Pentingnya Peran Pemimpin Pujian & Penyembahan (Praise & Worship Leader) dalam Membawa Umat Memasuki Hadirat Tuhan

(Tulisan ini ditujukan bagi Umat Kristiani)


Firman Tuhan di dalam Injil Yohanes 4 ayat 23 dan 24 mengatakan: (23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. 

 

 Beberapa puluh tahun yang lalu, kegiatan mengumandangkan lagu-lagu pujian di banyak gereja hanya merupakan kegiatan rutinitas atau sekedar untuk memuji Tuhan dalam suatu kebaktian (ibadah), tetapi dimasa kini, lagu-lagu pujian yang dipanjatkan kepada Allah bukan sekedar untuk memuji Allah tetapi lebih dari itu untuk menyembahNya dalam roh dan kebenaran. Allah hadir dan bertahta di atas pujian umatNya. Sudah banyak terbukti bahwa mujizat Allah sering terjadi ketika pujian dan penyembahan dipanjatkan kepadaNya. Saat itu Allah hadir dan ketika Allah disukakan, maka mujizat pasti terjadi!


Seperti telah dinubuatkan dalam Injil Yohanes, penyembah-penyembah benar akan memuji dan menyembah bapa dalam roh dan kebenaran sehingga menyukakan (menyenangkan) hati Bapa (Umat Kristen menyebut Allah dengan sebutan Bapa karena Dialah Bapa yang sejati bagi anak-anakNya), sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Ketika Allah disukakan (disenangkan) maka hadirat Allah hadir di tempat itu, dan ketika hadirat Allah hadir maka mujizat pasti terjadi. Allah yang hadir memang tidak nampak dengan mata jasmani manusia karena Allah adalah Roh (Yohanes 4: 24) tetapi mata rohani umatNya dapat merasakan kehadiran Allah. Adanya Hadirat Allah di suatu tempat berarti bukan sekedar adanya kehadiran Allah (karena Allah ada dimana-mana) tetapi lebih dari itu Allah mencurahkan segenap KuasaNya sehingga Kuasa Allah dimanifestasikan secara nyata di tempat itu dengan akibat lebih lanjut mujizat terjadi. Mujizat yang terjadi bisa berupa kuasa kegelapan disingkirkan, sakit-penyakit disembuhkan, ada jalan keluar bagi permasalahan, jemaat mengalami kemenangan dan ada damai serta sukacita memenuhi penyembah-penyembah yang benar. Inilah yang diinginkan setiap Gembala sidang (Pemimpin kebaktian), yaitu ketika memuji dan menyembah Tuhan, jemaat (umat) dapat memasuki Hadirat Tuhan, artinya melalui pujian dan penyembahan, roh umat menyatu dengan Roh Allah, atau Roh Allah memasuki umatNya yang disebut juga jemaat yang dipenuhi Roh Kudus.

Dalam prakteknya, seorang Pemimpin Pujian (Song Leader) berperan sangat penting dan menentukan untuk membawa jemaat (umat) memasuki Hadirat Tuhan. Oleh karena itu seorang Song Leader semestinya bukan 'sembarang orang' karena dia merupakan orang 'pilihan' dari sekian banyak orang, harus merupakan penyembah yang dipanggil dan diurapi Allah untuk melayani di dalam Rumah Tuhan (gereja). Seorang Song Leader bukan sekedar seorang Pemimpin Puji-pujian tetapi lebih dari itu seorang Song Leader adalah seorang Pemimpin penyembahan kepada Allah atau disebut juga Worship Leader (WL). Banyak syarat (kriteria) yang harus dipenuhi seorang Worship Leader antara lain:

1. Kriteria rohani:
  • Telah lahir baru dan ada pertobatan.
  • Memiliki karakter Kristus
  • Dipenuhi oleh Roh Kudus dengan tanda memiliki buah-buah Roh
  • Penyembah Allah yang sejati
  • Gemar berdoa
  • Dipenuhi Firman Allah

2. Kriteria teknis:
  • Memiliki teknik suara (vokal) yang cukup baik
  • Memahami dasar-dasar musik
  • Mampu memimpin pujian dan penyembahan
  • Menguasai banyak lagu pujian dan penyembahan
  • Memiliki kemampuan memilih lagu-lagu yang cocok sesuai karakter jemaat sehingga mampu membawa jemaat memasuki Hadirat Tuhan
  • Memiliki kemampuan untuk mengajak/membawa jemaat masuk hadirat Tuhan melalui pujian dan penyembahan. 
Semua kriteria di atas mutlak dimiliki oleh seorang Worship Leader. Di antara semua kriteria di atas, kriteria rohani memang lebih sulit dinilai (diketahui), tetapi kriteria teknis lebih mudah terlihat dan dirasakan.
 
Bagaimana seharusnya Worship Leader memimpin Pujian penyembahan?
Seorang WL (pemimpin pujian) yang baik harus mampu membawa (menggiring) jemaat memasuki hadirat Tuhan. WL harus memerioritaskan kepentingan jemaat, tidak boleh egois, jangan sampai terjadi hanya WL (dan anggota tim-nya) yang "mati-matian, berteriak-teriak" memuji dan menyembah Tuhan sedangkan jemaat hanya menjadi penonton. Dengan perkataan lain, hanya WL dan tim yang masuk hadirat Tuhan tetapi semua jemaat tidak mengalami apa-apa.
 
Salah satu kriteria teknis penting adalah seorang WL harus memiliki kemampuan memilih lagu-lagu yang cocok sesuai karakter jemaat (bukan lagu yang cocok sesuai selera WL dan Tim) sehingga mampu membawa/menggiring seluruh jemaat memasuki Hadirat Tuhan. Memang penyembahan kepada Allah tidak mesti diwujudkan dalam bentuk penyampaian puji-pujian berupa lagu (nyanyian), penyembahan kepada Allah bisa pula diwujudkan dalam banyak hal misalnya berkata-kata secara berirama, atau berbahasa Roh tetapi Bahasa Roh lebih bermanfaat bagi diri sendiri (yang melakukan). Fakta menunjukkan bahwa dalam suatu ibadah Kristiani, pujian dan penyembahan dalam bentuk nyanyian/kidung merupakan cara yang paling mudah dilakukan dan dipakai di seluruh dunia karena nyanyian merupakan bahasa global.

Seorang WL harus mengetahui "siapa" jemaat (yang dilayani), oleh karena itu WL harus bisa memilihkan lagu-lagu (kidung) pujian dan penyembahan yang cocok atau 'disukai' jemaat pada saat ibadah berlangsung. Jangan egois dalam memilih lagu sesuai selera WL atau pesanan teman yang ternyata 'tidak disukai atau tidak familiar' bagi jemaat. Boleh saja menyelipkan 1 - 2 lagu baru tetapi jangan semua karena jemaat akan "diam membisu." Lagu pujian disebut cocok bila jemaat menyambut antusias sehingga dapat dikatakan hampir seluruh jemaat di ruangan ibadah mampu dan menyanyikan lagu tersebut dengan antusias serta menjiwai. Yang kadang terjadi di "beberapa gereja," WL dan tim "asyik" sendiri menyanyikan suatu lagu yang dikuasainya sehingga hanya WL dan tim musik yang 'bernyanyi sendiri' sedangkan jemaat........saat itu baru saja mulai mempelajari lagu tersebut, karena musiknya masih terasa asing dan lirik (syair atau text) nya harus diperhatikan di layar sebab belum familiar, apalagi bila lagunya memakai lagu berbahasa asing dan tergolong baru pula bagi banyak jemaat. Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti itu jemaat bisa memasuki Hadirat Tuhan dengan mulus? Bisa saja yang terjadi malah timbul kegersangan di hati, pikiran melayang kemana-mana, dan jemaat pulang dalam kondisi 'masih dahaga.' Mungkin saja bisa (tidak masalah) bagi sebagian kecil jemaat yang menguasai (menyukai) nyanyian tersebut tetapi dalam suatu ibadah, kita bicara tentang orang banyak atau Umat Tuhan.

Lagu-lagu yang dikumandangkan dalam pujian dan penyembahan merupakan 'genderang perang' yang akan memberikan semangat (spirit) sehingga jiwa dan raga jemaat siap menghadapi peperangan, dalam hal ini adalah peperangan melawan 'kuasa-kuasa kegelapan' (yang dimaksud kuasa-kuasa kegelapan adalah kuasa iblis, permasalahan dan penyakit.) Seperti ada pepatah yang mengatakan "Genderang perang telah ditabuh" ketika suatu tim olahraga memulai pertandingan. Suku-suku bangsa pada jaman dahulu bila berperang membawa seperangkat alat musik yang akan memberikan semangat pada pasukan. Bila genderang perang telah ditabuh maka secara otomatis pasukan mendapat suntikan semangat sehingga 'on fire' atau sudah siap berperang dengan segenap jiwa dan raga mereka. Musik-musik untuk berperang biasanya musik yang selalu sama dan sudah sangat dikenal (familiar) bagi anggota pasukan.

Kata orang, lagu rohani terbagi menjadi dua jenis yaitu lagu-lagu yang tergolong lagu pujian (praise) dan lagu-lagu yang tergolong lagu penyembahan (worship). Kedua jenis lagu tersebut biasanya 'dipanjatkan' pada suatu ibadah, pertama lagu-lagu pujian, kemudian disusul lagu-lagu penyembahan. Allah menyukai keduanya (baik pujian maupun penyembahan) karena Allah suka disembah. Kedua jenis lagu tersebut harus saling mengisi dengan manis agar Hadirat Allah memenuhi ruang ibadah dan jemaat memasuki HadiratNya, atau dapat dikatakan Hadirat Allah/ Kuasa Allah memenuhi tempat itu dan Roh Allah bersatu dengan roh jemaat karena jemaat (penyembah-penyembah) menyembah Allah dengan roh dan kebenaran seperti dikatakan di dalam Yohanes 4 ayat 23.

Satu lagi, perlu kecermatan dalam memilih lagu-lagu pujian dan penyembahan yang akan dibawakan dalam suatu ibadah Kristiani. Lagu-lagu pujian dan penyembahan sebaiknya dipilih yang mempunyai syair (lyrics) yang dapat menguatkan iman.

Kesimpulan
Jemaat dari berbagai penjuru datang ke Rumah Tuhan (Bait Allah) dengan maksud selain untuk mendapatkan berkat (santapan rohani) berupa Firman Tuhan juga agar dapat memasuki Hadirat Tuhan. Banyak jemaat yang datang ke gereja karena haus ingin memuji dan menyembah Allah yang Kudus. Peran Worship Leader (WL) sangat penting, WL harus mengutamakan jemaat, membimbing jemaat, melayani dan membawa jemaat memasuki hadirat Tuhan. WL juga harus mampu memilihkan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang cocok sesuai karakter jemaat sehingga jemaat mampu memasuki Hadirat Tuhan dan Tuhan disenangkan.

Referensi
1. http://www.sabda.org/, diakses 21 Februari 2011.

2. http://www.bethanyatlanta.org/, diakses 21 Februari 2011.
3. http://worshipleaderonline.com/, diakses 21 Februari 2011.
4. ">http://www.youtube.com/, diakses 3 Juni 2011.
5. http://lembahpujian.com/song/lebih-indah-dari-permata_welyar-kauntu, diakses 3 Juni 2011.
Share

Comments   

 
0 #1 Gabriella Vania A 2014-06-20 11:13
aku besok mau pimpin pujian, berarti aku termasuk orang pilihan :-)

Yth Sdri Gabriella Vania A.,
Shalom,
Itu betul sekali
Tuhan Yesus memberkati kita
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de