User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Sejarah telah membuktikan bahwa pendidikan merupakan alat yang sangat penting yang dapat mengubah 'nasib' suatu bangsa. Pendidikan merupakan elemen yang teramat penting dalam kehidupan manusia. Bila sistem pendidikan dan sistem pengajaran dilakukan secara benar maka hasil yang didapat akan seperti yang kita harapkan, namun sebaliknya bila sistemnya  'keliru' maka akan keliru pula hasilnya. Atas dasar ini, penulis menganggap penting untuk membagikan isu mengenai kekeliruan sistem pengajaran di negara-negara Asia. Artikel ini dikutip dari isi Email yang diterima penulis dari seorang teman yang tinggal di Singapura. Penulis berharap hal ini dapat menjadi bahan pemikiran dan syukur bila dapat mengubah paradigma para Pengambil Kebijakan dan Pengambil Keputusan Pelaksanaan. Akhirnya, penulis mengharapkan terjadinya perubahan mendasar dalam sistem dan metode pengajaran di Indonesia sehingga diharapkan generasi bangsa Indonesia mendatang lebih berkualitas dan tangguh daripada generasi sekarang.


Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi best seller (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang, antara lain: 

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

 

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir dan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk Perguruan Tinggi, dll semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan menghafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, oleh karena itu rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah, di dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.


Di dalam bukunya, Prof. Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tetapi benar benar menguasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan ... sebagai orang tua kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi.

Kesimpulan
Meski dalam bukunya ini Prof. Ng Aik Kwang mengupas salah satu sisi dalam sistem pendidikan bangsa-bangsa di Asia dan tidak menyinggung Indonesia, kita memaklumi bahwa tidak semua bangsa di Asia kurang memiliki kreatifitas. Belakangan terbukti bahwa beberapa bangsa di Asia memiliki kreatifitas tinggi, sebut saja contoh bangsa Jepang dan China. Maka ada kemungkinan tulisan tersebut salah satunya ditujukan kepada bangsa kita.

Sumber
Tulisan ini merupakan Email bersumber from forward to forward yang merupakan kutipan dari buku:“Why Asians Are Less Creative Than Westerners” yang ditulis oleh Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland.

Add comment


Security code
Refresh