Beberapa Data (proxy) Kesehatan Indonesia Tahun 2010/2011

Data kesehatan sangat diperlukan untuk melakukan perencanaan, evaluasi, rujukan, perbandingan, hingga untuk tujuan menyelesaikan tugas sekolah. Namun seringkali ketika sedang dibutuhkan, data kesehatan terkini sulit diakses dari sumber resmi karena berbagai sebab. Oleh karena itu kami coba menyajikan beberapa jenis data proksi yang berasal dari sumber resmi yang sering dicari dan mungkin berguna. Data ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan data dari sumber resmi, tetapi bertujuan untuk mempermudah masyarakat mengakses datanya, untuk alasan kepraktisan dan membantu pemilihan/seleksi data kesehatan proksi. Data ini sudah dipublikasi oleh sumber resminya sendiri.

 

Data umum dan kependudukan:

(Sumber: Badan Pusat Statistik, 2010)

Jumlah penduduk Indonesia: 237.641.326 jiwa (hasil sensus penduduk, 2010)

Jumlah penduduk laki-laki: 119.630.913 jiwa

Jumlah penduduk perempuan: 118.010.413 jiwa

Luas wilayah Indonesia: 1.910.931,32 km2

Kepadatan Penduduk: 124 jiwa/km2

Jumlah kabupaten/Kota: 497 kab/kota (terdiri dari 399 kabupaten dan 98 kota)

Jumlah kecamatan: 6.598 kecamatan

Jumlah desa/kelurahan: 76.613 desa/kelurahan

 

Tabel Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin, Kelompok Umur menurut Provinsi Tahun 2010 (Sumber: Profil Kesehatan Indonesia, 2010)

  

Usia/umur harapan hidup (UHH) rata-rata penduduk Indonesia: 69,43 tahun (BPS, 2010), dan 69,65 tahun (BPS, 2012)

Angka melek huruf (laki-laki dan perempuan): 92,58% (BPS, 2009)

Angka melek huruf laki-laki: 95,65% (BPS, 2009)

Angka melek huruf perempuan: 89,68% (BPS, 2009)

 

Estimasi (perkiraan) jumlah penduduk sasaran program pembangunan kesehatan

Estimasi jumlah penduduk Indonesia tahun 2011: 241.182.182 jiwa

Estimasi jumlah penduduk Indonesia tahun 2012: 244.775.797 jiwa

Estimasi jumlah penduduk Indonesia tahun 2013: 248.422.956 jiwa

Estimasi jumlah penduduk Indonesia tahun 2014: 252.124.458 jiwa.

 

Estimasi jumlah ibu hamil, bersalin, nifas, jumlah bayi, batita, balita, anak balita dan pra sekolah, sebagai berikut:

 


Mortality Rate, Target MDGs 2015 dan Target RPJMN 2010-2014:

Angka real: Angka Kematian Ibu (AKI atau MMR): 228/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007), naik menjadi 359/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012)

Target MDG ke-5: AKI (MMR) diharapkan turun menjadi 102/100.000 kelahiran hidup.

Target Nasional tahun 2014 berdasarkan RPJMN 2010-2014: AKI (MMR) diharapkan turun menjadi 118/100.000 kelahiran hidup.

Angka real: Angka Kematian Bayi usia 0-11 bulan (AKB atau IMR): 34/1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007), dan turun menjadi 32/1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007)

Target 2015: AKB (IMR) turun menjadi 23/1.000 kelahiran hidup.

Angka real: Angka Kematian Neonatal usia 0-28 hari (AKN atau NMR): 19/1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007), dan tetap 19/1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012)

Target Nasional tahun 2014 berdasarkan RPJMN 2010-2014: AKN (NMR) turun menjadi 15/1.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Balita usia 0-59 bulan (AKBAL atau Under 5 MR): 44/1.000 kelahiran hidup (Depkes, 2007)

Target MDG ke-4: AKBAL (Under5 MR) turun menjadi 32/1.000 kelahiran hidup.

 

Cakupan upaya kesehatan (rata-rata nasional) menurut data tahun 2010: (sumber: laporan rutin puskesmas)

Cakupan kunjungan Ibu Hamil (ANC) yang pertama (K1): 95,26%

Cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal 4 kali (K4): 85,56%

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan (PN atau Linakes atau salinakes): 84,78%

Cakupan penanganan komplikasi kebidanan: 58,8%

Cakupan kunjungan neonatal yang pertama ke fasilitas kesehatan pada umur 6-48 jam setelah lahir (KN1): 84,01%

Cakupan pelayanan ibu nifas (kunjungan nifas ke-3 atau KF3): 73,48%.

Cakupan imunisasi Tetanus Toksoid dua kali (TT2+) pada ibu hamil: 70%

Cakupan Ibu hamil yang mendapatkan tablet Besi (Fe): 71,2%

Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas: 72,46%

Cakupan pemberian vitamin A pada balita: 81,47%

Cakupan ASI Eksklusif: 61,3%

Cakupan imunisasi Campak: 93,61%

Cakupan imunisasi Tetanus Toxoid yang kedua (TT2) pada bumil: 70,02%

Cakupan pencapaian Universal Child Immunization (UCI): 75,31%

Cakupan pelayanan kesehatan anak balita (usia 12-59 bulan, yang meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali/tahun, pemantauan perkembangan minimal 2 kali/tahun dan pemberian vitamin A 2 kali /tahun): 78,11%

Cakupan penimbangan balita di Posyandu (D/S): 67,87%

Rata-rata cakupan peserta KB aktif: 75,36%

Bed Occupancy Ratio (BOR): 51,43%

 

Data sumber daya kesehatan (2013):

Data Fasilitas Kesehatan (kondisi pertengahan tahun 2013):

Jumlah Puskesmas di seluruh Indonesia: 9.599 Puskesmas

Jumlah Puskesmas perawatan: 3.310 Puskesmas

Jumlah Puskesmas non perawatan: 6.289 Puskesmas

Rasio Puskesmas/100.000 penduduk: 3,86 Puskesmas/100.000 penduduk

 

Jumlah Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu): 310.737 Posyandu

Jumlah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes): 54.143 Poskesdes

 

Jumlah Apotek: 17.613 Apotek

Jumlah Rumah Sakit: 2.995 RS

Jumlah RS publik (pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, serta swasta non profit): 2.385 RS.

Jumlah RS privat (swasta dan BUMN): 611 RS

Jumlah RS Umum: 2.422 RS

Jumlah RS Khusus: 574 RS

Jumlah RS kelas A: 56 RS
Jumlah RS kelas B: 290 RS
Jumlah RS kelas C: 722 RS
Jumlah RS kelas D: 505 RS
Jumlah RS non kelas: 591 RS

 

Jumlah tempat tidur di Rumah Sakit: 266.792 tempat tidur

Rasio tempat tidur di Rumah Sakit/100.000 penduduk: 107,39 tempat tidur/100.000 penduduk

 

Data Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan, kondisi Agustus 2013:

Jumlah bidan: 136.489 bidan

Jumlah perawat (perawat kesehatan + perawat gigi): 294.266 perawat

Jumlah dokter umum: 42.189 dokter

Jumlah dokter gigi: 13.022 drg.

Jumlah dokter spesialis: 38.210 dokter Sp.

Jumlah tenaga farmasi + asisten Farmasi: 46.437 orang

 

Jumlah sarjana kesehatan masyarakat: 45.490 (kondisi tahun 2011)

Jumlah sarjana kesehatan lingkungan: 16.164 (kondisi tahun 2011)

Jumlah tenaga Gizi: 15.716 (kondisi tahun 2011)

Jumlah tenaga Terapi Fisik: 3.292 (kondisi tahun 2011)

Jumlah tenaga Teknisi Medis: 8.804 (kondisi tahun 2011)

Jumlah Analis Kesehatan: 11.795 (kondisi tahun 2011)

 

Data bersumber Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, sebagai berikut:

  • Prevalensi balita gizi kurang: 13,0%, balita gizi buruk: 4,9%. Prevalensi balita gizi kurang tertinggi di Provinsi NTB (30,5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10,6%).
  • Prevalensi balita pendek (stunting): 35,6%, terendah di DI Yogyakarta (22,5%), tertinggi di NTT (58,4%).
  • Prevalensi balita kurus (wasting): 13,3%, tertinggi di Provinsi Jambi (20%), terendah di Bangka Belitung (7,6%).
  • Penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan sebesar: 40,6% Berdasarkan kelompok umur: Balita 24,4%, anak usia sekolah 41,2%, remaja 54,5%, dewasa 40.2%, ibu hamil 44,2%, tertinggi Provinsi NTB (46,6%), terendah Provinsi Bengkulu (23,7%).
  • Proporsi anak 12-23 bulan yang memeroleh imunisasi campak: 74,5%, tertinggi di Provinsi DI Yogyakarta (96,4%) dan terendah Papua (47,4%).
  • Pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan: 84%. Tidak melakukan pemeriksaan kehamilan: 2,8%, memeriksakan kehamilan ke dukun: 3,2%. Akses pelayanan antenatal (K1) adalah 92,8%, ibu hamil memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4): 61,3%.
  • Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih: 80,2%, terbaik di Provinsi DI Yogyakarta (98,7%), Kepulauan Riau (97,1%), DKI Jakarta (96,5%), dan Bali (92,8%), terendah Maluku Utara (33,6%).
  • Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun: sekarang menggunakan: 56.0%, pernah tetapi sekarang tidak menggunakan lagi: 25.6%, tidak pernah sama sekali:18.4%.   
  • Penggunaan alat/cara KB pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun: 53,9 %, perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan: 19%, dan yang pernah ber-KB tetapi sekarang tidak menggunakan sebesar: 27,1%, terendah di Papua Barat (31,9%) dan tertinggi di Bali (64,3%).
  • Penggunaan alat/cara KB dengan suntikan: 31,1%. Pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52,5%), di Puskesmas: 12%, dan di Polindes/Poskesdes: 4,1%.
  • Penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB, walau sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need): 14,0%, tertinggi di Papua Barat (32,9%) dan terendah di Bali (8,7%).
  • Usia menikah di bawah 20 tahun: 46,4%.
  • Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS: 75,0%.
  • Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS: 18,5 %.
  • Angka malaria: Annual Parasite Incidence (API) rata-rata Nasional: 2,4% atau 24 permil, terendah Provinsi Bali (0,3%) dan tertinggi Papua (31,4%). API Jawa-Bali: 8 permil. Ada 20 provinsi di luar Jawa-Bali yang memiliki API di atas rata-rata nasional.
  • Prevalensi TB yang didiagnosis oleh tenaga kesehatan: 0.7 %, tertinggi di Provinsi Papua (1,5%) dan terendah di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, dan Bali (0,3%).
  • Proporsi pemanfaatan OAT DOTS” 83,2%.
  • Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung: 16,14%, tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44,79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0,85%).
  • Sarana air non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56,69 %, tertinggi di Provinsi Gorontalo (66,5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29,75%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan, maka secara nasional terdapat 72,83 % dengan akses terhadap sumber air terlindung, tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84,91 % dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45,74%).
  • Proporsi rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45,27%. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55,53%, paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,35%).

Sumber

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pusdatin, Data & Informasi, Jakarta, 2011.

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pusdatin, Data Penduduk Sasaran Program Pembangunan Kesehatan 2011 - 2014, Jakarta, 2011.

3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia 2010, Jakarta 2011.

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Riskesdas 2010.

Prevalensi balita gizi kurang: 13,0%, balita gizi buruk: 4,9%. Prevalensi balita gizi kurang tertinggi di Provinsi NTB (30,5%) dan terendah di Provinsi Sulut (10,6%).

 

Prevalensi balita pendek (stunting): 35,6%, terendah di DI Yogyakarta (22,5%), tertinggi di NTT (58,4%).

 

Prevalensi balita kurus (wasting): 13,3%, tertinggi di Provinsi Jambi (20%), terendah di Bangka Belitung (7,6%).

 

Penduduk mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan sebesar: 40,6% Berdasarkan kelompok umur: Balita 24,4%, anak usia sekolah 41,2%, remaja 54,5%, dewasa 40.2%, ibu hamil 44,2%, tertinggi Provinsi NTB (46,6%), terendah Provinsi Bengkulu (23,7%).

 

Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak: 74,5%, yang tertinggi di Provinsi DI Yogyakarta (96,4%) dan terendah Papua (47,4%).

 

Pemeriksaan kehamilan pada tenaga kesehatan: 84%. Tidak melakukan pemeriksaan kehamilan: 2,8%, memeriksakan kehamilan ke dukun: 3,2%. Akses pelayanan antenatal (K1) adalah 92,8%, ibu hamil memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4): 61,3%.

 

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih: 80,2%, Provinsi terbaik di DI Yogyakarta

(98,7%), Kepulauan Riau (97,1%), DKI Jakarta (96,5%), dan Bali (92,8%), terendah Maluku Utara (33,6%).

 

Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 Tahun: sekarang menggunakan: 56.0%, pernah tetapi sekarang tidak menggunakan lagi: 25.6%, tidak pernah sama sekali:18.4%.   

 

Penggunaan alat/cara KB pada perempuan pernah kawin umur 15-49 tahun: 53,9 %, perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan: 19%, dan yang pernah ber-KB tetapi sekarang tidak menggunakan sebesar: 27,1%, terendah di Papua Barat (31,9%) dan tertinggi di Bali

(64,3%).

 

Penggunaan alat/cara KB dengan suntikan: 31,1%. Sebagian besar pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52,5%), di Puskesmas: 12%, dan  di Polindes/Poskesdes: 4,1%.

 

Penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB, sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet need): 14,0%, tertinggi di Papua Barat (32,9%) dan terendah di Bali (8,7%).

 

Usia menikah di bawah 20 tahun: 46,4%.

Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS: 75,0%.

Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang

HIV/AIDS: 18,5 %.

 

Angka malaria: Annual Parasite Incidence (API) Nasional: 2,4% atau 24 permil, terendah Provinsi Bali (0,3%) dan tertinggi Papua (31,4%). API Jawa-Bali: 8 permil.

 

Prevalensi TB yang diagnosis tenaga kesehatan: 0.7 %. Prevalensi TB yang diagnosis tenaga kesehatan yang tertinggi Provinsi Papua (1,5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, dan Bali (0,3%).

 

Proporsi pemanfaatan OAT DOTS” 83,2%.

 

Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung: 16,14%, tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44,79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0,85%).

 

Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional adalah 56,69 %, tertinggi di Provinsi Gorontalo (66,5%) dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29,75%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung dijumlahkan, maka secara nasional terdapat 72,83 % dengan akses terhadap sumber air terlindung, tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84,91 % dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45,74%).

 

Proporsi rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45,27%. Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55,53%, paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,35%).

 

Comments   

 
0 #5 rinni 2014-07-30 11:22
Pak Awi..bagus..moh on diupdate tiap tahun dong

Btw, jumlah Posyandu, Polindes, POD dan TOGA yang terakhir sampai kapan? dan Berapa? Thank you

Balas:
Yth Bu Rinni,
Terima kasih atas masukannya. Data sarana kesehatan dan SDM sudah saya update per pertengahan tahun 2013, silahkan dicek. Mohon maaf, data cakupan dan hasil survei belum sempat diupdate, akan diupdate menyusul
Terima kasih
Quote
 
 
0 #4 pangesti 2014-04-25 23:54
mau tanya data angka ibu nifas di Kepulaun Riau berapa ya ?
Quote
 
 
0 #3 meri 2014-04-09 09:31
mau tanya data/angka kejadian BBLR diRSI dan RSCM

Balas:
Yth Sdri Meri,
mohon maaf saya tidak mempunyai data BBLR di RSI dan RSCM.
Terima kasih
Quote
 
 
0 #2 sri indarti 2013-10-30 17:52
dok...mau bertanya jumlah dokter umum di 5 wilayah jakarta berapa ya?

Balasan:
Yth Sdri Sri Indarti,
jumlah dokter umum di DKI jakarta sebanyak 2.629 dokter (tahun 2013, Kemenkes).
Terima kasih
Quote
 
 
-1 #1 wiwit 2013-10-09 21:26
:-) :-)
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de