Inilah Penyebab Jemaat Pindah Gereja

Salah satu penyebab berkurangnya jumlah jemaat adalah banyaknya jemaat yang pindah gereja dan salah satu penyebab banyaknya jemaat pindah gereja adalah gereja lokal yang tidak (kurang) sehat. Ironisnya, walaupun jumlah jemaat secara 'de facto' cenderung semakin menurun dari waktu kewaktu, banyak pengurus gereja yang kurang menyadari atau tidak mau mengakui bahwasanya gerejanya 'kurang sehat.' Mari kita coba mengupas faktor-faktor penyebab jemaat pindah gereja.

 

Perbedaan Pandangan Antara Jemaat dan Gereja
Jemaat  pindah gereja? ah… biasa saja, wajar dan sering terjadi, ini adalah pendapat umum jemaat. Paling tidak dari sisi pandang jemaat, pindah gereja bukanlah perkara aneh karena dapat terjadi dimanapun juga dan banyak alasan yang dapat menyebabkan jemaat keluar atau pindah gereja. Bila jumlah jemaat di suatu gereja lokal berkurang karena adanya jemaat yang pindah gereja atau keluar, secara logika tentu ada pula jemaat baru yang masuk atau menjadi anggota baru sehingga jumlah jemaat paling tidak resultantenya tetap. Akan tetapi gereja lokal yang sehat adalah gereja yang bertumbuh. Apabila terjadi jumlah jemaat stagnan (tetap) atau bahkan cenderung menurun, maka hal ini merupakan 'lampu kuning' atau danger sign bagi pengurus gereja. Bila ini terjadi, pengurus gereja tidak dapat lagi berleha-leha karena ini merupakan masalah serius, harus dipandang dan disikapi secara sangat serius. Perlu dilakukan evaluasi yang benar secara menyeluruh, kemudian hasil evaluasi dipakai sebagai dasar untuk melakukan perubahan mendasar dalam strategi, kebijakan dan tindak lanjut kalau tidak ingin gerejanya lambat laun akan 'bubar.' Apa saja penyebab jemaat pindah gereja?

Jemaat yang pindah gereja bukan karena pindah domisili, memandang ada masalah serius dalam interaksi antar sesama di dalam tubuh gereja lokal yang menyebabkan dia harus pindah gereja. Akan tetapi sebaliknya pengurus gereja menuding ada masalah serius yang terjadi pada jemaat yang sering pindah-pindah gereja. Kita perlu melihat hal ini dengan jernih, tidak menyalahkan siapapun karena setiap orang bisa melakukan kesalahan tanpa dirinya menyadari. Tujuan tulisan ini agar pengurus gereja dapat melakukan evaluasi untuk melakukan perbaikan dalam pelayanan yang diberikan.

Penyebab jemaat pindah gereja
Penyebab kasar alias yang nampak diluar sebagai alasan jemaat yang tidak lagi mau lagi datang di kebaktian suatu gereja lokal seringkali terlihat (dianggap) sepele seperti pindah domisili, pindah pekerjaan, sakit, atau  tiba-tiba 'menghilang.' Akan tetapi bila pengurus gereja mau meneliti lebih dalam lagi, sebenarnya banyak faktor penyebab utama yang tidak diketahui karena tidak pernah diceriterakan oleh jemaat.


Ada banyak penyebab (alasan) yang menyebabkan jemaat pindah gereja, keluar atau tidak mau datang lagi, tetapi bila mau dikelompokkan, ada 2 kelompok penyebab yaitu:

1. Penyebab alamiah. Yang termasuk penyebab alamiah adalah:

  • Jemaat pindah tempat tinggal (domisili)

  • Jemaat semakin menua dan sakit-sakitan

  • Jemaat meninggal dunia

  • Berbagai keterbatasan lain yang ada pada jemaat.


2. Penyebab lain. Yang termasuk penyebab lain adalah:

  • Jemaat punya masalah (konflik, ganjalan) dengan jemaat lain, pengurus gereja atau gembala. Menurut pandangan jemaat yang bersangkutan, jalan keluar terbaik untuk penyelesaian masalah tersebut adalah pindah gereja.

  • Jemaat tidak puas dengan kebijakan, visi dan misi gereja.

  • Doktrin gereja kurang kuat tertanam pada jemaat atau doktrin dan dogma gereja tidak sesuai dengan prinsip jemaat secara individual. Contohnya, jemaat pindah gereja terkait masalah perbedaan cara perjamuan kudus, juga cara baptis sehingga perlu dibabtis lagi di gereja lain. 

  • Terjadi perpecahan di dalam gereja lokal. 

  • Jemaat tidak puas dengan gaya kepemimpinan di gereja lokal tersebut, misalnya: Ibu Gembala (bugem) atau Bapak Gembala (Pakgem) bersikap diskriminatif, berubah tabiat dan sifat-sifatnya.

  • Jemaat tidak terpuaskan (masih haus) secara rohani setelah beribadah di suatu gereja lokal, penyebabnya antara lain: tidak puas dengan tata cara dan konten ibadah yang meliputi satu atau lebih hal-hal berikut: doa, pujian dan penyembahan, kesaksian, Perjamuan Kudus, khotbah atau pengkhotbah, persembahan dan doa berkat.

  • Jemaat tidak tidak puas dengan program-program dan kegiatan gereja. Antara harapan dan kenyataan tidak sejalan, dengan kata lain, kegiatan-kegiatan gereja tidak sesuai dengan yang diharapkannya.

  • Jemaat terlalu bernyala-nyala untuk lebih sering beribadah. Dalam kasus ini, jemaat masih merasa kurang bila hanya 1-2 kali saja beribadah dalam 1 minggu, maka jemaat mencari lagi gereja lokal lain yang bisa memenuhi hasratnya yang menyala-nyala tersebut.

  • Jemaat punya sifat bosanan (mudah bosan).

  • Jemaat tidak mau terikat (tertanam) di suatu gereja tertentu, lebih suka hanya jadi pengunjung “di mana-mana.”

  • Jemaat tergolong orang yang suka berkeliling (berkunjung) mencari variasi baik tata ibadah maupun pengkhotbah.

  • Jemaat tergolong jemaat musiman yang hanya datang sekali-sekali bila kebetulan 'lagi mau' atau kebetulan sedang menginap di rumah saudaranya atau rumahnya yang lain.

  • Jemaat diajak pindah oleh anak atau cucunya karena anak atau cucu ikut sekolah minggu di gereja lain.

  • Jemaat datang beribadah ke suatu gereja lokal karena diajak temannya dan ingin mencoba beberapa kali saja.

  • Program di gereja lain lebih menarik, misalnya: sering menyelenggarakan seminar, KKR, jalan-jalan/rekreasi, makan-makan.

  • Kondisi fisik gedung gereja kurang nyaman, misal: lantai kotor, kursi tidak nyaman, penerangan/lampu kurang, hawa udara di dalam gedung gereja terlalu panas, lembab, dan berbagai kondisi lingkungan lain yang kurang sreg bagi jemaat.

Dampak buruk bila jemaat sering pindah gereja
Para pimpinan atau gembala di suatu gereja lokal selalu 'meneriakkan' bahwasanya sering pindah gereja akan mengakibatkan dampak buruk bagi jemaat itu sendiri, yaitu: tidak  dan sulit menjadi dewasa alias tidak berkembang. Menurut beberapa ahli (pendeta, gembala), jemaat yang sering pindah gereja dikhawatirkan akan menerima pengajaran yang tidak 'seragam' atau bahkan pengajaran yang menyimpang. Ada pula yang mengatakan bahwa jemaat yang sering pindah gereja menunjukkan adanya kelainan pada diri jemaat tersebut. Pendeta lainnya menyebut jemaat yang datang di kebaktian gereja lain sebagai telah melakukan perbuatan 'selingkuh.' Apakah memang demikian?


Benarkah jemaat yang pindah gereja atau ikut kebaktian di gereja lain dapat dikatakan telah 'berselingkuh?' Menurut penulis, yang disebut perselingkuhan adalah bila jemaat mencari alternatif penyelesaian masalah ke supranatural lain (misal: 'orang-orang pintar,' dukun, tempat-tempat yang dianggap keramat) atau melakukan penyembahan kepada ilah lain di luar Kristus. Akan tetapi tidak ada perselingkuhan sepanjang gereja lain itu juga mengajarkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, apalagi bila memiliki latar belakang denominasi yang sama, misalnya sama-sama bernaung di bawah induk organisasi yang sama, misalnya: Gereja Bethel Indonesia (GBI), Gereja Kristen Indonesia (GKI), atau Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI). Yesus Kristus hadir di gereja manapun yang jemaatnya bersekutu, menyembah dan berdoa dalam nama-Nya.

Alasan paling logis mengapa jemaat yang pindah gereja seringkali menjadi permasalahan adalah kemungkinan terutama terkait dengan masalah perpindahan aliran uang dan prestise. Bila banyak jemaat pindah/keluar gereja, dikhawatirkan aliran uang persembahan menjadi tidak jelas atau beralih ke gereja lain, selain itu prestise gereja akan turun. Lebih buruk lagi, hal tersebut bisa menular ke jemaat lain. Sangat mungkin jemaat yang pindah akan memengaruhi dan mengajak kawan-kawannya untuk ikut pindah juga. Bila jemaat yang pindah mencapai 50%, bisa membuat 'goyang' gereja-gereja yang tergolong kecil.

Pengertian Gereja
Kata gereja atau jemaat (ekklêsia; bahasa Yunani) berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia), kata ini pertama kali dipakai oleh Tuhan Yesus. Yang dimaksud gereja bukanlah tempat ibadah tapi kumpulan orang-orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan (dosa), dengan kata lain gereja adalah persekutuan/perkumpulan orang-orang kudus. Tempat ibadah orang-orang kudus ini disebut gedung gereja atau synagog (untuk orang Yahudi).

Gereja dalam arti yang hakiki adalah tubuh Kristus sendiri, dengan Yesus Kristus sebagai Kepala dan jemaat (setiap orang percaya) sebagai tubuh-Nya (1 Korintus 12: 12-27). Setiap orang percaya merupakan bagian dari tubuh Kristus. Gereja sebagai Tubuh Kristus memiliki 2 sisi yaitu:

1) Gereja Universal
Gereja Tuhan yang universal (sedunia) adalah kumpulan (semua) orang yang telah menerima keselamatan melalui iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 12 ayat 12 mengatakan: "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus."   

2) Gereja Lokal
Gereja lokal adalah kumpulan jemaat (orang-orang percaya yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus) yang bersekutu di suatu tempat tertentu. Adapun tempatnya bisa berupa gedung, rumah, ruang pertemuan atau mungkin di suatu tanah lapang. Di dalam gereja lokal terdapat jemaat yaitu kumpulan orang yang berkunjung atau menjadi anggota gereja jemaat lokal yang merupakan bagian dari gereja universal (sedunia). Masing-masing gereja lokal berperan sebagai satu anggota tubuh dengan fungsi khusus yang saling melengkapi dalam membentuk Tubuh Kristus.

Jadi pengertian gereja yang sebenarnya bukanlah suatu bangunan atau denominasi tertentu. Fungsi gereja lokal adalah menghimpun orang-orang percaya untuk bersekutu dan berbakti kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gereja universal.


Gereja Lokal yang Sehat
Gereja lokal yang 'sehat' adalah gereja yang bertumbuh dalam aspek kualitas maupun kuantitas serta berbuah lebat. Salah satu indikator untuk mengatakan bahwa suatu gereja merupakan gereja yang sehat, selain adanya peningkatan kualitas, juga perlu adanya peningkatan kuantitas (jumlah) jemaat.

Bagi pengurus gereja lokal, tentu lebih mudah mengukur ada tidaknya peningkatan kuantitas dibandingkan dengan mengukur ada tidaknya peningkatan kualitas yang memerlukan banyak parameter dan metoda. Ketika jumlah jemaat stagnan (tidak bertambah) dari tahun ke tahun, bahkan ada kecenderungan terus berkurang, hal ini dapat dijadikan penanda (indikator) bahwasanya gereja lokal sedang bermasalah atau dalam kondisi yang tidak sehat. Bila hal ini terjadi, maka pimpinan/pengurus gereja (gembala, majelis dan para pekerja) harus mau mengevaluasi diri, instropeksi diri dan melakukan perubahan-perubahan mendasar kearah yang lebih baik.

Tugas Gereja Lokal
Dimasa kini, 'persaingan' antar gereja semakin meningkat. Maaf kalau penulis terlalu vulgar dengan memakai istilah "persaingan," tetapi itulah yang terjadi dalam "industri" gereja. Ketika jumlah gereja lokal semakin meningkat di suatu wilayah, maka persaingan nyata terjadi, setiap gereja lokal akan berusaha "menjaring" sebanyak mungkin jemaat. Gereja lokal harus membuka mata terhadap 'para pesaing' di wilayahnya. Berdasarkan fakta ini, sejumlah pihak (baca: jemaat) berpendapat bahwa bila mau menjaring jemaat sebanyak-banyaknya maka gereja lokal dituntut melayani jemaat. Oleh karena itu sulit menyalahkan bila ada yang berpendapat bahwa gereja merupakan institusi pelayanan masyarakat.

Menurut beberapa pihak, gereja lokal harus menyadari kodratnya bahwasanya tugas gereja adalah melayani jemaat sebaik-baiknya, bukan dibalik. Gereja yang melayani akan dipilih oleh banyak umat. Gereja yang mau menjadi besar harus belajar dan menyadari hal ini, mereka harus berusaha semaksimal mungkin melayani jemaat secara rohani (juga jasmani dalam batas-batas tertentu) agar jemaat 'terpuaskan' sehingga jemaat semakin betah bahkan dengan antusias akan membawa orang lain untuk ikut bergabung di gerejanya.

Secara 'de jure,' jemaat tidak mempunyai ikatan nyata dengan gereja lokal karena tidak ada perjanjian hitam di atas putih yang menyatakan bahwa jemaat hanya boleh datang ke kebaktian di suatu gereja tertentu saja, tidak boleh pindah gereja atau bila pindah gereja akan mendapat sanksi atau hukuman. Berdasarkan hal ini, maka jemaat bebas keluar masuk gereja manapun, tidak ada larangan yang melarang orang 'asing' menghadiri kebaktian di suatu gereja, dari sinilah berawal pasar bebas hubungan jemaat dengan gereja.

Akan tetapi, banyak di antara para pengurus/gembala gereja lokal yang tidak sependapat bahwa gereja lokal harus melayani jemaat. Menurut mereka, gereja hadir bukan untuk melayani jemaatnya. Pendapat inipun sulit dibantah.

Melayani Bukan Dilayani
Terlepas dari pro dan kontra tentang tugas gereja lokal, marilah kita melihat Firman Tuhan dalam Injil Markus 10: 42-45, yang mengatakan:

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Berdasarkan Firman Tuhan, maka gereja lokal seharusnya berbuat hal yang sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus karena Yesus Kristus adalah pusat gereja.

Yang perlu dilakukan gereja lokal

Seperti telah dikatakan di atas, menurunnya jumlah jemaat merupakan salah satu indikator penting bagi Gereja untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan yang diberikan. Bila jumlah jemaat tidak bertambah bahkan cenderung semakin menurun dari waktu kewaktu maka janganlah menyalahkan jemaat, pasti ada 'sesuatu' yang menyebabkannya. Lakukan evaluasi terhadap faktor penyebab menurunnya jumlah jemaat. Evaluasi hendaknya dilakukan kedalam diri sendiri. Jangan mudah menyalahkan jemaat sebab jemaat jumlahnya banyak dan berasal dari beragam latar belakang. Memang tidak mudah mencari penyebab apalagi penyebabnya justru berada di dalam diri sendiri, tetapi dengan kemauan kuat hal ini dapat saja terealisasi.

1. Perlunya survei kecil-kecilan terhadap jemaat yang pindah gereja
Bila ada jemaat yang pindah gereja, seringkali dianggap sepele oleh pengurus gereja lokal. Banyak pengurus gereja yang tidak punya keinginan mengorek lebih jauh penyebab (bila ada) jemaat yang pindah gereja, padahal bila saja mau dikorek lebih jauh, kemungkinan besar akan diperoleh data yang sangat berharga yang dapat dipakai untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.


2. Perlunya melakukan evaluasi periodik
Statistik jumlah jemaat maupun jumlah pengunjung di suatu gereja lokal dapat dijadikan tolok ukur kinerja suatu gereja. Gereja harus mengumpulkan data jumlah jemaat dan pengunjung gereja secara terus-menerus dan sistematis agar tersedia data statistik jumlah jemaat mingguan, bulanan dan dari tahun ketahun. Data-data ini tidak hanya dicatat untuk kemudian dibiarkan saja tetapi harus diolah, caranya: dibuatkan grafik (bisa grafik berbentuk bar, line atau pie) sehingga akan tergambar jelas trend jumlah jemaat dari waktu kewaktu bahkan dapat membandingkan trend jemaat pada masing-masing/jenis kebaktian. Setelah itu, data berbentuk grafik ini dianalisis, dibuatkan kesimpulan dan alternatif solusi pemecahan masalahnya.

Secara periodik, gereja juga perlu melakukan survei atau sejenis angket pendapat jemaat agar pengurus mengetahui bagaimana pendapat umum jemaat, apa saja yang diinginkan dan tidak tidak diinginkan oleh sebagian besar jemaat. Masukan jemaat dianalisis dan disimpulkan, itu merupakan data yang sangat berharga untuk bahan koreksi/perbaikan/peningkatan kualitas pelayanan gereja lokal. Hasil angket dihubungkan dengan trend kunjungan jemaat merupakan bukti otentik yang evidence base sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

3. Perlunya melakukan perubahan mendasar dalam pelayanan
Bila jumlah jemaat cenderung menurun, pengurus gereja lokal harus melakukan beberapa perubahan mendasar dalam strategi pelayanan jemaat, menindaklanjuti secara riil dan sedapat mungkin menghindari kembali ke pola-pola lama. Berdasarkan hasil evaluasi, lakukan perubahan mendasar memakai strategi baru. Jangan takut melakukan "trial and error" sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan koridor Firman Tuhan. Setelah beberapa waktu dengan strategi baru (misalnya 6 bulan sampai 1 tahun) lakukan kembali evaluasi periodik, bila hasilnya kurang memuaskan, lakukan lagi beberapa perubahan mendasar, demikian seterusnya sehingga diperoleh hasil nyata yaitu meningkatnya kembali jumlah jemaat maupun kunjungan di gereja lokal.

4. Meningkatkan dan memerioritaskan pelayanan anak-anak di Sekolah Minggu
Gereja yang punya visi adalah gereja yang menjadikan pelayanan anak-anak di Sekolah Minggu sebagi program unggulan. Mengapa demikian? Sekolah Minggu merupakan bagian paling fundamental dalam suatu gereja lokal karena sekolah minggu (baca: anak-anak) merupakan cikal-bakal masa depan dan kesinambungan gereja lokal. Tuhan Yesus berfirman Tuhan dalam Injil Matius 19:14 sbb: Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Mengapa pelayanan anak-anak harus lebih diperhatikan? Lebih mudah mengajak anak-anak menjadi anak Tuhan daripada mengajak orang dewasa. Orang dewasa seringkali punya banyak pertanyaan dan pamrih bahkan curiga ketika orang mengajak untuk 'mengubah' jalan hidupnya, sebaliknya anak-anak datang ke sekolah minggu dengan hati tulus tanpa curiga. Ada lagi alasan lain, seringkali orang tua menghadiri kebaktian di suatu gereja lokal karena diajak anak-anak atau cucu-cucunya sebab anak atau cucu harus diantar atau ditunggui ketika ikut sekolah minggu sehingga orang tuapun memanfaatkan waktu untuk ikut kebaktian di gereja lokal tersebut.

5. Perlunya perubahan cara pandang gereja lokal
Gereja lokal yang mengalami stagnansi atau cenderung mengalami penurunan jumlah kunjungan, mau tidak mau harus merubah paradigma kalau tidak ingin gerejanya lambat laun mengalami krisis hingga yang ekstrim yaitu "bubar." Gereja harus menyadari bahwasanya tugas gereja secara kodrat adalah melayani (servis) jemaat sebaik-baiknya, bukan sebaliknya. Gereja yang mau belajar akan menyadari hal ini serta berusaha semaksimal mungkin melayani jemaat agar jemaat 'terpuaskan' dan pada akhirnya akan memperoleh 'hasilnya.' Diatas semuanya, senantiasa berdoa bagi jemaat merupakan upaya yang utama, kemudian diikuti kerja keras sebagai langkah konkrit.

Bila suatu gereja lokal memandang gereja lain dan Umat Kristen lain sebagai satu Tubuh Kristus, maka sungguh tidak ada alasan bagi gereja lokal menjadi takut jemaatnya “dicuri” oleh gereja lain. Seorang jemaat akan tetap bertahan di suatu gereja lokal selama mereka merasa ’nyaman’ berada di sana, tidak perduli semenarik apapun gereja lain atau sekuat apapun ajakan teman. Akan tetapi begitu seseorang merasa tidak lagi pas dan nyaman di suatu gereja, maka kepergiannya tak ada yang bisa menghalangi.

Tentu akan sangat baik bila kita mau meniru 'Saudara-saudara kita' dimana mereka memiliki fleksibilitas tinggi dalam arti tidak ada yang memandang negatif bila seseorang melakukan ibadah di tempat/wilayah lain tergantung keberadaannya pada saat memerlukan ibadah.

6. Membuat nyaman keadaan lingkungan gedung gereja
Suasana/kenyamanan gedung gereja berperan penting untuk membuat jemaat kerasan dan selalu ingin datang kembali. Untuk membuat nyaman lingkungan/suasana gereja, tidak harus dilakukan melalui renovasi gedung yang memerlukan biaya besar. Untuk membuat jemaat merasa nyaman ketika beribadah di gedung gereja bisa dilakukan perbaikan kecil-kecilan dengan biaya relatif rendah, misalnya membuat ventilasi lebih baik, menambah lampu penerangan, dan menjaga kebersihan dan kerapihan.

7. Perlu menanamkan doktrin gereja lokal kepada jemaat.

Doktrin dan dogma gereja sangat penting dan krusial disampaikan dan ditanamkan pada jemaat. Bila jemaat merasa tidak cocok/sesuai dengan doktrin gereja maka sejak awal mereka akan pindah ke gereja lain yang memiliki doktrin yang cocok dengan prinsip keimanannya.

Kesimpulan dan Penutup
Terlepas dari pro dan kontra mengenai tugas gereja lokal apakah harus melayani, dilayani atau kedua-duanya, seluruh jemaat haruslah menyadari bahwasanya tidak boleh ada seorangpun jemaat yang tidak “tertanam” di gerejanya masing-masing. Setiap jemaat haruslah tertanam (di dalam suatu gereja lokal) dan terhubung dengan Gembalanya masing-masing. Mengapa demikian? hal ini menyangkut permasalahan otoritas yang tidak terlihat mata jasmani manusia, yang memerlukan penjelasan yang sangat mendalam (perlu satu artikel tersendiri untuk membahas hal ini).

Sebagai penutup, satu kesimpulan penting (bagi jemaat) adalah:
Jemaat boleh (sah-sah) saja menjadi “pengunjung” di kebaktian gereja lokal lain, tetapi tetap setiap jemaat tidak boleh melupakan bahwa ia harus tertanam (di dalam suatu gereja lokal) dan terhubung dengan Gembalanya masing-masing agar ia punya kepastian “masa depan” dan bisa “dibentuk.”

Akhir kata, tulisan ini dapat dipandang sebagai opini penulis. Melalui tulisan ini, penulis tidak bermaksud menyinggung atau 'menyerang' gereja manapun juga, tetapi untuk tujuan memberi masukan yang bersifat membangun, berharap tulisan ini dapat dijadikan bahan inspirasi dan pembelajaran bagi pengurus gereja lokal yang sedang mengalami masalah stagnansi atau jumlah jemaat yang cenderung menurun, agar dapat melakukan perbaikan kinerja, lebih jauh untuk kemuliaan nama Tuhan dan memenuhi amanat Tuhan kita Yesus Kristus.

Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati kita. Amen

Referensi

  1. http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150186792211526, diakses 7 September 2011.

  2. http://blog.themessenger.web.id/?p=404, diakses 7 September 2011.

  3. http://www.gotquestions.org/indonesia/definisi-gereja.html, diakses 8 September 2011.

  4. http://alkitab.otak.info/, diakses 8 September 2011.

  5. http://www.akupercaya.com/ilmu-pengetahuan-adat-istiadat-dan-ajaran-kristen/11308-apa-ciri-ciri-gereja-yang-benar-menurut-alkitab.html, diakses 8 September 2011.

  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja, diakses 8 September 2011.

  7. http://www.gkps.or.id/component/content/article/14-dasar-pemahaman-kristen/134-gereja, diakses 8 September 2011.

  8. http://martianuswb.com/?p=1061, diakses 3 Desember 2011.

  9. http://beritamanado.com/agama-pendidikan/ini-faktor-yang-mendorong-jemaat-pindah-denominasi-gereja/187895/, diakses 9 Agustus 2013. 

Share

Comments   

 
0 #2 yohanes sisnturi 2013-07-20 19:00
:lol:
Quote
 
 
0 #1 yohanes sisnturi 2013-07-20 18:59
:-) :-) :D
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com