User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Masa liburan telah usai, masa sekolah sudah dimulai kembali. Anak-anak pada merengek minta dibelikan buku-buku baru, seragam baru, tas baru, sepatu baru, dan alat-alat tulis yang baru. Oh repotnya orang tua siswa. Sebenarnya bagi ortu dari keluarga 'berada' (the have) hal-hal seperti ini biasanya tidak terlalu membuat repot, yang 'repot' adalah ortu dari keluarga kurang mampu. Apalagi kalau anak yang disekolahkan ada 3 atau lebih maka ketiga-tiganya merengek (mangkanya ikut KB donk!). Belum lagi kalau ada salah satu atau salah dua dari anak-anaknya ada yang masuk ke kelas satu sekolah baru. Sebelumnya ortu memang sudah direpotkan dengan MOS (Memeras Ortu Siswa) versi lain yang dilakukan oleh sekolah swasta (bila anaknya masuk ke sekolah swasta) dengan bermacam-macam 'permintaan' oleh sekolah. Eh sekarang ortu lagi yang kena direpotkan oleh 'MOS.'


Tujuan MOS
Tujuan MOS yang sebenarnya adalah untuk proses adaptasi bagi siswa dalam rangka menyiapkan siswa memasuki dunia belajar yang baru, mengenal lingkungan sekolah (termasuk guru-guru, teman-teman dan kakak-kakak kelas), melatih kedisiplinan, serta memotivasi siswa untuk berprestasi.

 

Pelaksana MOS

Pelaksanaan MOS secara teknis diserahkan kepada Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang berkoordinasi dengan Kepala Sekolah.

Peserta MOS
Peserta MOS adalah siswa baru. Semua siswa baru diwajibkan mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Ada sekolah yang menerapkan MOS pada semua siswa baru tanpa kecuali walaupun dia siswa baru bukan di kelas satu tetapi di kelas dua atau tiga.


Pelaksanaan MOS
Banyak sekolah telah menerapkan MOS dengan baik dan benar, namun tidak sedikit pula yang melaksanakan secara 'asal-asalan', yang penting MOS sudah dijalankan, guru tutup mata, semua dilaksanakan oleh OSIS. Namun disinilah penyebab berbagai permasalahan/penyalahgunaan MOS.

MOS biasanya dilaksanakan selama beberapa hari. Sepulang MOS, biasanya anak sudah lelah karena habis 'dipelonco (dikerjai)' seharian, selain itu anak mendapat tugas tambahan yang harus dibawa esok hari pagi-pagi sekali (pk. 4 - 6 pagi). Seringkali anak diperintahkan untuk membawa barang aneh-aneh ('mboten-mboten') yang sulit dicari. Karena anak sudah kelelahan, mau tidak mau orang tua/keluarga yang sibuk mencari atau membuat benda-benda yang harus diadakan tersebut, dan tragisnya, benda-benda tsb seringkali sulit dicari karena hari sudah sore atau malam. Orang tua terpaksa harus mencari dengan susah payah, kalau perlu merogoh kocek (uang) untuk membeli berapapun harganya karena orang tua mana yang tega membayangkan anaknya akan dihukum esok hari bila tidak memenuhi kewajibannya. Oleh karena itu timbul pertanyaan: Sebenarnya kegiatan MOS merupakan ajang untuk mendidik anak atau mendidik orang tua?

Seringkali pula MOS dijadikan ajang berbisnis bagi sementara kalangan, misalnya anak diwajibkan membeli benda, makanan atau minuman di sekolah dengan harga jauh lebih tinggi dari harga standar. Kadang benda yang wajib dibawa hanya dijual di sekolah atau suatu toko di sekitar sekolah sehingga terjadilah semacam 'permainan.' Ada pula guru atau panitia MOS yang mewajibkan setiap anak membawa benda atau makanan tertentu yang harganya cukup mahal, kemudian benda atau makanan tsb dikumpulkan untuk keperluan guru-guru bukan untuk anak.

Pada bulan Juli 2011, dalam perjalanan dari kota Kendari menuju Bandara Haluoleo, Kendari (Provinsi Sulawesi Tenggara), penulis sempat menemui suatu kegiatan MOS yang agak 'aneh' yaitu MOS yang diselenggarakan oleh salah satu sekolah di Kendari. Mengapa aneh? karena dalam pelaksanaan MOS tersebut, pelaksana MOS memblokir separuh jalan raya yang sangat vital yaitu jalan yang menuju ke bandara. 

Harapan Orang tua terhadap pelaksanaan MOS
Sejumlah kalangan merasa prihatin terhadap pelaksanaan MOS yang dinilai masih jauh dari harapan orang tua siswa. Dalam prakteknya, MOS sering disalahgunakan oleh beberapa siswa senior sehingga MOS menjadi telah ajang Kekerasan Terhadap Anak. Beberapa anak mungkin mengalami trauma dan mengingatnya seumur hidup. Anak yang lain akan mengingat kekejaman MOS untuk dipraktikkan kepada adik kelasnya nanti bila dia sudah menjadi senior. Anggapan bahwa siswa SLTA bukan anak-anak lagi adalah anggapan yang keliru karena siswa sampai dengan usia 18 tahun masih termasuk kelompok 'anak.' Lihat batasan usia anak.

Para orang tua berharap MOS sebaiknya diisi dengan kegiatan dan program yang bersifat mendidik dan bermanfaat bagi anak, tidak adanya perpeloncoan dan tindak kekerasan. Contoh pelaksanaan MOS yang diisi dengan program-program yang bersifat mendidik adalah pelatihan baris-berbaris (PBB) untuk melatih kedisplinan anak, outbond, seminar dan ceramah untuk memotivasi anak agar giat belajar sehingga berhasil dalam kegiatan belajarnya, memotivasi anak agar mencintai negara dan beberapa program lain yang intinya untuk tujuan adaptasi, pengenalan lingkungan sekolah dan memacu semangat belajar anak..

Dalam pelaksanaannya, kegiatan MOS walaupun sudah diserahkan kepada OSIS, tidak boleh dilepas sepenuhnya kepada OSIS tetapi harus senantiasa diawasi (dipantau) oleh Tim guru dari sekolah tersebut. Guru dalam hal ini bertindak sebagai wasit untuk menjaga kualitas MOS, mencegah terjadinya pelanggaran, bertindak bila ada pelanggaran, menindaklanjuti pengaduan orang tua murid dan guru pula yang menyetujui tugas-tugas yang layak diterima siswa selama MOS berlangsung.

Referensi
1.
http://edukasi.kompas.com/read/2010/07/12/16334152/MOS....Awasi.MOS.dari.Perpeloncoan, diakses 14 Juli 2010.
2. h
ttp://www.detiknews.com/read/2010/07/13/052824/1397930/10/mos-tidak-perlu-jika-hanya-jadi-ajang-perploncoan, diakses 14
    Juli 2010.
3.
http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=220383&actmenu=43, diakses 14 Juli 2010.

Add comment


Security code
Refresh