Fenomena Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR) Berdasarkan SDKI 2012

Grafik Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) sejak Tahun 1992 - 2012.                                                                    (Sumber: SDKI)

 

Pemerintah cq. BPS berkolaborasi dengan BKKBN sudah menyelesaikan analisis Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal mortality ratio (MMR) 2012 dari hasil pelaksanaan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan Sensus Penduduk (SP) tahun 2010. Hasilnya sudah ada, ternyata Angka Kematian Ibu di Indonesia tahun 2012 cukup mengejutkan dan diluar prediksi banyak pihak. Hasilnya dapat kita lihat pada grafik di atas.

 

Berdasarkan hasil SDKI 2012 dan SP 2010, angka AKI Indonesia sebesar 359/100.000 kelahiran hidup. AKI ternyata menyimpang dari tren yang diharapkan terjadi. Tren AKI sejak tahun 1992 sampai 2007 cenderung turun (lihat grafik di atas), tapi tahun 2012 malah meningkat.

Seperti Angka Kematian Neonatal (AKN) yang tidak turun, demikian pula AKI tahun 2012 tidak turun tapi  malah naik. Perlu dicari faktor-faktor penyebab agar dapat dijadikan acuan tindakan kedepan.

 

Grafik Tren Perkembangan Angka Kematian Neonatal, Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita sejak tahun 1991 - 2012.   Sumber: SDKI, 1991-2012.

 

Grafik perkembangan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita yang cenderung stagnan dalam 10 tahun terakhir.

Sumber: SDKI 1991-2012 dalam Kemenkes, 2013.

 

Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap tingginya AKI

1. Kemiskinan

Penulis pernah menganalisis hasil penelitian Autopsi Verbal Kematian Balita pada tahun 2007-2008 di salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil pengamatan penulis, cukup banyak ibu melahirkan (dan keluarganya) yang mengetahui bahwa penolong persalinan terbaik adalah tenaga kesehatan (Nakes) terlatih, akan tetapi sayangnya banyak dari mereka yang justru bersalin dengan ditolong oleh orang yang bukan tenaga kesehatan terlatih. Oleh karena pada waktu itu mereka belum menjadi peserta program jaminan kesehatan maka penulis berasumsi bahwa mereka menghindari nakes terlatih (bidan) untuk meminimalkan biaya persalinan.

 

Menurut data bersumber BPS, pada bulan September 2012, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen). Sedangkan jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2012 sebesar 29,13 juta orang (11,96 persen). Berdasarkan data ini berarti angka kemiskinan berkurang 0,54 juta orang (0,30 persen).

 

Selama periode Maret 2012 – September 2012, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,14 juta orang (dari 10,65 juta orang pada Maret 2012 menjadi 10,51 juta orang pada September 2012), sementara di daerah perdesaan berkurang 0,40 juta orang (dari 18,48 juta orang pada Maret 2012 menjadi 18,08 juta orang pada September 2012). Angka kemiskinan di Indonesia memang turun tetapi hanya ‘sedikit.’ Dengan perkataan lain, kemiskinan tetap menjadi masalah kita (sudah menjadi kenyataan dan rahasia umum).

 

2. Kurangnya kualitas Pelayanan Kesehatan

Pemerintah sudah mengupayakan berbagai intervensi untuk menurunkan AKI. Pemerintah merasa segala upaya pelayanan kesehatan yang diberikan sudah dapat dikatakan 'cukup' secara kuantitas namun secara kualitas masih ada pihak-pihak yang meragukan, atau diduga kualitas pelayanan kesehatan kita masih dibawah standar. Sayangnya upaya-upaya intervensi pelayanan kesehatan tersebut belum terukur secara kualitas, apakah kualitasnya baik, sedang atau buruk?

 

3. Empat Terlalu dan Tiga Terlambat

    Yang disebut 4 Terlalu adalah:

  • Terlalu muda saat melahirkan (usia di bawah 15 tahun)
  • Terlalu tua saat melahirkan (usia diatas 35 tahun)
  • Terlalu banyak anak (sudah punya 3 anak kandung atau lebih saat melahirkan)
  • Terlalu dekat jarak kelahiran (kurang dari 2 tahun)

 

   Yang disebut 3 Terlambat adalah:

  • Terlambat dalam mengambil keputusan untuk membawa ke fasilitas kesehatan
  • Terlambat mencapai fasilitas pelayanan kesehatan sehingga terlambat mendapat pelayanan dan pertolongan yang cepat dan tepat di fasilitas pelayanan kesehatan
  • Terlambat dalam mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan

 

Referensi

1. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, Tahun 1991 - 2012.

Share

Comments   

 
0 #4 Desy 2014-08-02 08:20
:-)
Quote
 
 
+1 #3 silvana inoori 2014-07-07 12:06
ayooo.. tenaga kesehatan dan calon calon tenaga kesehatan maari kita turunkan AKI .. dukung dan wujudkan MDGs 2015 :lol: :D 8)
Quote
 
 
0 #2 APRINA CLARISSA 2013-09-09 19:42
ayo semangat untuk menurunkan kematian aki di INDONESIA..... :roll: :roll: :lol: :lol: :D :D
SEMANGAT AKI DI INDONESIA
Quote
 
 
+3 #1 Shinta Pery Biru 2013-07-26 18:16
tenaga kesehatan ayo semangat tuk menurunkan AKI DI INDONESIA... :-) :roll: :sigh:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de