Pola Penularan Malaria di Daerah Ekosistem Pantai, Belajar dari Wabah (KLB) Malaria di Wilayah Puskesmas DTP Bayah, Kabupaten Lebak

                                      
Gambar 1. Lagun sebagai tempat perindukan nyamuk malaria di Lebak.      Gambar 2. Area persawahan juga dijadikan tempat perindukan nyamuk malaria. 

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau (ada sekitar 17.000 pulau) memiliki implikasi garis pantai yang sangat panjang. Ternyata garis pantai Indonesia merupakan yang terpanjang keempat di dunia dengan panjang mencapai lebih dari 95.181 kilometer. Hal ini mempunyai hubungan erat (implikasi) dengan tetap bercokolnya penyakit utama yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yaitu Malaria. Wilayah yang letaknya dekat dengan ibukota dan masih memiliki masalah malaria adalah provinsi Banten, tepatnya di kabupaten Lebak. Terdapat 3 ekosistem yang berperan dalam penularan malaria di kabupaten ini yaitu ekosistem pantai, persawahan dan perbukitan, namun yang paling berperan adalah ekosistem pantai dan persawahan. Dengan mengenal pola penularan di suatu wilayah maka kita dapat lebih fokus dalam upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit tersebut. (Penulis mempersembahkan tulisan ini terutama kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak,  para Peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut dan Petugas serta Dinas kesehatan lain yang memiliki masalah malaria).

 

Salah satu kebiasaan nyamuk malaria adalah berkembangbiak di lingkungan air payau yang banyak terdapat di area pantai. Ada 3 kondisi yang memungkinkan terbentuknya lingkungan air payau, yaitu: adanya genangan air laut, adanya tambahan air tawar atau air hujan yang turun dengan intensitas tertentu di tempat genangan, dan pancaran sinar matahari yang cukup menyinari campuran air laut dan air tawar (air hujan) tersebut sehingga salinitasnya (kadar garam) berubah. Fenomena ini berulang di wilayah pantai selatan kabupaten Lebak, pada waktu-waktu tertentu akan terbentuk lagun-lagun besar yang berisi air payau, bahkan area persawahan juga terisi air payau yang disukai nyamuk Anopkeles untuk berkembangbiak. Hasil penelitian yang dilakukan penulis pada tahun 2006 ini kiranya dapat memeberikan pencerahan kepada masyarakat dan petugas kesehatan dalam upaya pengendalian malaria. 

 

Situasi Malaria di Kabupaten Lebak

Kasus-kasus malaria di kabupaten Lebak terkonsentrasi di wilayah bagian paling selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Wilayah ini memiliki karakteristik tersendiri dalam pola penularan malaria. Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria seolah senantiasa mengintai dan bagaikan bom waktu yang dapat meletus sewaktu-waktu. Dari 23 Kecamatan yang ada, terdapat 6 Kecamatan yang merupakan daerah endemis malaria, yaitu: Malingping, Binuangeun, Panggarangan, Cihara, Bayah, dan Cilograng. Keenam daerah tersebut berlokasi di pesisir pantai selatan Kabupaten Lebak (tabel 1 dan Peta 1). Bila dilihat dari Annual Parasite Incidence (API), mulai tahun 2001 hingga 2005 terlihat adanya kecenderungan peningkatan API (grafik 1). 

 

 

No

 

 

Puskesmas

 

Jumlah Penduduk

 

Jumlah Desa Endemis

 

Jumlah Desa Terjangkit

 

Jumlah Desa Tertular

1

Malingping

40.327

3

4

3

2

Binuangeun

58.088

3

6

7

3

Panggarangan

29.473

4

3

3

4

Cihara

27.837

4

2

2

5

Bayah

36.473

5

2

2

6

Cilograng

25.619

2

2

3

Jumlah

218.772

21

19

20

Tabel 1: Situasi malaria dan Puskesmas endemis malaria di kabupaten Lebak pada tahun 2005.

Grafik 1: Angka API Kabupaten Lebak tahun 2001 – 2005.


Catatan:
Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan besarnya masalah malaria (endemisitas) pada di suatu daerah adalah Annual Parasite Incidence (API). API adalah angka kesakitan malaria (berdasarkan pemeriksaan laboratorium) per 1000 penduduk dalam 1 tahun yang dinyatakan dalam ‰.

 

Peta 1. Peta Kabupaten Lebak tahun 2006. Sumber: Pemda Kabupaten Lebak.

KLB Malaria
Pada bulan Juli 2005 telah terjadi KLB malaria di Kabupaten Lebak, tepatnya di wilayah Puskesmas DTP Bayah yang menyebabkan 480 orang menderita malaria. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Lebak telah menetapkan status KLB malaria. Alasan menetapkan status KLB karena tingginya kejadian malaria pada bulan itu, adanya kematian akibat malaria, dan adanya keresahan masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Tentang Wabah Penyakit Menular No. 4 tahun 1984, bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.


Gambaran Ekosistem di bagian selatan Kabupaten Lebak

Kabupaten Lebak di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia memiliki panjang pantai + 75 km, dengan demikian dapat dikatakan wilayah ini sebagian besar merupakan wilayah ekosistim pantai. Di sepanjang pantai selatan banyak ditemui tempat-tempat potensial bagi perkembang-biakan nyamuk malaria, ini menjadi indikator bahwa daerah ini merupakan daerah transmisi bagi penularan malaria sepanjang tahun. Daerah-daerah ini apabila tidak dikendalikan/dikontrol dengan baik dalam upaya pemberantasan malaria akan menjadi daerah yang potensial untuk terjadinya KLB malaria.


Keadaan topografi wilayahnya yang cukup bervariasi yaitu di wilayah sepanjang pantai selatan memiliki ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut, wilayah Lebak Tengah memiliki ketinggian 201-500 meter, dan wilayah Lebak Timur memiliki ketinggian lebih dari 500 meter. Maka terdapat 3 ekosistem di wilayah ini yaitu ekosistim pantai, sawah dan perbukitan.


Gambaran Ekosistem di Kecamatan Bayah

Kecamatan Bayah berjarak 140 km dari Ibukota Kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 4 jam perjalanan sehingga daerah ini sebenarnya bukan daerah terisolir. Kelancaran mobilitas manusia dari dan ke wilayah ini ikut berperan dalam transmisi malaria.

 

Luas wilayah kecamatan Bayah 15.643 ha dan memiliki ketinggian antara 0 hingga 400 meter di atas permukaan laut yang terdiri atas satuan ekologi pantai, dataran rendah dan perbukitan. Dataran rendah disini terdiri dari ekosistim pantai dan persawahan yang letaknya berdampingan sedangkan daerah perbukitan diisi sebagian lahan perkebunan dan hutan. Dilihat dari satuan ekologinya, wilayah ini merupakan tempat yang cocok bagi perkembangbiakan nyamuk malaria.


Batas-batas wilayah kerja Puskesmas DTP Kecamatan Bayah adalah:

Sebelah utara               : Kecamatan Cibeber.

Sebelah barat               : Kecamatan Panggarangan.

Sebelah Selatan           : Samudera Indonesia.

Sebelah Timur              : Kecamatan  Cilograng.


Kita dapat lebih memperhatikan bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia, karena disini merupakan area fokus penularan malaria. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Puskesmas DTP Bayah merupakan wilayah ekosistim pantai. Lahan persawahan sebagian besar berlokasi di daerah pantai sehingga sebenarnya terdapat dua jenis ekosistem yang berperan sebagai tempat perindukan nyamuk malaria yaitu ekosistim pantai dan ekosistem sawah (persawahan). Kedua jenis ekosistem ini berdampingan, oleh karena itu dapat terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara kehidupan lingkungan biotik di ekosistim pantai dan sawah. 


Situasi Malaria di wilayah kerja Puskesmas DTP Bayah
Situasi malaria Puskesmas DTP Bayah dilihat dari angka API dari tahun 2001 sampai 2005 (grafik 2), API mengalami peningkatan sehingga sejak tahun 2005 Puskesmas DTP Bayah masuk kategori daerah endemis tinggi. Situasi malaria tingkat Puskesmas sebelum tahun 2005 dilihat dari angka API termasuk dalam kategori endemis sedang. Jadi telah terjadi perubahan status endemisitas malaria bagi Puskesmas DTP Bayah dari endemis sedang menjadi endemis tinggi pada tahun 2005.


Grafik 1: Angka API di Puskesmas DTP Bayah tahun 2001 – 2005.

                                              
Gambar 3. Tampak depan Puskesmas DTP Bayah pada tahun 2006.                  Gambar 4. Panorama pantai di wilayah Puskesmas DTP Bayah. 

KLB Malaria
Pada bulan Juli 2005 telah terjadi KLB malaria di Kabupaten Lebak, tepatnya di wilayah Puskesmas DTP Bayah yang menyebabkan 480 orang menderita malaria. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Lebak telah menetapkan status KLB malaria. Alasan menetapkan status KLB karena tingginya kejadian malaria pada bulan itu, adanya kematian akibat malaria, dan adanya keresahan masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Tentang Wabah Penyakit Menular No. 4 tahun 1984, bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
(bersambung ke halaman 2) 

 

                                      
Gambar 1. Lagun sebagai tempat perindukan nyamuk malaria di Lebak.      Gambar 2. Area persawahan juga dijadikan tempat perindukan nyamuk malaria. 

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau (ada sekitar 17.000 pulau) memiliki implikasi garis pantai yang sangat panjang. Ternyata garis pantai Indonesia merupakan yang terpanjang keempat di dunia dengan panjang mencapai lebih dari 95.181 kilometer. Hal ini mempunyai hubungan erat (implikasi) dengan tetap bercokolnya penyakit utama yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yaitu Malaria. Wilayah yang letaknya dekat dengan ibukota dan masih memiliki masalah malaria adalah provinsi Banten, tepatnya di kabupaten Lebak. Terdapat 3 ekosistem yang berperan dalam penularan malaria di kabupaten ini yaitu ekosistem pantai, persawahan dan perbukitan, namun yang paling berperan adalah ekosistem pantai dan persawahan. Dengan mengenal pola penularan di suatu wilayah maka kita dapat lebih fokus dalam upaya pengendalian dan pemberantasan penyakit tersebut. (Penulis mempersembahkan tulisan ini terutama kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak,  para Peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut dan Petugas serta Dinas kesehatan lain yang memiliki masalah malaria).

 

Salah satu kebiasaan nyamuk malaria adalah berkembangbiak di lingkungan air payau yang banyak terdapat di area pantai. Ada 3 kondisi yang memungkinkan terbentuknya lingkungan air payau, yaitu: adanya genangan air laut, adanya tambahan air tawar atau air hujan yang turun dengan intensitas tertentu di tempat genangan, dan pancaran sinar matahari yang cukup menyinari campuran air laut dan air tawar (air hujan) tersebut sehingga salinitasnya (kadar garam) berubah. Fenomena ini berulang di wilayah pantai selatan kabupaten Lebak, pada waktu-waktu tertentu akan terbentuk lagun-lagun besar yang berisi air payau, bahkan area persawahan juga terisi air payau yang disukai nyamuk Anopkeles untuk berkembangbiak. Hasil penelitian yang dilakukan penulis pada tahun 2006 ini kiranya dapat memeberikan pencerahan kepada masyarakat dan petugas kesehatan dalam upaya pengendalian malaria. 

 

Situasi Malaria di Kabupaten Lebak

Kasus-kasus malaria di kabupaten Lebak terkonsentrasi di wilayah bagian paling selatan yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Wilayah ini memiliki karakteristik tersendiri dalam pola penularan malaria. Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria seolah senantiasa mengintai dan bagaikan bom waktu yang dapat meletus sewaktu-waktu. Dari 23 Kecamatan yang ada, terdapat 6 Kecamatan yang merupakan daerah endemis malaria, yaitu: Malingping, Binuangeun, Panggarangan, Cihara, Bayah, dan Cilograng. Keenam daerah tersebut berlokasi di pesisir pantai selatan Kabupaten Lebak (tabel 1 dan Peta 1). Bila dilihat dari Annual Parasite Incidence (API), mulai tahun 2001 hingga 2005 terlihat adanya kecenderungan peningkatan API (grafik 1). 

 

 

No

 

 

Puskesmas

 

Jumlah Penduduk

 

Jumlah Desa Endemis

 

Jumlah Desa Terjangkit

 

Jumlah Desa Tertular

1

Malingping

40.327

3

4

3

2

Binuangeun

58.088

3

6

7

3

Panggarangan

29.473

4

3

3

4

Cihara

27.837

4

2

2

5

Bayah

36.473

5

2

2

6

Cilograng

25.619

2

2

3

Jumlah

218.772

21

19

20

Tabel 1: Situasi malaria dan Puskesmas endemis malaria di kabupaten Lebak pada tahun 2005.

Grafik 1: Angka API Kabupaten Lebak tahun 2001 – 2005.


Catatan:
Salah satu ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan besarnya masalah malaria (endemisitas) pada di suatu daerah adalah Annual Parasite Incidence (API). API adalah angka kesakitan malaria (berdasarkan pemeriksaan laboratorium) per 1000 penduduk dalam 1 tahun yang dinyatakan dalam ‰.

 

Peta 1. Peta Kabupaten Lebak tahun 2006. Sumber: Pemda Kabupaten Lebak.

KLB Malaria
Pada bulan Juli 2005 telah terjadi KLB malaria di Kabupaten Lebak, tepatnya di wilayah Puskesmas DTP Bayah yang menyebabkan 480 orang menderita malaria. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Lebak telah menetapkan status KLB malaria. Alasan menetapkan status KLB karena tingginya kejadian malaria pada bulan itu, adanya kematian akibat malaria, dan adanya keresahan masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Tentang Wabah Penyakit Menular No. 4 tahun 1984, bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.


Gambaran Ekosistem di bagian selatan Kabupaten Lebak

Kabupaten Lebak di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia memiliki panjang pantai + 75 km, dengan demikian dapat dikatakan wilayah ini sebagian besar merupakan wilayah ekosistim pantai. Di sepanjang pantai selatan banyak ditemui tempat-tempat potensial bagi perkembang-biakan nyamuk malaria, ini menjadi indikator bahwa daerah ini merupakan daerah transmisi bagi penularan malaria sepanjang tahun. Daerah-daerah ini apabila tidak dikendalikan/dikontrol dengan baik dalam upaya pemberantasan malaria akan menjadi daerah yang potensial untuk terjadinya KLB malaria.


Keadaan topografi wilayahnya yang cukup bervariasi yaitu di wilayah sepanjang pantai selatan memiliki ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut, wilayah Lebak Tengah memiliki ketinggian 201-500 meter, dan wilayah Lebak Timur memiliki ketinggian lebih dari 500 meter. Maka terdapat 3 ekosistem di wilayah ini yaitu ekosistim pantai, sawah dan perbukitan.


Gambaran Ekosistem di Kecamatan Bayah

Kecamatan Bayah berjarak 140 km dari Ibukota Kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 4 jam perjalanan sehingga daerah ini sebenarnya bukan daerah terisolir. Kelancaran mobilitas manusia dari dan ke wilayah ini ikut berperan dalam transmisi malaria.

 

Luas wilayah kecamatan Bayah 15.643 ha dan memiliki ketinggian antara 0 hingga 400 meter di atas permukaan laut yang terdiri atas satuan ekologi pantai, dataran rendah dan perbukitan. Dataran rendah disini terdiri dari ekosistim pantai dan persawahan yang letaknya berdampingan sedangkan daerah perbukitan diisi sebagian lahan perkebunan dan hutan. Dilihat dari satuan ekologinya, wilayah ini merupakan tempat yang cocok bagi perkembangbiakan nyamuk malaria.


Batas-batas wilayah kerja Puskesmas DTP Kecamatan Bayah adalah:

Sebelah utara               : Kecamatan Cibeber.

Sebelah barat               : Kecamatan Panggarangan.

Sebelah Selatan           : Samudera Indonesia.

Sebelah Timur              : Kecamatan  Cilograng.


Kita dapat lebih memperhatikan bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia, karena disini merupakan area fokus penularan malaria. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar wilayah Puskesmas DTP Bayah merupakan wilayah ekosistim pantai. Lahan persawahan sebagian besar berlokasi di daerah pantai sehingga sebenarnya terdapat dua jenis ekosistem yang berperan sebagai tempat perindukan nyamuk malaria yaitu ekosistim pantai dan ekosistem sawah (persawahan). Kedua jenis ekosistem ini berdampingan, oleh karena itu dapat terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara kehidupan lingkungan biotik di ekosistim pantai dan sawah. 


Situasi Malaria di wilayah kerja Puskesmas DTP Bayah
Situasi malaria Puskesmas DTP Bayah dilihat dari angka API dari tahun 2001 sampai 2005 (grafik 2), API mengalami peningkatan sehingga sejak tahun 2005 Puskesmas DTP Bayah masuk kategori daerah endemis tinggi. Situasi malaria tingkat Puskesmas sebelum tahun 2005 dilihat dari angka API termasuk dalam kategori endemis sedang. Jadi telah terjadi perubahan status endemisitas malaria bagi Puskesmas DTP Bayah dari endemis sedang menjadi endemis tinggi pada tahun 2005.


Grafik 1: Angka API di Puskesmas DTP Bayah tahun 2001 – 2005.

                                              
Gambar 3. Tampak depan Puskesmas DTP Bayah pada tahun 2006.                  Gambar 4. Panorama pantai di wilayah Puskesmas DTP Bayah. 

KLB Malaria
Pada bulan Juli 2005 telah terjadi KLB malaria di Kabupaten Lebak, tepatnya di wilayah Puskesmas DTP Bayah yang menyebabkan 480 orang menderita malaria. Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Lebak telah menetapkan status KLB malaria. Alasan menetapkan status KLB karena tingginya kejadian malaria pada bulan itu, adanya kematian akibat malaria, dan adanya keresahan masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Tentang Wabah Penyakit Menular No. 4 tahun 1984, bahwa wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
(bersambung ke halaman 2) 

 

Peran Lagun dan Area persawahan dalam penularan malaria di kabupaten Lebak

Peran Lagun dan Area Persawahan Dalam Penularan Malaria di Kabupaten Lebak

Tempat-tempat perkembang-biakan potensial nyamuk Anopheles di daerah ekosistim pantai wilayah ini adalah lagun-lagun dan area persawahan. Lagun dan persawahan terletak berdampingan di sepanjang pesisir pantai. Hasil pencidukan larva nyamuk yang ada di lagun dan area persawahan berhasil menemukan adanya larva Anopheles. Sedangkan hasil pengukuran salinitas air (dengan alat refractometer): pada lagun-lagun yang belum terbentuk: salinitas berkisar 5-8 ‰, salinitas air pada lagun yang sudah (baru 1 minggu) terbentuk sebesar 10 ‰, salinitas air pada area persawahan: 12 ‰.


                                         
Gambar 5. Lagun di Lebak & beberapa orang sedang mencari ikan.                 Gambar 6. Area persawahan yang berisi air payau.


                                         
Gambar 7. Jentik (larva) nyamuk Anopheles ditemukan.                                        Gambar 8. Petugas sedang mengukur salinitas air.

Terdapat 6 lagun besar yang letaknya meliputi 2 Kecamatan (Kecamatan Bayah dan Kecamatan Panggarangan), terdiri dari 3 lagun di Kecamatan Bayah dan 3 lagun di Kecamatan Panggarangan (tabel 5.2). Kecamatan Panggarangan terletak di sebelah Barat Kecamatan Bayah (bersebelahan). Lagun yang terletak diperbatasan dengan Kecamatan Panggarangan juga diamati karena dampaknya diperkirakan sampai ke Kecamatan Bayah. Jarak lagun dengan pemukiman penduduk 50 - 100 meter (tabel 2).
 

   Tabel 2. Daftar Lagun  tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles di Kabupaten Lebak tahun 2006.


                                         
Gambar 9. Satu lagun besar yang mulai terbentuk.                                     Gambar 10. Penangkapan ikan kepala timah secara besar-besaran di salah 1 lagun.

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil wawancara, peneliti mendapatkan adanya 3 fenomena penting di tempat-tempat perkembang-biakan nyamuk malaria di wilayah ini. Ketiga fenomena yang ikut berperan dalam pola penularan malaria di wilayah Puskesmas DTP Bayah adalah: proses pembentukan lagun, proses jebolnya lagun, dan persawahan sebagai tempat perkembang-biakan nyamuk malaria.


1. Proses pembentukan lagun

Terbentuknya lagun-lagun di daerah ekosistim pantai di wilayah ini memiliki cara yang sama serta waktu yang hampir bersamaan setiap tahunnya.

Pola pembentukan sebuah lagun di wilayah ini sebagai berikut:

Musim kemarau yang dimulai sejak bulan April menyebabkan pasokan dan aliran air sungai dari hulu ke muara sungai berkurang. Tinggi permukaan sungai yang relatif sama dengan permukaan air laut menyebabkan air laut mudah memasuki muara sungai mengikuti aliran ombak ditambah masuknya air laut ketika keadaan pasang laut. Memasuki bulan Mei, volume air sungai yang datang dari hulu berangsur-angsur berkurang sedangkan jumlah air laut yang masuk ke muara sungai jumlahnya tetap sehingga terjadi aliran air dari laut ke muara sungai. Ombak laut samudra Indonesia yang besar pada waktu tidak pasang maupun pada waktu pasang air laut selain mengalirkan air laut juga membawa pasir kearah muara dan bertumpuk di sana. Pasir yang bertumpuk di muara sungai lama-kelamaan meninggi dan akhirnya membentuk bendungan yang menutup muara sungai. Pada pertengahan bulan Mei sampai akhir Mei biasanya muara sungai sudah mulai tertutup (tergantung besar kecilnya ukuran muara) sehingga lagun sudah terbentuk sempurna. Tetapi dengan masih adanya penambahan pasokan air dari hulu sungai menyebabkan ukuran lagun bertambah luas dan menggenangi pula areal persawahan yang letaknya berdampingan dengan sungai di daerah muara.

Terjadinya penambahan air tawar di lagun akibat adanya pasokan air dari hulu (dan mungkin juga dari mata air dan air hujan sesekali) yang walaupun musim kemarau tetap memasok air kearah muara/lagun dalam jumlah yang sedikit dan teratur. Jumlah ini lebih banyak dari pada berkurangnya air lagun akibat penguapan oleh cuaca musim kemarau tetapi tidak cukup untuk menjebol bendungan di muara sungai. Di sisi lain walaupun hubungan lagun dengan laut sudah tertutup/terbendung, mungkin ada sedikit jumlah air laut yang memasuki lagun melalui rembesan dan pasang surut. Situasi yang terjadi di lagun merupakan gabungan dari: adanya pertambahan air tawar dari hulu dalam jumlah sedikit tetapi selalu ada, adanya sisa air laut di lagun, mungkin adanya sedikit rembesan air laut kedalam lagun, serta cepatnya penguapan air lagun karena musim kemarau. Pada suatu saat akan tercapai kadar garam dengan salinitas tertentu (12-18 ‰) yang ideal untuk berkembang-biaknya nyamuk Anopheles sundaicus. Kondisi permukaan air lagun yang tenang karena relatif tidak adanya aliran air menjadikannya sebagai tempat yang ideal bagi nyamuk dewasa untuk beristirahat dan bertelur/meletakkan telur-telurnya di permukaan air. Tidak adanya pohon pelindung di lagun (karena pohon bakau banyak ditebang) menyebabkan lagun menerima pencahayaan sinar matahari yang optimal sehingga membantu proses penetasan telur menjadi larva, kemudian larva menjadi nyamuk. Nyamuk dewasa akan terbang kepemukiman penduduk karena jarak lagun dengan pemukiman 50 - 100 meter atau masih dalam jangkauan jarak terbang nyamuk.


2. Proses jebolnya lagun

Sama seperti proses terbentuknya, jebolnya lagun-lagun di wilayah ini memiliki cara yang sama dan waktu yang hampir bersamaan setiap tahunnya.

Pola jebolnya sebuah lagun di wilayah ini sebagai berikut:

Ketika musim penghujan tiba (antara bulan Oktober, November atau Desember), pasokan kuantitas air dari hulu sungai yang mengalir kedalam lagun bertambah secara signifikan sehingga melebihi daya tampung lagun. Pada suatu saat air lagun akan meluap kearah laut dan bendungan di muara yang berhadapan dengan laut akan jebol, selanjutnya air lagun mengalir kelaut dan lagun berubah menjadi sungai kembali. Saat itu kuantitas aliran air dari hulu sampai muara dan dialirkan kelaut sudah mulai teratur. Jebolnya air lagun kearah laut menyebabkan telur-telur dan larva nyamuk mengalir kelaut mengakibatkan populasi nyamuk Anopheles berkurang sehingga kasus malaria menurun pada akhir tahun. Karena air sudah dialirkan kelaut maka ukuran lagun berkurang, air yang tadinya menutupi area persawahan mulai surut dan sekarang air lagun terjebak di area persawahan, petak-petak sawah sudah nampak kembali. Hujan dan panas silih berganti menyebabkan air yang terjebak di persawahan suatu saat salinitasnya mencapai kondisi ideal bagi perkembang-biakan Anopheles sundaicus. Disisi lain, kondisi lagun yang sekarang berubah kembali menjadi sungai sudah tidak ideal bagi tempat berkembang biak nyamuk Anopheles sehingga larvaciding dihentikan ketika musim penghujan datang karena dianggap sudah tidak diperlukan. Tetapi di bekas area persawahan masih potensial bagi tempat perkembang-biakan Anopheles, itulah sebabnya mengapa kasus masih terus ada (walaupun agak turun) antara bulan Oktober sampai Januari.

 

3. Persawahan Sebagai Tempat Perkembang-Biakan Nyamuk Malaria

Meskipun area penelitian ini dikonsentrasikan pada area penularan di daerah ekosistim pantai, peneliti tidak menutup mata terhadap adanya ekosistim lain yang berdampingan dengan ekosistim pantai yang merupakan kesatuan ekologi, yaitu area persawahan. Area persawahan di wilayah Puskesmas DTP Bayah banyak terletak di pesisir pantai dan sebagian terletak di tepi sungai bersebelahan dengan muara sungai/lagun (mungkin dimaksudkan untuk mempermudah memperoleh pasokan air dari sungai/lagun). Dapat dikatakan bahwa area persawahan disini terletak di daerah ekosistim pantai (sekitar 100-200 meter dari garis pantai).

 
Sawah merupakan tempat yang ideal bagi perkembang-biakan nyamuk Anopheles karena di sana banyak terdapat genangan air. Peneliti tidak mengidentifikasi jenis Anopheles yang ditemukan di area persawahan, namun menurut Entomolog yang bertugas di sana, terdapat sedikitnya 2 jenis spesies Anopheles yang tumbuh di area persawahan sepanjang tahun yaitu Anopheles aconitus dan Anopheles sundaicus. Anopheles aconitus biasanya meningkat di musim panen padi pada bulan Februari karena area persawahan menjadi terbuka dan terpapar sinar matahari serta adanya genangan air di area persawahan karena musim penghujan belum benar-benar berakhir. Anopheles sundaicus tumbuh selama musim kemarau ketika genangan air di petak-petak persawahan berubah menjadi air payau akibat adanya penguapan dan rembesan air laut ke sawah.

                                         
Gambar 11. Ikan Kepala Timah merupakan predator alami jentik malaria.       Gambar 12. Hasil panen Ikan Kepala Timah di lagun.
          
Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat dipetik sebagai berikut:

    • Jenis malaria yang terbanyak (dominan) di wilayah Puskesmas DTP Bayah sepanjang tahun 2005-2006 adalah malaria vivax dengan proporsi kejadian malaria vivax sebesar 66,7 % dan kejadian malaria falciparum sebesar 33,3 %.
      Daerah ekosistim pantai di wilayah ini memiliki sedikitnya 2 jenis tempat-tempat perkembang-biakan nyamuk (breeding places) yaitu lagun dan persawahan. Lagun sebagai tempat perkembang-biakan nyamuk Anopheles hanya berperan pada musim kemarau antara bulan Juni sampai Oktober atau November setiap tahunnya, sedangkan area persawahan berperan hampir sepanjang tahun. 
    • Adanya peran lagun kemungkinan menjadi faktor penyebab bertambahnya intensitas kepadatan vektor sehingga mulai bulan Juli sampai Oktober kejadian malaria di wilayah ini cenderung meningkat. 
    • Karakteristik tempat perkembang-biakan nyamuk Anopheles di daerah ekosistim pantai wilayah kerja Puskesmas DTP Bayah diperkirakan bersifat khas spesifik setempat (local specific) yang terbentuk dari gabungan beberapa kondisi yang saling menunjang. 
    • Kurang berhasilnya program Biological Control dan penyuluhan kesehatan. Ikan kepala timah yang disebar di lagun-lagun oleh Dinkes Kabupaten Lebak pada tahun 2005 yang lalu dan diharapkan berfungsi sebagai pemangsa jentik malaria malah ditangkapi untuk dikonsumsi oleh penduduk ketika lagun sudah terbentuk. Permasalahan ini timbul karena masyarakat tidak tahu kegunaan ikan kepala timah. 
    • Kurang berjalannya upaya program pemberantasan malaria antara tahun 2003 sampai pertengahan 2005 diperkirakan sebagai salah satu penyebab terjadinya kenaikan kasus malaria pada bulan Juni sampai September 2005 dan timbulnya KLB malaria pada Juli 2005.
    • Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria falciparum di daerah ekosistim pantai wilayah kerja Puskesmas DTP Bayah adalah: Kelompok usia > 18 tahun, perempuan, belum menikah, tidak/belum bekerja, pendidikan > SD, status ekonomi > rata-rata, tidak pernah menderita malaria sebelumnya, berpengetahuan baik/ > rata-rata, bersikap positif/setuju terhadap upaya pencegahan malaria, berperilaku pencegahan malaria yang buruk, dan bertempat tinggal di daerah pantai. 
    • Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian malaria vivax di daerah ekosistim pantai wilayah kerja Puskesmas DTP Bayah adalah: Kelompok usia > 18 tahun, perempuan, sudah menikah, sudah bekerja, pendidikan > SD, status ekonomi > rata-rata, tidak pernah menderita malaria sebelumnya, berpengetahuan baik/ > rata-rata, bersikap positif/setuju terhadap upaya pencegahan malaria, berperilaku pencegahan malaria yang buruk, bertempat tinggal di daerah pantai.
 

Saran

Saran yang dapat diberikan khususnya bagi Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pemberantasan malaria di wilayah Puskesmas DTP Bayah, adalah:

  • Dengan adanya 2 jenis lingkungan di daerah ekosistim pantai yaitu lagun dan sawah, maka diperlukan upaya intervensi yang berkesinambungan sepanjang tahun. 
  • Melaksanakan pengawasan terhadap 6 lagun besar yang ada di wilayah Kecamatan Bayah dan Panggarangan antara bulan Mei sampai Oktober atau November setiap tahun ketika lagun sudah terbentuk. Melakukan larvaciding, dan bila memungkinkan melalui kerjasama lintas sektor untuk melakukan manipulasi lingkungan (misal: membuat drainase/pengaliran air lagun, pembersihan lagun dari lumut), serta mencegah penangkapan ikan kepala timah oleh penduduk. 
  • Melaksanakan pengontrolan sepanjang tahun pada semua area persawahan yang menyimpan genangan air terhadap kemungkinan berkembang-biaknya Anopheles. Bila memungkinkan, lakukan intervensi di area persawahan. 
  • Pelaksanaan larvaciding pada bulan Januari sampai Maret di area persawahan dan bulan Juli sampai Oktober di lagun-lagun. Sebaiknya larvaciding selalu dibarengi IRS di desa-desa endemis tinggi untuk menekan pertumbuhan nyamuk Anopheles dewasa. 
  • Meningkatkan upaya pencarian kasus malaria secara aktif ke masyarakat. 
  • Memulai kembali program Juru Malaria Desa yang sudah tidak ada sejak tahun 2003 agar ada petugas khusus di desa yang menangani program malaria dengan lebih intensif. Hal ini akan lebih banyak menguntungkan dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan bila terjadi KLB malaria. 
  • Mengadakan promosi kesehatan (penyuluhan) untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat agar mengubah perilaku yang tidak mendukung program pemberantasan malaria, misalnya: mengingatkan masyarakat agar tidak menghabisi tanaman bakau, menanam kembali tumbuhan bakau di pesisir pantai untuk menghalangi cahaya matahari langsung menyinari air lagun agar tumbuhnya Anopheles terhambat, mengajak masyarakat untuk membersihkan lagun dari lumut-lumut yang merupakan tempat persembunyian larva Anopheles, menyadarkan masyarakat agar tahu kegunaan ikan kepala timah sehingga tidak ditangkapi dari lagun, dan lain-lain. 
  • Meningkatkan kontrol (supervisi) dari Pusat dan Provinsi secara teratur ke Puskesmas DTP Bayah, minimal setiap 3 bulan sekali. 
  • Menambah tenaga (SDM) di Puskesmas DTP Bayah untuk membantu pelaksanaan program-program pemberantasan malaria, misal: pengadaan tenaga Entomolog. 
  • Melaksanakan upaya preventif yang relatif murah yaitu kelambunisasi menggunakan kelambu yang sudah diberi insektisida (kelambu celup) terutama bagi masyarakat yang tinggal di desa-desa endemis tinggi malaria. 
  • Bila ada keraguan dalam pelaksanaan vector control, lakukan evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan terhadap kegiatan IRS, larvaciding, pemolesan kelambu dan evaluasi terhadap kepadatan dan penyebaran ikan pemakan jentik. 
  • Melakukan evaluasi terhadap kegiatan pengobatan penderita. Evaluasi meliputi pengetahuan tentang perilaku pengobatan dan cara minum obat penduduk, efektifitas pengobatan dengan anti malaria yang ada, dan menjajaki kemungkinan penggunaan obat baru sesuai kebijakan Depkes. 
  • Meningkatkan anggaran pemberantasan malaria terutama untuk daerah endemis di bagian selatan Kabupaten Lebak. Anggaran tersebut diperlukan untuk menggiatkan program-program: penemuan dan pengobatan penderita, JMD, IRS, Larvaciding, kelambunisasi dan manajemen lingkungan lagun. 
  • Untuk mencapai tingkat efisiensi dan efektifitas pemberantasan, perlu dilakukan Survei Dinamika Penularan Malaria secara lebih komprehensif dengan melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu yang diperlukan bagi pelaksanaan survei ini. 

Mengingat rancangan studi ini yang bersifat deskriptif, akhirnya peneliti menghimbau berbagai pihak yang berkepentingan untuk melakukan penelitian analitik yang lebih mendalam diwaktu mendatang agar diperoleh penjelasan hubungan kausal faktor-faktor risiko malaria untuk kepentingan pengambilan keputusan.

Referensi

1. Wijaya, 2006, 
Pola Penularan Malaria di Daerah Ekosistim Pantai, Wilayah Kerja Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP) Bayah, Kabupaten Lebak Propinsi Banten, Tahun 2005-2006, Thesis Program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
2. http://jurnal.dikti.go.id/jurnal/detil/id/0:16711/q/pengarang:%20AWI%20MULIADI%20WIJAYA/offset/0/limit/1, diakses 24 Agustus 2010.
3.
http://www.antaranews.com/berita/1258934423/dinkes-lebak-waspadai-penyakit-malaria, diakses 24 Agustus 2010.

Share

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com