Penyebab dan Cara Mengatasi Banjir di Jakarta

Di era perubahan cuaca (climate change) seperti sekarang, hujan seolah dapat turun kapan saja tanpa menghiraukan rambu-rambu musim. Sisi positifnya, kita sering diingatkan pada kondisi 'perbanjiran' di Jakarta yang terasa semakin parah, dengan tanda-tanda bila hujan deras turun lebih dari satu jam maka genangan timbul dimana-mana. Sudah bukan rahasia lagi seluruh penduduk Jakarta tidak menyukai banjir kecuali anak-anak usia <10 tahun yang dapat menikmati datangnya banjir di wilayahnya. Tapi tentunya bukan karena alasan untuk membela kepentingan anak-anak maka banjir di Jakarta kita pelihara kesinambungannya. Penulis ingin berbagi sedikit pemikiran bagaimana mengatasi banjir di Jakarta yang sangat sulit diatasi warga Jakarta termasuk Pengelola kota Jakarta sejak puluhan tahun yang lalu.


Sebelum mengatur strategi untuk mengatasi banjir, ada baiknya kita mengetahui apa sih banjir itu dan apa saja yang menjadi penyebab banjir. Karena banjir terkait erat dengan keberadaan 'air', maka penulis jadi teringat akan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ketika masih duduk di bangku 'kuliah' Sekolah Dasar. Tentunya 99,9% dari pembaca yang sudah menyelesaikan 'kuliahnya' di SD pasti masih ingat pada pelajaran IPA tentang hukum bejana berhubungan dan hukum gravitasi. lho koq apa hubungannya? Pasti ada hubungannya karena materi yang akan kita bahas terkait erat dengan kedua hukum tsb.

Definisi banjir
Menurut penulis (boleh donk sekali-sekali penulis memberi definisi, dan tentunya bebas plagiarisme, masa sih hanya para Ahli saja yang boleh mengeluarkan definisi), banjir adalah genangan air yang tidak semestinya ada di suatu wilayah yang relatif luas dengan akibat terganggu (terhambatnya) aktifitas manusia.

Penyebab banjir

Secara mekanis, banjir biasanya disebabkan karena terhambatnya pergerakan/aliran air dari suatu wilayah (tempat) ketempat lainnya. Terhambatnya aliran air ini disebabkan 3 faktor utama, yaitu:
1. Tidak/kurang berfungsinya sistem drainase (saluran) air.
2. Tidak/kurang berfungsinya sistem penyerapan tanah.
3. Naiknya tinggi permukaan air laut menyamai atau melebihi tinggi permukaan air di sungai dan daratan.
4. Turunnya tinggi permukaan tanah.

ad. 1. Tidak/kurang berfungsinya sistim drainase (saluran) air.
Ada 2 jenis sistem drainase yaitu sistem drainase mikro dan sistem drainase makro.
Sistem drainase mikro adalah saluran-saluran air dengan ukuran relatif kecil yang menuju kesungai/kanal, misalnya gorong-gorong/saluran air yang dibuat di area pemukiman, tempat-tempat umum dan jalan raya. Sedangkan drainase makro adalah saluran air berukuran besar yang menuju muara sungai/laut, mulai dari yang alamiah seperti sungai hingga yang buatan manusia seperti kanal (contoh: Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur), terowongan/sudetan/interconnection.

Tidak/kurang berfungsinya sistem drainase mikro dan makro dapat disebabkan karena berbagai hal, antara lain:
1. Saluran pada sistem drainase mikro tersumbat/mampat sebagian atau seluruhnya. Ini dapat dibuktikan, ketika hujan deras turun dalam waktu lebih dari satu jam maka akan muncul genangan-genangan air di tempat-tempat yang agak rendah. Bila dibiarkan maka genangan air berangsur-angsur akan surut. Ini menandakan pergerakan air yang tidak lancar akibat adanya sumbatan pada saluran air setempat. Sumbatan terjadi akibat tidak pernah dilakukan pembersihan dan perawatan (maintenance), contoh kasus: banjir yang senantiasa datang bila hujan deras di area perempatan Slipi Jakarta Barat dan perempatan Kuningan (di bawah Flyover Kuningan). Saluran yang tidak pernah dirawat (dibersihkan) karena tertutup beton, berada di bawah tanah dan tidak nampak, tidak adanya (kurang) niat dan aksi untuk membersihkannya secara berkala, ketidaktahuan (lupa?) bahwa di bawah tanah ada jaringan saluran air, atau karena mahalnya biaya perawatan saluran air??.

2. Saluran sistem drainase mikro tidak tersumbat tetapi tidak dapat mengakomodasi volume aliran air. Penyebabnya karena kurangnya kuantitas dan kualitas jaringan sistem drainase mikro. Contoh: jumlah saluran yang masih minim sedangkan saluran yang sudah ada memiliki diameter yang kurang besar (diperparah dengan banyaknya saluran yang tersumbat karena sampah bertumpuk). Masalah terjadi ketika curah hujan tinggi akan menyebabkan volume air bertambah dengan cepat di suatu lokasi tetapi sistem drainase tidak bekerja cukup cepat untuk menyalurkan air ketempat lain. Dalam hal ini terjadi ketidakseimbangan antara pasokan dengan pengeluaran sehingga terjadi penumpukan. Maksudnya penumpukan air lho, bukan penumpukan kebutuhan sehari-hari.

3. Sistem drainase makro kurang bekerja dengan semestinya. Penyebabnya karena terjadi pendangkalan sungai, bertumpuknya sampah di sungai dan kanal, menyempitnya lahan sempadan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) karena banyak dimanfaatkan untuk tempat pemukiman, serta kurangnya jumlah jaringan drainase makro dibandingkan kebutuhan. 

4. Tinggi permukaan tanah di lokasi banjir lebih rendah dari wilayah lain di sekitarnya. 
Disini berlaku hukum/konsep 'bejana berhubungan' yang mengatakan bahwa tinggi permukaan air pada semua bejana akan sama tinggi. Pastinya berlaku juga hukum gravitasi yang menyebabkan air senantiasa mencari tempat yang rendah. Bila diilustrasikan, daerah yang paling rendah adalah bejana A dan wilayah lain di sekitarnya yang lebih tinggi sebagai bejana B, C, dst. Pada saat hujan deras datang, sistem drainase pada bejana A seolah kurang berfungsi karena paling lambat mengalirkan seluruh air. Ini disebabkan bejana (daerah) A mendapat urutan terakhir mengosongkan air atau menunggu bejana lainnya (B dan C) surut (lihat ilustrasi gambar di bawah). Bisa jadi air akan menggenang berlama-lama di suatu wilayah karena terjebak dan tidak ada jalan keluarnya. Penyebabnya karena daerah tsb berbentuk seperti suatu cekungan sedangkan daerah di sekitarnya lebih tinggi. Contoh kasus, tergenangnya secara berkepanjangan wilayah Pademangan di Jakarta Utara dan Pondok Labu di Jakarta Selatan.


                                                          Gambar Konsep bejana berhubungan.

ad. 2. Tidak/kurang berfungsinya sistim penyerapan tanah.
Bila sistem resapan air oleh tanah berfungsi dengan baik, dapat sangat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir. Contohnya di daerah pedesaan yang lingkungan tanahnya tidak banyak dilapisi semen tetapi banyak ditumbuhi pohon-pohonan seperti layaknya hutan, biasanya aman dari banjir, hujan sederas apapun akan diserap oleh tanah dengan lingkungan seperti itu. 

Di daerah perkotaan, area resapan air sudah sangat berkurang akibat banyaknya jalan-jalan dilapisi aspal dan semen, area pemukiman/perumahan juga banyak dilapis semen, kebanyakan penduduk lebih menyukai halaman rumahnya dilapis keramik karena terlihat lebih bersih, serta minimnya lahan pertamanan umum. Selain itu area terbuka banyak diisi jenis tanah liat yang memiliki daya resap air sangat terbatas.

Faktor penyebab lain, banyaknya situ dan rawa-rawa di Jakarta dan sekitarnya yang ditutup dan sekarang berubah menjadi area pemukiman dan pertokoan. Situ dan rawa sebenarnya berfungsi sebagai penampung air alamiah dan membantu penyerapan air sehingga dapat mengurangi terjadinya banjir. Contoh, di wilayah Depok sebelumnya ada 60 situ, sekarang tersisa hanya 6 buah.

ad. 3. Naiknya tinggi permukaan air laut melebihi tinggi permukaan air di sungai dan daratan.
Sesuai hukum gravitasi, air berpindah/mengalir secara natural dari tempat tinggi ketempat yang lebih rendah, oleh karena itu agar sistem drainase berfungsi dengan baik maka tinggi permukaan air sungai seharusnya lebih rendah daripada tinggi lubang drainase yang berasal dari daerah pemukiman penduduk. Disamping itu secara teori, agar air sungai dapat mengalir kelaut dengan lancar, maka dasar sungai seharusnya lebih tinggi daripada  tinggi permukaan air laut (baik ketika air laut pasang maupun tidak pasang). 

Air laut akan memasuki sungai ketika tinggi permukaannya sama atau melebihi tinggi permukaan air sungai, misalnya ketika terjadi pasang air laut atau ketika terjadi kenaikan tinggi permukaan air laut akibat adanya peningkatan volume air laut. Sungai-sungai seolah hampir luber airnya, yang dengan jelas dapat kita lihat di muara-muara sungai di Jakarta. Bila air laut memasuki sungai, maka aliran air sungai kearah laut terhenti atau stagnan, akibatnya aliran air sungai dari hulu ke hilir mengalami perlambatan sampai dengan kemacetan dengan akibat lebih lanjut tinggi permukaan air sungai makin meningkat secara bertahap kearah hulu. Bila hujan deras turun dalam tempo lama atau adanya kiriman air dari hulu (Bogor) maka air sungai akan meluap di beberapa tempat alias terjadi banjir. Contoh yang jelas, banjir reguler di daerah bantaran sungai Ciliwung di daerah Kampung Melayu, dan banjir di kelurahan Petogogan kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan akibat meluapnya kali Krukut. Banjir seperti ini seringkali perlu waktu yang lama untuk surut.

Sepanjang pengamatan penulis, tinggi permukaan air laut di daerah pantai utara Jakarta nampak cenderung meningkat dalam beberapa dasawarsa terakhir. Percaya atau tidak, menurut para ahli, sejak tahun 1900 telah terjadi kenaikan permukaan air laut 1-3 mm/tahun. Sedangkan satelit altimetri TOPEX/Poseidon mengindikasikan laju kenaikan permukaan air laut sebesar 3 mm/tahun telah terjadi sejak 1992. Ini merupakan salah satu efek pemanasan global (global warming) pada bumi yang kita cintai ini. Lagi menurut para Ahli, akibat kenaikan permukaan air laut maka diperkirakan pada tahun 2100 nanti genangan air laut di Jakarta sudah akan mencapai daerah Monumen Nasional (Monas), bahkan beberapa Ahli lain meramalkan hal ini dapat terjadi lebih cepat (tahun 1950).

Tak dapat dipungkiri, dengan adanya fenomena kecenderungan naiknya tinggi permukaan air laut, cepat atau lambat merupakan ancaman serius bagi kota-kota besar dunia yang berlokasi di pesisir pantai.

ad. 4. Turunnnya tinggi permukaan tanah.
Menurut para ahli, permukaan tanah Jakarta sedang mengalami penurunan akibat air tanah banyak disedot sejak puluhan tahun yang lalu sehingga tanah lempung di bawah tanah menggkerut. Bila penyedotan air tanah dibiarkan terus berlanjut maka permukaan tanah di beberapa wilayah di Jakarta akan mengalami penyusutan sehingga anjlok. Juga apabila penyedotan tanah dihentikan maka diperlukan waktu ratusan tahun untuk memulihkan ke kondisi seperti sebelum air tanah banyak dieksploitasi.

Tips mengatasi banjir
Dalam mengatasi penyebab nomor 1, yaitu tidak/kurang berfungsinya sistim drainase air, upaya memperlancar drainase sebaiknya tidak dilakukan setengah-setengah tetapi dikerjakan kedua-duanya mulai dari drainase mikro (kecil) hingga drainase makro (besar). Memperlancar hanya drainase mikro saja tanpa perbaikan sistem drainase makro akan kurang efektif. Sebaliknya memperlancar sistem drainase makro seperti mengeruk sungai, membuat kanal-kanal baru, membuat terowongan/sudetan/interconnection untuk meringankan beban sungai-sungai besar tidak akan banyak membantu mengurangi banjir bila kelancaran sistem drainase mikro tidak juga diperbaiki dan ditambah jaringannya.

Untuk mengatasi penyebab nomor 2, harus ada kemauan yang tinggi dari Pemerintah dan masyarakat. Misalnya, Pemerintah menyediakan dan membangun taman-taman yang diisi dengan jenis tanah yang mudah menyerap air dengan banyak pepohonan, singkatnya Pemerintah perlu membuka lebih banyak ruang terbuka hijau. Masyarakat yang memiliki halaman harus membuka halamannya dari lapisan semen, mengganti tanahnya dengan jenis tanah yang mudah menyerap air serta menanami dengan aneka pepohonan. Selain itu Pemerintah harus mencegah penutupan situ-situ yang masih tersisa, kalau perlu membuka/membuat situ-situ baru.

Sedangkan penyebab nomor 3 dapat diatasi secara bertahap dari sekarang hingga beberapa dasawarsa kedepan dan memerlukan upaya yang sangat besar dari Pemerintah dan masyarakat, misalnya melakukan pengurukan/peninggian permukaan tanah pada daerah-daerah pesisir yang rendah. Selain itu untuk mengatasi global warming diperlukan adanya kerjasama global dengan banyak negara lain.

Untuk mengatasi penyebab nomor 4, perlu adanya regulasi berupa Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penghentian kegiatan penyedotan air tanah dan dilaksanakan secara konsekwen.

Kesimpulan
Untuk mengatasi atau setidak-tidaknya mengurangi banjir di Jakarta (juga kota-kota lain), maka masyarakat dan Pengelola kota Jakarta harus berupaya bahu-membahu mengatasi ketiga penyebab banjir (minimal penyebab nomor 1 dan 2) yang telah dibahas di atas. Tidak mungkin Pemerintah mengatasi sendiri permasalahan banjir di Jakarta, masyarakat harus juga berperan aktif atau kalau mau dibalik kalimatnya, tidak mungkin masyarakat mengatasi sendiri permasalahan banjir di Jakarta, Pemerintah harus berperan aktif melalui kerjasama dengan masyarakat. Beberapa contoh kegiatan yang positif adalah kerja bakti oleh masyarakat dibantu tenaga dan sarana dari Kelurahan dan Kecamatan untuk mengeruk sampah-sampah yang menutupi saluran air dan memperbaiki saluran air yang rusak, membuat peraturan tentang Ruang Terbuka Hijau, memberi sanksi kepada pembuang sampah sembarangan, dan memberikan dana pemeliharaan saluran air secara berkala kepada masyarakat.

Bisakah atau pernahkah hal-hal ini terwujud? Katanya negeri ini penuh dengan orang-orang yang bertalenta leadership, kalau begitu pasti hal-hal di atas akan mudah untuk dilaksanakan.

Mungkin ada diantara para Pembaca yang berkomentar, "ah, nenek-nenek juga tahu itu semua." Pertanyaannya, kalau nenek-nenek tahu, kenapa hingga kini banjir di Jakarta belum dapat diatasi? Nenek siapa saja yang tahu tsb tetapi belum melakukan hal-hal yang maksimal hingga puluhan tahun?

Demikianlah opini ini dilepaskan bukan untuk mendiskreditkan pihak-pihak tertentu tetapi untuk memberi sumbangan pemikiran kearah perbaikan salah satu aspek permasalahan kota Jakarta karena penulis mencintai Jakarta dan menjadi salah satu pemerhati masalah-masalah di Jakarta. Eh, ngomong-ngomong apa saja aspek permasalahan kota Jakarta?

Referensi
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Kenaikan_permukaan_laut, diakses 29 Juli 2010.
2.
http://www.pemanasanglobal.net/kutub/kenaikan_permukaan_laut_dunia.htm, diakses 30 Juli 2010.
3. http://news.okezone.com/read/2010/02/19/338/305260/ini-dia-cara-atasi-banjir-jakarta, diakses 1 Agustus 2010.
4.
http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/tema/detakbumi/jakarta_banjir080626-redirected, diakses 2 Agustus 2010.
5.
http://damayantimaia.blogspot.com/2010/03/makalah-penyebab-banjir-dijakarta.html, diakses 2 Agustus 2010.
6.
http://www.facebook.com/topic.php?uid=121272030634&topic=8897, diakses 2 Agustus 2010.
7. http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/lingkungan-hidup/1157-mencari-solusi-banjir-di-jakarta.html, diakses 3
    Agustus 2010.
8. http://www.tribun-timur.com/read/artikel/110832/Reklamasi-Pantai-Dilanjutkan-Jakarta-Disebut-Akan-Banjir-Besar, diakses 5 Agustus 2010

Share

Add comment


Security code
Refresh

Download Free Joomla Templates by vonfio.de
This site uses encryption for transmitting your passwords. ratmilwebsolutions.com