Mengenal Penyakit dan Wabah Virus Nipah (NiV)

                                      
Gambar 1: Virus Nipah. Sumber: http://www.cdc.gov/ncidod/dvrd/spb/mnpages/dispages/nipah.htm

Gambar 2: Kelelawar buah. Sumber: http://www.birdfinders.co.uk/news/thailand-south-2009-pics.htm
Gambar 3: Ternak babi. Sumber: http://inhabitat.com/potty-trained-pigs-could-save-taiwan-75000-tons-of-water-each-day/

Dalam beberapa dasawarsa terakhir telah muncul beberapa penyakit baru yang menjangkiti manusia yang awalnya berasal dari hewan atau akibat adanya interaksi antara manusia dan hewan, sebut saja contoh: HIV/AIDS, Flu Burung, Flu Babi dan penyakit Nipah. Menurut Program Coordinator- Ecology Of Emerging Infectious Disease dari Department of Primary Industries and Fisheries Queensland, Australia Dr. Hume Field BVSc MSc MACVs, di masa depan akan semakin banyak kasus penularan virus dari hewan kepada manusia yang mengancam kesehatan manusia. Untuk itu kita perlu mengetahui salah satu penyakit yang ditularkan melalui binatang (disebut zoonosis) yaitu penyakit Nipah karena kemungkinan pada masa yang akan datang dapat menimbulkan masalah di negara kita.  

 

 

Beberapa definisi terkait
- Zoonosis (Bahasa Inggris: zoonoses) adalah penyakit pada hewan yang dapat menular kepada manusia. 
- Emerging zoonoses adalah penyakit zoonosis yang baru muncul, misal: Flu Burung (Avian Influenza), Flu Babi (Swine Flu), dan Penyakit Nipah. 
- Re-emerging zoonoses adalah penyakit zoonosis yang sudah ada atau pernah ada sebelumnya tetapi kini mulai menunjukkan peningkatan kembali, misal: malaria dan rabies.
- Veteriner adalah hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit pada hewan.

- Public Health Emergency of Internasional Consern (PHEIC) adalah Kejadian Luar Biasa yang merupakan risiko kesehatan masyarakat bagi negara lain karena dapat menyebar lintas negara dan berpotensi memerlukan respons Internasional secara terkoordinasi. Mengenai penyakit-penyakit yang termasuk PHEIC, dapat dilihat pada algoritma yang ada pada lampiran 2 halaman 21 pada Buku Panduan Petugas Kesehatan tentang International Health Regulations (IHR) tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP-PL, Departemen Kesehatan RI, 2008.

Epidemiologi Penyakit Nipah 

Virus Nipah merupakan virus yang tumbuh dan berkembang secara alami pada kelelawar buah dan tidak menyebabkan penyakit pada binatang tersebut. Beberapa hasil penelitian telah mengindikasikan bahwa kondisi virus Nipah pada kelelawar buah sebelumnya berada dalam bentuk inaktif, namun akibat adanya perusakan habitat, perubahan iklim serta perkembangan dan perluasan areal industri pertanian dan peternakan, maka kelelawar mengalami krisis tempat tinggal, lebih lapar dan stress yang berakibat sistem kekebalan tubuhnya menjadi lemah dengan akibat lebih lanjut, virus ini yang tadinya inaktif menjadi aktif sehingga dapat menginfeksi spesies lain. Peneliti lain mengatakan bahwa ketika sistem kekebalan tubuh kelelawar semakin lemah, maka beban virus mereka meningkat sehingga banyak virus Nipah tumpah (masuk) kedalam urin dan saliva (air liur).

 

Peristiwa ini pada awalnya dipicu kelakuan banyak kelompok penduduk di Semenanjung Malaysia yang membuka peternakan babi di pinggiran hutan sehingga terjadi tumpang tindih antara habitat kelelawar dan ternak babi. Kebetulan pula di dekat kandang babi terdapat kebun buah-buahan, ada beberapa buah-buahan bekas dimakan kelelawar terjatuh dan dimakan babi, juga air seni dan kotoran (feses) kelelawar dapat dengan mudah memasuki kandang babi yang bila termakan oleh babi akan menularkan NiV dari kelelawar ke babi. Studi retrospektif menunjukkan bahwa transmisi NiV dari kelelawar kepada babi mungkin telah terjadi di Malaysia sejak tahun 1996 tanpa terdeteksi. Namun sejak tahun 1998, penyebaran virus telah terbantu oleh semakin marak (meningkatnya) penjualan babi yang telah terinfeksi NiV untuk peternakan lain sehingga meletuslah wabah NiV. 

 

Teori lain mengatakan, fluktuasi pengeluaran virus mungkin terkait dengan kondisi fisiologis, stres dan musim. Bukti preferensi musiman transmisi Pteropus Lylei (kelelawar) telah ditunjukkan dalam sebuah studi di Thailand. Periode April sampai Juni (tertinggi pada bulan Mei) adalah waktu ketika RNA virus dapat dideteksi di dalam urin kelelawar terutama dikaitkan dengan adanya fluktuasi jumlah populasi yang diamati pada bulan Mei dan berhubungan dengan saat kelelawar muda meninggalkan sarang untuk terbang.

 

Pada wabah di Malaysia, distribusi kelelawar yang meliputi lokasi wabah dan waktu insiden menunjukkan pola musiman wabah yang berhubungan dengan musim buah dan musim melahirkan kelelawar. Karena tidak ada bukti penularan langsung dari kelelawar kepada manusia, tetapi Antibodi terhadap virus ini ditemukan pada babi maka diperkirakan bahwa infeksi pada manusia hanya terjadi melalui hospes perantara (host intermediate).

 

Sepak Terjang Penyakit Nipah (Nipah Virus)
Penyakit Nipah telah menyebabkan wabah (KLB) beberapa kali di beberapa Negara di Asia selatan dalam kurun waktu 1 dekade terakhir. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebut virus Nipah (NiV) yang berasal dari hewan mamalia yaitu rubah terbang atau kelelawar buah yang banyak berseliweran di wilayah Malaysia dan Bangladesh. Di Indonesia pun, banyak berseliweran kelelawar buah tetapi sampai saat ini belum pernah ditemukan atau dilaporkan penyakit ini telah memasuki Indonesia.


Di Malaysia, Virus Nipah pernah menimbulkan wabah yang cukup menghebohkan pada tahun 1998-1999, menyebabkan kematian 265 orang (peternak babi) terkena penyakit NIpah dan 105 orang diantaranya meninggal dunia serta banyak hewan ternak (babi) mati. Virus ini menyerang manusia melalui perantaraan babi yang ada di peternakan, babi berperan sebagai inang perantara (intermediate host). Sedangkan di Bangladesh, virus Nipah menyerang manusia tanpa perantaraan hewan lain, tetapi langsung dari kelelawar kepada manusia. Pada awal tahun 2011, wabah virus Nipah terjadi lagi di sebuah kota terpencil di Hatibandha di distrik Lalmonirhat, Bangladesh Utara, dari 24 orang dewasa yang terkena virus Nipah, sedikitnya (minimal) 15 orang telah meninggal dunia dan tercatat 21 kematian anak-anak sekolah karena terinfeksi virus Nipah pada tanggal 4 Februari 2011 (WHO, 2011). 


Berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Bangladesh, di Australia terdapat juga virus yang berasal dari kelelawar dan menular kepada manusia tetapi tidak melalui perantaraan babi melainkan melalui kuda. Virus yang ditularkan pada kuda ini bernama Australian bat lyssavirus (ABLV), awalnya dinamakan pteropid lyssavirus PLV, merupakan suatu virus zoonosis yang erat kaitannya dengan virus rabies.

 
Etiologi Penyakit Virus Nipah

Virus Nipah atau Henipavirus adalah genus dari keluarga Paramyxoviridae, ordo Mononegavirales, mempunyai 2 anggota yaitu Hendravirus dan Nipahvirus. Para henipaviruses secara alami hidup pada kelelawar buah, tetapi dapat menjadi zoonosis patogen yang dapat menyebabkan penyakit dan kematian pada hewan domestik dan manusia.


Virus Nipah tidak identik dengan Virus Hendra tetapi masih satu keluarga. Virus Nipah pertama kali diisolasi pada tahun 1999 setelah memeriksa sampel dari wabah ensefalitis dan penyakit pernafasan pada laki-laki dewasa di Malaysia dan Singapura. Nama Nipah berasal dari nama Kampung (Desa) Sungai Nipah yang terletak di Semenanjung Malaysia, tempat dimana banyak peternak babi dan orang-orang yang bekerja di tempat pemotongan babi menderita radang otak (ensefalitis). Reservoir alami (natural host) untuk virus Nipah adalah kelelawar dari genus Pteropus keluarga Pteropodidae.

Virus Hendra (sebelumnya disebut morbillivirus kuda) adalah anggota keluarga dari Paramyxoviridae. Virus ini pertama kali diisolasi pada tahun 1994 dari spesimen yang diperoleh selama wabah penyakit pernafasan pada kuda dan manusia di Hendra, pinggiran kota Brisbane, Australia. Reservoir alami untuk virus Hendra adalah rubah terbang (kelelawar dari keluarga Pteropodidae, genus Pteropus) yang ditemukan di Australia.

 

Cara penularan

NiV sangat menular di antara babi, disebarkan melalui kontak langsung dengan babi yang terinfeksi. Kebanyakan pasien memiliki kontak langsung dengan babi dalam dua minggu sebelum timbul gejala penyakit. Infeksi menyebar ke manusia melalui kontak langsung dengan sekresi babi yang terinfeksi seperti kotoran atau air liur, selain itu virus ini juga dapat ditransmisikan melalui udara dan menginfeksi manusia. Ketika pertama kali terjadi wabah besar di Malaysia pada tahun 1998-1999, modus utama penularan adalah pada manusia.

 

Ketika wabah Nipah di Bangladesh pada tahun 2004, manusia terinfeksi NiV setelah mengkonsumsi getah kurma yang telah terkontaminasi NiV dari kelelawar buah (Pteropus giganteus) selama musim dingin. Transmisi dari manusia ke manusia juga terjadi di Bangladesh. Selain menular kepada manusia, virus Nipah juga dapat menginfeksi hewan lain seperti kucing dan anjing dan menyebabkan penyakit. Transmisi antar spesies dari virus ini terjadi akibat adanya kontak langsung dengan jaringan dan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Selama wabah NiV di Bangladesh (tahun 2004) telah terbukti NiV dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung dari kelelawar yang terinfeksi kepada manusia.

 

Kelelawar mengeluarkan NiV kedalam ekskresi dan sekresi seperti air liur, urin,  air mani dan kotoran. Kelelawar merupakan pembawa NiV tetapi tidak menimbulkan gejala sakit. Ada bukti telah terjadi penularan dari manusia ke manusia di India pada tahun 2001. Selama wabah di Siliguri, petugas kesehatan dan pengunjung Rumah Sakit menjadi sakit setelah terpapar pasien rawat inap yang terinfeksi NiV. 

 

Gejala Penyakit Nipah

Virus Nipah memiliki masa inkubasi selama 4 - 18 hari. Beberapa kasus dapat menunjukkan gejala sub-klinis. Pada kasus klinis, gejala dari infeksi virus Nipah berupa radang saluran pernafasan dan batuk menyerupai influenza, disertai demam tinggi yang mendadak dan nyeri otot. Penyakit ini dapat berlanjut menjadi peradangan pada otak (encephalitis) dengan disertai pusing (sakit kepala), mual dan muntah, disorientasi, dan konvulsi. Tanda-tanda dan gejala dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam.

 

Berdasarkan pengamatan klinis, virus Nipah pada babi menyebabkan gejala yang dikenal sebagai sindrom pernafasan dan neurologis serta 'sindrom babi menggonggong.'

 

Gejala Virus Hendra

Hanya ada tiga kasus manusia dari penyakit virus Hendra yang telah diakui. Dua dari tiga orang yang diketahui terinfeksi virus Hendra memiliki gejala penyakit pernafasan dengan tanda-tanda seperti layaknya flu berat. 

 

Pada hewan yang terinfeksi, gejala klinis khas yang diamati sama seperti pada babi yang terinfeksi yaitu terutama gejala/masalah pernafasan. Pada kuda, infeksi virus Hendra biasanya menyebabkan edema paru dan kongesti.

 

Komplikasi

Penyakit saraf serius dengan ensefalitis akibat infeksi virus Nipah memiliki beberapa gejala sisa, seperti kejang persisten dan perubahan kepribadian. Salah satu dari tiga infeksi virus Hendra ditandai dengan timbulnya keterlambatan ensefalitis progresif.

 

Diagnosis virus Nipah dan virus Hendra.

Uji laboratorium bagi pasien dengan riwayat klinis virus Nipah atau virus Hendra dapat dibuat selama fase akut dan penyembuhan penyakit dengan menggunakan kombinasi tes termasuk pendeteksian antibodi dengan metode Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)dalam serum dan cairan otak atau cerebrospinal fluid (CSF), histopatologi, deteksi RNA virus dengan polymerase chain reaction real time (RT-PCR) dalam serum, CSF, atau cairan tenggorokan, serum neutralisasi test, serta isolasi virus dari CSF atau swab tenggorokan.

 

Tes skrining awal yang direkomendasikan adalah pemeriksaan serologi ELISA dan Imunohistokimia, yang tidak memperkuat virus yang menular, sehingga tes-tes ini lebih aman dilakukan di laboratorium.

 

Sebagian besar negara di Asia Tenggara tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk mendiagnosis virus Nipah. Bangladesh, India dan Thailand telah mengembangkan kemampuan laboratorium untuk keperluan riset dan diagnostik penyakit ini.

 

Fatality

Sebanyak 50% kasus infeksi klinis virus Nipah berakhir dengan kematian (WHO Media Center, 2001).

 

Selama wabah penyakit Nipah pada tahun 1998 - 1999, 265 pasien telah terinfeksi NiV dan sekitar 40% dari pasien yang masuk rumah sakit dengan penyakit saraf serius telah meninggal dunia. Dua dari tiga pasien atau 66,6% orang yang terinfeksi virus Hendra meninggal dunia. 

 

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang efektif untuk penyakit ini. Tetapi Ribavarin dikatakan dapat mengurangi gejala mual, muntah, dan kejang. 
Pengobatan sebagian besar difokuskan pada pengelolaan demam dan gejala neurologis. Hasil penelitian mengenai Ribavarin sampai saat ini menyatakan bahwa kegunaan klinis obat ini masih diragukan.

 

Orang yang sakit parah harus dirawat di Rumah Sakit karena mungkin perlu memakai ventilator untuk mengatasi gangguan pernafasan.

 

Pencegahan

Penyakit Nipah bisa dicegah dengan menghindari hewan yang diketahui atau dicurigai terinfeksi atau berpotensi terinfeksi dan menggunakan alat pelindung yang sesuai jika diperlukan.

 

Distribusi kelelawar di tempat tinggal (habitat) alami mereka pada akhirnya akan menentukan rentang geografis (daerah-daerah) yang berpotensi untuk terancam virus ini. Namun karena virus ini merupakan penemuan terbaru, masih banyak hal yang harus diselidiki pada distribusi geografis dan spesies reservoarnya. 


Kelompok ya
ng berisiko

Infeksi Virus Nipah dikaitkan dengan kontak dekat dengan babi yang terinfeksi virus Nipah. Penyakit telah menyebar dari manusia ke manusia. Sebanyak 93% dari kasus zoonosis Nipah Virus terjadi pada pekerja yang berhubungan dengan babi dan hasil produksinya.

 

Orang yang memiliki kontak dengan cairan tubuh atau ekskresi kuda yang terinfeksi virus Hendra beresiko untuk terkena penyakit virus Hendra.

 

Strategi pencegahan dan kontrol
Strategi utama pencegahan penyakit ini adalah mencegah penularan NiV kepada manusia dengan jalan membentuk sistem kewaspadaan dan pengawasan dini yang sesuai sehingga apabila terjadi Kejadian Luar Biasa NiV, dapat dideteksi secara dini dan cepat serta dapat dilakukan pengendalian yang tepat.

 

Pembuatan vaksin untuk pencegahan penyakit ini masih dalam proses pengembangan.

 

Data KLB Virus Nipah

Data KLB (wabah) Virus Nipah sejak tahun 1998 -2008 yang dihimpun oleh WHO sebagai berikut:

Tabel 1: Data wabah (KLB) Virus Nipah yang pernah terjadi. sejak 1998 - 2008. Sumber: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/nipah_chronology_en.pdf


KLB virus Nipah pada tahun 2011

Pada awal tahun 2011, wabah virus Nipah terjadi di sebuah kota terpencil di Hatibandha di distrik Lalmonirhat, Bangladesh Utara, dari 24 orang dewasa yang terkena virus Nipah, sedikitnya 15 orang telah meninggal dunia. Tercatat pula telah terjadi 21 kematian anak-anak sekolah karena infeksi virus Nipah pada tanggal 4 Februari 2011. 

 

Institute Epidemiology, of Disease Control & Risearch (IEDCR) di Bangladesh telah mengkonfirmasi bahwa infeksi ini disebabkan oleh virus Nipah. Sekolah lokal diliburkan selama satu minggu untuk mencegah transmisi. Namun masyarakat juga diminta untuk menghindari konsumsi buah-buahan atau produk buah (misalnya jus kurma mentah) yang terkontaminasi dengan urin atau air liur dari kelelawar buah yang terinfeksi yang merupakan sumber infeksi yang paling mungkin.

 

Total telah ada sedikitnya 113 orang, termasuk korban terakhir, telah meninggal karena virus Nipah di Bangladesh sejak wabah itu pertama kali menyebar pada tahun 2001. Pemerintah di Dhaka telah membangun sebuah laboratorium deteksi untuk mempercepat pengujian untuk wabah apapun.

Gambar 4: Lokasi KLB henipavirus (merah bintang: virus Hendra; biru bintang: virus Nipah) dan distribusi henipavirus (area merah: Hendra virus, area biru: virus Nipah). Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Henipavirus

 

Berdasarkan peta di atas, potensi penyebaran virus Nipah di Indonesia meliputi wilayah seluruh kepulauan di Indonesia, sedangkan potensi penyebaran virus Hendra mencakup wilayah Indonesia Timur.

 

Peternakan hewan babi banyak terdapat di wilayah Sumatera dan Kalimantan sedangkan peternakan Kuda terbanyak di NTT dan Sulawesi sedangkan habitat kelelawar ada di mana-mana di seluruh Indonesia. Berdasarkan lokasi kedekatannya dengan sumber infeksi, maka dapat digarisbawahi bahwa wilayah yang perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan kewaspadaannya adalah wilayah Sumatera, kepulauan Riau dan Kalimantan karena relatif lebih dekat dengan negara tetangga yang pernah terkena KLB penyakit Nipah yaitu Singapura dan Malaysia.


 

Gambar 5: Distribusi KLB Penyakit Nipah dan penyebaran kelelawar buah. Sumber: http://www.who.int/csr/disease/nipah/Global_NiphaandHendraRisk_20090510.png

 

Berdasarkan peta distribusi KLB virus Nipah dan penyebaran kelelawar buah di atas, maka potensi penyebaran di Indonesia yang perlu diwaspadai meliputi distribusi geografis (wilayah) Sumatera, Riau dan Kalimantan.

 

Data KLB Virus Hendra

Sejak tahun 1994, telah 13 kali terjadi wabah Virus Hendra yang kesemuanya melibatkan hewan kuda. Empat dari wabah ini telah menyebar ke manusia sebagai hasil dari kontak langsung dengan kuda yang terinfeksi.

 

Perincian KLB Virus Hendra sejak tahun 1994 sebagai berikut:

  • Agustus 1994, di Mackay, Queensland: Kematian dua ekor kuda dan satu orang. 
  • September 1994, di Brisbane, Queensland: 14 kuda meninggal dari total 20 terinfeksi. Dua orang terinfeksi dengan satu kematian.
  • Januari 1999, di Cairns, Queensland: Kematian satu kuda.
  • Oktober 2004, di Cairns, Queensland: Kematian satu kuda. Seorang dokter hewan yang terlibat dalam otopsi dari kuda itu terinfeksi virus Hendra dan menderita penyakit ringan.
  • Desember 2004, di Townsville, Queensland : Kematian satu kuda. 
  • Juni 2006, di Sunshine Coast, Queensland : Kematian satu kuda. 
  • Oktober 2006, di Murwillumbah, New South Wales: Kematian satu kuda. 
  • Juli 2007, di Clifton Beach, Queensland: Kematian satu kuda (eutanasia).
  • Juli 2008, di Redlands, Brisbane, Queensland: Kematian lima kuda; empat meninggal akibat virus Henda, hewan yang tersisa dilakukan eutanasia karena ancaman terhadap kesehatan. Dua pekerja hewan dari properti yang terkena terinfeksi menyebabkan kematian satu dokter bedah hewan Dr Ben Cuneen, pada tanggal 20 Agustus 2008. Dokter hewan kedua dirawat di rumah sakit setelah menusuk dirinya dengan jarum yang dia digunakan untuk menidurkan kuda yang telah pulih. Seorang perawat yang membantu Cuneen dalam merawat kuda-kuda yang terinfeksi juga terkena penyakit itu sehingga dirawat di Rumah Sakit. 
  • Juli 2008, di Cannonvale, Queensland: Kematian dua kuda.
  • Agustus 2009, di Cawarral, Queensland: Kematian satu kuda, kematian tiga kuda lainnya sedang diselidiki. Queensland ahli bedah hewan Alister Rodgers diuji positif setelah merawat kuda-kuda. 
  • Pada tanggal 1 September 2009 setelah dua minggu dalam keadaan koma, ia menjadi orang keempat yang meninggal setelah terpapar oleh virus tersebut. 
  • Mei 2010, di Tewantin, Queensland: Kematian satu kuda.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Beberapa kesimpulan yang dapat dipetik adalah:

  1. Terjangkitnya penyakit golongan zoonosis di masa depan akan semakin mengancam.
  2. Virus Nipah telah menyebar di wilayah Asean tetapi belum sampai masuk ke Indonesia.
  3. Ada potensi penularan virus Nipah di Indonesia karena hutan-hutan di negara kita mempunyai hewan penular (host reservoar) yang sama yaitu kelelawar yang memiliki daerah jelajah yang luas (lihat peta jelajah kelelawar pada gambar 4). Indonesia juga memiliki hewan perantara (host intermediate) yang sama yaitu babi berupa peternakan babi.
  4. Penyakit-penyakit yang bersumber pada binatang mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah (KLB) sehingga perlu ditangani secara cepat dan tepat.
  5. Penyebaran virus Nipah menggambarkan adanya masalah dalam produksi dan perdagangan ternak dan daging secara internasional.
  6. Perdagangan ternak dan daging secara Internasional dalam beberapa dasawarsa terakhir meningkatkan kemungkinan penyebaran agen penular penyakit bersumber binatang di seluruh dunia.
  7. Penyakit ini sangat berbahaya, terbukti dari tingginya Case Fatality Rate (CFR) virus Nipah yang mencapai 50% dan CFR virus Hendra mencapai 66,6%.
  8. Karena penyakit ini masih tergolong baru (emerging disease), pengetahuan kita tentang penyakit ini masih terbatas.  

Rekomendasi yang dapat diberikan adalah:

  1. Walaupun kasus virus Nipah belum pernah ada di Indonesia, tetapi karena penyakit ini pernah mewabah di Malaysia dan Singapura (1998-1999) yang merupakan negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia, maka perlu adanya kewaspadaan atau kegiatan pencegahan khususnya di daerah-daerah (propinsi) yang berbatasan langsung dengan negara tersebut. Selain itu, karena penyakit ini juga termasuk dalam kategori Public Health Emergency of Internasional Consern (PHEIC) maka jika ada 1 kasus Virus Nipah harus dilaporkan ke WHO dalam tempo kurang dari 24 jam.
  2. Melakukan langkah-langkah pencegahan berupa peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia dan peralatan di point of entry (pelabuhan laut, pelabuhan udara, dan pos lintas batas darat), Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang berada di wilayah kerja yang memiliki perbatasan darat dan atau laut dengan negara Malaysia dan Singapura, yang didukung oleh Dinas Kesehatan setempat.
  3. Meningkatkan kegiatan surveilans epidemiologi berupa peningkatan kemampuan deteksi dini, respon cepat, dan pelaporan kejadian yang berpotensi KLB sesuai International Health Regulations (IHR).
  4. Meningkatkan kewaspadaan di point of entry terhadap penumpang yang berasal dari negara-negara terjangkit bila terjadi wabah virus Nipah di waktu mendatang.
  5. Melakukan sosialisasi potensi penularan virus Nipah yang meliputi epidemiologi virus Nipah, gejala penyakit, cara penularan dan strategi pencegahannya, terutama bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah-daerah (propinsi) yang berpotensi terjangkit penyakit tersebut.
  6. Menjalin dan mengintensifkan dialog dan kerjasama yang erat antara komunitas kesehatan dengan komunitas peternakan khususnya veteriner mulai di tingkat pusat hingga kabupaten/kota dalam rangka pencegahan penyakit-penyakit berpotensi KLB.
  7. Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki banyak hewan ternak, perlu melakukan pencegahan penyebaran Virus Nipah dari kelelawar ke hewan ternak maupun dari kelelawar langsung ke manusia dengan jalan menghindari pembangunan peternakan khususnya peternakan babi di daerah sekitar hutan karena di pinggir hutan biasanya banyak kelelawar yang mencari makan, terutama buah-buahan. 
  8. Untuk keperluan pencegahan, kita harus memonitor kehidupan hewan-hewan yang sering menularkan penyakit pada manusia.
  9. Indonesia perlu mewaspadai adanya adanya potensi penyebaran agen penular penyakit-penyakit bersumber binatang dari negara lain yang dapat terjadi melalui jalur perdagangan ternak, perdagangan daging dan unggas secara Internasional.
  10. Menggiatkan penelitian penyakit Nipah melalui kerjasama antara komunitas kesehatan dengan komunitas veteriner.
  11. Pengakuan awal dan dini dari suatu negara mengenai timbulnya penyakit pada hewan perantara di negara tersebut merupakan salah satu cara yang paling penting untuk membatasi kasus pada manusia di masa mendatang.
  12. Terkait IHR 2005, perlu adanya dukungan aspek legal dalam penerapan IHR 2005 dari DPR RI, Kementerian hukum dan HAM, dan lintas sektor terkait.

Referensi dan gambar

1. http://www.who.int/, diakses 11 Februari 2011.

2. http://www.cdc.gov/. diakses 11 Februari 2011.
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Henipavirus, diakses 11 Februari 2011.

4. http://www.republika.co.id/, diakses 11 Februari 2011.

5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008, Panduan Petugas Kesehatan tentang International Health Regulations (IHR) 2005, Jakarta: Ditjen PP-PL.
6. http://www.pppl.depkes.go.id/, diakses 22 Februari 2011.

7. http://www.kabarindonesia.com/, diakses 22 Februari 2011.
8. http://www.birdfinders.co.uk/news/thailand-south-2009-pics.htm, diakses 26 Februari 2011.
9. http://inhabitat.com/potty-trained-pigs-could-save-taiwan-75000-tons-of-water-each-day/, diakses 26 Februari 2011.
10. http://www.docstoc.com/docs/20489877/KEBIJAKAN-PENANGGULANGAN-PENYAKIT-ZOONOSIS-BERDASARKAN-PRIORITAS, diakses 26 Februari 2011.

Comments   

 
0 #1 dion 2013-07-03 07:13
trims buat informasinya... ........
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de