Dampak Buruk Malaria Pada Kehamilan (Ibu Hamil)

 

Kehamilan yang normal merupakan suatu keadaan fisiologis (bukan penyakit) bagi seorang perempuan (ibu hamil). Namun kehamilan akan membawa beberapa perubahan yang kurang menguntungkan pada tubuh wanita hamil, antara lain: menurunnya daya tahan/kekebalan tubuh, meningkatnya volume sirkulasi darah, kelebihan air, anemia, perubahan hormonal, perubahan keseimbangan asam basa, perubahan metabolisme karbohidrat, dan lain-lain yang kesemuanya secara umum membuat ibu hamil lebih rentan terhadap berbagai penyakit termasuk malaria.

 

Apa akibatnya bila ibu hamil (bumil) menderita penyakit malaria?

Kehamilan akan memperberat penyakit malaria yang dideritanya, sebaliknya adanya malaria akan memperberat  kondisi kehamilannya. Pengaruh merugikan malaria pada kehamilan berdampak buruk 2 arah: bagi bumil maupun janin yang dikandungnya.

 

Namun kemudian diketahui bahwa sebenarnya efek buruk malaria pada ibu hamil lebih tergantung pada tingkat kekebalan ibu hamil terhadap penyakit malaria tersebut. Sedangkan tingkat kekebalan ibu hamil terhadap malaria lebih banyak ditentukan dari tingkat transmisi (endemisitas) malaria di daerah asal ibu hamil bertempat tinggal.

 

Ukuran tingkat trasmisi dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu:

a. stable transmission (transmisi stabil) atau disebut daerah endemik malaria

     Contoh: daerah Sub-Sahara Afrika. Ciri-cirinya:

     - Orang-orang di daerah ini terus-menerus terpajan/terpapar malaria, sering menerima gigitan nyamuk malaria yang infektif setiap bulannya.

     - Kekebalan tubuh penduduk di  daerah ini terhadap malaria terbentuk secara signifikan.

     - Kelompok terbanyak yang berisiko terhadap malaria di daerah ini adalah:

                 + Ibu hamil: tingkat kekebalan mereka terhadap malaria berkurang menjadi hanya “semi-imun”

                 + Anak balita (usia 0-59 bulan): mereka mempunyai kekebalan yang didapat (acquired  immunity) terhadap malaria.

 

b. Daerah unstable transmission (transmisi tidak stabil) atau disebut juga daerah epidemik atau non-endemik malaria

    Contoh : Asia tenggara dan Amerika selatan.

    - Orang-orang di daerah ini jarang terpajan malaria, rata-rata menerima kurang dari 1 gigitan nyamuk malaria yang infektif setiap tahunnya.

    - Kekebalan terhadap malaria tidak terbentuk secara signifikan pada orang dewasa, sehingga mereka “non-imun.”

    - Semua populasi penduduk di wilayah ini berisiko terhadap malaria, termasuk malaria berat.

    - Wanita hamil lebih besar resikonya daripada orang dewasa lainnya.

 

Perbandingan bumil yang terkena malaria di daerah transmisi stabil dan tidak stabil :

Wanita hamil yang tinggal di daerah transmisi stabil/endemik akan mengalami :

- Peningkatan parasite rate (pada primigravida di Afrika parasite rate meningkat 30-40% daripada wanita tidak hamil).

- Peningkatan kepadatan (densitas) parasit di dalam darah.

- Menyebabkan efek klinik (gejala) yang minim, kecuali efek anemia sebagai komplikasi utama, terutama pada primigravida yang dapat berakibat serius bagi ibu dan janin.

 

Sebaliknya, di daerah tidak stabil/non-endemik dimana populasinya merupakan orang-orang yang non-imun terhadap malaria, terjadi peningkatan resiko penyakit maternal berat, kematian janin, kelahiran prematur dan kematian perinatal. Ibu hamil yang menderita malaria berat di daerah ini beresiko > 10 x kemungkinan fatal dari pada ibu tidak hamil yang menderita malaria berat di daerah endemik tinggi.

 

Perbandingan antara daerah endemik dan non endemik malaria:

 Ciri

Daerah endemik

Daerah non endemik

- Transmisi

Tinggi, tanpa variasi dari tahun ketahun

Bervariasi dari tahun ketahun

- Parasit utama

Plasmodium falsiparum

Plasmodium vivaks

- Kekebalan yang didapat pada orang dewasa

 

Tinggi

 

Rendah

- Epidemi

Jarang dalam populasi aslinya

Mungkin bila kondisi cocok

- Kontrol

Sulit

Relatif mudah

 

Efek klinik malaria dalam kehamilan:

 

Gejala klinik

Primigravida pada daerah endemik

Semua paritas pada daerah non endemik

Efek pada ibu hamil:

- Demam tinggi

 

Malaria berat:

- Anemia berat

- Malaria serebral

- Hipoglikemia

- Edema pulmonal

- Gagal ginjal akut

- Infeksi plasenta

- Puerperal sepsis

 

 

+

 

 

+++

-

+

-

-

+++

++

 

+++

 

 

+++

++

++

++

++

+

++

Efek pada janin:

- Berat badan lahir rendah (BBLR)

- Abortus & lahir mati

- Malaria kongenital

- Fetal anemia

 

 

+++

-

-

?

 

+++

++

+

+

 

Diagnosis Malaria pada kehamilan

Malaria dalam kehamilan dipastikan dengan diketemukannya parasit malaria (parasitemia) atau di dalam :

- Darah ibu (maternal)

- Darah plasenta (melalui biopsi)

 

Gambaran klinik malaria pada ibu hamil yang non-imun (tinggal di daerah non-endemik) bervariasi dari :

- Malaria ringan tanpa komplikasi (uncomplicated malaria) dengan demam tinggi, sampai

- Malaria berat (complicated malaria) dengan timbulnya resiko tinggi pada ibu dan janin (maternal mortality rate 20-50 % dan sering fatal bagi janin)

 

Sedangkan gambaran klinik malaria pada ibu hamil di daerah endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki kekebalan yang semi-imun, sehingga :

- Seringkali tidak menimbulkan gejala-gejala, misal: demam.

- Seringkali tidak dapat didiagnosis klinik (menurut adanya gejala) sehingga harus diperiksa sediaan darah malaria.


Dampak buruk malaria pada kehamilan
Komplikasi komplikasi berbahaya sering mengakibatkan kematian ibu terjadi pada ibu hamil yang menderita malaria di daerah non endemis atau endemik rendah malaria karena ibu hamil tidak memiliki kekebalan (non imun) terhadap malaria. Ibu hamil yang non imun akan mendapat komplikasi yang lebih berat daripada ibu hamil yang imun (memiliki kekebalan) terhadap malaria.

Komplikasi pada ibu, antara lain:

1. Anemia (anemia ringan hingga sangat berat, Hb < 4 g/dl)
2. Malaria serebral (malaria yang menyerang otak)
3. Hipoglikemia (gula darah turun hingga <40 mg/dl)
4. Edema pulmonal (terdapat cairan di paru). Sering terjadi segera sesudah melahirkan.
5. Infeksi plasenta (infeksi tali pusat)
6. Puerperal sepsis (infeksi bakteri dalam darah ibu pada waktu melahirkan).
7. Perdarahan post partum (perdarahan sesudah melahirkan sebanyak > 500 ml).

Komplikasi pada janin (bayi), antara lain:
1. Berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu berat badan bayi < 2500 gram pada waktu dilahirkan. 
2. Abortus spontan, lahir mati & kelahiran prematur.

3. Malaria kongenital (bayi baru lahir menderita malaria akibat perpindahan parasit dari ibu ke janin melalui plasenta).

4. Anemia pada janin.


Referensi

1. WHO, Topics in International Health, CD.

2. Depkes, 2002, Malaria Dalam Kehamilan.

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de