku kesehatan baik akan memiliki derajat kesehatan baik, apalagi bila ditunjang oleh pengetahuan yang benar tentang kesehatan. Sebaliknya, bangsa dengan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan yang buruk akan memiliki derajat kesehatan yang rata-rata buruk pula.

 

Untuk menambah pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan yang baik pada masyarakat, pemerintah telah menyediakan satu alat/instrumen yang bernama Buku Kesehatan Ibu dan Anak atau lebih populer disebut sebagai Buku KIA (dibaca sebagai: buku 'ka - i - a'). Buku KIA diberikan kepada setiap ibu hamil pada pemeriksaan kehamilan yang pertama kalinya di fasilitas pelayanan kesehatan, buku ini selanjutnya diteruskan/dipakai oleh anaknya sampai anaknya berusia 5 tahun (balita). Setiap kali anak datang ke fasilitas kesehatan, baik itu ke Posyandu, Bidan, Puskesmas, Dokter praktek, Klinik atau Rumah Sakit, untuk tujuan penimbangan, berobat, kontrol, atau imunisasi, buku KIA harus dibawa. 

 

Guna Buku KIA

Buku KIA merupakan alat pemantauan dan pencatatan kesehatan ibu & anak dan alat edukasi (pendidikan atau penyuluhan) bagi ibu dan keluarganya. Disebut Instrumen Pemantauan & Pencatatan karena hasil pemeriksaan kesehatan terhadap ibu hamil/anak dicatat pada buku KIA. Karena buku ini dipegang oleh pasien, terdapat manfaat lebih jauh lagi dari buku ini yaitu sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan maupun tenaga kesehatan dengan keluarga. Buku KIA berisi gabungan kartu-kartu pemantauan dan pencatatan kesehatan yang sebelumnya pernah ada tetapi terpisah-pisah yaitu: Kartu KB, KMS ibu hamil, KMS Balita dan Kartu Perkembangan Anak. Disebut alat edukasi karena berbagai hal yang berhubungan dengan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir, bayi dan balita dapat dipelajari oleh ibu dan keluarganya pada buku KIA.

 

Peran Pemerintah Pusat dan Daerah

Pemerintah mempunyai harapan (ekspektasi) yang sangat tinggi terhadap buku KIA. Harapannya adalah pemakaian Buku KIA dapat menurunkan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita.  Berdasarkan Sasaran ke-4 Pembangunan Milenium (MDG ke-4 ) yaitu menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKBAL) sebesar 2/3-nya dari kondisi tahun 1990, maka Pemerintah telah menetapkan target yang ingin dicapai pada tahun 2015 yaitu AKB turun menjadi 23/1000 Kelahiran Hidup dan AKBAL turun menjadi 32/1000 Kelahiran Hidup. Sedangkan berdasarkan MDG ke-5, target yang ingin dicapai yaitu menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102/100.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2015.

 

Pemerintah pusat dan daerah perlu menganggarkan dana yang besar untuk mencetak sekitar 5 juta buku KIA (ditambah ongkos kirim keseluruh Indonesia) setiap tahunnya sesuai dengan jumlah sasaran ibu hamil di seluruh Indonesia. Sesuai SK Menteri Kesehatan RI No. 284/Menkes/SK/III/2004 tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pengadaan dan distribusi serta monitoring dan evaluasi penggunaan buku KIA. 

 

Bisakah Pemakaian Buku KIA menurunkan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita?

Pemakaian Buku KIA tidak secara langsung menurunkan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita. Turunnya Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita tergantung dari adanya peningkatan derajat kesehatan masyarakat khususnya ibu hamil, bayi dan balita. Agar terjadi peningkatan derajat kesehatan ibu, bayi dan balita, perlu diawali dengan adanya peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku kesehatan masyarakat kearah yang lebih baik.

 

Indonesia perlu mencontoh pengalaman Negara Jepang dalam penggunaan Buku KIA. Pada tahun 1945 setelah Perang Dunia kedua keadaan negara Jepang sangat memprihatinkan, Angka Kematian Ibu dan Bayi pada waktu itu sangat tinggi. Pada tahun 1948 Jepang mulai menerapkan pemakaian buku KIA yang sebelumnya bernama Buku Ibu Hamil yang diterapkan sejak tahun 1942. Sejak itu, berangsur-angsur  Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) mereka menurun. Pada tahun 1948, AKI negara Jepang sebesar 179/100.000 Kelahiran Hidup (KH) dan AKB Jepang sebesar 77/1000 KH. Selanjutnya secara fantastis AKI dan AKB Jepang terus menurun dari tahun ke tahun. Singkatnya, pada tahun 2004-2005 AKI Jepang sudah berada dibawah 5 kematian per 100.000 Kelahiran Hidup, sedangkan AKB Jepang mencapai 3 per 1000 kelahiran hidup. Menurut Profesor Nakamura, seorang profesor yang menekuni bidang KIA di Jepang, salah satu faktor penting yang mendukung penurunan AKI dan AKB Jepang adalah pemakaian buku KIA.

 

Pada tahun 1996 Jepang mulai memperkenalkan pemakaian buku KIA kepada Indonesia. Saat ini penerapannya di Indonesia sudah mencapai 33 provinsi. Dengan dipakainya buku KIA diharapkan ibu dan keluarganya membaca buku KIA sehingga pengetahuannya meningkat, merubah sikap dan perilaku hidup sehat. Bagaimana bila Ibu tidak membaca buku KIA karena tidak punya waktu, kurang minat atau tidak dapat membaca? Ini menjadi masalah tersendiri dalam penerapan buku KIA, namun sudah ada solusinya yaitu dengan penerapan Kelas Ibu Hamil dan Kelas Ibu Balita.

 

Beberapa studi tentang dampak buku KIA pernah dilakukan, salah satunya adalah Penelitian yang dilakukan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) bekerjasama dengan Universitas Indonesia tentang "Dampak Kelas Ibu Hamil Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Dalam Kehamilan, Persalinan dan Masa Nifas" di kabupaten Lombok Tengah, NTB, pada bulan April sampai dengan Desember 2008. Ternyata ibu-ibu yang mengikuti Kelas Ibu Hamil mendapatkan hal-hal yang positif dilihat dari sisi peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas.

 

Kesimpulan

Pemakaian Buku KIA akan memberikan manfaat maksimal bagi ibu, anak dan keluarga bila pembelajaran buku KIA bagi ibu hamil dan keluarganya didampingi oleh petugas kesehatan, misalnya melalui penerapan kelas-kelas pembelajaran tambahan yaitu kelas ibu hamil dan kelas ibu balita. Kelas-kelas pembelajaran tambahan ini berguna untuk mempercepat pembelajaran buku KIA bagi ibu dan keluarganya sehingga diharapkan dapat merubah pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dan keluarga. Bila sudah demikian maka dampaknya terhadap penurunan Angka Kematian Ibu, Bayi dan Balita tinggal menunggu waktu saja, bisa cepat bisa juga lambat karena ada faktor-faktor lain yang juga berpengaruh pada terjadinya Kematian Ibu, Bayi dan Balita, seperti adat istiadat, kepercayaan dan tradisi (yang ini sulit dirubah), kondisi sosial, ekonomi dan budaya, lingkungan tempat tinggal, kebijakan, strategi dan upaya penanggulangan penyakit serta program kesehatan lainnya oleh pemerintah pusat dan daerah.

 

Referensi

  1. SK Menteri Kesehatan RI No. 284/Menkes/SK/III/2004 tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak.
  2. Prof. Yasuhide Nakamura, 2007, 2008, 2009, materi presentasi pada “The Third Country Training Programme (TCTP) dan Inter Country Training Program (ICTP) MCNH services through Mother and Child Handbook” di Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Barat.

Comments   

 
0 #1 obat ejakulasi dini 2014-09-12 01:44
I could not refrain from commenting. Well written!
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de