User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

        
                                                                                    “Hati-hati Jajan Makanan di Pinggir Jalan Depan Sekolah!”

 

Peringatan seperti di atas mungkin sudah sering kita lihat dan dengar. Kalau sudah timbul masalah (kasus-kasus) keracunan makanan akibat jajan makanan di pinggir jalan depan sekolah yang mengandung formalin, boraks, pewarna makanan, pemakaian minyak goreng yang berulangkali (lebih dari 5 kali), makanan kadaluarsa yang diolah kembali, air minum yang tidak dimasak dengan benar, air minum kemasan palsu, makanan/minuman tercemar logam berat (misal timbal/Pb) hingga makanan yang tercemar bakteri E.coli .... barulah kita tersadar lagi ... begitulah kodratnya manusia .....ingat ingat lupa (seperti judul lagu yang dinyanyikan grup musik ‘Kuburan.’)

 

Bila kita melintas di depan sebuah Sekolah Dasar di daerah Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara, tampaklah pemandangan rutin yang terjadi pada setiap hari sekolah dimana anak-anak bergerak kesana kemari penuh keceriaan ketika sekolah belum dimulai, jam istirahat atau saat bubaran sekolah, beberapa diantaranya mengelilingi pedagang kaki lima untuk menghabiskan jatah uang jajan ditukar dengan beberapa potong makanan atau segelas/seplastik minuman yang penampilannya memikat.

 

Pedagang Kaki Lima (PKL) di pinggir jalan depan sekolah banyak ditemukan di Sekolah-sekolah Negeri (sering di SDN dan SMPN) tapi ada juga sekolah swasta yang memperbolehkan pedagang-pedagang ini menggelar dagangannya di depan sekolah mereka.

 

Kontradiksi Makanan Jajanan di Pinggir Jalan Depan Sekolah

Jajanan di depan sekolah pada umumnya sangat menarik, harganya yang sangat terjangkau oleh kantung anak-anak dengan uang jajan yang pas-pasan, bentuk dan penampilannya juga sangat menarik, seringkali idenya sangat sederhana tetapi penuh kreativitas, misalnya sosis kiloan yang disulap menjadi sate sosis yang diberi siraman saus tomat/cabe, gulali beraneka bentuk dengan warna-warni yang menyolok, hingga berbagai minuman kemasan dan minuman jelly dengan penampilan menarik.

 

Coba kita perhatikan, ada beberapa jenis makanan yang sering dijajakan di pinggir jalan depan sekolah yang sangat diminati anak-anak sekolah. Sebut saja mie bakso, bakwan/tekwan, berbagai macam gorengan, otak-otak, empek-empek, sate sosis dengan sausnya, es sirop, berbagai minuman kemasan dan lain-lain.

 

Pada dasarnya anak-anak menyukai makanan-makanan 'praktis' dibandingkan ‘makanan berat’ yang dibawa dari rumah. Selain itu anak-anak mempunyai kecenderungan menghabiskan semua jatah uang jajannya untuk hari itu dengan membelanjakan makanan dan minuman yang disenanginya.

 

Kebiasaan jajan pada anak sudah menjadi kebiasaan umum dan ditemui di berbagai tingkat sosial ekonomi masyarakat. Bagi anak yang tidak terbiasa makan pagi, makanan jajanan di sekolah berfungsi sebagai makanan (baca: sarapan) yang pertama kali masuk ke saluran pencernaannya pada hari itu sehingga bagi sebagian anak, jajanan menjadi penting sebagai pemasok tenaga selama jam-jam pelajaran di sekolah.

 

Sungguh suatu yang kontradiksi bukan? Jajanan pinggir jalan di depan sekolah bagaikan dua sisi mata uang, sisi baik dan sisi buruk berjalan beriringan. Disatu sisi jajanan ini diperlukan sebagai asupan gizi bagi anak sekolah tetapi di sisi lain makanan ini mungkin mengandung berbagai zat tambahan yang berbahaya bagi tubuh manusia seperti pewarna buatan, penyedap dan pengawet makanan serta zat-zat kontaminan lainnya.

 

Bahan Tambahan Pangan (BTP) Ilegal dan Dampaknya pada Manusia

Selain kontaminasi mikrobiologis, kontaminasi kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan adalah penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) ilegal seperti boraks (mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet mayat), rhodamin B (pewarna merah pada tekstil) dan methanil yellow (pewarna kuning pada tekstil).

 

Pengaruh jangka pendek penggunaan BTP ilegal dapat menimbulkan gejala-gejala antara lain pusing, mual-mual, muntah, diare atau kesulitan buang air besar. Pengaruh jangka panjangnya, bahan-bahan ini akan terakumulasi dalam organ-organ tubuh dan bersifat karsinogenik yang dalam jangka panjang dapat meyebabkan berbagai jenis kanker pada tubuh manusia. Belakangan juga terungkap bahwa makanan yang memakai BTP ilegal dapat memengaruhi fungsi otak termasuk gangguan perilaku, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan emosi dan bicara, hiperaktif pada anak hingga dapat memperberat gejala pada penderita autis.

 

Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari WHO yang mengatur dan mengevaluasi standar BTP melarang penggunaan bahan kimia (BTP ilegal) tersebut pada makanan. Standar ini juga diadopsi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan RI melalui Peraturan Menkes Nomor 722/Menkes/Per/IX/1998.

 

Pada umumnya para Pedagang Kaki Lima (PKL) mengungkapkan bahwa mereka tidak tahu tentang BTP ilegal atau adanya BTP ilegal yang terkandung pada makanan jajanan yang mereka jual. Penggunaan BTP ilegal disukai produsen makanan karena selain harganya murah dan mudah didapat, juga membuat penampilan makanan lebih menarik bagi anak-anak (misalnya warna makanan terlihat sangat cerah/’ngejreng’).

 

Orientasi Pedagang Kaki Lima

Pada umumnya (walaupun tidak dapat dipukul rata/disamaratakan) makanan jajanan yang dijual oleh PKL seringkali tidak dipersiapkan secara baik dan bersih. Hal ini disebabkan masih rendahnya pengetahuan mereka tentang kesehatan, cara penanganan pangan yang aman, serta lebih berorientasi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan dampak buruk yang mungkin diterima konsumen. 

 

Dasar Hukum

Pemerintah telah mengeluarkan banyak peraturan untuk melindungi masyarakat khususnya anak sekolah dari dampak buruk makanan yang tidak sehat dengan dikeluarkannya beberapa peraturan seperti:

  • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722 tahun 1988 yang berisi daftar bahan campuran makanan yang diproduksi.
  • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 239 tahun 1985 yang berisi tentang bahan campuran makanan yang dilarang.
  • Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan.
  • Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
  • Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
  • Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.
  • Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Walaupun demikian, menurut pengamatan penulis, sanksi terhadap pelanggar peraturan yang menyangkut penggunaan BTL ilegal pada makanan jajanan belum diterapkan sebagaimana mestinya.

 

Kesimpulan dan Rekomendasi

Anak sekolah adalah generasi penerus bangsa sehingga merupakan investasi bagi negara. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak di masa kini. Oleh karena itu Pemerintah perlu mengupayakan agar anak-anak bertumbuh-kembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya, antara lain dengan mengupayakan pembinaan, memberi asupan makanan yang sehat dan bergizi tinggi, dan tidak membiarkan anak-anak terpapar/mendapat asupan makanan yang tidak sehat.

 

Beberapa rekomendasi yang patut diterapkan untuk mengatasi hal ini antara lain:

  • Pemerintah (Kementerian Kesehatan dalam hal ini Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan dan BPOM) sebaiknya menyusun program untuk penelitian dan pengawasan pangan/jajanan di sekolah.
  • Menggiatkan sosialisasi, himbauan dan kampanye tentang bahaya makanan jajanan.
  • Menggiatkan kembali upaya yang telah lama dirintis dan sekarang mulai banyak dilupakan yaitu Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
  • Memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bila aturan mainnya memungkinkan, melalui kerjasama dengan Badan POM dan Puskesmas setempat untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kantin sekolah, melakukan pembinaan pedagang di kantin sekolah, meningkatkan pengetahuan guru sekolah dan orang tua murid melalui pelatihan (training) tentang zat-zat berbahaya pada makanan, memberikan pelatihan tentang penanganan pangan yang aman kepada para Pedagang Kaki Lima yang sering mangkal di depan sekolah.
  • Para Guru harus sering mengingatkan dan memberikan tambahan pengetahuan kepada peserta didik tentang makanan jajanan yang berbahaya.
  • Mengupayakan pemberian makanan tambahan yang sehat bagi anak sekolah yang diusahakan melalui kerjasama pihak Sekolah dengan Puskesmas setempat dan orang tua murid. Tentunya upaya ini perlu diusahakan dengan biaya yang relatif murah bila dibandingkan jumlah uang jajan harian yang diterima anak.

Add comment


Security code
Refresh