Para pembaca suatu waktu pasti pernah merasakan sulitnya memeroleh/mencari uang kecil (receh) di negara kita, Indonesia. Uang pecahan Rp. 50.000 dan Rp. 100.000 masih dianggap "SANGAT BESAR" sehingga masyarakat seolah-olah "alergi" terhadap pecahan besar tsb. Contohnya, bila kita berbelanja di pasar tradisional terutama pada pagi hari, misalnya nilai belanja sebesar Rp. 10.000 kemudian membayar dengan uang pecahan 100.000 rupiah atau 50.000 rupiah, hampir dipastikan penjualnya akan terkejut sambil berkata "besar amat uangnya mbak." Jawaban lain yang sering kita dapat adalah "pakai uang kecil saja mas" atau "Wah, baru keluar nih bu" atau "pakai uang pas saja pak." Kalau belanja di super market, begitu kasir melihat "uang besar" dia malah mengatur dan minta "sepuluh ribuan aja pak" dan terpaksa kita mengeluarkan uang 'kecil' milik kita yang tadinya sengaja disimpan. Tentu ilustrasi di atas tidak selalu terjadi dan tidak bisa digeneralisasi, tapi hanya untuk menggambarkan betapa sebenarnya Indonesia mengalami krisis uang receh. Tidak semua daerah mengalami krisis uang receh, krisis ini lebih sering terjadi terutama di kota-kota besar. Inilah beberapa penyebab Indonesia mengalami kesulitan mencari uang kecil (receh).

 

 

Penyebab Sulitnya Mencari Uang Keci/Receh di Indonesia

Walaupun tidak semua daerah mengalami kesulitan (langka) uang receh tetapi paling tidak hal ini terjadi di daerah perkotaan. Bukti bahwa Indonesia mengalami krisis uang receh, yang paling mudah terlihat adalah beroperasinya kegiatan penukaran uang receh pada setiap menjelang lebaran.

 

Inilah beberapa penyebab utama mengapa Indonesia mengalami krisis uang kecil/receh:

  1. Indonesia sebenarnya tidak memiliki pecahan mata uang rupiah dengan nominal "tinggi." Pecahan mata uang rupiah yang paling tinggi nilainya saat ini yaitu pecahan Rp. 100.000 sebenarnya tergolong jenis uang receh, tapi karena nilainya paling tinggi maka masyarakat menganggap atau "mengira" nilai 100.000 rupiah ini "sangat tinggi" padahal tidak demikian. Uang Rp. 100.000 sebenarnya bukan "uang besar" tetapi termasuk uang receh juga. Buktinya? Bisa kita bandingkan dengan nilai pecahan mata uang di beberapa negara Asean, berapa nilai tertinggi mereka? Sebagai contoh, mata uang Thailand yaitu Thai Baht (THB) punya nilai pecahan tertinggi sebesar 1000 Baht yang setara dengan Rp. 366.000 (bila dikurs menurut Kurs Transaksi Bank Indonesia per 1 November 2013 ketika artikel ini ditulis). Juga mata uang Malaysia yaitu Ringgit Malaysia (MYR) punya nilai pecahan tertinggi sebesar 1000 Ringgit yang setara dengan Rp. 3.595.000, mata uang Singapore yaitu Dollar Singapore (SGD) punya nilai pecahan tertinggi sebesar 10.000 Dollars yang setara dengan Rp. 9.186.000. (Kalau ada kesalahan hitung, tolong memberitahu penulis)
  2. Harga-harga kebutuhan melangit/naik. Di satu sisi, penjual masih "alergi" terhadap pecahan uang 50.000 dan 100.000 rupiah yang masih dianggap sangat tinggi nilainya, yang menyebabkan pembeli masih "enggan" atau "malu-malu" untuk mengeluarkan pecahan 50.000 dan 100.000 miliknya sehingga dengan "terpaksa" memakai uang recehnya. Di sisi lain, harga-harga sudah menjulang sehingga uang receh tidak sempat mampir berlama-lama di dompet karena cepat terpakai.
  3. Upah Minimum masih sangat minim sehingga penghasilan masyarakat masih rendah, pecahan 100.000 dan 50.000 rupiah yang dianggap uang besar masih dianggap sangat berharga. Jenis "uang besar" diprioritaskan untuk membayar kebutuhan yang tidak bisa dielakkan seperti listrik (kalau tidak dibayar maka listrik di rumah diputus oleh PLN), air bersih, telepon, uang sekolah, dan membeli kebutuhan pokok. Untuk kebutuhan lain yang tergolong "kecil-kecil" menggunakan uang kecil dengan jalan memecah (menukar) uang besar menjadi uang receh secara bertahap karena uang receh yang beredar di masyarakat relatif tidak banyak. Tetapi di sisi lain, uang receh yang sudah ditukar tsb cepat habis karena harga barang-barang sudah tinggi.
  4. Para pemimpin sudah banyak yang memakai uang giral daripada uang kartal. Mereka nampaknya mulai melupakan pentingnya uang kartal bagi masyarakat bawah sehingga tidak mengetahui kesulitan memeroleh uang kartal "di bawah."

Demikian opini penulis tentang kesulitan uang receh di Indonesia. Bila pembaca punya ide/opini lain, silahkan ditungkan pada kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

Add comment


Security code
Refresh