User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 


Gambar ilustrasi: Anak-anak di Lapas.

Sumber: http://listverse.com/2008/08/14/top-10-modern-prison-programs/


Penjara atau Rumah Tahanan (Rutan) yang dalam bahasa halusnya adalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan tempat paling dihindari dan ditakuti oleh sebagian besar masyarakat karena dianggap sebagai tempat yang penuh dengan kekerasan dan kekotoran sebab banyak orang jahat (pembunuh, perampok, maling, pecandu narkoba, dsb) tinggal disana, penuh dengan siksaan serta lingkungan yang kotor. Di masa kini, Lapas semakin banyak dihuni anak-anak seiring meningkatnya jumlah anak bermasalah hukum yang dijebloskan (mendapat pembinaan) di dalam Rumah Tahanan. Ternyata Pemerintah masih peduli dan terlibat pada kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak yang tinggal di Lapas.


Hak Dasar Anak
Sesuai Konvensi Hak Anak, 1989, setiap anak memiliki 4 hak dasar yaitu:

  1. Non-diskriminasi (setiap anak punya hak untuk tidak dibeda-bedakan berdasarkan perbedaan latar belakang, warna kulit, ras, suku, agama, golongan, keluarga, kondisi fisik dan mental, dll)
  2. Kepentingan yang terbaik bagi anak (setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik)
  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan (setiap anak berhak mendapatkan pertolongan, penyelamatan dan perawatan kesehatan dalam kondisi sakit, berbahaya, yang mengancam jiwa, hak mendapat tumpangan dan makanan untuk kelangsungan hidup, hak memperoleh pembinaan untuk tumbuh kembang fisik dan mental termasuk pendidikan rohani, dan hak mendapatkan pengajaran hal-hal yang baik)
  4. Penghargaan terhadap pendapat anak (anak punya hak untuk dihargai pendapatnya dan diberikan kesempatan untuk berdiskusi/tanya jawab)

Karena non diskriminasi, hak-hak dasar anak ini harus dipastikan berlaku juga bagi anak-anak yang berada di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Pengelola dan semua petugas di Lapas perlu menyadari bahwa pada dasarnya anak-anak di Lapas memiliki hak yang sama dengan anak-anak yang berada di luar Lapas.

Permasalahan yang dihadapi Anak didik pemasyarakatan (andikpas)
Terbatasnya jumlah Lapas khusus anak di Indonesia merupakan salah satu penyebab permasalahan seiring dengan meningkatnya jumlah anak bermasalah hukum yang dijebloskan (mendapat pembinaan) ke dalam Lapas. Salah satu pokok permasalahan, karena keterbatasan tempat maka anak-anak yang harus menjalani hukuman penjara seringkali terpaksa ditempatkan di Lapas yang diperuntukkan narapidana dewasa, walaupun dalam prakteknya, ada perbedaan untuk anak-anak dan dewasa dalam penempatan, pembinaan dan perlakuan, namun tetap saja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi anak didik lapas (andikpas). 

Andikpas yang tinggal di rutan termasuk dalam kelompok anak-anak yang memiliki 'kebutuhan khusus.' Disebut khusus karena mereka memerlukan metode pembelajaran (bimbingan) dan pelayanan yang tergolong khusus atau tidak dapat disamakan dengan anak-anak tidak bermasalah hukum yang tinggal dengan orang tua atau sanak famili. Demikian pula dalam bidang kesehatan, mereka memerlukan pelayanan yang bersifat 'khusus' karena masalahnya dianggap khusus pula.

Masalah yang dihadapi anak-anak penghuni rumah tahanan meliputi:
1. Masalah lingkungan fisik Lapas
2. Masalah makanan dan minuman
3. Masalah penyakit
4. Masalah kesehatan jiwa dan perilaku
5. Masalah aktifitas sehari-hari
6. Masalah pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan yang dibutuhkan andikpas
Ruang lingkup upaya pelayanan kesehatan yang dibutuhkan andikpas meliputi:
1. Pelayanan kesehatan promotif
Jenis kegiatan pelayanan kesehatan promotif meliputi: Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) secara individual maupun kelompok, konseling pribadi dan kelompok, upaya sanitasi dan higiene perorangan, pencegahan penyalahgunaan NAPZA, pendidikan kesehatan (misal life skill education)

2. Pelayanan kesehatan preventif
Jenis kegiatan pelayanan kesehatan preventif meliputi:
- Skrining/penapisan awal. Penapisan awal dilakukan pada andikpas baru yang meliputi informasi identitas pribadi dan keluarga, pemeriksaan fisik umum, kesehatan jiwa, dan pemeriksaan skrining pemakaian zat-zat yang dilarang seperti tembakau, alkohol dan zat psikoaktif lainnya memakai instrumen yang dinamakan Alcohol, Smoking, Substance Involvement Screening Test (ASSIST).
- Skrining berkala bagi andikpas lama.
- Pemberian imunisasi seperti Toksoid Tetanus (TT) dan tablet besi bagi andikpas perempuan.
- Pemantauan dan pembinaan penyelenggaraan makanan dan minuman bagi andikpas agar sesuai dengan higiene & sanitasi serta standar nutrisi.
- Isolasi andikpas yang menderita penyakit menular.
- Pencegahan penyakit menular dan penyalahgunaan NAPZA.
- Pemantauan dan surveilans penyakit menular.
- Pemantauan dan pemeliharaan kesehatan lingkungan.

3. Pelayanan kesehatan kuratif
Jenis kegiatan pelayanan kesehatan kuratif meliputi: pelayanan kesehatan kuratif dasar yaitu pengobatan penyakit dan pelayanan kesehatan gigi, pengobatan penyakit khusus (misal TBS, malaria, HIV/AIDS), pelayanan rujukan medik dan rujukan psikososial.

4. Pelayanan kesehatan rehabilitatif
Jenis kegiatan pelayanan kesehatan rehabilitatif meliputi: rehabilitasi fisik untuk andikpas yang mengalami gangguan fisik akibat trauma, rehabilitasi mental bagi andikpas yang mengalami masalah kesehatan jiwa (misal masalah psikologi dan perilaku), penyalahgunaan NAPZA, perilaku seksual berisiko. Pelayanan rehabilitatif yang dapat dilayani di Lapas antara lain latihan fisisk, konseling perorangan dan kelompok serta bimbingan rohani, sedangkan pelayanan rehabilitatif lainnya pada umumnya dilakukan bekerjasama dengan pusat-pusatrehabilitatif dan Rumah Sakit.

Jenis tenaga kesehatan yang melayani andikpas
Menurut kebutuhan standar, jenis tenaga yang diperlukan untuk melayani andikpas adalah:
1. Dokter umum
2. Dokter gigi
3. Perawat
4. Sanitarian
5. Ahli gizi
6. Ahli kesehatan masyarakat
7. Konselor (misal: psikolog, pekerja sosial, ahli tumbuh kembang anak, pelayan kebutuhan rohani dan konselor sebaya yang dapat direkrut dari mantan andikpas yang telah mendapat pelatihan)
8. Petugas administrasi untuk melakukan pencatatan dan pelaporan

Puskesmas yang terlibat pada pelayanan anak di Lapas merupakan Puskesmas yang berada di wilayah kerja yang sama dengan lokasi Lapas. Puskesmas harus menyediakan tenaga yang meliputi: dokter umum, dokter gigi, perawat, tenaga kesehatan yang telah dilatih Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR), tenaga kesehatan yang telah dilatih tatalaksana kasus kekerasan terhadap anak (KTA), ahli gizi, sanitarian, tenaga promosi kesehatan, dan tenaga surveilans kesehatan.

Sumber
1. Departemen Kesehatan, 2009, Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Lapas (Rutan). 
2. Sumber gambar: http://listverse.com/2008/08/14/top-10-modern-prison-programs/, diakses 18 Mei 2011.

Add comment


Security code
Refresh