User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Pendahuluan

Kekerasan Terhadap Anak (KTA) dan penelantaran anak yang ditemukan di pusat-pusat rujukan dan kepolisian merupakan fenomena gunung es, belum menggambarkan jumlah seluruh kasus yang ada di masyarakat karena tidak semua kasus yang terjadi dilaporkan. Menurut Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Biro Pusat Statistik, 2007, angka kejadian kekerasan terhadap anak (KTA) di Indonesia yang terlaporkan sebanyak 3,02% atau ada 302 kasus KTA pada setiap 10.000 anak. Para ahli mengatakan bahwa kasus KTA seperti fenomena gunung es dan KTA banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat dengan korban. Kita sebenarnya dapat memperkirakan jumlah kasus KTA berdasarkan kejadian yang ada di sekeliling kita.

 

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi menyatakan sebagian besar kekerasan terhadap anak dilakukan ibu kandungnya sendiri. Seorang ibu masih memiliki paradigma lama seolah-olah mendidik anak dengan kekerasan itu wajar dan sah-sah saja, demikian antara lain pernyataan yang dilansir oleh website Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Berdasarkan data Komnas PA, tahun 2008 kekerasan fisik terhadap anak yang dilakukan ibu kandung mencapai 9,27 persen atau sebanyak 19 kasus dari 205 kasus yang ada. Sedangkan kekerasan yang dilakukan ayah kandung 5,85 persen atau sebanyak 12 kasus. Ibu tiri (2 kasus atau 0,98 persen), ayah tiri (2 kasus atau 0,98 persen). Dalam sehari Komnas PA menerima 20 laporan kasus, termasuk kasus anak yang belum terungkap. 

Apakah KTA itu?

Kekerasan Terhadap Anak (KTA) adalah semua bentuk tindakan/perlakuan terhadap anak yang menyakitkan secara fisik dan atau emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran anak, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya.

Definisi lengkap KTA menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kekerasan Terhadap Anak merupakan semua bentuk tindakan/perlakuan terhadap anak yang menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya, yang mengakibatkan cidera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab.

Jenis-jenis Kekerasan Terhadap Anak
Kekerasan terhadap anak meliputi:
a. Kekerasan fisik, yaitu: kekerasan yang mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layak ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan/posisi sebagai penanggung jawab, diberi kepercayaan atau diberi kekuasaan.


b. Kekerasan Seksual, yaitu: pelibatan anak dalam kegiatan seksual dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami atau tidak mampu memberi persetujuan.

Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktifitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain. Aktifitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut. Kekerasan seksual seringkali dilakukan oleh orang secara otoritas lebih tinggi dari korban, misalnya: orang tua/orang tua tiri, guru, tetangga yang usianya lebih tua, majikan terhadap pembantu rumah tangga dan majikan terhadap pekerja anak. Manifestasi kekerasan seksual tidak melulu berbentuk pemaksaan, manifestasinya seringkali berupa pemberian kasih sayang kepada anak sehingga anak merasa seolah-olah dilindungi dan dikasihi oleh pelaku.


Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi, pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, merayu anak untuk tujuan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada anak, stimulasi seksual, perabaan (sentuhan seksual), memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, perkosaan, hubungan seksual oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest) dan sodomi.

c. Kekerasan Emosional
, yaitu: suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial.


Beberapa contoh kekerasan emosional antara lain: p
embatasan gerak, sikap dan tindakan meremehkan, menolak, mencemarkan, mengkambing-hitamkan, membentak, mengancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek atau menertawakan, menyebut keadaan tubuh anak yang memalukan bagi anak tetapi sebenarnya anak tidak kuasa/mampu merubahnya (misal: menyebut/memanggil anak memakai sebutan si 'gendut,' si 'pincang' dst, serta perlakuan kasar lainnya.

 

d. Penelantaran Anak, yaitu: kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan anak untuk tumbuh-kembang-nya, seperti: kesehatan, pendidikan, nutrisi, perkembangan emosional, rumah dan tempat bernaung serta keadaan hidup yang aman seperti layaknya dimiliki oleh suatu keluarga.


Penelantaran anak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kecacatan fisik dan mental, spiritual, moral dan sosial.

 

Jenis-jenis penelantaran anak

Ada banyak jenis penelantaran anak, berikut ini yang sering terjadi antara lain/meliputi:

Kelalaian di bidang kesehatan: penolakan atau penundaan memberikan pelayanan kesehatan pada anak padahal anak membutuhkan (misalnya karena sakit), pengabaian gizi sehingga anak tidak memperoleh kecukupan nutrisi, perawatan medis, mental, gigi, dan keadaan lain yang bila tidak dilakukan akan dapat mengakibatkan penyakit atau bertambah parahnya penyakit, dan atau gangguan tumbuh-kembang.

Kelalaian di bidang pendidikan: tidak menyekolahkan anak pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, membiarkan anak membolos dari sekolah secara berulang-ulang, gagal memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus.


Kelalaian di bidang fisik
: pengusiran dari rumah, penolakan sekembalinya anak dari kabur dan pengawasan yang tidak memadai.


Kelalaian di bidang emosional
: kurangnya perhatian atas kebutuhan kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan terhadap pasangan hidup di hadapan anak, membiarkan anak merokok, minum minuman keras serta menggunakan narkoba.

e. Perdagangan anak (trafficking), yaitu: memperjualbelikan anak. Akibat lanjut dari maraknya kegiatan ini adalah meningkatnya kasus penculikan anak dan penelantaran anak. Anak sebagai obyek trafficking sangat dirugikan karena tidak punya masa depan yang jelas dan dihadapkan pada berbagai kemungkinan buruk hingga paling buruk dan mereka tidak berdaya untuk mengatasi sendiri nasib buruk yang menimpa mereka.

f. 
Eksploitasi Anak, yaitu: penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktifitas yang bertujuan meraih keuntungan bagi pihak lain (bukan untuk si anak sendiri). Yang termasuk kegiatan eksploitasi anak adalah mempekerjakan anak (pekerja anak), pemerasan dan prostitusi. Kegiatan eksploitasi anak akan mengakibatkan anak menderita, mengalami gangguan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan (fisik dan mental) anak, kegagalan pendidikan, spiritual, moral dan sosial-emosional anak.

 

Sumber

1. Departemen Kesehatan RI dan UNICEF, 2007, Pedoman Kasus Kekerasan Terhadap Anak.

2. http://www.menegpp.go.id/
3. Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, 2010, Melindungi Kesehatan Anak Korban Kekerasan.

Comments   

0 #1 jasa skripsi sastra 2015-03-04 11:27
Hi there, all is going fine here and ofcourse every one is sharing information, that's genuinely good, keep
up writing.

My website :: jasa skripsi sastra
inggris: http://smartstatistik-indonesia.com/info/jasa-skripsi-sastra-inggris/
Quote

Add comment


Security code
Refresh