Jenis Vektor Malaria yang Ada di Indonesia dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penularan Malaria


Gambar 1: Penyebaran jenis vektor Malaria yang ada di Indonesia.  Sumber: Ditjen PP & PL, Kementerian Kesehatan RI, 2009.

Keterangan gambar:

1. An. aconitus, 2. An.balabacensis, 3. An.bancrofti,  An. Annullaris, 4. An. barbirostris, 5. An. Farauti, 6. An.flavirostris, 7. An.Koliensis, 8. An. Letifer, 9. An. Leucosphyrus, 10. An karwari, 11. An.ludlowi, 12. An. maculatus, 13. An.minimus, 14. An.nigerrimus, 15. An.punculatus, 16. An.sinensis dan An. balabacencis, 17. An.subpictus, 18. An.sundaicus, An.tesellatus, 19. An.Vagus, 20. An.Umbrosus, 21. An. tesellatus, 22. An.parangensis, 23. An. Kochi, 24. An.ludlowi, 25. An. annularis.

Jenis Anopheles

Jenis vektor malaria yang telah ditemukan di Indonesia sejak tahun 1919 hingga 2009 ada sedikitnya 25 macam spesies malaria yang dapat menularkan penyakit malaria. Di setiap daerah hanya ada satu hingga tiga vektor dominan (penting) yang sering menularkan malaria. Penyebarannya dapat dilihat pada gambar 1.

 

Vektor malaria (anopheles) menurut tempat berkembang biak/tempat perindukan (breeding place) nya dapat dikelompokkan dalam 3 tipe, yang terdiri dari:
1. Di persawahan, yaitu: An. aconitus, An. Annullaris, An. barbirostris, An. kochi, An karwari, An.nigerrimus, An.sinensis, An.tesellatus, An.Vagus, An. letifer.
2. Di perbukitan dan hutan, yaitu: An.balabacensis, An.bancrofti, An.punculatus, An.Umbrosus.
3. Di pantai dan atau aliran sungai, yaitu: An.flavirostris, An.Koliensis, An.ludlowi, An.minimus, An.punctulatus, An.parangensis, An.sundaicus, An.subpictus.

Kebanyakan nyamuk malaria hidup di daerah tropik dan subtropik, kadang dapat juga hidup di iklim sedang. Ini terkait dengan kemampuan hidupnya yang dipengaruhi lingkungan seperti suhu sekitar, ketinggian dari permukaan laut, kelembaban, sinar matahari dan curah hujan. Menurut kebiasaan makan dan istirahatnya, nyamuk anopheles dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe yaitu:
1. Endofili: suka tinggal di dalam rumah.
2. Eksofili: suka tinggal di luar rumah.
3. Endofagi: mencari makanan (menghisap darah) di dalam rumah.
4. Eksofagi: mencari makanan (menghisap darah) di luar rumah.
5. Antroprofili: suka menggigit manusia.
6. Zoofili: suka menggigit binatang.

Faktor-faktor yang memengaruhi penularan malaria
Penularan atau transmisi malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

1. Lingkungan fisik.
Lingkungan fisik adalah faktor-faktor geografi yang berpengaruh pada perkembangbiakan dan kemampuan hidup vektor malaria. Lingkungan fisik yang berpengaruh pada Anopheles antara lain:
a. Suhu. Suhu atau temperatur mempengaruhi perkembangan hidup parasit malaria, Suhu optimum adalah 20-30° C.
b. Kelembaban. Tingkat kelembaban yang masih ditolerir nyamuk anopheles adalah 60%. Kelembaban yang rendah akan memperpendek usia nyamuk malaria. Sebaliknya kelembaban yang tinggi akan membuat nyamuk lebih aktif menggigit sehingga meningkatkan penularan malaria.
c. Hujan. Hujan yang sekali-sekali dan diselingi panas akan meningkatkan penularan. Curah hujan yang cenderung tidak teratur akan menyebabkan terbentuknya tempat-tempat perindukan nyamuk di daerah endemis malaria. Lihat pola penularan malaria di daerah ekosistem pantai. 
d. Ketinggian. Nyamuk malaria tidak dapat hidup pada ketinggian lebih 2.500 meter di atas permukaan laut. Ketinggian suatu daerah berhubungan dengan temperatur, kelembahan dan kepadatan tekanan udara.
e.  Angin. Hembusan angin dapat membawa (mendukung) terbang nyamuk dari tempat perindukannya ke daerah pemukiman penduduk. Sebaliknya hembusan dan arah angin dapat pula menghambat terbang nyamuk malaria dari tempat perindukan ke pemukiman penduduk apabila arah angin berlawanan.
f. Sinar matahari. Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan jentik (larva) nyamuk malaria berbeda-beda. Ada anopheles yang menyukai tempat terbuka (kena sinar matahari langsung), misal: An. hyrcanus dan An. punctulatus, ada pula yang menyukai tempat yang teduh, misalnya An. sundaicus, sedangkan yang dapat hidup baik di tempat teduh maupun terang adalah An. barbirostris.
g. Arus air. Ada nyamuk malaria yang menyukai air yang tenang (tergenang) seperti An. letifer, ada yang menyukai air dengan arus lambat seperti An. barbirostris, ada pula yang menyukai air yang mempunyai arus deras seperti An. minimus.
h. Kadar garam. Ada nyamuk anopheles yang berkembang biak di air tawar tetapi ada yang justru dapat berkembang biak di air yang mengandung garam dengan kadar tertentu, misalnya Anopheles sundaicus yang berkembang biak dengan baik di air payau (campuran air laut dengan air tawar) dengan kadar garam 12-18%.

2. Lingkungan biologik.
Lingkungan biologik yang dimaksud adalah tumbuh-tumbuhan dan hewan yang berpengaruh pada perkembangbiakan nyamuk malaria. Adanya tumbuhan bakau, lumut dan ganggang di tepi rawa akan menghalangi sinar matahari langsung sehingga tempat perindukan nyamuk menjadi teduh (terlindung dari sinar matahari langsung), ini disukai oleh An. balabacencis. Binatang pemakan jentik akan mengurangi populasi larva nyamuk, misalnya: ikan kepala timah (panchax spp), nila dan gambusia. Adanya hewan ternak di sekitar rumah juga akan mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia sebab nyamuk akan banyak menggigit hewan.

3. Lingkungan sosial budaya.
Di daerah endemis malaria, orang-orang yang punya kebiasaan keluar rumah pada malam hari lebih mudah tergigit nyamuk malaria. Rumah yang pintu dan jendelanya sering terbuka pada malam hari, tidak memakai kasa nyamuk, mempunyai banyak jendela dan lubang, akan lebih mudah dimasuki nyamuk malaria. Berbagai kegiatan (aktifitas) manusia seperti membuka hutan, pembangunan pemukiman penduduk, pembuatan jalan, pertambangan dan perkebunan akan mengakibatkan perubahan lingkungan yang mendukung terjadinya transmisi malaria. Selain itu, perpindahan penduduk dan pariwisata juga dapat menyokong transmisi malaria dari satu daerah (negara) ke daerah (negara lain).

Referensi
1. Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis & Penanganan, cetakan I, 2000, editor: Dr. P.N. Harijanto, SpPD.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1999). Modul Epidemiologi Malaria 1, Direktorat Jenderal PPM-PL, Direktorat Pemberantasan Penyakit bersumber Binatang, Jakarta.

Share

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com