Gambar 1. Pilih mana, jalur reguler yang ada di kiri dan kanan atau jalur Tol dalam kota yang ada di tengah?
(Foto oleh: infodokterku.com)

 

Di zaman milenium ini, arus pergerakan manusia yang cepat sudah menjadi kebutuhan (demand) utama masyarakat dunia terutama di kota-kota besar. Di berbagai belahan dunia semua orang bergerak cepat berkejar-kejaran dengan waktu yang juga semakin cepat. Namun apa yang terjadi dengan kondisi lalulintas di Jakarta? Sungguh sangat ironis, ketika zaman menuntut semua harus bergerak cepat, yang terjadi di jalan-jalan Jakarta justru sebaliknya yaitu perlambatan. Gerakan arus lalulintas (lalin) di Jakarta semakin hari semakin melambat saja, mana tahaaaan .....  Ini terjadi akibat satu persoalan serius, seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan yaitu Kemacetan Lalulintas. Sebenarnya apa saja faktor-faktor penyebab kemacetan lalulintas di Jakarta?

 

Sebelum menjabarkan lebih lanjut tentang faktor-faktor penyebab kemacetan lalin di Jakarta, penulis perlu mengingatkan satu hal, bahwa … "sampai kiamatpun" Jakarta tidak akan bisa bebas dari kemacetan lalulintas, kecuali (pasti ada kecualinya). Bebas macet bukan hal yang mustahil untuk dicapai ... kecuali pemerintah bisa membatasi jumlah mobil yang boleh berkeliaran di jalan-jalan ibukota, bekerja lebih fokus, penuh daya juang, serius, tidak setengah hati, dan mau melakukan koordinasi yang baik antara pusat, DKI Jakarta dan semua kota satelit untuk membangun sistem transportasi yang terintegrasi. Maaf kalau penulis meminjam istilah “sampai kiamat,” ini bukan kalimat hiperbola tetapi untuk menggambarkan bahwa masalah ini sangat sulit, yang disimpulkan berdasarkan analisis sederhana. Apa sebabnya sampai kiamat kemacetan lalin di Jakarta tidak akan bisa teratasi?

 

Penyerbuan ke Jakarta

Jawaban pertanyaan di atas sangat mudah. Setiap pagi terutama pada hari-hari kerja, jutaan warga dari 8 penjuru (bukan 8 penjuru angin lho) masuk "menyerbu" Jakarta, semuanya menaiki kendaraan, jarang yang berjalan kaki. Mereka berasal dari kota-kota satelit, pinggiran Jakarta, dan Jakarta sendiri, berbaur menjadi satu di dalam "urat-urat nadi" ibukota, yaitu dari:

1.   Depok dan sekitarnya

2.   Bogor dan sekitarnya

3.   Bekasi dan sekitarnya

4.   Cikarang dan sekitarnya

5.   Tangerang dan sekitarnya

6.   Provinsi Banten (selain Tangerang dan sekitarnya)

7.   Provinsi Jawa Barat (selain Bogor, Depok, Bekasi dan sekitarnya)

8.   Jakarta sendiri dan daerah pinggiran Jakarta

 

Untuk keperluan apakah warga dari 8 penjuru menyerbu Jakarta setiap pagi? Satu hal penting yang harus dikejar yaitu sumber nafkah (pekerjaan) mereka pada umumnya berada di Jakarta. Begitu pula pada sore hari, jutaan orang yang tadi pagi memasuki Jakarta, pada sore hari berbondong-bondong meninggalkan Jakarta, kembali ke 'habitatnya' masing-masing.

 

Tapi mengapa sampai ada kalimat “sampai kiamat Jakarta tidak akan bisa bebas macet?" Jelas, hal ini disebabkan karena:

  1. Kota-kota satelit Jakarta tidak akan pernah berhenti berkembang, dari waktu ke waktu akan semakin membesar seiring pertambahan jumlah penduduk di kawasan ini dan tingginya permintaan (demand) terhadap pemukiman.
  2. Properti dan lahan pekerjaan di ibukota meningkat dengan pesat.
  3. Pertambahan jumlah penduduk (dan urbanisasi) di Jakarta dan kota-kota satelit berkorelasi dengan perkembangan lahan-lahan pemukiman baru di kota-kota satelit dan peningkatan proses bisnis dengan akibat meningkatnya jumlah perjalanan di, dari dan ke ibukota.
  4. Di sisi lain, penyediaan angkutan publik di Jakarta dan kota-kota satelit tersendat perkembangannya dan tidak mengikuti demand.
  5. Pembatasan jumlah kendaraan pribadi yang boleh berkeliaran belum diterapkan secara optimal.

 

Adakah yang pernah menghitung berapa banyak jumlah pegawai negeri dan pegawai swasta dari luar Jakarta yang setiap hari harus berangkat ke (dan pulang dari) Jakarta? Dan adakah yang pernah menghitung berapa banyak jumlah warga dari luar Jakarta yang setiap hari melakukan proses bisnis di Jakarta?

 

Oo ... ternyata ada data. Menurut data bersumber dari studi Jabodetabek Public Transportation Policy Implementation Strategy, dalam Kompas, 10 Juni 2014, jumlah perjalanan yang masuk ke DKI Jakarta sebanyak 18,77 juta perjalanan per hari, jumlah perjalanan di dalam Jakarta sebanyak 6,96 juta perjalanan per hari. Dari jumlah tersebut, 98% diantaranya merupakan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Yang perlu digarisbawahi dari hasil studi ini adalah bahwa dari jutaan perjalanan setiap hari yang masuk ke Jakarta, ternyata 98% dilakukan menggunakan kendaraan pribadi. Jadi ... hanya 2% yang menggunakan angkutan umum!

 

Dalam kenyataannya, penyebab macet di Jakarta selain disebabkan oleh adanya "penyerbuan" warga dari 8 penjuru setiap harinya, juga diperparah oleh faktor-faktor lain yang akan disebutkan di bawah ini (silahkan baca terus artikel ini). Oleh karena itu tidak berlebihan apabila penulis mengatakan bahwa "Jakarta tidak akan pernah bisa bebas macet sampai kiamat-pun."

 

Transportasi Massal Tidak Memadai

Suatu kesalahan kaprah telah terjadi pada pengelolaan kota Jakarta yaitu sejak dini (mungkin sekitar tahun 1970-1990-an) tidak mempersiapkan sistem transportasi massal (beserta jaringannya) yang memadai dan terintegrasi dengan kota-kota satelit. Para pemimpin baru tersadar akan perlunya sistem transportasi massal setelah terjadi kemacetan parah dalam 10 tahun terakhir ini. Rencana pembangunan sistem transportasi massal di tengah kota Jakarta sudah pasti tidak akan memadai untuk mengatasi defisit transportasi akibat serbuan kendaraan dari kota-kota satelit. Mengapa demikian? karena 4 - 5 tahun yang akan datang ketika sistem transportasi massal baru saja rampung, pertambahan jumlah kendaraan di kota-kota satelit sudah jauh melesat dari perkiraan semula, melebihi ketersediaan sarana transportasi umum.

 

Oleh karena itu boleh disimpulkan bahwa keberhasilan Jakarta mengatasi kemacetan lalin sangat bergantung dari keberhasilan pemerintah DKI Jakarta berkoordinasi dengan pemerintah di kota-kota satelit untuk membuat jaringan transportasi massal yang terintegrasi (contoh bagus: sistem transportasi massal di kota-kota besar di Jepang). Saat ini jaringan transportasi massal yang menghubungkan Jakarta dengan Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi memang sudah ada tetapi masih sangat jauh dari kata ‘memadai.’

 

Kemacetan Lalin di mata Pemerintah Pusat

Kemacetan lalu lintas (dan banjir) merupakan masalah utama kota Jakarta dan sudah menjadi rahasia umum, banyak orang di seluruh dunia sudah tahu tentang hal tsb. Pada awal tahun 2011 Presiden SBY telah menegaskan bahwa Jakarta harus bebas dari kemacetan lalulintas pada tahun 2020 dan harus ada kemajuan yang signifikan pengurangan kemacetan di Jakarta pada tahun 2014. Telah banyak teori, jurus, dan rencana hingga aksi nyata diajukan para ahli, tokoh, ilmuwan dan Pejabat untuk mengatasi kemacetan di Jakarta, tetapi hingga detik ini kondisi lalu lintas di Jakarta tetap semrawut dan tingkat kemacetan semakin parah.

 

A. Pengertian Kemacetan Lalu Lintas

Menurut pendapat penulis, kemacetan lalu lintas (lalin) adalah suatu keadaan atau situasi yang terjadi di satu atau beberapa ruas/ruang lalu lintas jalan dimana arus kendaraan bergerak sangat lambat tidak semestinya hingga stagnan sehingga menyebabkan terganggunya aktifitas dan pergerakan pemakai jalan.

 

Jenis-jenis Kemacetan Lalulintas

Ada beberapa jenis dan tingkatan (gradasi) kemacetan lalulintas antara lain: kekacauan lalin, lalulintas semrawut, macet total, kemacetan parah, macet sedang dan macet ringan. Kemacetan di satu titik yang dianggap tidak strategis, tetapi bila tidak segera diatasi maka akan mudah merembet/menjalar ke banyak ruas jalan lain dalam lingkup yang luas. Petugas lalulintas yang baik akan dapat menilai dan mengantisipasi jenis-jenis kemacetan kecil yang seringkali berpotensi menjalar dalam skala yang lebih luas. Kita singgung 2 kondisi lalulintas yang cukup aneh yaitu "kekacauan lalulintas" dan "kesemrawutan lalulintas."

 

Kekacauan Lalu Lintas

Kekacauan Lalu Lintas adalah suatu kondisi kemacetan lalu lintas yang tergolong jenis paling parah yang ditandai dengan terkuncinya pergerakan semua jenis kendaraan (termasuk gerobak dorong) di suatu atau beberapa ruas jalan. Kekacauan lalulintas dalam skala besar jarang terjadi, hanya terjadi akibat peristiwa khusus, misal: akibat matinya aliran listrik secara serentak di lima wilayah ibukota atau disebabkan adanya demonstrasi (unjuk rasa) besar-besaran secara serentak di jalan-jalan strategis. Ketika kekacauan lalulintas terjadi, berbagai jenis kendaraan tumplek jadi satu di tempat kejadian, dapat dikatakan semua kendaraan tidak bisa maju atau mundur karena jalurnya terkunci bahkan sampai-sampai pejalan kaki pun sulit lewat. Peristiwa kekacauan lalulintas sering menyebabkan kegeraman dan memuncaknya emosi para pengguna jalan.

 

Kesemrawutan Lalu Lintas

Ada lagi satu bentuk kemacetan yang disebut lalulintas semrawut atau 'kesemrawutan lalulintas' yaitu suatu jenis kemacetan lalulintas yang ditandai dengan pergerakan arus lalulintas yang relatif tidak searah, terdiri dari berbagai jenis kendaraan dan terkesan semrawut. Kesemrawutan lalulintas disebabkan adanya berbagai jenis kendaraan dan manusia yang tidak disiplin, tumplek di suatu ruas jalan, biasanya disana ada aktivitas jual beli dan pemanfaatan trotoar dan badan jalan bukan untuk keperluan yang semestinya, misalnya pasar, perparkiran, dan kaki lima. Lalu lintas yang semrawut banyak terjadi di pinggiran Jakarta, kondisi ini bisa bikin geleng-geleng kepala orang asing yang tidak terbiasa, tetapi bagi penduduk lokal, ah biasa ... tidak perlu didiskusikan. Ketidakdisiplinan pemakai jalan, saling serobot, ditambah tidak adanya (tidak berfingsinya) petugas pengatur lalulintas sering menambah semrawutnya lalulintas. Pada kondisi lalin semrawut, biasanya kendaraan masih dapat bergerak lambat.

 

Contoh kesemrawutan lalin: Lalulintas di sekitar Pasar Tanah Abang, Jakarta. Setelah "dibersihkan" oleh Wagub DKI Jakarta pada bulan Juli - Agustus 2013, maka lalulintas menjadi tertib namun hanya bertahan  2 - 3 bulan saja. Pada saat ini kondisi lalu lintas di sekitar Pasar Tanah Abang sudah menjadi semrawut kembali, banyak PKL baru nongol di badan jalan dan mobil-mobil angkot (mikrolet) menjadikan kawasan ini sebagai terminal bayangan yang menyebabkan kemacetan berkepanjangan.

 

Kemacetan Parah

Kemacetan Parah atau kemacetan luar biasa adalah satu jenis kemacetan lalulintas dimana arus kendaraan bergerak sangat lambat. Secara hierarki, kemacetan parah merupakan "adiknya" kekacauan lalulintas. Jenis kemacetan ini sering terjadi di daerah pinggiran Jakarta terutama pada jam-jam berangkat dan pulang kantor (pagi dan sore hari), dan biasanya terjadi di persimpangan jalan-jalan yang tidak dilengkapi lampu pengatur lalu lintas dan tidak ada petugas pengatur lalulintas.  Penyebab Kemacetan Parah biasanya karena pengguna jalan tidak disiplin, saling serobot, arogan, melanggar peraturan lalulintas, bersikap tidak peduli, jalan raya difungsikan untuk tujuan lain seperti perparkiran, perdagangan, bongkar muat barang, pasar, terminal bayangan (tempat mangkal dan ngetem angkutan umum dan ojek). Kemacetan parah biasanya diperparah dengan tidak adanya atau tidak berfungsinya lampu pengatur lalulintas dan petugas lalulintas.

 

Tapi ada juga kemacetan luar biasa yang terjadi di tengah kota, contohnya: kemacetan di Jalan Gatot Soebroto dari arah cawang ke arah Semanggi setiap sore hari yang terjadi akibat banyaknya 'kotak besar berjalan' yang ingin memasuki jalan tol dalam kota melalui Pintu Tol Semanggi. Kemacetan yang terjadi disini akibat adanya fenomena bottleneck.  

 

Kemacetan Parah biasanya ditandai oleh sedikitnya tiga tanda/sifat/karakteristik yaitu:

1.Ada penyebab yang jelas, misal: terminal bayangan, pasar kaget, KLL, bottleneck phenomenon.
2.
Mudah menjalar/merembet ke ruang jalan lain.
3.
Tidak ada petugas lalulintas yang mengatur.

 

Kemacetan parah selalu dimulai dalam skala kecil (lokal) namun penyebabnya seringkali sulit diurai/ditanggulangi sehingga mudah menjalar dalam skala yang lebih luas bila tidak segera diatasi dan dalam waktu singkat menjalar ke banyak ruas jalan di sekitarnya. Untuk mengurai kemacetan parah, diperlukan orang-orang/petugas dengan kemampuan khusus. Selain itu, kemacetan parah akan semakin parah apabila dibarengi dengan turunnya hujan lebat yang mengakibatkan banyaknya genangan air sampai banjir di jalan raya. Pada saat ketiga hal tsb (kemacetan parah, hujan lebat dan banjir) terjadi bersamaan, maka jalan raya akan terasa seperti layaknya "neraka" bagi para pengendara.

B. Waktu dan asal kemacetan lalulintas di Jakarta

Bagi warga Jakarta, seolah tiada hari tanpa lalu lintas macet, kecuali pada hari-hari libur besar dan di waktu tengah malam sampai dini hari. Warga Jakarta dan sekitarnya sudah terlalu sering (sampai bosan) mengalami betapa besarnya perjuangan untuk mencapai tempat kerja apabila keluar rumah lewat pukul 7 pagi karena kemacetan lalulintas telah dimulai sejak pukul 7 pagi, puncaknya pada jam jam masuk dan keluar kantor bahkan hingga pukul 9-10 malam di beberapa ruas jalan tertentu. Kemacetan lalulintas ibarat penyakit kanker yang menggerogoti tubuh ibukota Jakarta.

 

Mengapa kemacetan lalu lintas di Jakarta senantiasa terjadi pada jam jam yang disebutkan di atas? Seperti sudah dijelaskan di bagian atas, yaitu adanya aktifitas warga Jakarta sendiri berbaur dengan warga dari luar Jakarta untuk mencari nafkah, berangkat ke sekolah dan lain-lain. Setiap pagi Jakarta “diserbu”oleh jutaan warga dari kota-kota satelit yang mengais rezeki di Jakarta, baik sebagai karyawan pemerintah dan swasta, keperluan keluarga, dsb.  Pada siang hari, kendaraan dari Jakarta berbaur dengan kendaraan dari luar Jakarta bersirkulasi untuk aneka keperluan. Ada yang sekedar melewati (misalnya dari Tangerang menuju Bekasi akan melewati Jakarta), tapi banyak juga yang memasuki Jakarta dan berdiam beberapa jam atau berkeliaran (hewan kalee? ... berkeliaran ...) selama beberapa jam sebelum kembali ke kota-kota satelit pada sore hari. Dan pada malam hari, milik orang-orang yang terlambat pulang dari aktifitasnya dan orang-orang yang baru memulai aktifitas, misalnya rekreasi malam, wisata kuliner, kuliah malam, dan tugas malam. Mangkanya, operasional bus TransJakarta (ditambah Bus Trans Jabodetabek) pada malam hingga pagi hari sangat diperlukan warga. Kalau ada orang yang meragukan perlunya bus TransJakarta malam, berarti dia tidak pernah naik angkutan umum pada malam hari atau sangat boleh jadi dia tipe orang yang tidak peduli pada kesulitan orang lain.

 

C. Dampak Kemacetan Lalu Lintas

Kemacetan lalin sudah pasti akan menimbulkan kerugian, namun saking banyak variabel dan kemungkinannya, belum pernah (dan tidak akan pernah) ada yang dapat menghitung secara tepat jumlah kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan lalulintas. Menurut pakar lingkungan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Dr Firdaus Ali, MSc (tahun 2009), diperkirakan akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta, warga dan pemerintah mengalami kerugian yang jumlahnya mencapai sekitar Rp 28 triliun per tahun. Dampak negatif akibat kemacetan lalu lintas yang dapat dirasakan langsung atau tidak langsung, yaitu:

  • Kerugian ekonomi karena boros bahan bakar (BBM). Pada saat kemacetan, sejumlah besar BBM "dibakar" di tengah jalan oleh kendaraan secara cuma-cuma. 
  • Krisis Energi. Para pakar memperkirakan ("meramalkan") bahwa Indonesia akan mengalami krisis energi pada tahun 2025. Kita semua tahu salah satu kontributor terbesar bagi krisis energi adalah pemakaian BBM pada mobil.
  • Terganggunya jadwal bisnis dan kegiatan keluarga dengan segala macam dampak yang mengikutinya.
  • Kerugian waktu yang berdampak pada kerugian ekonomi.
  • Stress dan kelelahan dengan segala akibatnya, seperti mudah tersinggung, mudah marah, kesalahan pengambilan keputusan dan turunnya produktivitas.
  • Penurunan kualitas udara di Jakarta akibat meningkatnya kadar zat-zat pencemar utama yang berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor dengan rentetan dampak lainnya seperti penyakit dan berkontribusi pada terjadinya pemanasan global dan perubahan cuaca (climate change) dengan akibat lebih lanjut akan mempercepat pencairan es abadi di kedua kutub, puncak-puncak gunung bersalju dan pegunungan himalaya, selanjutnya terjadi peninggian permukaan air laut di seluruh dunia --> kota-kota yang berlokasi di tepi pantai mudah terkena banjir
  • Lesunya dunia pariwisata Jakarta.
  • dan masih banyak lagi kerugian lain yang tak dapat disebutkan satu-persatu.

 

Dampak positif kemacetan lalu lintas:

Bila ada dampak negatif, tentu ada dampak positifnya walaupun sangat sedikit. Beberapa dampak positif kemacetan lalu lintas antara lain:

  • Menurunnya angka kefatalan akibat kecelakaan lalu lintas. Logikanya, kalau arus kendaraan berjalan sangat perlahan maka kejadian kecelakaan yang berakibat fatal akan menurun. Angka kecelakaan lalin di daerah kemacetan mungkin tetap tinggi tetapi kecelakaan tsb biasanya tidak berakibat fatal (kematian). Dampak ini masih perlu diteliti, adakah korelasi antara tingginya kejadian kemacetan lalulintas dan menurunnya angka kecelakaan lalulintas yang berakibat fatal?
  • Ajang berbisnis para pedagang kaki lima, pengemis dan pengamen serta kesempatan mencari penumpang bagi angkutan umum ketika jalan macet.
  • Kemacetan lalu lintas dapat dijadikan alasan yang paling masuk akal untuk terlambat masuk kantor, keterlambatan datang untuk memenuhi janji pada mitra bisnis (kolega), keluarga atau pacar.

 

D. Faktor faktor Penyebab Kemacetan Lalu Lintas
         Secara teori, banyak faktor yang dapat menyebabkan kemacetan lalu lintas. Berdasarkan sumbernya, kemacetan lalu lintas disebabkan oleh 3 faktor utama yaitu:
1.
Faktor jalan raya (ruang lalu lintas jalan)
2. Faktor kendaraan
3. Faktor manusia (pemakai jalan)

 

Sebelum membahas ketiga faktor tersebut, kita perlu memahami beberapa istilah penting yang terkait erat dengan kemacetan lalulintas, yaitu:

  1. Overload atau kelebihan beban adalah suatu kondisi dimana volume (gabungan) kendaraan yang melintas melebihi daya tampung (kapasitas) ruang jalan.
  2. Bottleneck phenomenon atau fenomena leher botol adalah suatu kondisi dimana ruang jalan tertutup sebagian sehingga menyempit dan menyebabkan kemacetan lalulintas berkepanjangan.


ad. 1. Faktor Jalan Raya (ruang lalu lintas jalan)
          Faktor jalan raya adalah faktor-faktor penyebab kemacetan lalulintas yang disebabkan situasi dan kondisi jalan. Yang termasuk faktor jalan raya antara lain: kurangnya kapasitas ruang jalan dibandingkan jumlah kendaraan yang melintas (dengan kata lain: terjadi overload jalan), buruknya kondisi ruang lalu lintas jalan, dan pemanfaatan yang salah terhadap ruang jalan.
 

          Terbatasnya daya tampung (kapasitas) ruang lalu lintas jalan berkorelasi dengan tingginya volume kendaraan yang beredar. Buruknya kondisi ruang jalan disebabkan antara lain: adanya kerusakan infrastruktur jalan (misal: banyak lubang), ada bagian ruang jalan yang tidak dapat dipakai (misal karena ada demonstrasi/unjuk rasa, penggunaan badan jalan sebagai lahan parkir rumah makan, bengkel, praktik pasar, bongkar muat barang, pesta, perbaikan jalan, ada kereta lewat, ada kecelakaan lalu lintas (KLL atau lakalantas), unjuk rasa (demonstrasi), kerusuhan, faktor cuaca (hujan deras dan banjir), dan kesalahan tata ruang jalan (misal: tempat berputar/berbalik arah terlalu jauh, hanya satu-satunya dan tidak ada alternatif lain). Pemanfaatan yang keliru dari ruang jalan menyebabkan masyarakat dirugikan demi keuntungan segelintir orang, misalnya: perparkiran umum, pintu mall di tepi jalan, tidak ada lampu pengatur lalulintas di persimpangan jalan atau ada lampu pengatur lalulintas tetapi tidak berfungsi.
 

Fakta Jalur "Bus Way" (Bus Transjakarta)
          Salah satu isu kemacetan di Jakarta yang sering terlontar dari pengguna jalan adalah penggunaan jalur bus TransJakarta (bus way) menyebabkan kemacetan bertambah parah. Ada beberapa fakta tentang jalur bus Trans Jakarta (bus way): 

  • Sekelompok masyarakat terpuaskan dengan beroperasinya bus transjakarta tetapi kelompok lainnya merasa terkorbankan.
  • Banyak pihak menuding bus Transjakarta sebagai salah satu kontributor kemacetan terbesar di Jakarta. Satu realita yang tak dapat dibantah, salah satu penyebab berkurangnya lahan/ruang jalan raya di Jakarta yang memang sudah terbatas adalah pemakaian sebagian ruang jalan (terutama jalan-jalan protokol) sebagai jalur bus Transjakarta (bus way).
  • Jumlah armada bus Transjakarta masih belum mencukupi kebutuhan. Walau tidak dihitung, sangat nyata terlihat terutama pada jam pergi dan pulang kantor, banyak penumpang berdiri berdesak-desakkan di dalam bus Transjakarta dan di banyak halte terlihat penumpang menyemut antri berdesakan menunggu Bus Trans-Jakarta. Ketika kemacetan parah terjadi di jalur reguler (jalan non tol), sedangkan jalur 'khusus' bus way nampak lengang seolah tidak termanfaatkan dan hanya sesekali bus Transjakarta terlihat meluncur di jalurnya, hal ini dapat menimbulkan berbagai tanda tanya, praduga dan kegeraman dari pemakai jalur non tol.
  • Bila jumlah armada bus Trans Jakarta tidak segera ditingkatkan, sangat sulit untuk meyakinkan orang bahwa keberadaan bus way dapat mengatasi kemacetan lalulintas.
  • Sudah terlalu sering media massa melansir berita tentang kecelakaan yang berhubungan dengan bus way, walaupun sebagian besar kecelakaan tersebut bukan diakibatkan kesalahan pengemudi bus TransJakarta. Kecelakaan di dalam area bus way nampaknya terkait erat dengan keberadaan separator bus way yang sangat minim sehingga mudah diterobos dan dimasuki kendaraan lain dan manusia.
  • Sebagian besar separator bus way secara fisik tidak permanen, memiliki tinggi 10-15 cm, tidak jelas terlihat oleh pemakai jalan lain terutama pada malam hari sehingga sering mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalulintas yang berakibat fatal. Bagi masyarakat, separator yang 'malu-malu kucing' mengindikasikan (dapat saja diartikan) sebagai: ketidakseriusan, ketidakpedulian, arogansi, proyek ujicoba dan transisi, sementara, kurang dana, asal, atau memang sengaja dibuat tidak permanen karena kesinambungannya tidak terjamin.
  • Hal hal yang membuat nilai tambah bus TransJakarta adalah: bus ini sangat pro kepada masyarakat golongan 'lemah' misalnya kaum perempuan dan lanjut usia (lansia). Kelompok lemah dan kaum perempuan pelanggan angkutan umum boleh bernafas lega ketika berada di dalam Bus TransJakarta karena bus ini merupakan satu-satunya moda angkutan umum bus yang boleh dikatakan jauh lebih aman dibandingkan jenis angkutan bus lainnya. TransJakarta tidak terjamah/terpapar perokok, pengamen jalanan, pemeras berkedok pengamen, perampas, pencopet, pencoleng, pelaku kekerasan, pemerkosa dan para pengecut lainnya. Walaupun berdesakan ada nilai prestise bagi penumpangnya, ada rasa aman dan dapat merasakan manfaat langsung pelayanan pemerintah daerah.
  • Bus TransJakarta dapat kehilangan pamor apabila pelayanannya bermutu rendah. Penyebab pelayanannya bermutu rendah karena jumlah armadanya minim, terkena kemacetan lalulintas karena jalurnya tidak steril dan selalu dimasuki kendaraan lain. Pengalaman penulis, pada sore dan malam hari (antara pk. 18 - 20) bus TransJakarta memerlukan waktu 1 jam dari Cawang sampai Semanggi, dan dari semanggi sampai Grogol perlu waktu 45-60 menit. Demikian pula arah sebaliknya, pernah penulis terjebak kemacetan ketika menumpang Bus TransJakarta dari Slipi Jaya sampai Cawang yang memerlukan waktu satu setengah jam. Aneh, padahal seharusnya Bus Trans Jakarta bebas dari kemacetan. Bila terus-menerus seperti ini, maka masyarakat yang akan enggan beralih ke Trans Jakarta. 

 

ad. 2. Faktor Kendaraan
          Faktor kendaraan adalah faktor-faktor penyebab yang bersumber dari kondisi kendaraan yang melintas di jalan. Yang termasuk faktor kendaraan antara lain: ukuran, jenis, kuantitas (jumlah), dan kualitas kendaraan yang melintas termasuk transportasi/angkutan massal. Ukuran, jenis, kuantitas dan kualitas kendaraan yang melintas memengaruhi pemakaian ruang jalan. Ukuran, jenis, kuantitas dan kualitas kendaraan yang melintas berpengaruh terhadap terjadinya kemacetan. Contoh kasus: semakin banyak jenis kendaraan berukuran besar (bongsor) yang melintas maka semakin mudah terjadi overload di suatu ruas jalan.

 

Seberapa besar kontribusi jenis kendaraan dalam menimbulkan kemacetan di jakarta? Telah dilakukan jajak pendapat umum yang walaupun hasil dan metodenya masih dapat diperdebatkan tetapi setidaknya masih bisa menggambarkan asumsi masyarakat. Menurut hasil jajak pendapat pada infodokterku.com yang dilakukan pada September 2010 sampai Februari 2011, dengan pertanyaan "Menurut pendapat Anda, jenis kendaraan apa yang punya kontribusi paling besar dalam menimbulkan kemacetan di jalan-jalan Ibukota (Jakarta)?" Hasilnya per tanggal 28 Februari 2011, berturut-turut: 57,3% responden menjawab mobil, 26,7% menjawab angkutan umum dan 16% menjawab sepeda motor, yang punya kontribusi paling besar dalam menimbulkan kemacetan lalu lintas di Jakarta. 

          Berdasarkan hasil jajak pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa mobil merupakan kontributor terbesar penyebab kemacetan lalu lintas di Jakarta, diikuti angkutan umum dan sepeda motor sebagai kontributor terbesar kedua dan ketiga. Hal ini dapat dimengerti karena mobil alias "Si Kotak Besar Berjalan" tersebut memiliki ukuran (body size) yang besar dan telah terjadi peningkatan populasi yang sangat pesat dalam tempo singkat. Penggunaan mobil yang tidak efisien sangat menyita ruang jalan yang memang sudah sangat terbatas. Disebabkan kondisi kodratnya (ukuran panjang dan lebar), sebuah mobil yang mogok, parkir dan bermanuver sudah dapat menyebabkan fenomena "bottleneck" yang menyebabkan kemacetan jalan. Bukti paling jelas bahwa mobil jadi sumber kemacetan yang utama adalah kemacetan yang sering terjadi di jalan tol karena jalan Tol hanya diisi kendaraan jenis mobil, tidak ada sepeda motor.

          Yang dimaksud  penggunaan mobil yang tidak efisien adalah jumlah penumpang (termasuk pengemudi) berjumlah kurang dari 3 orang di dalam satu mobil pribadi. Contoh, penulis sering mengamati betapa banyak (walaupun tidak dihitung) mobil yang berpenghuni hanya 1 orang yaitu sopir saja tanpa penumpang. Acapkali pula penulis memergoki para 'Eksekutif muda" sedang mengendarai mobil seorang diri ditengah kemacetan lalulintas di Jakarta dan mobilnya berbadan lebar (bongsor) pula. Di dalam hati penulis berkata, "aih ... betapa boros tempat dan boros energi .... mengapa hal seperti ini 'didiamkan' saja??" (Maaf, penulis tidak bermaksud mendiskreditkan para Eksekutif muda, hanya menghimbau agar menggunakan mobil secara efisien.)

          Sangat mudah untuk membuktikan bahwa pemakaian mobil pribadi di Jakarta sangat tidak efisien (inefisiensi). Penerapan Three in one di Jakarta dapat dijadikan alat ukur yang cukup valid untuk membuktikan betapa penggunaan mobil pribadi di Jakarta sangat tidak efisien. Lihat saja pada saat berlaku 3 in 1 di Jalan Gatot Subroto mulai pukul 4 sore setiap hari kerja, maka banyak mobil pribadi menghindari jalan non tol yang terkena aturan 3 in 1 sehingga tiba-tiba jalan non tol menjadi 'sepi' dari mobil pribadi, sebaliknya jalan tol dalam kota menjadi sangat padat, merayap sampai macet. Pengemudi mobil pribadi lebih memilih menggunakan jalan tol walaupun harus membayar dan masuk melalui antrean panjang untuk kemudian mengalami kemacetan di jalur tol dalam kota.

 

          Kata orang, kegagahan "Si Kotak Besar Berjalan" kurang nampak di ibukota, malahan ia sering menjadi bahan cemoohan, umpatan, dan gunjingan ketika terjadi kemacetan parah yang menjurus stagnan di suatu ruas jalan di dalam kota. Kegagahan "si kotak besar berjalan" baru nampak manakala dia sedang berlari di jalan tol luar kota.

ad. 3. Faktor manusia
          Faktor manusia adalah faktor-faktor penyebab kemacetan yang bersumber dari manusia selaku pemakai jalan, termasuk petugas, penyedia (provider) dan pengambil kebijakan. Perilaku pengguna di jalan jadi salah satu faktor terpenting penyebab kemacetan lalu lintas. Perilaku pengguna jalan sangat mencerminkan sikap mental dan karakter suatu bangsa. Yang juga termasuk faktor manusia antara lain: penerapan yang keliru terhadap kebijakan dan undang-undang lalu lintas angkutan jalan, supir angkutan umum yang menganggap bahwa berhenti atau ngetem berlama-lama adalah hal yang biasa, petugas pengatur lalu lintas membiarkan pelanggaran lalulintas, kurangnya jumlah petugas pengatur lalu lintas, praktik pedagang kakilima, berkendara melawan arus dan berbagai praktek mafia jalanan yang membuat pemakai jalan lain dirugikan.

 

         Berbagai hal menyangkut  pengguna jalan antara lain: mental, karakter, sikap, perilaku dan kebiasaan (behavior and habit) buruk ketika menggunakan jalan raya sering menyebabkan kemacetan lalu lintas bahkan membahayakan pihak lain, misal: sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri, tidak mau mengalah, saling serobot, congkak, arogan, tidak mengetahui atau tidak mau peduli bahwa gerakan (manuver)-nya mengganggu bahkan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain. Banyak pula pengguna jalan yang berprinsip bahwa kecerobohannya bukan merupakan tanggung jawabnya melainkan menjadi tanggung jawab pihak lain, menganggap pengguna jalan lain sebagai musuh, dan pelanggaran lalulintas dianggap sebagai hal yang lumrah, biasa dan tidak memalukan.

 

           Salah satu penyebab kemacetan terpenting adalah sikap "menghindari konflik" di jalan. Sikap menghindari konflik di jalan sudah jadi budaya para pemakai jalan di Indonesia. Sikap ini berkontribusi pada kemacetan berkepanjangan. Contoh, terjadi kemacetan panjang di suatu alur jalan yang diketahui ternyata 'hanya' disebabkan adanya seekor angkutan umum yang sedang "ngetem" di pinggir jalan sehingga menyebabkan efek bottleneck. Namun apa yang dilakukan para pengendara yang lewat disana? hanya melirik sambil lewat begitu saja seolah tak acuh. Tidak ada seorangpun yang berani menegur sang supir angkutan umum yang membuat macet berkepanjangan tsb, oleh karena itu supir angkutan umum menganggap perilakunya sebagai suatu kebenaran yang layak untuk dipertahankan dan diulangi dimana-mana. Ini terjadi akibat sikap "menghindari konflik." Seandainya saja ada banyak orang yang berani menegur atau polisi bertindak, tentu sang supir angkutan umum tidak akan ngetem berlama-lama disana.

           Ada juga jenis kemacetan lalulintas yang sengaja dibikin orang untuk menangguk keuntungan, misalnya kemacetan di beberapa persimpangan strategis yang sengaja dikondisikan oleh beberapa oknum 'preman jalanan atau pak ogah' agar ada alasan untuk 'berpraktik.' Ada orang yang memblokir jalan untuk tujuan minta uang, unjuk rasa (demonstrasi), bahkan untuk tujuan kriminal.

 

Pertambahan Jumlah Penduduk

           Faktor lain yang juga sangat menentukan yaitu pertambahan jumlah penduduk yang signifikan. Pertambahan penduduk yang pesat di DKI Jakarta disebabkan kurang optimalnya pembatasan jumlah penduduk. Tingginya angka kelahiran karena kurang optimalnya program Keluarga Berencana, serta tingginya jumlah penduduk pendatang atau urbanisasi. Tingginya jumlah penduduk menyebabkan tinggi pula proses bisnis, tingginya proses bisnis menyebabkan tinggi pula keperluan akan transportasi. Akan tetapi sayangnya tingginya keperluan akan transportasi tidak didukung oleh sarana dan infrastruktur transportasi yang memadai.

 

           Tentang jumlah penduduk, berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi penduduk Provinsi DKI Jakarta didominasi oleh kelompok usia muda (15-19 tahun, 20-24 tahun, 25-29 tahun, 30-34 tahun, 35-39 tahun dan 40-44 tahun), ditunjukkan oleh cembungnya gambaran populasi kelompok usia muda (lihat grafik piramida penduduk di bawah ini). Apa hubungannya dengan kemacetan lalulintas? Kelompok usia muda merupakan kelompok orang-orang yang dinamis, banyak melakukan pergerakan keluar rumah, oleh karena itu mereka memerlukan sarana transportasi yang memadai. Pada umumnya orang-orang muda lebih suka membawa kendaraan sendiri bila memungkinkan (maksudnya, bila punya uang maka tidak ada alasan untuk tidak memiliki kendaraan sendiri). Tingginya kelompok usia muda bisa juga disebabkan tingginya pendatang usia muda dari luar kota yang bermukim di DKI Jakarta dan kota-kota satelit Jakarta. Ini baru gambaran penduduk di Jakarta, belum lagi bila kita membahas komposisi penduduk di kota-kota satelit (Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Dominansi kelompok usia yang manakah yang terjadi di kota-kota satelit tsb?

 

Grafik Pramida Penduduk Provinsi DKI Jakarta tahun 2010.            

Sumber: Badan Pusat Statistik, Hasil Sensus Penduduk, 2010.

 

           Bila kita simak lebih teliti lagi pada grafik piramida peduduk DKI Jakarta, nampak ternyata kelompok usia 0-4 tahun, 5-9 tahun, 10-14 tahun dan 15-19 tahun merupakan kelompok yang tinggi jumlahnya. Apa artinya? Artinya kita dapat mengasumsikan bahwa ini merupakan efek dari kegagalan program Keluarga Berencana (KB) di DKI Jakarta (kemungkinan juga di provinsi lain) selama 2 dekade terakhir.


E. Alternatif Pemecahan Masalah
        Untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas di Jakarta, tidak dapat dicapai dengan cara-cara yang 'biasa', harus dilakukan upaya-upaya (intervensi) terobosan yang 'tidak biasa' dan perlu upaya yang (maaf) 'berbau kegilaan.' Agar tingkat kemacetan di Jakarta dapat direduksi secara signifikan, maka upaya-upaya terobosan ini harus dilakukan secara sungguh-sungguh (serius, menyeluruh, tidak setengah-setengah), tidak pilih bulu, tegas dan berani walau berisiko mendapat banyak tantangan dan pertentangan.

 

Upaya-upaya (intervensi) untuk mengatasi kemacetan lalulintas harus berprinsip untuk: mengurangi beban jalan, menambah kapasitas (daya tampung) ruang jalan, dan mengatur/memperlancar aliran lalulintas di ruang jalan. Upaya-upaya intervensi yang disusun berdasarkan faktor-faktor penyebab kemacetan ini sebagian besar akan berkonsekwensi/memerlukan adanya perubahan kebijakan (perda) tentang transportasi (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan). Berikut ini upaya-upaya yang dapat dilakukan.

Add comment


Security code
Refresh