| Pentingnya Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Anak |
|
|
|
| Written by dr. Awi Muliadi Wijaya, MKM |
| Monday, 21 December 2009 00:00 |
|
Pendahuluan Para ahli tumbuh kembang anak mengatakan bahwa periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak sebagai "Masa Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window opportunity), atau Masa Kritis (critical period)". Apakah artinya? Periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak (masa balita) merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat pada otak manusia, merupakan masa yang sangat peka bagi otak anak dalam menerima berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya. Pada masa ini otak balita bersifat lebih plastis dibandingkan dengan otak orang dewasa dalam arti anak balita sangat terbuka dalam menerima berbagai macam pembelajaran dan pengkayaan baik yang bersifat positif maupun negatif. Sisi lain dari fenomena ini yang perlu mendapat perhatian, otak balita lebih peka terhadap asupan yang kurang mendukung pertumbuhan otaknya seperti asupan gizi yang tidak adekwat, kurang stimulasi dan kurang mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Oleh karena itu kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi masukan dan nilai-nilai yang postiif, menghindari masukan yang bersifat negatif dan sedapat mungkin memberikan asupan gizi yang adekuat, memberikan stimulasi yang baik dan benar, serta memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi anak. Mengingat masa 5 tahun pertama merupakan masa yang 'relatif pendek' dan tidak akan terulang kembali dalam kehidupan seorang anak, maka para orang tua, pengasuh dan pendidik harus memanfaatkan periode yang 'singkat' ini untuk membentuk anak menjadi bagian dari generasi penerus yang tangguh dan berkualitas. Pengertian pertumbuhan dan perkembangan Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan diantara sel-sel, dengan kata lain pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh. Misal: anak bertambah tinggi badan, berat badan dan lingkaran kepalanya.
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh (kemampuan) yang lebih kompleks meliputi kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemandirian. Misal: kemampuan melakukan gerakan yang kompleks, berinteraksi dan berkomunikasi, kemampuan kognitif, bersosialisasi, kreatifitas, dll.
Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara bersamaan (simultan). Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan syaraf pusat dengan organ tubuh yang dipengaruhinya. Misal: kemampuan bicara merupakan hasil dari perkembangan sistem syaraf yang mengendalikan proses bicara.
Mengapa Tumbuh-kembang penting?
Apa yang perlu dilakukan orang tua? Lima tahun pertama kehidupan anak perlu dimanfaatkan oleh orang tua untuk meletakkan dasar-dasar kesehatan fisik dan mental, kemampuan penalaran, pengembangan kepribadian dan nilai-nilai, kemandirian dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya secara benar agar setelah dewasa menjadi manusia yang berkualitas tinggi sesuai harapan orang tua.
Ada 2 hal yang perlu dilakukan orang tua, pengasuh dan pendidik, yaitu: memenuhi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang optimal dan melakukan pembinaan yang berkualitas dan komprehensif bagi anak melalui kegiatan yang disebut Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Anak. Nomor satu tentunya anak diberikan pendidikan agama (santapan rohani) sejak dini, memenuhi kebutuhan dasar anak (Asuh, Asih dan Asah/stimulasi dini untuk memacu tumbuh-kembang tubuh dan otaknya sejak dini), mendeteksi dan mengintervensi sejak dini untuk mengoreksi (bila ditemui) adanya penyimpangan tumbuh-kembang anak.
Stimulasi dini adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak usia 0-6 tahun agar anak mencapai tumbuh kembang yang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Anak usia 0-6 tahun perlu mendapatkan stimulasi rutin sedini mungkin dan terus-menerus pada setiap kesempatan. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh-kembang yang bahkan dapat menyebabkan gangguan yang menetap. Stimulasi kepada anak hendaknya bervariasi dan ditujukan terhadap kemampuan dasar anak yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, kemampuan sosialisasi dan kemandirian, kemampuan kognitif, kreatifitas dan moral-spiritual.
Siapa yang melakukan stimulasi? Stimulasi perlu dilakukan menurut aturan yang benar seperti anjuran para ahli, stimulasi yang salah dapat menyebabkan pembentukan anak yang menyimpang. Oleh karena itu stimulasi sebaiknya dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan anak yang telah mendapat pengertian tentang cara memberi stimulasi yang benar, misal: ayah, ibu, pengasuh, anggota keluarga lain, petugas kesehatan dan kelompok masyarakat tertentu, misal kader kesehatan atau kader pendidikan. Prinsip-prinsip dasar dalam menstimulasi anak Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan para pendidik, pengasuh dan orang tua, yaitu:
Catatan: Selengkapnya tentang stimulasi bagi anak usia dini akan dibahas pada tulisan tersendiri.
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra-sekolah. Deteksi perlu dilakukan secara dini sebab semakin dini ditemukan penyimpangannya maka semakin mudah dilakukan intervensi untuk perbaikannya, selain itu tenaga kesehatn mempunyai waktu dalam menyusun rencana tindakan/intervensi yang tepat. Bila penyimpangan terlambat diketahui maka intervensi untuk perbaikannya lebih sulit dilakukan. Ada 3 macam deteksi dini tumbuh kembang anak:
Yang dimaksud intervensi dini adalah serangkaian tindakan tertentu yang dilakukan orang tua, pengasuh atau pendidik pada anak usia dini yang perkembangan kemampuannya menyimpang karena tidak sesuai dengan usianya. Tujuan intervensi dini untuk mengoreksi, memperbaiki dan mengatasi masalah penyimpangan perkembangan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Penyimpangan perkembangan anak dapat terjadi pada salah satu atau lebih kemampuan dasar anak yaitu: kemampuan gerak kasar, kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa, serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian. Intervensi dini dilakukan bila hasil pemeriksaan deteksi dini perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining Pertumbuhan (KPSP) didapatkan hasil yang meragukan (M) yang mengindikasikan kemampuan anak tidak sesuai dengan usianya. Intervensi berupa pemberian petunjuk kepada orang tua agar menyetimulasi anaknya dan mengajari cara melakukan stimulasi yang benar serta menganjurkan melakukan pemeriksaan kesehatan anak untuk mencari adanya penyakit yang dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak. Orang tua diminta datang membawa anaknya 2 minggu kemudian. Setelah orang tua melakukan stimulasi di rumah selama 2 minggu, petugas melakukan penilaian kembali memakai KPSP serta evaluasi lainnya (tentang evaluasi intervensi perkembangan akan dibahas pada tulisan tersendiri).
Waktu yang tepat untuk melakukan intervensi dini adalah sesegera mungkin setelah diketahui anak memiliki penyimpangan tumbuh kembang karena waktu terbaik adalah ketika anak belum berusia lima tahun, bila terlambat maka sulit mengoreksinya. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa masa lima tahun pertama kehidupan anak (balita) merupakan "Masa Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window opportunity), atau Masa Kritis (critical period)", maka periode itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperbaiki penyimpangan.
Rujukan Dini Tumbuh Kembang Anak Bila masalah penyimpangan tumbuh kembang anak tidak dapat diatasi di tingkat keluarga meskipun sudah dilakukan intervensi dini, maka anak perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan/Puskesmas. Rujukan dilakukan secara berjenjang, apabila Puskesmas belum menerapkan SDIDTK atau tidak mampu menangani kasus tersebut maka harus dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat yang lebih tinggi, misalnya RS tingkat kabupaten, bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke Rumah Sakit tingkat provinsi, tingkat Pusat, dst. Di daerah perkotaan, bisa saja keluarga langsung membawa anaknya ke Rumah Sakit terdekat tanpa melalui kader dan Puskesmas. Perlu diperhatikan dalam memilih Rumah Sakit, pilihlah yang dapat melayani rujukan kasus-kasus tumbuh kembang anak atau yang memiliki Poli Tumbuh Kembang Anak
Referensi
|




