Data Riskesdas: Perempuan Merupakan Kelompok Yang Paling Banyak Terserang Kanker

Kasihan, lagi-lagi terbukti kaum perempuan (wanita) menjadi 'pelengkap penderita.' Peran wanita sangat sentral (diperlukan) di dalam keluarga, tetapi di sisi lain, kaum wanita merupakan kelompok yang paling banyak mengalami penderitaan, mulai dari kondisi bawaan yang mereka terima akibat adanya nilai-nilai patriarki yang memberlakukan perempuan sebagai golongan 'nomor dua' (sub-ordinat), berbagai perlakuan buruk dan diskriminatif (misal: kebijakan diskriminatif, pengabaian hak-hak, pembatasan, dan praktik kekerasan terhadap perempuan), hingga berbagai penderitaan akibat kodrat yang dimilikinya (misal: kehamilan dan persalinan yang mengandung risiko tinggi serta berbagai kesakitan seperti kanker leher rahim dan payudara). Berdasarkan hasil analisis data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2007, telah ditemukan 'benang merah' yang pada intinya menyimpulkan bahwa penyakit kanker lebih banyak menyerang kaum perempuan  daripada laki-laki. Mari kita melihat datanya.


Data kanker menurut WHO
Menurut WHO, 2010, jumlah kematian akibat kanker pada tahun 2007 sebanyak 7,9 juta kematian. Angka kematian akibat kanker secara global diproyeksikan akan meningkat sebesar 45% dari kondisi tahun 2007 yaitu menjadi 11,5 juta kematian pada tahun 2030. Angka estimasi ini sebagian dipengaruhi oleh peningkatan populasi penduduk global dan penuaan serta memperhitungkan adanya sedikit penurunan angka kematian untuk beberapa jenis kanker di negara-negara yang memiliki sumber daya tinggi (negara maju). Jumlah kasus baru kanker pada periode yang sama diperkirakan melonjak dari 11,3 juta kasus pada tahun 2007 menjadi 15,5 juta kasus tahun 2030.

 

Di sebagian besar negara maju, kanker merupakan penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit jantung. Bukti tren epidemiologi yang sedang berkembang ini kurang diperhatikan oleh negara-negara berkembang atau negara-negara berpenghasilan menengah yang notabene merupakan negara dengan "transisi epidemiologi", seperti di Amerika Selatan dan Asia. Saat ini, lebih dari separuh dari kasus kanker di dunia terjadi di negara-negara berkembang.


Situasi kanker di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)

Menurut data Riskesdas, 2007, diantara penyakit tidak menular pada semua kelompok umur di Indonesia, kanker (tumor ganas) berada pada urutan ketiga terbanyak bersama dengan Diabetes yaitu sebesar 10,2%. Proporsi kejadian penyakit tidak menular dapat dilihat pada grafik 1 di bawah ini.

Grafik 1. Proporsi kejadian penyakit tidak menular pada semua kelompok umur di Indonesia, 2007.
Sumber: Riskesdas, 2007.


Penyebab kematian

Kanker (tumor ganas) menempati peringkat ketujuh (5,7%) sebagai penyebab kematian di Indonesia. Proporsi kematian pada semua umur menurut Riskesdas dapat dilihat pada grafik 2 dan tabel 1 di bawah ini.

Grafik 2 dan tabel 1. Proporsi penyebab kematian semua kelompok umur di Indonesia.    
Sumber: Riskesdas, 2007.

 

Prevalensi kanker menurut jenis kelamin (gender)

Berdasarkan jenis kelamin, angka prevalensi kanker pada perempuan sebesar 5,7 per 1000 penduduk, sedangkan prevalensi kanker pada laki-laki 2,9 per 1000 penduduk (lihat grafik 3), berarti jumlah perempuan yang terkena kanker hampir 2 kali lipat daripada laki-laki.

 

Grafik 3: Prevalensi kanker menurut jenis kelamin Indonesia, tahun 2007.

Sumber: Riskesdas, 2007.

 

Prevalensi kanker berdasarkan kelompok umur

Prevalensi kanker berdasarkan kelompok umur di Indonesia (lihat grafik 4) membuktikan bahwa kejadian kanker tertinggi terjadi pada usia >75 tahun (9,4 per 1000 penduduk) dan terendah pada usia <1 tahun (0,3 per 1000 penduduk). Angka kejadian kanker meningkat tajam (mencapai 7 orang per 1000 penduduk) setelah seseorang berusia 35 tahun keatas. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa kejadian kanker berkorelasi dengan semakin tinggi usia seseorang. Dari kesimpulan ini, dapat pula diasumsikan bahwa:

  1. Terjadinya tumor ganas (kanker) memerlukan waktu yang cukup lama sejak adanya faktor-faktor penyebab termasuk kontak pertama dengan karsinogen.
  2. Bayi (usia < 1 tahun) dapat pula terkena kanker.
  3. Sejalan dengan kedua poin di atas, dapat disimpulkan bahwa banyak faktor (multi faktor) yang berperan (menjadi penyebab) dalam terjadinya kanker pada seseorang.


Grafik 4: Prevalensi kanker menurut kelompok umur di Indonesia, 2007.

Sumber: Riskesdas, 2007.


Penyebab kematian berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur di Indonesia
Tumor ganas leher rahim dan payudara menempati posisi ketiga dari 10 besar penyebab kematian pada perempuan Indonesia kelompok usia 15-44 tahun, posisi keenam pada perempuan kelompok usia 45-54 tahun dan 55-65 tahun (lihat tabel 2, 3 dan 4.) Dapat disimpulkan bahwa Wanita Usia Subur (WUS) merupakan kelompok yang rentan terhadap kematian akibat kanker leher rahim dan kanker payudara. Catatan: batas usia WUS adalah 15-49 tahun.

Tabel 2: Proporsi penyebab kematian pada kelompok usia 15-44 tahun menurut jenis kelamin.

Sumber: Riskesdas, 2007.

Tabel 3: Proporsi penyebab kematian pada kelompok usia 45-54 tahun menurut jenis kelamin.

Sumber: Riskesdas, 2007.


Tabel 4: Proporsi penyebab kematian pada kelompok usia 55-64 tahun menurut jenis kelamin.
Sumber: Riskesdas, 2007.


Prevalensi kanker menurut tingkat pendidikan

Menurut tingkat pendidikan, prevalensi kanker tertinggi terjadi pada penduduk dengan tingkat pendidikan tamat perguruan tinggi sebesar 8,4 per 1000 penduduk disusul oleh penduduk tidak bersekolah sebesar 6,6 per 1000 penduduk (lihat grafik 5.) Bila faktor stress kita anggap sebagai salah satu faktor risiko penting  dalam terjadinya kanker seperti telah banyak dipublikasikan, maka dari data ini dapat saja disimpulkan bahwa orang-orang yang tidak bersekolah menerima stress yang lebih tinggi, tetapi orang-orang yang berpendidikan tinggi pun mengalami stress yang tinggi (mungkin akibat tanggung jawab yang berhubungan dengan rumah tangga dan pekerjaan.)

Grafik 5: Prevalensi kanker menurut tingkat pendidikan di Indonesia, tahun 2007.

Sumber: Riskesdas, 2007.

 

Prevalensi kanker menurut jenis pekerjaan

Menurut jenis pekerjaan, prevalensi kanker tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga yang notabene adalah kaum perempuan (eh ... apa ada kaum laki-laki bergelar ibu rumah tangga?)  (lihat grafik 6).


Grafik 6: Prevalensi kanker menurut jenis pekerjaan di Indonesia, tahun 2007.

Sumber: Riskesdas, 2007.

 

Prevalensi kanker menurut tempat tinggal

Menurut tempat tinggal, prevalensi kanker di perkotaan sebesar 5,3 per 1000 penduduk, lebih tinggi daripada di perdesaan yang sebesar 3,7 per 1000 penduduk (lihat grafik 7.) Pertanyaannya, mengapa kejadian kanker lebih banyak menyerang pendudk di perkotaan daripada di perdesaan? Kita dapat mengasumsikan bahwa di perkotaan, memiliki tingkat stress yang lebih tinggi daripada di perdesaan, lingkungan yang lebih berisiko untuk terjadinya kanker daripada lingkungan di perdesaan,. Padahal, bila dilihat dari faktor pengetahuan, pada umumnya penduduk perkotaan 'lebih berpengetahuan' daripada penduduk di perdesaan. Dari sini dapat disimpulkan lagi bahwa  terjadinya kanker tidak berhubungan dengan pengetahuan. Setujukah pembaca dengan pernyataan ini? Kalau tidak setuju, silahkan tulis sesuatu pada kolom 'comment' yang terletak di bagian bawah artikel ini.

 

Grafik 7: Prevalensi kanker menurut tempat tinggal di Indonesia, tahun 2007.

Sumber: Riskesdas, 2007.


Kesimpulan
Dari data-data di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Tumor ganas (kanker) memerlukan waktu relatif lama sejak kontak pertama dengan karsinogen hingga menjadi penyakit.
  2. Banyak faktor (multi faktor) yang berperan dalam terjadinya kanker pada seseorang.
  3. Prevalensi kanker tertinggi pada kelompok perempuan dengan karakteristik: ibu rumah tangga, wanita usia subur, pendidikan tamat perguruan tinggi atau tidak sekolah dan bertempat tinggal di perkotaan.
  4. Dari poin karakteristik perempuan yang terkena kanker, dapat disimpulkan bahwa nampaknya faktor stress memiliki peran (hubungan) penting sebagai faktor risiko dalam terjadinya kanker.

Saran
Memang banyak wanita hebat di negeri ini tetapi sebaiknya kita tidak selalu melihat 'keatas' dalam arti beberapa wanita bisa berprestasi, memiliki kekuatan, kharisma serta memiliki peran penting di negeri ini, tetapi secara umum, penderitaan nampaknya lebih condong mengarah kepada kaum wanita. Untuk itu kaum pria hendaknya tidak egois tetapi lebih bersimpati, memperhatikan kepentingan kaum wanita dan lebih baik bila dapat mencurahkan cinta kasih kepada istri. Himbauan kepada kaum pria, bersikap dan bertindaklah secara 'gentle,' jangan jadi pengecut, perlakukan kaum wanita secara lebih baik dan bermartabat, mencari nafkah dan bersainglah secara sehat, jauhkan tindakan-tindakan yang menjadikan wanita sebagai obyek kekerasan, penipuan, perampasan, perkosaan.

Referensi

1. Kementerian Kesehatan RI, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007.

Share

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com