Inilah Penyebab Jemaat Pindah Gereja

Salah satu penyebab berkurangnya jumlah jemaat adalah banyaknya jemaat yang pindah gereja dan salah satu penyebab banyaknya jemaat pindah gereja adalah gereja lokal yang tidak (kurang) sehat. Ironisnya, walaupun jumlah jemaat secara 'de facto' cenderung semakin menurun dari waktu kewaktu, banyak pengurus gereja yang kurang menyadari atau tidak mau mengakui bahwasanya gerejanya 'kurang sehat.' Mari kita coba mengupas faktor-faktor penyebab jemaat pindah gereja.

 

Perbedaan Pandangan Antara Jemaat dan Gereja
Jemaat  pindah gereja? ah… biasa saja, wajar dan sering terjadi, ini adalah pendapat umum jemaat. Paling tidak dari sisi pandang jemaat, pindah gereja bukanlah perkara aneh karena dapat terjadi dimanapun juga dan banyak alasan yang dapat menyebabkan jemaat keluar atau pindah gereja. Bila jumlah jemaat di suatu gereja lokal berkurang karena adanya jemaat yang pindah gereja atau keluar, secara logika tentu ada pula jemaat baru yang masuk atau menjadi anggota baru sehingga jumlah jemaat paling tidak resultantenya tetap. Akan tetapi gereja lokal yang sehat adalah gereja yang bertumbuh. Apabila terjadi jumlah jemaat stagnan (tetap) atau bahkan cenderung menurun, maka hal ini merupakan 'lampu kuning' atau danger sign bagi pengurus gereja. Bila ini terjadi, pengurus gereja tidak dapat lagi berleha-leha karena ini merupakan masalah serius, harus dipandang dan disikapi secara sangat serius. Perlu dilakukan evaluasi yang benar secara menyeluruh, kemudian hasil evaluasi dipakai sebagai dasar untuk melakukan perubahan mendasar dalam strategi, kebijakan dan tindak lanjut kalau tidak ingin gerejanya lambat laun akan 'bubar.' Apa saja penyebab jemaat pindah gereja?

Jemaat yang pindah gereja bukan karena pindah domisili, memandang ada masalah serius dalam interaksi antar sesama di dalam tubuh gereja lokal yang menyebabkan dia harus pindah gereja. Akan tetapi sebaliknya pengurus gereja menuding ada masalah serius yang terjadi pada jemaat yang sering pindah-pindah gereja. Kita perlu melihat hal ini dengan jernih, tidak menyalahkan siapapun karena setiap orang bisa melakukan kesalahan tanpa dirinya menyadari. Tujuan tulisan ini agar pengurus gereja dapat melakukan evaluasi untuk melakukan perbaikan dalam pelayanan yang diberikan.

Penyebab jemaat pindah gereja
Penyebab kasar alias yang nampak diluar sebagai alasan jemaat yang tidak lagi mau lagi datang di kebaktian suatu gereja lokal seringkali terlihat (dianggap) sepele seperti pindah domisili, pindah pekerjaan, sakit, atau  tiba-tiba 'menghilang.' Akan tetapi bila pengurus gereja mau meneliti lebih dalam lagi, sebenarnya banyak faktor penyebab utama yang tidak diketahui karena tidak pernah diceriterakan oleh jemaat.


Ada banyak penyebab (alasan) yang menyebabkan jemaat pindah gereja, keluar atau tidak mau datang lagi, tetapi bila mau dikelompokkan, ada 2 kelompok penyebab yaitu:

1. Penyebab alamiah. Yang termasuk penyebab alamiah adalah:

  • Jemaat pindah tempat tinggal (domisili)

  • Jemaat semakin menua dan sakit-sakitan

  • Jemaat meninggal dunia

  • Berbagai keterbatasan lain yang ada pada jemaat.


2. Penyebab lain. Yang termasuk penyebab lain adalah:

  • Jemaat punya masalah (konflik, ganjalan) dengan jemaat lain, pengurus gereja atau gembala. Menurut pandangan jemaat yang bersangkutan, jalan keluar terbaik untuk penyelesaian masalah tersebut adalah pindah gereja.

  • Jemaat tidak puas dengan kebijakan, misi dan visi gereja.

    Misal:

    • Beberapa kebijakan yang diambil dan dilaksanakan oleh gereja tidak sesuai dengan hati nurani jemaat.
    • Jemaat menganggap ada ketidakjujuran dalam masalah keuangan gereja.
    • Misi gereja tidak seimbang, lebih berfokus kedalam daripada keluar. Misal: mementingkan pembangunan gedung gereja daripada misi pengabaran Injil. Atau sebaliknya lebih berfokus ke luar daripada ke dalam.
    • Visi gereja tidak diimplementasikan oleh para pengurus dan gembala gereja.
  • Doktrin gereja kurang kuat tertanam pada jemaat atau doktrin dan dogma gereja tidak sesuai dengan prinsip jemaat secara individual. Contohnya, jemaat pindah gereja terkait masalah perbedaan cara perjamuan kudus, juga cara baptis sehingga perlu dibabtis lagi di gereja lain. 

  • Terjadi perpecahan di dalam (intern) gereja lokal. 

  • Jemaat tidak puas dengan gaya kepemimpinan di gereja lokal tersebut, misalnya: Ibu Gembala (bugem) dan atau Bapak Gembala (Pakgem) berubah tabiat dan sifat-sifatnya, bersikap diskriminatif, tidak peka, materialistis oriented, suka pamer (supam), tidak peka terhadap permasalahan domba-dombanya, dan lebih mementingkan urusan pribadi daripada tugas penggembalaan "domba-dombanya."

  • Jemaat tidak terpuaskan (masih haus) secara rohani setelah beribadah di suatu gereja lokal, penyebabnya antara lain: tidak puas dengan tata cara dan konten ibadah yang meliputi satu atau lebih hal-hal berikut: doa, pujian dan penyembahan, kesaksian, Perjamuan Kudus, khotbah atau pengkhotbah, persembahan dan doa berkat.

  • Jemaat tidak tidak puas dengan program-program dan kegiatan gereja. Antara harapan dan kenyataan tidak sejalan, dengan kata lain, kegiatan-kegiatan gereja tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.

  • Jemaat terlalu bernyala-nyala untuk lebih sering beribadah. Dalam kasus ini, jemaat masih merasa kurang bila hanya 1-2 kali saja beribadah dalam 1 minggu, maka jemaat mencari lagi gereja lokal lain yang bisa memenuhi hasratnya yang menyala-nyala tersebut.

  • Jemaat punya sifat bosanan (mudah bosan).

  • Jemaat tidak mau terikat (tertanam) di suatu gereja tertentu, lebih suka hanya jadi pengunjung “di mana-mana.” Hal ini bisa disebabkan karena jemaat menghindari pemberian persembahan persepuluhan, atau menghindari keterikatan hubungan dengan saudara seiman.

  • Jemaat tergolong orang yang suka berkeliling (berkunjung) mencari variasi baik tata ibadah maupun pengkhotbah.

  • Jemaat tergolong jemaat musiman yang hanya datang sekali-sekali bila kebetulan 'lagi mau' atau kebetulan sedang menginap di rumah saudaranya atau rumahnya yang lain.

  • Jemaat diajak pindah oleh anak atau cucunya karena anak atau cucu ikut sekolah minggu di gereja lain.

  • Jemaat datang beribadah ke suatu gereja lokal karena diajak temannya dan ingin mencoba beberapa kali saja.

  • Program di gereja lain lebih menarik, misalnya: sering menyelenggarakan seminar, KKR, jalan-jalan/rekreasi, makan-makan.

  • Kondisi fisik gedung gereja kurang nyaman, misal: lantai kotor, kursi tidak nyaman, penerangan/lampu kurang, hawa udara di dalam gedung gereja terlalu panas, lembab, dan berbagai kondisi lingkungan lain yang kurang sreg bagi jemaat.

 

Dampak buruk bila jemaat sering pindah gereja
Menurut beberapa ahli (pendeta/pastor, gembala), bila jemaat sering pindah gereja dapat mengakibatkan dampak buruk bagi jemaat itu sendiri, yaitu sulit menjadi dewasa atau sulit berkembang (menjadi maju) keimanannya. Jemaat yang sering pindah gereja dikhawatirkan akan menerima pengajaran yang tidak 'seragam' atau bahkan pengajaran yang menyimpang. Ada pula yang mengatakan bahwa jemaat yang sering pindah gereja menunjukkan adanya kelainan pada diri jemaat tersebut.

 

Pihak lain menyebut jemaat yang datang di kebaktian gereja lain sebagai telah melakukan perbuatan 'selingkuh.' Apakah memang demikian? Benarkah jemaat yang pindah gereja atau ikut kebaktian di gereja lain dapat dikatakan telah 'berselingkuh?' Menurut penulis, yang disebut perselingkuhan adalah bila jemaat mencari alternatif penyelesaian masalah ke supranatural lain (misal: 'orang-orang pintar,' dukun, tempat-tempat yang dianggap keramat) atau melakukan penyembahan kepada ilah lain di luar Kristus. Akan tetapi tidak ada perselingkuhan sepanjang gereja lain itu juga mengajarkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, apalagi bila memiliki latar belakang denominasi yang sama, misalnya sama-sama bernaung di bawah induk organisasi yang sama, misalnya Gereja Bethel Indonesia (GBI), Gereja Kristen Indonesia (GKI), atau Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI). Yesus Kristus hadir di gereja manapun yang jemaatnya bersekutu, menyembah dan berdoa dalam nama-Nya.

Alasan paling logis mengapa jemaat yang pindah gereja seringkali menjadi permasalahan adalah kemungkinan terutama terkait dengan masalah perpindahan aliran uang dan prestise. Bila banyak jemaat pindah/keluar gereja, dikhawatirkan aliran uang persembahan menjadi tidak jelas atau beralih ke gereja lain, selain itu prestise gereja akan turun. Lebih buruk lagi, hal tersebut bisa menular ke jemaat lain. Sangat mungkin jemaat yang pindah akan memengaruhi dan mengajak kawan-kawannya untuk ikut pindah juga. Bila jemaat yang pindah mencapai 50%, bisa membuat 'goyang' gereja-gereja yang tergolong kecil.

Pengertian Gereja
Kata gereja atau jemaat (ekklêsia; bahasa Yunani) berarti dipanggil keluar (ek=keluar; klesia dari kata kaleo=memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari dunia), kata ini pertama kali dipakai oleh Tuhan Yesus. Yang dimaksud gereja bukanlah tempat ibadah tapi kumpulan orang-orang yang telah dipanggil keluar dari kegelapan (dosa), dengan kata lain gereja adalah persekutuan/perkumpulan orang-orang kudus. Tempat ibadah orang-orang kudus ini disebut gedung gereja atau synagog (untuk orang Yahudi).

Gereja dalam arti yang hakiki adalah tubuh Kristus sendiri, dengan Yesus Kristus sebagai Kepala dan jemaat (setiap orang percaya) sebagai tubuh-Nya (1 Korintus 12: 12-27). Setiap orang percaya merupakan bagian dari tubuh Kristus. Gereja sebagai Tubuh Kristus memiliki 2 sisi yaitu:

1) Gereja Universal
Gereja Tuhan yang universal (sedunia) adalah kumpulan (semua) orang yang telah menerima keselamatan melalui iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan dalam 1 Korintus 12 ayat 12 mengatakan: "Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus."   

2) Gereja Lokal
Gereja lokal adalah kumpulan jemaat (orang-orang percaya yang memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus) yang bersekutu di suatu tempat tertentu. Adapun tempatnya bisa berupa gedung, rumah, ruang pertemuan atau mungkin di suatu tanah lapang. Di dalam gereja lokal terdapat jemaat yaitu kumpulan orang yang berkunjung atau menjadi anggota gereja jemaat lokal yang merupakan bagian dari gereja universal (sedunia). Masing-masing gereja lokal berperan sebagai satu anggota tubuh dengan fungsi khusus yang saling melengkapi dalam membentuk Tubuh Kristus.

Jadi pengertian gereja pada awalnya bukanlah suatu bangunan atau denominasi tertentu. Gereja lokal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gereja universal. Fungsi gereja lokal adalah menghimpun orang-orang percaya untuk bersekutu dan berbakti kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Seiring berjalannya waktu, konsep gereja mengalami pertambahan nilai, gereja bukan sekedar tempat orang-orang berkumpul, lebih dari itu gereja adalah rumah Tuhan. Gereja adalah tempat yang kudus karena Hadirat Allah hadir ketika umatNya berkumpul dalam namaNya. Gereja menjadi tempat umat Tuhan bersekutu, memuji. menyembah, berdoa, sharing dan mendengarkan sabda Tuhan. Sesuai Firman Tuhan, ketika dua-tiga orang berkumpul dalam nama-Nya maka disitu Yesus hadir. Jadi gereja merupakan tempat yang suci dan kudus karena Hadirat Allah hadir di gereja.

Gereja Lokal yang Sehat
Gereja lokal yang 'sehat' adalah gereja yang bertumbuh dalam aspek kualitas maupun kuantitas serta berbuah lebat. Salah satu indikator untuk mengatakan bahwa suatu gereja merupakan gereja yang sehat, selain adanya peningkatan kualitas, juga perlu adanya peningkatan kuantitas (jumlah) jemaat.

 

Adanya peningkatan kualitas bisa dilihat dari banyak aspek, antara lain: tugas-tugas penggembalaan sudah dilaksanakan oleh pengurus (gembala), adanya perubahan kualitas kehidupan jemaat menjadi semakin serupa dengan Kristus, jemaat 'berbuah' (memiliki Buah-Buah Roh) dan kekudusan yang diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari (bukan hanya di dalam gedung gereja). 



Bagi pengurus gereja lokal, tentu lebih mudah mengukur ada tidaknya peningkatan kuantitas dibandingkan dengan mengukur ada tidaknya peningkatan kualitas yang memerlukan banyak parameter dan metoda. Ketika jumlah jemaat stagnan (tidak bertambah) dari tahun ke tahun, bahkan ada kecenderungan terus berkurang, hal ini dapat dijadikan penanda (indikator) bahwasanya gereja lokal sedang bermasalah atau dalam kondisi yang tidak sehat. Bila hal ini terjadi, maka pimpinan/pengurus gereja (gembala, majelis dan para pekerja) harus mau mengevaluasi diri, instropeksi diri dan melakukan perubahan-perubahan mendasar kearah yang lebih baik.

Tugas Gereja Lokal
Dimasa kini, 'persaingan' antar gereja semakin meningkat. Maaf kalau penulis terlalu vulgar dengan memakai istilah "persaingan," tetapi itulah yang terjadi dalam "industri" gereja. Ketika jumlah gereja lokal semakin meningkat di suatu wilayah, maka persaingan nyata terjadi, setiap gereja lokal akan berusaha "menjaring" sebanyak mungkin jemaat. Gereja lokal harus membuka mata terhadap 'para pesaing' di wilayahnya. Berdasarkan fakta ini, sejumlah pihak (baca: jemaat) berpendapat bahwa bila mau menjaring jemaat sebanyak-banyaknya maka gereja lokal dituntut melayani jemaat. Oleh karena itu sulit menyalahkan bila ada yang berpendapat bahwa gereja merupakan institusi pelayanan masyarakat.

Secara natural, gereja merupakan wadah penggembalaan umat karena disana ada pemimpin yang disebut "Gembala". Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 20 ayat 28 mengatakan: "Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri." Oleh karena itu gereja lokal harus menyadari kodratnya bahwasanya tugas gereja adalah melayani jemaat (baca: menggembalakan domba-domba) dengan sebaik-baiknya, bukan dibalik. Gereja yang melayani akan dipilih oleh banyak umat. Gereja yang mau menjadi besar harus belajar dan menyadari hal ini, mereka harus berusaha semaksimal mungkin melayani jemaat secara rohani (juga jasmani dalam batas-batas tertentu) agar jemaat 'terpuaskan' sehingga jemaat semakin betah bahkan dengan antusias akan membawa orang lain untuk ikut bergabung di gerejanya.

Secara 'de jure,' jemaat tidak mempunyai ikatan nyata dengan gereja lokal karena tidak ada perjanjian hitam di atas putih yang menyatakan bahwa jemaat hanya boleh datang ke kebaktian di suatu gereja tertentu saja, tidak boleh pindah gereja atau bila pindah gereja akan mendapat sanksi atau hukuman. Berdasarkan hal ini, maka jemaat bebas keluar masuk gereja manapun, tidak ada larangan yang melarang orang 'asing' menghadiri kebaktian di suatu gereja, dari sinilah berawal pasar bebas hubungan jemaat dengan gereja.

Akan tetapi, banyak di antara para pengurus/gembala gereja lokal yang tidak sependapat bahwa gereja lokal harus melayani jemaat. Menurut mereka, gereja hadir bukan untuk melayani jemaat tetapi jemaat yang harus melayani di gereja. Selain itu mereka berpendapat bahwa tugas penggembalaan cukup dilakukan sewaktu gembala berkhotbah di mimbar. Akibatnya, kegiatan penggembalaan yang 'nyata' hanya terbatas di dalam gedung gereja.

 

Ada banyak gembala yang baik dan mau berkorban demi kemajuan jemaat/umat. Namun di tempat lain, bukan tidak mungkin ada gembala yang kurang peduli dengan kemajuan domba-dombanya tetapi hanya disibukkan dengan urusan dan ambisinya sendiri. Untuk itu dia tidak segan-segan menjadikan jemaat sebagai 'obyek' untuk meng-goalkan ambisinya sendiri. Dalam kasus ini, jemaat dapat diumpamakan seperti layaknya penumpang kereta yang sampai ke tujuan karena terbawa atau "ikut gerbong" yang bernama gerbong gereja, atau seperti penumpang angkutan umum yang supir dan kondekturnya sibuk ngetem di sepanjang perjalanan agar mobilnya penuh, sementara penumpang yang sudah duduk (atau berdiri) tidak dihiraukan kualitas pelayanannya. Semua penumpang ... sampai sich sampai ketujuan, tapi apakah dengan kondisi seperti itu?

 

Yang ingin disampaikan oleh penulis adalah bahwa gereja (baca: gembala) boleh saja sibuk dengan urusannya sendiri tetapi jangan sampai melupakan perintah Tuhan untuk menggembalakan domba-dombaNya. Tugas-tugas penggembalaan sering diterjemahkan dalam arti sempit yaitu hanya memberikan bimbingan rohani. Gembala yang baik bukan hanya bisa mencukuri bulu domba-dombanya tetapi seharusnya mengetahui satu-persatu keadaan domba-dombanya, tahu apa saja masalah domba-dombanya dan mencoba menolong sebisanya.

 

Di sisi lain, jemaat harus menjadi bagian dari gereja lokal, setia pada gereja lokal dan bersekutu secara teratur. Menjadi pelayan-pelayan Tuhan di gereja merupakan tugas mulia seperti dikehendaki Kristus. Tapi apabila ada jemaat yang tidak mau melayani, gembala harus tetap menghargai sikap jemaat, seperti tertulis dalam Firman Tuhan tentang kisah Maria dan Marta pada Injil Lukas 10 ayat 38 - 42. Pada Lukas 10 : 42 Tuhan berfirman: "tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

 

Melayani Tuhan tidak melulu harus dilakukan di dalam gedung gereja tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita. Selain melayani di dalam gedung gereja, kita dapat pula melayani di luar gedung gereja, justru inilah kesempatan kita mengaplikasikan apa yang sudah kita dapatkan di dalam gedung gereja menjadi nyata di luar gedung gereja. Ketika kita memiliki kasih, menjadi manusia yang bermanfaat, berdampak positif dan menjadi saluran berkat bagi sesama (masyarakat) yang memerlukan, itulah bentuk pelayanan yang diinginkan Tuhan.


Melayani Bukan Dilayani
Terlepas dari pro dan kontra tentang tugas gereja lokal, marilah kita melihat Firman Tuhan dalam Injil Markus 10: 42-45, yang mengatakan:

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."


Berdasarkan Firman Tuhan, maka gereja lokal seharusnya berbuat hal yang sama seperti yang dilakukan Yesus Kristus karena Yesus Kristus adalah pusat gereja.

Yang perlu dilakukan gereja lokal

Seperti telah dikatakan di atas, menurunnya jumlah jemaat merupakan salah satu indikator penting bagi Gereja untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan yang diberikan. Bila jumlah jemaat tidak bertambah bahkan cenderung semakin menurun dari waktu kewaktu maka janganlah menyalahkan jemaat, pasti ada 'sesuatu' yang menyebabkannya. Lakukan evaluasi terhadap faktor penyebab menurunnya jumlah jemaat. Evaluasi hendaknya dilakukan kedalam diri sendiri. Jangan mudah menyalahkan jemaat sebab jemaat jumlahnya banyak dan berasal dari beragam latar belakang. Memang tidak mudah mencari penyebab apalagi penyebabnya justru berada di dalam diri sendiri, tetapi dengan kemauan kuat hal ini dapat saja terealisasi.

1. Perlunya survei kecil-kecilan terhadap jemaat yang pindah gereja
Bila ada jemaat yang pindah gereja, seringkali dianggap sepele oleh pengurus gereja lokal. Banyak pengurus gereja yang tidak punya keinginan mengorek lebih jauh penyebab (bila ada) jemaat yang pindah gereja, padahal bila saja mau dikorek lebih jauh, kemungkinan besar akan diperoleh data yang sangat berharga yang dapat dipakai untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.


2. Perlunya melakukan evaluasi periodik
Statistik jumlah jemaat maupun jumlah pengunjung di suatu gereja lokal dapat dijadikan tolok ukur kinerja suatu gereja. Gereja harus mengumpulkan data jumlah jemaat dan pengunjung gereja secara terus-menerus dan sistematis agar tersedia data statistik jumlah jemaat mingguan, bulanan dan dari tahun ketahun. Data-data ini tidak hanya dicatat untuk kemudian dibiarkan saja tetapi harus diolah, caranya: dibuatkan grafik (bisa grafik berbentuk bar, line atau pie) sehingga akan tergambar jelas trend jumlah jemaat dari waktu kewaktu bahkan dapat membandingkan trend jemaat pada masing-masing/jenis kebaktian. Setelah itu, data berbentuk grafik ini dianalisis, dibuatkan kesimpulan dan alternatif solusi pemecahan masalahnya.

Secara periodik, gereja juga perlu melakukan survei atau sejenis angket pendapat jemaat agar pengurus mengetahui bagaimana pendapat umum jemaat, apa saja yang diinginkan dan tidak tidak diinginkan oleh sebagian besar jemaat. Masukan jemaat dianalisis dan disimpulkan, itu merupakan data yang sangat berharga untuk bahan koreksi/perbaikan/peningkatan kualitas pelayanan gereja lokal. Hasil angket dihubungkan dengan trend kunjungan jemaat merupakan bukti otentik yang evidence base sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

3. Perlunya melakukan perubahan mendasar dalam pelayanan
Bila jumlah jemaat cenderung menurun, pengurus gereja lokal harus melakukan beberapa perubahan mendasar dalam strategi pelayanan jemaat, menindaklanjuti secara riil dan sedapat mungkin menghindari kembali ke pola-pola lama. Berdasarkan hasil evaluasi, lakukan perubahan mendasar memakai strategi baru. Jangan takut melakukan "trial and error" sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan koridor Firman Tuhan. Setelah beberapa waktu dengan strategi baru (misalnya 6 bulan sampai 1 tahun) lakukan kembali evaluasi periodik, bila hasilnya kurang memuaskan, lakukan lagi beberapa perubahan mendasar, demikian seterusnya sehingga diperoleh hasil nyata yaitu meningkatnya kembali jumlah jemaat maupun kunjungan di gereja lokal.

4. Meningkatkan dan memerioritaskan pelayanan anak-anak di Sekolah Minggu
Gereja yang punya visi adalah gereja yang menjadikan pelayanan anak-anak di Sekolah Minggu sebagi program unggulan. Mengapa demikian? Sekolah Minggu merupakan bagian paling fundamental dalam suatu gereja lokal karena sekolah minggu (baca: anak-anak) merupakan cikal-bakal masa depan dan kesinambungan gereja lokal. Tuhan Yesus berfirman Tuhan dalam Injil Matius 19:14 sbb: Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Mengapa pelayanan anak-anak harus lebih diperhatikan? Lebih mudah mengajak anak-anak menjadi anak Tuhan daripada mengajak orang dewasa. Orang dewasa seringkali punya banyak pertanyaan dan pamrih bahkan curiga ketika orang mengajak untuk 'mengubah' jalan hidupnya, sebaliknya anak-anak datang ke sekolah minggu dengan hati tulus tanpa curiga. Ada lagi alasan lain, seringkali orang tua menghadiri kebaktian di suatu gereja lokal karena diajak anak-anak atau cucu-cucunya sebab anak atau cucu harus diantar atau ditunggui ketika ikut sekolah minggu sehingga orang tuapun memanfaatkan waktu untuk ikut kebaktian di gereja lokal tersebut.

5. Perlunya perubahan cara pandang gereja lokal
Gereja lokal yang mengalami stagnansi atau cenderung mengalami penurunan jumlah kunjungan, mau tidak mau harus merubah paradigma kalau tidak ingin gerejanya lambat laun mengalami krisis hingga yang ekstrim yaitu "bubar." Gereja harus menyadari bahwasanya tugas gereja seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus adalah menggembalakan domba-domba. Maka secara kodrat tugas gereja adalah melayani (mengembalakan) jemaat sebaik-baiknya. Perhatikanlah semua jemaat, kalau sulit untuk tidak melakukan diskriminasi maka hal ini (diskriminasi) jangan sampai nampak nyata oleh jemaat. Bersikap terbuka dan tulus pada jemaat maka jemaat tidak akan memiliki prasangka negatif. Gereja yang mau belajar akan menyadari hal ini serta berusaha semaksimal mungkin melayani jemaat agar semua jemaat 'terpuaskan' dan pada akhirnya akan memperoleh 'hasilnya.' Diatas semuanya, senantiasa berdoa bagi jemaat merupakan upaya yang utama, kemudian diikuti kerja keras sebagai langkah konkrit.

Bila suatu gereja lokal memandang gereja lain dan Umat Kristen lain sebagai satu Tubuh Kristus, maka sungguh tidak ada alasan bagi gereja lokal menjadi takut jemaatnya “dicuri” oleh gereja lain. Seorang jemaat akan tetap bertahan di suatu gereja lokal selama mereka merasa ’nyaman’ berada di sana, tidak perduli semenarik apapun gereja lain atau sekuat apapun ajakan teman. Akan tetapi begitu seseorang merasa tidak lagi pas dan nyaman di suatu gereja, maka kepergiannya tak ada yang bisa menghalangi.

Tentu akan sangat baik bila kita mau meniru 'Saudara-saudara kita' dimana mereka memiliki fleksibilitas tinggi dalam arti tidak ada yang memandang negatif bila seseorang melakukan ibadah di tempat/wilayah lain tergantung keberadaannya pada saat memerlukan ibadah.

6. Membuat nyaman keadaan lingkungan gedung gereja
Suasana/kenyamanan gedung gereja berperan penting untuk membuat jemaat kerasan dan selalu ingin datang kembali. Untuk membuat nyaman lingkungan/suasana gereja, tidak harus dilakukan melalui renovasi gedung yang memerlukan biaya besar. Untuk membuat jemaat merasa nyaman ketika beribadah di gedung gereja bisa dilakukan perbaikan kecil-kecilan dengan biaya relatif rendah, misalnya membuat ventilasi lebih baik, menambah lampu penerangan, dan menjaga kebersihan dan kerapihan.

7. Perlu menanamkan doktrin gereja lokal kepada jemaat.

Doktrin dan dogma gereja sangat penting dan krusial disampaikan dan ditanamkan pada jemaat. Doktrin gereja bisa ditanamkan lewat kegiatan seminar, kelompok sel (care group), bimbingan/kursus/pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh gereja seperti: Kom-100, Kom-200, Kom-300, Kom-400. Kegiatan Kom-100, Kom-200 dst sangat bermanfaat untuk mendewasakan keimanan jemaat dan memberi pembekalan dalam mengarungi kehidupan nyata. Bila jemaat merasa tidak cocok/tidak sesuai dengan doktrin gereja maka sejak awal mereka akan pindah ke gereja lain yang memiliki doktrin yang cocok dengan prinsip keimanannya.

Kesimpulan dan Penutup
Terlepas dari pro dan kontra mengenai tugas gereja lokal apakah harus melayani, dilayani atau kedua-duanya, seluruh jemaat haruslah menyadari bahwasanya tidak boleh ada seorangpun jemaat yang tidak “tertanam” di gerejanya masing-masing. Setiap jemaat haruslah tertanam (di dalam suatu gereja lokal) dan terhubung dengan Gembalanya masing-masing. Mengapa demikian? hal ini menyangkut permasalahan otoritas yang tidak terlihat mata jasmani manusia, yang memerlukan penjelasan yang sangat mendalam (perlu satu artikel tersendiri untuk membahas hal ini).

Sebagai penutup, satu kesimpulan penting (bagi jemaat) adalah:
Jemaat boleh (sah-sah) saja menjadi “pengunjung” di kebaktian gereja lokal lain, tetapi tetap setiap jemaat tidak boleh melupakan bahwa ia harus tertanam (di dalam suatu gereja lokal) dan terhubung dengan Gembalanya masing-masing agar ia punya kepastian “masa depan” dan bisa “dibentuk.”

Akhir kata, tulisan ini dapat dipandang sebagai opini penulis. Melalui tulisan ini, penulis tidak bermaksud menyinggung atau 'menyerang' gereja manapun juga, tetapi untuk tujuan memberi masukan yang bersifat membangun, dan berharap tulisan ini dapat dijadikan bahan inspirasi dan pembelajaran bagi pengurus gereja lokal yang sedang mengalami masalah stagnansi atau jumlah jemaat yang cenderung turun, agar dapat melakukan perbaikan kinerja, dan yang utama untuk kemuliaan nama Tuhan dan memenuhi amanat Tuhan kita Yesus Kristus.

Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati kita. Amen

 

Referensi

  1. http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150186792211526, diakses 7 September 2011.

  2. http://blog.themessenger.web.id/?p=404, diakses 7 September 2011.

  3. http://www.gotquestions.org/indonesia/definisi-gereja.html, diakses 8 September 2011.

  4. http://alkitab.otak.info/, diakses 8 September 2011.

  5. http://www.akupercaya.com/ilmu-pengetahuan-adat-istiadat-dan-ajaran-kristen/11308-apa-ciri-ciri-gereja-yang-benar-menurut-alkitab.html, diakses 8 September 2011.

  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja, diakses 8 September 2011.

  7. http://www.gkps.or.id/component/content/article/14-dasar-pemahaman-kristen/134-gereja, diakses 8 September 2011.

  8. http://martianuswb.com/?p=1061, diakses 3 Desember 2011.

  9. http://beritamanado.com/agama-pendidikan/ini-faktor-yang-mendorong-jemaat-pindah-denominasi-gereja/187895/, diakses 9 Agustus 2013. 

Comments   

 
0 #3 opi kumiis 2014-10-08 15:16
:lol: :D
Quote
 
 
0 #2 yohanes sisnturi 2013-07-21 02:00
:lol:
Quote
 
 
0 #1 yohanes sisnturi 2013-07-21 01:59
:-) :-) :D
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de