Standar Biaya Umum (SBU) 2012 (juga 2013) Bikin Keluarga PNS Kelimpungan

 

 

Sore itu Pak Sukijan (sebut saja begitu namanya) baru saja tiba di rumahnya di suatu perumahan di kawasan Bekasi Timur. Tiga hari dia meninggalkan rumahnya untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh kantornya, salah satu Kementerian Negara di tingkat pusat. Wajahnya nampak sedikit masam, kurang ceria dan nampak agak lelah.

 

Setelah mengucapkan salam yang disambut oleh ketiga anaknya serempak, dia memasuki ruang tamu rumahnya yang bertipe 21 itu, ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga, ruang belajar dan sering pula dimanfaatkan sebagai ruang makan. Belum sempat duduk, ketiga anaknya sudah mulai melakukan interogasi padanya:

"Horee ... ayah pulang ...bawa oleh-oleh apa yah?" tanya anaknya perempuan yang nomor dua.

"Ayah, pesanan Ade udah dibelikan belum?" tanya pula anaknya laki-laki bungsunya yang menyebut dirinya Ade.

"Iya yah... bawa apa nih? khan perginya lama sampai tiga hari" timpal anaknya yang pertama, seorang anak perempuan yang sudah kuliah semester kedua di salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Bekasi.

Melihat kelakuan anak-anaknya yang ceria, mau tidak mau Pak Sukijan tersenyum juga meski senyumnya sedikit kecut. Dikeluarkannya beberapa potong kue dan lemper dari tas kerjanya. Anak-anaknya segera mengambil kue dan lemper tersebut masing-masing satu buah dan langsung memakannya.

Beberapa saat kemudian anaknya yang bungsu yang sekolahnya kelas satu SMP meminta lagi, "Ayah minta kuenya satu lagi donk.."
"Sudah ya de ... ini untuk ibu, ayah hanya bawa lima buah" membujuk anaknya yang bernama Ade.

"Koq belinya dikit amat yah?" tanya anaknya yang nomor dua yang sudah duduk di bangku sekolah kelas 2 SMA.

"Ini bukan beli tapi jatah snack dari hotel yang berlebih, bisa ayah bawa pulang" sahut ayahnya.

"coba ambil kuenya lebih banyak yah" kata anaknya yang nomor satu.

"Gak boleh ambil banyak-banyak donk ... khan teman-teman ayah ada yang bawa pulang juga" kata pak Sukijan menjelaskan.

"Ayah nginap di hotel apa namanya yah?" tanya ibunya anak-anak yang baru muncul dari dapur.

Pak Sukijan menyebutkan nama sebuah hotel berbintang yang ada di wilayah Bogor.

"Enak banget yah, ayah sering nginap di hotel-hotel mewah ... " ujar Bu Sukijan.

"Ah .... biasa saja, ayah tidak merasa enak menginap di hotel-hotel mewah. Mana bisa ayah menikmati hotel mewah kalau keluarga tidak ikut menginap. Untuk apa hotel berbintang kalau dari pagi sampai jauh malam kita lebih banyak berada di ruang pertemuan. Bagi ayah, hotel hanya tempat untuk meletakkan kepala sewaktu tidur malam. Jadi ayah pribadi sich lebih suka menginap di hotel biasa-biasa saja asalkan uang lumpsum tidak 'kesedot' ke hotel" jelas pak Sukijan. Mendadak dia ingat sesuatu, lantas mengeluarkan sebuah amplop dari tas kerjanya dan menyerahkan kepada istrinya. Amplop itu berisi uang lumpsum hasil kerjanya selama 3 hari di luar kota.

 

Bu Sukijan menerima amplop yang di depannya ada tertulis perincian jumlah uang yang diterima suaminya. Tenyatra ... setelah dibaca, tulisan tersebut mengecewakan hatinya, dibacanya sekali lagi: uang harian 3 kali sekian rupiah, ditambah transport sekian rupiah. Pak Sukijan memperhatikan, nampak wajah istrinya kurang menunjukkan kegembiraan.

"Cuma segini yah? Sudah beberapa kali sejak tahun ini ayah selalu membawa uang sedikit untuk kerja 3 hari 2 malam di luar kota. Kenapa bisa begitu yah?" tanya sang istri.

"Ayah kurang tahu, ayah cuma nerima saja dari bagian keuangan. Teman-teman juga sama, nerimanya segitu" pak Sukijan mencoba menjelaskan.

"Seingat ibu, tahun lalu sudah terjadi banyak pengurangan uang lumpsum, kenapa sekarang malah tambah berkurang lagi?" sang istri minta penjelasan.

"Ya memang tahun 2012 ini ada lagi pengurangan uang harian untuk pertemuan, tidak seperti tahun lalu" jawab pak Sukijan lemah.

"Sekarang baru tanggal 14 ... tapi gaji sudah habis untuk membayar listrik, air, beli kebutuhan hidup sehari-hari, uang sekolah, uang jajan anak-anak, transport ayah, dan bayar utang. Bagaimana ini ... apa cukup atau tidak yah sampai akhir bulan?" tanya bu Sukijan dengan wajah khawatir.

"Ya sebelum kehabisan uang, mudah-mudahan bulan ini masih ada lagi undangan pertemuan atau dinas luar ke luar kota" balas pak Sukijan mencoba menenangkan istrinya.

"Iya kalau ada..., kalau tidak ada bagaimana? anak-anak mau makan apa? mau nyari duit dari mana lagi yah?" desak bu Sukijan.

"Ayah juga tidak tahu harus bagaimana, beginilah nasib PNS" kata pak Sukijan seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

"Kenapa sich bisa jadi begini? siapa yang membuat ini semua?" kembali sang istri coba mengorek keterangan dari suaminya.

"Ya ... siapa lagi kalau bukan gara-gara SBU duaribu duabelas" kata pak Sukijan sekenanya.

"Apa? SBU dua ribu dua belas? apa tuh SBU 2012??" sang istri coba mengorek keterangan dari sang suami.

"Masa belum tahu... SBU 2012 itu singkatan dari Standar Biaya Umum tahun 2012, yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan" jelas suaminya.

"Memang kenapa? koq SBU 2012 yang disalahkan?" istrinya masih coba minta penjelasan.

"Iya ... karena di dalam SBU 2012 tercantum jumlah uang harian untuk peserta pertemuan tahun ini sudah turun dibandingkan tahun lalu, mangkanya penghasilan ayah turun drastis. Betul kan gara-gara SBU 2012 kita jadi jatuh miskin?" Pak Sukijan coba berargumentasi.

"Oooh ... itu toh biang keroknya? Jadi buat apa ayah gaya-gayaan nginep-nginep di hotel berbintang kalau 'tongpes' alias kantongnya kempes?" tanya sang istri setengah mengejek setengah menyerang.

Sang suami mendelu, katanya, "ah siapa yang gaya-gayaan, jangan bilang begitu. Kita nerima aja disuruh nginep di hotel manapun ...."

"Yah sudah, bagaimanapun kita harus bersyukur sudah bisa menikmati hotel berbintang. Ngomong-ngomong, untuk tahun depan apa bakal tambah parah yah?"

"Oo ... SBU tahun 2013 maksudnya? SBU 2013 memang sudah ada tapi kelihatannya sama saja, tidak ada perubahan yang signifikan dibandingkan SBU 2012. Berarti kita harus tetap kencangkan ikat pinggang bu" 

Kini giliran sang istri yang mendelu.

Anak-anak cuma memonitor pembicaraan ortunya, antara ngerti dan tidak.

 

oooOooo

 

Itulah salah satu topik pembicaraan di dalam keluarga PNS yang berstatus pegawai biasa alias staff. SBU 2012 dituding menjadi penyebab turunnya secara drastis penghasilan PNS yang membuat keluarga mereka kelimpungan menghadapi pengeluaran yang melebihi penghasilan. Bagi para PNS ini, gaji pokok ditambah berbagai tunjangan yang mereka terima setiap tanggal 1 setiap bulannya, pada kenyataannya jauh dari cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup di zaman milenium ini, bagaikan kambing mengejar kuda yang berlari. Gaji tersebut biasanya lantas lenyap pada minggu pertama, paling lambat minggu kedua, untuk membayar segala macam kebutuhan hidup keluarga. Tidak jarang mereka harus hutang pinjam dan gali lubang tutup lubang kesana kemari agar dapat menyambung hidup keluarganya.

 

Satu-satunya harapan itu ketika mereka menghadiri pertemuan atau dinas luar maka mereka akan memperoleh sedikit tambahan uang harian dan transport yang biasanya dapat mengurangi sedikit beban ekonomi. Tapi mereka tidak habis pikir mengapa uang yang mereka terima sekarang bukannya bertambah naik malah semakin menurun dalam dua tahun terakhir, seolah bertentangan dengan hukum ekonomi. Kalau dua  tiga tahun sebelumnya mereka dapat mengantongi lebih dari satu juta rupiah setiap kali menghadiri kegiatan pertemuan di luar kota selama 3 hari, maka pada tahun lalu (2011) pendapatan dari pos tersebut turun menjadi kurang dari satu juta rupiah, tapi mereka masih mampu bertahan. Namun tahun ini (2012) cukup tragis, mereka hanya diberikan imbalan kurang dari empat ratus ribu rupiah untuk menghadiri pertemuan selama tiga hari di luar kota. Mereka seolah sudah tidak tahan lagi, penghasilan mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, boro-boro nabung. Kebalikannya yang terjadi, SBU dari tahun ketahun menetapkan pagu tarif hotel yang malah semakin naik sehingga permintaan pemakaian terhadap hotel-hotel berbintang semakin meningkat, dengan akibat hotel-hotel berbintang sekarang ini sedang mengalami masa-masa kejayaan dalam perjalanan sejarah mereka.

 

Meskipun untuk menghadiri pertemuan beberapa hari tersebut para PNS diberikan penginapan di hotel-hotel berbintang, mereka tidak merasakan kegembiraan atau kerasan menginap di hotel mewah. 'Persetan dengan hotel mewah ... aku tidak butuh nginap di hotel mewah' demikian kira-kira umpatan mereka. Para PNS sangat heran dan 'sedikit iri' kepada pihak hotel, mereka mempertanyakan mengapa hotel-hotel berbintang ketiban rezeki dalam beberapa tahun terakhir, kebanjiran tamu sampai-sampai banyak menolak permintaan/pesanan untuk memakai hotelnya saking penuhnya pesanan dari instansi-instansi pemerintah?

 

Setelah mereka mencari-cari mengapa bisa demikian, jawabannya hanya menunjuk kepada satu pedoman atau peraturan yang disebut SBU 2012 alias Standar Biaya Umum tahun 2012. Akan tetapi keheranan PNS tetap yaitu mengapa pemerintah "menggunting di dalam lipatan?" ... dia telah berpihak kepada 'orang luar' dan sudah tidak menyayangi anak kandungnya sendiri, anaknya merasa ditinggalkan bahkan dibantai oleh ortu sendiri. Yah... PNS memang anak kandung pemerintah.

 

Begitulah nasib PNS rendahan yang tidak berdaya menghadapi peraturan yang sudah diatur 'orang tuanya' di atas. Mereka dituntut disiplin, datang dan pulang tepat waktu, padahal banyak di antara mereka bertempat tinggal di luar kota yang memerlukan perjalanan 1-2 jam untuk datang ke kantor dan 1-2 jam untuk pulang, otomatis mereka harus pergi dari rumah ketika hari masih gelap dan pulang kerumah ketika hari sudah gelap. Sesampai di rumah, waktu yang tersisa digunakan untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga (istri/suami dan anak-anak), sisanya untuk tidur malam, jadi tidak ada lagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan penghasilan. Disamping itu, tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka pun tidak ringan. Bila mereka melakukan perjalanan dinas ke luar kota, penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan risiko yang harus ditempuh.

 

Dampak kedepan yang disebabkan tanggung jawab dan kesejahteraan yang tidak berbanding lurus, bila tidak cepat-cepat dikoreksi, dapat berimbas pada menurunnya konsentrasi dalam pekerjaan, PNS akan mencari 'tambahan' di luar sehingga disiplin tergangggu. Akibat lebih lanjut, pelayanan kepada masyarakat pun akan mengalami distorsi.

 

Saran

Kemenkeu selaku pemegang dan penentu kebijakan harus merevisi standar uang harian (OH), yang akan berdampak:

1. Bila OH ditingkatkan maka penghasilan PNS naik, tapi syaratnya pagu hotel diturunkan, dengan demikian tidak memerlukan tambahan anggaran dari pemerintah.

2. Bila pagu hotel diturunkan maka akan memberi kesempatan hotel-hotel "kecil" mendapat order sehingga hotel-hotel kecil punya kesempatan untuk maju, dengan demikian pemerintah membantu kemajuan ekonomi di tingkat bawah.

3. Dengan dinaikkannya OH maka PNS tidak "mengejar target" seperti yang telah terjadi dalam 3 tahun belakangan ini. Dengan demikian jadwal dinas luar (DL) PNS diharapkan berkurang, lebih jauh lagi kinerja meningkat.

 

Catatan

Nama-nama yang digunakan dalam opini berbau feature ini adalah nama rekaan (bukan nama sebenarnya), mohon maaf bila ada yang namanya sama.

 

Referensi

SBU 2008, SBU 2009, SBU 2010, SBU 2011, SBU 2012.

Sumber gambar: http://cool-ten.com/2011/07/make-money-with-your-travel/

Share

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de