Terjadi perubahan data trend HIV AIDS dalam 10 tahun terakhir. Menurut data UNAIDS, 2012, terjadi peningkatan angka infeksi baru HIV lebih dari 25% di Indonesia dalam kurun waktu antara tahun 2001 sampai 2011. Prevalensi HIV di antara para pengguna Napza yang memakai alat suntik atau penasun sebesar 35%. Test HIV di antara pengguna Napza dengan alat suntik mencapai lebih dari 75%. Prevalensi HIV di antara lelaki yang ngesex dengan lelaki (LSL atau MSM) sebesar 8%. Keterangan: LSL = lelaki suka lelaki, MSM  = men who have sex to men.

 

 

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, peningkatan infeksi baru HIV lebih banyak terjadi pada ibu rumah tangga daripada pada wanita pekerja sex. Ibu rumah tangga merupakan kelompok berisiko karena suaminya berperilaku seksual yang berisiko. Jadi Ibu rumah tangga yang terkena HIV merupakan “korban.”

 

Persentase faktor resiko tertinggi penularan HIV adalah hubungan sex berisiko pada heteroseksual (84,5%), penggunaan jarus suntik tidak steril pada pemakai napza suntik (6%), ibu dengan HIV positif  kepada anak yang dilahirkan (3,9%), hubungan sex lelaki dengan lelaki atau LSL (3,9%). Jadi sumber penularan HIV adalah yang utama adalah orang-orang dengan perilaku sex berisiko dari hubungan sex jenis hetero seksual, diikuti pengguna napza suntik (penasun) dan pelaku sex laki-laki dengan laki-laki. Sumber utama penyebaran virus HIV adalah Laki-laki berperilaku sex berisiko dan tidak pakai kondom

 

Laki-laki mempunyai tanggung jawab yang besar dalam penyebaran penyakit HIV AIDS. Laki-laki membeli sex, maka laki-laki yang sebenarnya memegang kunci apakah mereka mau pakai kondom atau tidak.

 

-    Sampai September 2012, sebanyak 341 kab/kota dari 32 prov yang telah melaporkan kasus AIDS.

-    Tidak ada satupun pelabuhan yang tidak ada pelacuran, untuk itu jika  penggunaan kondom masih rendah maka  penularan HIV tetap terjadi.

-    Diestimasi ada 545.000 orang terinfeksi HIV.

-    Pekerja seks bisa menularkan 2 – 3 orang/hari.

-    Pada tahun 2006, IDU’S (Intavenous Drug Users) merupakan salah satu faktor risiko terbanyak yang terinfeksi HIV namun hingga sekarang bisa dikendalikan, tapi saat ini hampir 66% penularan HIV terjadi melalui hubungan heteroseksual. Dibandingkan hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2007, angka pengguna napza suntik (penasun) sudah mulai menurun, waria & PS masih tetap sama, tapi lelaki ngeseks dengan lelaki meningkat dua kali lipat.

-    Yang mengkhawatirkan adalah lelaki normal yang mengunjungi tempat pelacuran meningkat 7x lipat, dimana 50% dari pengunjung/klien telah menikah dan 50% lagi akan menikah. Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah akan terjadi penularan kepada pasangan/istrinya, untuk itulah maka tema dari Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun 2012 adalah melindungi perempuan dan anak dari HIV-AIDS, untuk itu diharapkankepada semua terutama pada Eselon 1 untuk ikut memikirkan hal ini.

 

Kasus HIV - AIDS

Sejak pertama kali ditemukan (1987) sampai dengan September 2012, kasus HIV-AIDS tersebar di 341 (71%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh (33) provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali (1987), sedangkan yang terakhir melaporkan adanya kasus HIV (2011) adalah Provinsi Sulawesi Barat.

 

1. Kasus HIV

Jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2012 sebanyak (92.251) kasus Jumlah kasus HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (21.775 kasus), diikuti Jawa Timur (11.994 kasus), Papua (9.447 kasus), Jawa Barat (6.640 kasus), dan Sumatera Utara (5.935 kasus).

 

2. Kasus AIDS

  1. Jumlah kumulatif kasus AIDS dari tahun 1987 sampai dengan September 2012 sebanyak 39.434 kasus, persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (42,3%), kemudian dIIIkuti kelompok umur 30-39 tahun (33,1%), 40-49 tahun (11,4%), 15-19 tahun (4%), dan 50-59 tahun (3,3%)
  2. Persentase kasus AIDS pada laki-laki sebanyak 66,8% dan perempuan 32,9% (2:1)
  3. Jumlah kasus AIDS tertinggi menurut pekerjaan: pada wiraswasta (4.604 kasus), diikuti ibu rumah tangga (4.251 kasus), tenaga non-profesional (karyawan) (4.056 kasus), buruh kasar (1.512 kasus), petani/peternak/nelayan (1.497 kasus), penjaja seks (1.320) dan anak sekolah/mahasiswa (1.022 kasus)
  4. Jumlah Kasus   AIDS  terbanyak   dilaporkan   dari  Papua, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Riau dan Sumatera Barat.
  5. Angka kematian (CFR) AIDS menurun dari 2,8% pada tahun 2011 menjadi 1.6 % pada September tahun 2012.
  6. Pada tahun 2012, ada 125 bayi lahir dengan HIV positif dari Ibu yang HIV positif.

3. Layanan

A. Sampai dengan September 2012, sudah tersedia layanan HIV-AIDS di Indonesia sbb:

a)  Sebanyak 460 layanan Konseling dan Tes HIV Sukarela (KTS), termasuk Konseling dan Tes HIV yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (KTPK).

b)  Sebanyak 322 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif melakukan pengobatan ARV, terdiri dari 238 RS Rujukan PDP (induk) dan 85 satelit.

c)  Sebanyak 80 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).

d)  Sebanyak 299 layanan IMS (Infeksi Menular Seksual)

e)  Sebanyak 94 layanan PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak)

f)   Sebanyak 223 layanan (kolaborasi) TB-HIV.

 

B. Sampai dengan bulan September 2012, jumlah Lapas/Rutan/Bapas yang melaksanakan kegiatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS:

  1. Sebanyak 148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan Kegiatan KIE (Komunkasi, Informasi dan Edukasi).
  2. Sebanyak 20 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan penjangkauan.
  3. Sebanyak 78 Lapas/Rutan/Bapas memiliki Kelompok Dampingan Sebaya (KDS).
  4. Sebanyak 45 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan Konseling dan Tes HIV.
  5. Sebanyak 148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan koordinasi.
  6. Sebanyak 9 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan layanan PTRM.
  7. Sebanyak 127 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan rujukan HIV-AIDS.

 

C. Jumlah ODHA yang sedang mendapatkan pengobatan ARV sampai bulan September 2012, yaitu  sebanyak 28.383 orang. Sebanyak 96% (27.155 orang) dewasa dan 4% (1.228 orang) anak. Sedangkan pemakaian rejimennya adalah 95,6% (27.134 orang) menggunakan Lini 1 dan 4,5% (1.249 orang) menggunakan Lini 2.

Pencegahan

Promosi hidup sehat: dihulu: sektor pendidikan, sektor agama, pendidikan tentang HIV AIDS, Narkotika dan kesehatan.

Penting: perlu adanya keterbukaan kepada masyarakat bahwa penyakit ini yang bisa dicegah.

 

Penanggulangan

Penanggulangan yang penting adalah pengobatan dan penggunaan kondom.

Yang paling mahal adalah pengobatan.

Sebagian besar penularan HIV melalui heteroseksual, jadi penanggulangannya dititikberatkan pada heteroseksual dan sesuai target pengendalian HIV-AIDS pada tahun 2015 Getting to zero yaitu menurunkan jumlah kasus baru HIV, menurunkan angka kematian dan menurunkan stigma dan diskriminasi.

 

Saat ini obat HIV AIDS yaitu anti retroviral (ARV) dibeli dengan dana APBN, Global Fund (GF), AusAID dan USAID.

 

Pencatatan dan pelaporan data HIV AIDS & IMS:

-       Akan dilakukan sinkronisasi dan pertukaran data HIV AIDS & IMS antara Kemenkes, KPAN, PKBI, dan NU

-       Sistem pencatatan dan pelaporan  dengan Aplikasi SIHA  berlaku secara nasional pada 2013.

 

Referensi

1. Kementerian Kesehatan RI, laporan triwulan HIV AIDS dan IMS Tahun 2012.

2. UNAIDS, Regional Fact Sheet 2012.

Add comment


Security code
Refresh