User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Hujan lebat yang menguyur ibukota pada Jumat sore, 22 Oktober 2010 yang lalu, untuk kesekian kalinya seakan mencoba kembali mengingatkan warga Jakarta untuk bersiap siap dengan ancaman banjir. Sore itu pukul 5 lewat 15, penulis pulang dari kantor di kawasan Jakarta Selatan, sebagian jalan H.R. Rasuna Said tergenang air, Jalan Denpasar Raya dan perempatan Mampang-Kuningan juga tergenang air cukup tinggi, ketika memasuki jalan Casablanca, penulis kembali dihadang genangan air. Tentu terasa lebih etis bila disebut sebagai 'genangan air' dan frasa tersebut terdengar lebih lunak daripada penggunaan kata 'banjir' yang mungkin dapat membuat 'panas kuping' beberapa orang.


Kembali ke jalan raya, dalam perjalanan pulang tersebut penulis berkali-kali dihadang genangan air. Mengapa genangan air perlu ditulis di media Internet? karena penulis yakin bahwa genangan genangan air ini cukup unik dan agak kurang wajar. Pertama, datangnya cepat padahal hujan baru turun sekitar 15 menit saja. Dan yang kedua, genangan air tersebut meliputi area yang luas sehingga beberapa ruas jalan berubah menjadi Samudera.  

Ruas ruas jalan yang sering terlihat bagaikan samudera ketika turun hujan lebat antara lain jalan Gatot Subroto pada perempatan Mampang-Kuningan, jalan Denpasar, jalan Casablanca, sebagian besar jalan Tomang Raya terutama di sekitar jembatan Tomang, o ... ternyata jalan S. Parman pada perempatan Slipi juga berubah menjadi samudera raya. Itu hanya sedikit sampel, apakah bisa mewakili ruas ruas jalan lainnya di Jakarta yang sangat banyak dan luas? Berdasarkan beberapa sampel tersebut dan pengalaman penulis menyusuri jalan-jalan di Ibukota ketika hujan deras turun, diyakini bahwa kondisi di banyak ruas jalan lain di Jakarta lebih kurang sama ketika hujan lebat datang, yaitu genangan air cepat terjadi dan meluas laksana samudera.

Dari pengamatan penulis, selama dua dasawarsa terakhir, fenomena genangan air di Jakarta mempunyai ciri khas (karakteristik) yaitu bila hujan besar tetapi tidak lama maka genangan air akan surut relatif cepat, sedangkan bila hujan lebat bertahan lama hingga beberapa jam dan meliputi kawasan yang luas (lima kawasan Ibukota), maka genangan air akan lama surut, bisa satu hingga dua hari. Sayangnya sebagian orang masih menganggap bahwa yang terakhir inilah yang disebut 'benar benar banjir.'

Add comment


Security code
Refresh