Data dan Situasi Rokok (cigarette) Indonesia Terbaru


Gambar 1: Perokok anak. Sumber: http://www.who.int/tobacco/en/atlas3.jpg

Umur mulai merokok pada usia anak mengalami peningkatan, demikian pula umur mulai merokok pada usia remaja dan dewasa muda mengalami peningkatan. Menurut data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010, terjadi kecenderungan peningkatan umur mulai merokok pada usia yang lebih muda. Menurut Riskesdas 2007, umur pertama kali merokok pada usia 5-9 tahun sebesar 1,2%, pada usia 10-14 tahun sebesar 10,3%, pada usia 15-19 tahun sebesar 33,1%, pada usia 20-24 tahun sebesar 12,1%, pada usia 25-29 tahun sebesar 3,4% dan pada usia >30 tahun sebesar 4%. Sedangkan menurut Riskesdas 2010, umur pertama kali merokok pada usia 5-9 tahun sebesar 1,7%, pada usia 10-14 tahun sebesar 17,5%, pada usia 15-19 tahun sebesar 43,3%, pada usia 20-24 tahun sebesar 14,6%, pada usia 25-29 tahun sebesar 4,3% dan pada usia >30 tahun sebesar 3,9%.


Bahaya Rokok terhadap kesehatan
Rokok sudah dikenal manusia sejak 1.000 tahun Sebelum Masehi. Sejak setengah abad yang lalu telah diketahui bahwa merokok dapat mengganggu kesehatan pada perokok itu sendiri maupun orang-orang di sekitarnya yang menghirup asap rokok. Asap rokok mengandung banyak racun yang berbahaya bagi kesehatan yaitu lebih dari 4.000 macam racun yang 69 diantaranya bersifat karsinogenik (zat yang menyebabkan kanker) bagi manusia. Asap rokok sama berbahayanya bagi orang bukan perokok yang menghisap asap rokok (disebut perokok pasif) maupun bagi perokok itu sendiri.


Dampak rokok terhadap kesehatan sering disebut sebagai ‘silent killer’ karena timbul secara perlahan dalam tempo yang relatif lama, tidak langsung dan tidak nampak secara nyata. Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor resiko bagi banyak penyakit tidak menular yang berbahaya, antara lain: kanker, gangguan kardiovaskuler, (misal: stroke, jantung, impotensi), serta gangguan kehamilan dan janin. Tingkat kematian bayi dan balita dari keluarga yang ayahnya merokok jauh lebih besar dibandingkan keluarga dengan ayah yang tidak merokok.

Ketergantungan pada nikotin lebih kuat dibanding heroin
Ketua Badan Khusus Pengendalian Tembakau, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, dan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Widyastuti Soerojo, dalam seminar "Meningkatkan Harkat dan Martabat Konsumen dengan Informasi Jelas dan Benar dan Perlindungan Hukum" di Jakarta, 2010, mengatakan bahwa Nikotin memiliki skor tertinggi dalam hal membuat ketergantungan dibandingkan dengan zat adiktif lainnya seperti heroin, kokain, mariyuana, kafein, dan alkohol. Menurut Soerojo, "skor itu dilihat dari aspek tingkat kesulitan untuk berhenti, angka kambuhan, dorongan tetap menggunakan meski sudah tahu bahayanya serta persentase orang yang ketagihan, dari 75 hingga 80 persen perokok yang ingin berhenti merokok, hasilnya kurang dari 5 persen yang berhasil berhenti merokok." Hal itu disebabkan karena nikotin dalam tembakau adalah zat adiktif plus. Dikatakan pula , peraturan apa pun yang dibuat untuk membatasi konsumsi rokok, sulit untuk menghentikan ketagihan rokok.

Prevalensi perokok Indonesia
Prevalensi merokok di Indonesia dari tahun ketahun cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil Riskesdas tahun 2007, penduduk Indonesia berusia >15 tahun yang merokok setiap hari sebanyak 27,2%, yang kadang-kadang (tidak setiap hari) merokok sebanyak 6,1%, mantan perokok sebesar 3,7% dan yang tidak merokok sebesar 63%. Sedangkan menurut hasil Riskesdas 2010, penduduk Indonesia berusia >15 tahun yang merokok setiap hari sebanyak 28,2%, yang kadang-kadang (tidak setiap hari) merokok sebanyak 6,5%, mantan perokok sebesar 5,4% dan yang tidak merokok sebesar 59,9%. Dibandingkan tahun 2007, pada tahun 2010 terlihat adanya peningkatan prevalensi merokok penduduk berusia >15 tahun. Menurut Riskesdas 2010, dua dari tiga perokok merokok di dalam rumah.

Prevalensi Perokok Dunia

Pada tahun 2008, jumlah perokok di dunia mencapai 1,3 milyar orang, bila jumlah penduduk dunia pada tahun yang sama mencapai 6,7 milyar jiwa, maka berarti prevalensi perokok dunia pada tahun 2008 mencapai 19,4%.

 

Kerugian Ekonomi akibat rokok
Selain berdampak buruk terhadap kesehatan, kebiasaan merokok akan membawa dampak kerugian ekonomi yang cukup besar bagi keluarga dan masyarakat. Pengeluaran untuk konsumsi rokok (tembakau) di tingkat rumah tangga telah melebihi pengeluaran untuk menyediakan makanan, pendidikan dan kesehatan.

 

Menurut WHO, 80% perokok di dunia berdomisili di negara-negara berkembang. Di Indonesia terdapat lebih dari 50 juta orang yang membelanjakan uangnya secara rutin untuk membeli rokok. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa kebiasaan merokok akan menurunkan kemampuan ekonomi keluarga miskin yang banyak terdapat di negara-negara berkembang. Sedangkan menurunnya kemampuan ekonomi akan berakibat lebih lanjut pada menurunnya kemampuan menyediakan makanan bergizi bagi keluarga, pendidikan dan upaya memperoleh pelayanan kesehatan.

 













Grafik 1: Proporsi pengeluaran rumah tangga di Indonesia. Sumber: Riskesdas 2007, Kementerian Kesehatan RI.

Menurut Tobacco Control Support Center (TCSC), Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), pada tahun 2005 jumlah kematian akibat 3 kelompok penyakit utama yaitu kanker, penyakit jantung dan penyakit pernafasan kronik obstruktif diperkirakan sebesar 400.000 orang yang menyebabkan kerugian total sebesar 167 Triliun Rupiah atau setara dengan 5  kali lipat pendapatan pemerintah dari cukai tembakau pada tahun yang sama sebesar 37 Triliun Rupiah.

A. Konsumsi Rokok
1. Konsumsi rokok domestik

Tingkat konsumsi rokok di Indonesia terus mengalami kenaikan dari tahun ketahun. Selama kurun waktu antara tahun 1970 hingga 2000, konsumsi rokok Indonesia naik tujuh kali lipat dari 33 milyar batang menjadi 217 milyar batang.  Pada tahun 2005, konsumsi rokok Indonesia mencapai 214 milyar batang dan tahun 2008 menjadi 240 milyar batang (Grafik 4). Dengan tingkat konsumsi 240 milyar batang rokok/tahun sama dengan 658 juta batang rokok per hari, atau sama dengan senilai uang 330 milyar rupiah 'dibakar' oleh para perokok Indonesia setiap hari.

 

Dengan jumlah perokok di Indonesia yang mencapai lebih dari 60 juta dan konsumsi rokok yang mencapai 240 milyar batang per tahun, maka dapat dikalkulasi jumlah konsumsi rokok rata-rata per hari yaitu 10,95 batang perhari. Dapat dikatakan bahwa pada tahun 2008 setiap perokok di Indonesia menghisap rata-rata 10 hingga 11 batang rokok perhari.


 

Grafik 2: Tingkat konsumsi rokok (dalam Milyar) di Indonesia, tahun 2005-2008. Sumber: TCSC-IAKMI, Profil Tembakau Indonesia, Tahun 2009.

Berdasarkan jumlah perokok, Indonesia menempati posisi ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan India (grafik 3).

 

Grafik 3: Negara-negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Sumber: WHO Report on Global Tobacco Epidemic, 2008, dalam Profil Tembakau Indonesia, 2009.


2. Konsumsi rokok per kapita perhari menurut karakteristik populasi

Konsumsi rokok berdasarkan jenis kelamin (gender)

Menurut data Susenas, tahun 2004, rata-rata jumlah konsumsi rokok orang dewasa adalah: laki-laki mengkonsumsi 11 batang rokok per hari, sedangkan perempuan mengkonsumsi 10 batang rokok per hari. Sedangkan menurut Riskesdas 2007, rata-rata jumlah konsumsi rokok orang dewasa adalah 10 batang perhari, laki-laki 11 batang dan perempuan 7 batang perhari. Menurut Riskesdas 2007 dan 2010, jumlah perokok laki-laki lebih tinggi (64% dan 65,9%) dibandingkan perempuan (4,9% dan 4,2%).

 

Konsumsi rokok berdasarkan umur

Konsumsi rokok terendah pada kelompok umur 15-24 tahun dan kelompok +55 tahun. (Susenas, 2004).


Prevalensi merokok pada
anak-anak dan remaja                                                                                            

Menurut Riskesdas 2007 dan 2010, usia mulai merokok pada anak-anak yang tertinggi pada usia 15-19 tahun (33,1% pada tahun 2007 dan 43,3% pada tahun 2010), juga merupakan yang tertinggi dari seluruh kelompok umur. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan untuk terpapar rokok pertama kali. Data Riskesdas 2007 dan 2010 juga menunjukkan usia mulai merokok pertama kali ada kecenderungan semakin muda (1,2% pada tahun 2007 menjadi 1,7% pada tahun 2010).

 

Ada kecenderungan terjadi peningkatan jumlah perokok pada remaja:

Pada tahun 2007, prevalensi merokok remaja umur 15-19 tahun adalah 18,8%. Pada laki-laki 37,3% dan remaja perempuan 1,6%. Prevalensi merokok remaja umur 15-19 tahun cenderung meningkat pada laki-laki sejak tahun 1995 sampai tahun 2007.

 

Prevalensi remaja merokok menurut gender:
Selama tahun 1995 – 2007, terjadi peningkatan prevalensi perokok, pada laki-laki kelompok umur 15-19 tahun meningkat sebesar hampir 3 kali lipat dan pada perempuan meningkat 5 kali lipat. 


Konsumsi rokok berdasarkan lokasi tempat tinggal

Tidak ada perbedaan jumlah rokok yang dikonsumsi antara perokok yang tinggal di kota dan di desa. Tetapi perempuan di daerah perkotaan mengkonsumsi lebih banyak rokok (11 batang per hari) dibandingkan perempuan di desa (10 batang per hari).

 

Konsumsi rokok berdasarkan pendapatan (income)

Berdasarkan jumlah pendapatan, semakin tinggi pendapatan maka semakin banyak konsumsi rokok (antara 8-13 batang per hari), sedangkan bila ditinjau dari sudut prevalensi (jumlah) perokok, semakin rendah pendapatan maka semakin tinggi prevalensi perokok. (Susenas, 1995, 2001 dan 2004).

 

Konsumsi rokok berdasarkan pendidikan

Menurut TCSC-IAKMI, prevalensi perokok dewasa pendidikan rendah lebih besar daripada perokok dewasa pendidikan tinggi. Data tahun 2004 menunjukkan bahwa sebanyak 67% laki-laki tidak bersekolah atau tidak lulus SD adalah perokok aktif, di sisi lain, perokok aktif lulusan pendidikan tinggi sebanyak 47,8%.

Sedangkan menurut hasil Susenas, 2004 dikatakan bahwa pada laki-laki tidak ada perbedaan konsumsi rokok antar tingkat pendidikan, sedangkan pada perempuan tidak ada pola tertentu konsumsi rokok yang berhubungan dengan pendidikan.

 

Konsumsi rokok berdasarkan lingkungan

Jumlah rokok yang dikonsumsi tidak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.

(Susenas, 2004).

 

Konsumsi rokok berdasarkan status perkawinan

Perokok yang tidak/belum menikah mengkonsumsi lebih banyak rokok dari pada perokok yang menikah. (Susenas, 2004).

  

Prevalensi merokok berdasarkan propinsi

Prevalensi merokok menurut propinsi sebagai berikut dapat dilihat pada grafik 4.


Grafik 4: Prevalensi perokok berdasarkan propinsi, 2007. Sumber: Riskesdas 2007, dalam Profil Tembakau Indonesia 2009.


Prevalensi merokok berdasarkan geografi (perkotaan dan perdesaan)

Prevalensi merokok lebih tinggi di perdesaan (37,4%) dibandingkan dengan perkotaan (32,3%).

 

Prevalensi merokok berdasarkan tingkat pendidikan

Menurut Riskesdas 2007, prevalensi merokok umur >15 tahun yang tertinggi pada kelompok yang tidak sekolah atau tidak tamat SD yaitu sebesar 72,3% pada laki-laki dan 10,1% pada perempuan.

 

Prevalensi merokok berdasarkan tingkat sosial ekonomi

Menurut Susenas tahun 2004, prevalensi merokok pada kelompok sosial ekonomi terendah (termiskin) lebih tinggi pada kelompok sosial ekonomi tertinggi (terkaya).

 

Sedangkan menurut Riskesdas 2007, prevalensi perokok berdasarkan tingkat sosial ekonomi hampir tidak menunjukkan adanya perbedaan, demikian juga pada perokok perempuan tidak menggambarkan pola tertentu. Tahun 2007 prevalensi perokok kelompok sosial ekonomi terendah 35,8% sementara kelompok sosial ekonomi tertinggi 31,5%. Terdapat kenaikkan 5,6% pada kelompok sosial ekonomi terendah selama tahun 2004 - 2007 sementara yang tertinggi justru turun 4%.


3. Umur mulai merokok

Kecenderungan umur mulai merokok

Umur mulai merokok pertama kali bergeser kearah yang lebih muda dan cenderung terjadi peningkatan pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2007. Dengan perkataan lain, ada kecenderungan anak-anak sudah mulai merokok pada usia yang lebih muda (sebelum usia 10 tahun).

 

Umur mulai merokok berdasarkan kelompok umur

Menurut Susenas 2004, umur mulai merokok yang tertinggi pada kelompok umur 15-19 tahun yaitu sebesar 63,7%, diikuti kelompok usia 20-24 tahun (17,2%) dan kelompok usia 10-14 tahun sebesar 12,6%.

 

4. Prevalensi perokok pasif

Prevalensi rumah tangga yang memiliki perokok

Menurut Susenas, 2004, sebanyak 71% rumah tangga mempunyai pengeluaran untuk rokok (memiliki perokok di dalam rumah). Sedangkan menurut Riskesdas 2007, sebanyak 69% rumah tangga memiliki pengeluaran untuk rokok.

 

Prevalensi perokok yang merokok di rumah

Menurut Susenas 2004, sebanyak 82,4% dari perokok berusia lebih dari 15 tahun merokok di dalam rumah. Sedangkan menurut Riskesdas 2007, sebanyak 85,4 % dari perokok berusia 10 tahun ke atas merokok di dalam rumah bersama dengan anggota lainnya.

 

Prevalensi perokok pasif di rumah

Menurut Susenas 2004, ada 30,5% penduduk usia >15 tahun merupakan perokok pasif di rumah. Menurut Riskesdas 2007, sebanyak 40,5% populasi semua umur (91 juta) terpapar asap rokok di dalam rumah. Perempuan lebih tinggi (54,5%) dari pada laki-laki (26%) dan anak usia 0-14 tahun yang terpapar adalah 58,8%, dengan demikian sekitar 40 juta anak terpapar asap rokok, atau hampir separuh jumlah perokok pasif di dalam rumah.

 

5. Pelajar yang terpapar asap rokok orang lain

Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS, tahun 2006), enam dari 10 siswa terpapar asap rokok di sekolah dan ada 8 dari 10 siswa terpapar asap rokok di tempat-tempat umum. Sedangkan menurut GYTS 2009, Dua dari tiga siswa (68,8%) terpapar asap rokok orang lain di dalam rumah mereka dan lebih dari tiga perempat persen (78,1%) siswa terpapar asap rokok orang lain di tempat umum.


6. Morbiditas dan Mortalitas akibat Rokok

Dampak buruk rokok terhadap kesehatan pertama kali ditemukan pada tahun 1951, sejak itu banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit berbahaya seperti kanker, penyakit kardiovaskular, penyakit saluran pernafasan, dan lain-lain.

 

Rokok merupakan penyebab beberapa jenis penyakit tidak menular antara lain:

  • 90% penyakit kanker paru pada laki-laki dan 70% kanker paru pada perempuan.
  • 56-80% penyakit saluran nafas kronik (termasuk bronkhitis kronik dan pneumonia).
  • 22% penyakit kardiovaskular (termasuk penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah lainnya).
  • 50% impotensi pada laki-laki.
  • Infertilitas pada perempuan (baik perokok aktif maupun pasif).
  • Pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus spontan, dan melahirkan bayi  berat lahir rendah (BBLR), bayi lahir mati, dan berbagai komplikasi melahirkan lainnya.
  • Pada bayi dan anak-anak akan meningkatkan terjadinya infeksi saluran nafas bagian bawah, penyakit telinga tengah, penyakit saluran pernafasan kronik, asma dan kematian bayi mendadak atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).

Merokok mengurangi separuh usia hidup penggunanya dan 50% dari kematian tersebut terjadi pada usia 30-69 tahun. Pada tahun 2005, kematian dini akibat merokok mencapai 5 juta penduduk dunia. Menurut WHO, pada abad ke-20 yang baru lalu, ada 100 juta penduduk dunia meninggal dunia akibat rokok. Diperkirakan pada tahun 2030 angka kematian akibat rokok akan melebihi 8 juta orang pertahun dan akan ada 1 milyar kematian akibat rokok selama abad 21 ini bila tidak dilakukan upaya-upaya intervensi yang efektif.

Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Richard D. Semba et al, di Indonesia tahun 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di perkotaan dan perdesaan, ternyata bahwa terdapat perbedaan bermakna angka kematian bayi dan angka kematian balita antara keluarga yang ayahnya merokok dan keluarga dengan ayah tidak merokok. Terlihat bahwa angka kematian bayi dan balita pada keluarga yang ayahnya merokok lebih tinggi daripada pada keluarga dengan ayah yang tidak merokok (tabel 1).

 

Perkotaan

Perdesaan

 

Ayah merokok

Ayah tidak merokok

Ayah merokok

Ayah tidak merokok

Angka kematian bayi

6,3%

5,3%

9,2%

6,4%

Angka kematian balita

8,1%

6,6%

10,9%

7,6%

Tabel 1: Perbedaan Angka kematian bayi dan balita pada keluarga dengan ayah merokok dan ayah tidak merokok (p<0,001), tahun 2000-2003.
Sumber: Richard D. Semba et al, dalam TCSC-IAKMI, Fakta Tembakau di Indonesia, 2008.


B. Faktor-faktor yang berperan terhadap akses masyarakat pada rokok
Akses masyarakat pada rokok sangat tergantung dari peran pemerintah dalam upaya pengendaliannya. Bila upaya pengendalian oleh pemerintah dilakukan sangat keras, diyakini akses masyarakat pada rokok akan turun sehingga prevalensi merokok juga menurun. Beberapa faktor yang berperan terhadap akses masyarakat pada rokok adalah:

1. Harga dan pajak rokok

Salah satu strategi dalam mengendalikan konsumsi rokok adalah melalui kenaikan harga rokok dan tarif cukai rokok. Tujuan strategi ini adalah untuk mengurangi  jumlah perokok pemula, perokok tidak tetap, remaja dan perokok miskin, sedangkan pecandu rokok kemungkinan masih tetap merokok karena sudah adiksi tetapi diharapkan dapat mengurangi jumlah rokok yang dikonsumsi.

 

No.

Negara

Harga Rokok

(dalam US Dollar)

1.

Singapura

7,47

2.

Malaysia

2,18

3.

Thailand

1,79

4.

Indonesia

0,9

Tabel 2: Perbandingan harga rokok di 4 negara Asean pada tahun 2007. Sumber: Tobacco Control Support Center, IAKMI, 2007


Di Indonesia, harga rokok relatif terjangkau semua kalangan dan belum ada peraturan yang membatasi akses terhadap rokok, maka penduduk dari semua kelompok usia dapat dengan mudah sekali mendapatkan rokok asalkan ada uang untuk membelinya.

 

Walaupun pajak rokok sudah dinaikkan namun konsumsi rokok antara tahun 2007 hingga 2010 mengalami kenaikan pula (lihat hasil Riskesdas mengenai adanya peningkatan prevalensi merokok). Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa produsen rokok ternyata menanggung sebagian dari beban cukai rokok yang seharusnya ditanggung oleh perokok, sehingga konsumsi rokok tidak mengalami penurunan akibat peningkatan cukai rokok tersebut.


2. Iklan dan promosi rokok

Semua Peraturan Pemerintah (PP) yang pernah ada di Indonesia tidak melarang adanya iklan rokok di berbagai media cetak dan media luar ruangan, sementara itu PP nomor 19 tahun 2003 mengijinkan penayangan iklan rokok di media elektronik tetapi dibatasi waktunya dari pukul 21.30 – 05.00 pagi. Dalam prakteknya, tidak ada aturan pembatasan kuantitas dan kualitas iklan rokok di televisi setelah pukul 9.30 malam, bila Anda coba menghitung jumlah, durasi dan isi berbagai jenis iklan rokok di televisi Indonesia setelah pukul 9.30 malam, Anda mungkin akan terkejut dibuatnya karena pesan sponsor rokok di televisi saat ini sangat gencar, jor-joran dan "semakin berani."

Persaingan antar industri tembakau semakin agresif dalam merebut pangsa pasar khususnya ditujukan kepada kelompok usia remaja. Bentuk dan strategi promosi iklan rokok pada umumnya banyak menggunakan taktik dengan thema seperti ‘punya tanggung jawab sosial’, ‘kepahlawanan’, ‘kejantanan’ dan 'keterampilan (skill).' Sementara itu pembangunan papan iklan rokok dengan ukuran besar semakin banyak terlihat di jalan-jalan protokol di kota-kota besar. Iklan dan promosi rokok seakan berlomba mengejar sasarannya, sementara intervensi pemerintah terhadap hal ini terlihat sangat lemah.

Adalagi teknik pemasaran rokok akhir-akhir ini yang banyak mencantumkan label “Mild” dan “Light” sebagai pencitraan bahwa rokok produksinya "tidak keras." Fakta menunjukkan bahwa rokok-rokok dengan tambahan label “Mild” dan “Light” inilah yang banyak dicari masyarakat seperti terbukti dari naiknya tingkat penjualan rokok jenis ini. Kemungkinan pencitraan dengan istilah “Mild” dan “Light”  justru akan membuat masyarakat merasa aman untuk mengkonsumsi rokok secara berlebihan untuk memuaskan adiksinya terhadap rokok.

Perlu adanya larangan iklan secara menyeluruh sebagai upaya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat khususnya anak-anak  dan remaja. Anak-anak dan remaja merupakan sasaran utama produsen rokok. Industri rokok mengakui bahwa anak-anak dan remaja merupakan aset bagi keberlangsungan industri rokok.


3. Kawasan Tanpa Rokok

Penerapan kawasan tanpa rokok bertujuan melindungi hak kelompok masyarakat bukan perokok untuk menghirup udara yang bersih dan sehat, bebas dari asap rokok. Selain itu, peraturan kawasan tanpa rokok juga membantu perokok untuk dapat menahan/menunda kebiasaan merokoknya dan dianggap sebagai pembelajaran bagi perokok untuk berhenti merokok. Penerapan Kawasan Tanpa Rokok juga semakin menyadarkan banyak orang akan bahaya adiktif rokok dan mengembalikan norma untuk tidak merokok di tempat umum, terutama di ruangan tertutup.


Pelarangan merokok di tempat-tempat umum telah dikeluarkan melalui PP No. 19/2003, Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Perda No. 2/2005 tentang pengendalian pencemaran udara dimana diselipkan pasal (pasal 13) yang mengatur kawasan tanpa rokok, dan Keputusan Gubernur tentang kawasan dilarang merokok. Pemerintah Daerah yang telah menerapkan peraturan kawasan tanpa rokok adalah Pemda kota Bogor, kota Tangerang, kota Palembang dan beberapa kota lainnya yang belum memublikasikan peraturannya. Namun dalam prakteknya belum nampak kesungguhan pemerintah dalam penerapan sanksi kepada pelanggarnya.

 

4. Kemasan dan pelabelan rokok

Peringatan tentang bahaya rokok bagi kesehatan telah diterapkan oleh produsen rokok dengan mencantumkan peringatan pada setiap bungkus rokok. Hal ini telah sesuai dengan PP 19/2003 yang menyebutkan bahwa pada setiap bungkus rokok harus mencantumkan peringatan kesehatan tunggal dan tidak berganti-ganti yang berbunyi “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” dan setiap iklan rokok harus mengalokasikan minimal 15% dari luasnya untuk pesan kesehatan yang sama.

 

Dalam kenyataannya, walaupun masyarakat telah melihat dan membaca iklan pesan kesehatan tersebut, yang terjadi adalah tingkat konsumsi rokok semakin meningkat sehingga seakan-akan iklan pesan kesehatan tersebut hanya hiasan tambahan tanpa makna, suatu rutinitas yang tidak perlu diperhatikan.


5. Kebijakan pengendalian tembakau

Pada tahun 1999, WHO memprakarsai rancangan naskah Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control / FCTC). Naskah ini selesai disusun pada tahun 2003. FCTC merupakan acuan pengendalian tembakau di tingkat global maupun nasional. Pokok-pokok kebijakan FCTC mencakup (1) Peningkatan cukai rokok; (2) Pelarangan total iklan rokok; (3) Penerapan Kawasan Tanpa Rokok yang komprehensif; (4) Pencantuman peringatan kesehatan berupa gambar pada bungkus rokok; (5)  Membantu orang yang ingin berhenti merokok; dan (6) Pendidikan Masyarakat.


Saat ini Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia dalam jumlah perokok, namun ada satu hal kontradiktif yaitu Indonesia merupakan salah satu dari dua negara di dunia yang tidak menandatangani Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Negara lain yang tidak menandatangani FCTC adalah Zimbabwe.


Pemerintah Indonesia sebenarnya pernah terlibat aktif dalam forum (rapat-rapat) Inter Governmental Negotiating Body untuk pembahasan dan penyusunan draft kesepakatan FCTC di Genewa selama tahun 2000-2003, diwakili oleh Departemen Kesehatan, Departemen Perdagangan, dan Departemen Luar Negeri. Selain itu Indonesia juga telah hadir pada World Health Assembly di Geneva, pada 31 Mei 2003.

 

Tujuan kesepakatan FCTC adalah untuk mengendalikan perdagangan rokok agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Landasan penyusunan kesepakatan FCTC adalah Pasal 19 anggaran dasar WHO tentang wewenang untuk mengeluarkan kesepakatan yang mengikat (binding treaty) di antara para anggotanya yang bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat.


Dalam perkembangannya hingga kini sudah 172 negara (parties) yang menandatangani, mengaksesi atau meratifikasi FCTC. Dapat dikatakan bahwa secara diplomatis 172 negara tersebut menyatakan mendukung upaya pengendalian dampak tembakau terhadap kesehatan, meski ada kemungkinan bahwa sebenarnya (secara tertutup) mereka juga menentang FCTC, tetapi 172 negara ini tidak secara frontal dan terbuka menentang. Tetapi Indonesia berani menentang kesepakatan FCTC secara terbuka dengan tidak mau menandatangani, mengaksesi atau meratifikasi kesepakatan FCTC hingga saat ini.


Ringkasan dan saran
Beberapa ringkasan data rokok Indonesia antara lain:

  • 80% perokok di dunia berdomisili di negara-negara berkembang.
  • Indonesia merupakan negara terbesar ketiga di dunia dalam jumlah perokok.
  • Prevalensi merokok di Indonesia dari tahun ketahun cenderung mengalami peningkatan.
  • Umur mulai merokok pada usia anak, remaja dan dewasa mengalami peningkatan dan ada kecenderungan umur mulai merokok pertama kali bergeser kearah yang lebih muda.
  • Kebiasaan merokok berdampak pada kemiskinan dan kesehatan. Pengeluaran untuk konsumsi rokok (tembakau) di tingkat rumah tangga cenderung menekan pengeluaran untuk penyediaan makanan bergizi, upaya memperoleh pelayanan kesehatan dan pendidikan.
  • Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan untuk terpapar rokok pertama kali.
  • Anak-anak dan remaja merupakan sasaran utama produsen rokok. Industri rokok mengakui bahwa anak-anak dan remaja merupakan aset bagi keberlangsungan industri rokok.
  • Saat ini Indonesia merupakan salah satu dari dua negara di dunia yang belum menandatangani kesepakatan Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

Saran yang dapat diajukan antara lain:

  • Perlu adanya larangan iklan rokok secara menyeluruh sebagai upaya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat khususnya anak-anak  dan remaja.
  • Memperluas area penerapan kawasan tanpa rokok.
  • Indonesia perlu menandatangani, mengaksesi atau meratifikasi kesepakatan Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).
  • Memasukkan topik mengenai bahaya rokok kedalam silabus dan kurikulum pelajaran di sekolah mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas (tentu saja pengajarnya dipilih guru yang tidak merokok).

Referensi

1. Tobacco Control Support Center (TCSC)-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), 2007, Jakarta: Profil Tembakau Indonesia.

2. Tobacco Control Support Center (TCSC)-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), 2009, Jakarta: Profil Tembakau Indonesia.

3. http://www.cdc.gov, diakses 15 Februari 2011.

4. http://www.who.int/fctc/en/index.html , WHO Framework Convention on Tobacco Control,  diakses 15 Februari 2011.

5. http://www.who.int/fctc/signatories_parties/en/index.html , Parties to the WHO Framework Convention on Tobacco Control, diakses 15 Februari 2011.

6. http://www.who.int/fctc/reporting/summaryreport.pdf , 2010 Global Prograss Report on Implementation of the WHO Framework Convention on Tobacco Control, diakses 15 
    Februari 2011.
7. TCSC-IAKMI, 2011, Fakta Tembakau di Indonesia, Fact Sheet, http://www.tcscindo.org, daiakses 15 Februari 2011.
8. www.ino.searo.who.int, diakses 14 Maret 2011.
9. http://ajph.aphapublications.org/cgi/reprint/AJPH.2007.119289v1.pdf, diakses 15 Maret 2011.

Share

Comments   

 
0 #1 diyanah syolihan 2013-11-24 00:32
keren infox
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com